Surat Misterus (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 10 September 2015

Langkah sosok itu semakin cepat. Sangat cepat. Vira tak mampu mengejar sosok itu. Langkah kakinya melambat napasnya mulai tersengal-sengal. Hingga kedua tangannya mencengkeram lutut seraya membungkuk, menahan lelah.
“Dia pasti Daru!” pekiknya dalam hati.

Sosok itu terdiam. Napasnya mulai tak beraturan. Perlahan ia berjalan mundur, dengan tangan kanan menyelusup ke dalam jaketnya mengambil sesuatu yang ia simpan. Sosok itu itu berjalan mundur, hingga membalikkan tubuhnya dan berlari ke arah Vira. Terlihat tangan kanannya menggenggam sebilah pisau. Sontak Vira perlahan menjauh dari tempatnya berdiri. Sosok itu semakin dekat. Tangan kanannya terayun ke atas, sehingga sejajar dengan bahunya. Sebilah pisau itu jelas mengarah ke arah Vira. Jerit ketakutan menggema menyeluruh seisi danau.

“Arrghh!!”

Sosok itu terjatuh. Seseorang yang memakai jaket merah memukul tengkuknya dengan keras. Mereka berdua berkelahi saling baku hantam. Sementara Vira duduk menunduk ketakutan. Pukulan demi pukulan saling bersahutan. Keduanya terluka. Sampai akhirnya mereka memecah perkelahian itu dengan perdebatan.

“Kau sudah gila!!” pekik seseorang berjaket merah.
“Hahaha!! Ku kira kau sudah tahu dari dulu! Aku tak rela gadis yang ku cinta kau rebut!! Kau yang sudah gila! Kau cacat! Tak pantas bersanding dengannya!” tandas sosok bertopi hitam.

Sosok berjaket itu terengah-engah, hingga tubuhnya pun rubuh tak mampu menopangnya untuk berdiri. Sementara sosok bertopi hitam itu mendekatinya. Memukulinya tak henti. Hingga sebilah pisau menancap di perutnya. Kaus putihnya jelas terlihat menyerap aliran darah yang ke luar dari luka tusukkan itu.
Saat sosok bertopi itu akan menghabisi sisa napas orang berjaket merah itu, tak sadar di belakangnya ada Vira yang siap menghantam tengkuknya dengan balok kayu, yang entah dari mana Vira dapatkan.

“Jangan sakiti Ardi!!” pekik Vira seraya menghantam sosok bertopi hitam itu.
“Arrgghh!!” ringis sosok itu seraya membalikkan badannya.

Balok kayu yang Vira genggam perlahan terlepas. Jantungnya terasa berdegup cepat melihat kenyataan sebenarnya. Bulir air mata perlahan menyusuri lekuk pipinya yang bercampur keringat.
“Ardi?”

Vira menatap sosok bertopi hitam itu, yang tak lain adalah Ardi, sahabatnya sendiri. Matanya bergantian menatap kedua sosok pria yang terkulai lemah di depannya. Pikirannya mulai menepis segala kecurigaannya pada Daru. Daru terbaring lemah mencengkeram erat luka tusuk di perutnya. Langkah gontai perlahan mendekati tubuh Daru. Daru hanya menatap lemah pada gadis yang sangat ia cintai selama ini. Terlihat di belakang Vira, Ardi masih terbaring pingsan.

“Kau?” seru Vira seraya perlahan duduk di samping Daru.
“Hai?” ucapnya lirih menahan sakit.
“Kenapa? Aku tak mengerti, permainan apa ini? Kau ini siapa?” tangis Vira.
“Aku adalah Daru, pengirim surat misterius itu. Penggemar rahasiamu. Kejutan manis yang sempat kau terima, itu dariku. Hingga akhirnya Ardi, sepupuku. Dia membaca diariku, dia tahu aku mencintaimu. Aku adalah mahasiswa di kampusmu, tapi karena penyakitku ini, aku mengasingkan diri. Aku terkena AIDS, dan itu karena Ardi. Bahkan kau tidak tahu bukan, Ardi mengidap AIDS? Ardi sengaja menyuntikkan darahnya padaku, sejak dua tahun yang lalu, sejak aku mulai mencintaimu.” Jelasnya panjang lebar.
Pecahnya tangisan Vira membuat Daru merasa bersalah.
“Ardi sepupumu?” Tanya Vira terdengar lemah.
“Ya. Dia adalah pria psikopat,” Tambah Daru.
“Maafkan aku. Aku sudah salah mengira.” Vira mendekap tubuh lemah itu dengan erat.

Terdengar sebuah tepukkan tangan mengganggu obrolan mereka.

“Romantis sekali. Hahaha!” pekik Ardi.
Keduanya pun menoleh ke arah Ardi. Vira membantu Daru berdiri.
“Vira sayang sekarang kau sudah tahu bukan dia itu siapa, dan aku siapa! Dia tidak lebih baik dariku, dia lemah!” pekiknya lagi.
“Cukup Ardi kau sudah keterlaluan. Kau jahat!” balas Vira.
“Aku tak peduli lagi. Hatiku terlalu sakit kau campakkan. Dan sekarang dia harus mati. Biar di antara kita tidak ada lagi yang mengganggu.”

Pistol sungguhan Ardi arahkan ke arah Vira dan Daru yang berdiri tepat di samping Daru. Daru berkali-kali menghalangi namun Vira tak kalah menahan halangan Daru.

Dorr!!

Satu tembakkan menggema di setiap sudut danau. Burung-burung yang nyaman bersembunyi bunyi di balik pepohonan, dengan serempak berterbangan ke angkasa. Tubuh gadis bermata sayu itu, ambruk seketika. Tepat di dada kirinya luka tembak itu menerobos masuk, menyakitkan.

“Biarkan aku mati. Setidaknya aku sudah tahu siapa pengirim surat itu selama ini. Surat misterius yang membuatku tersenyum, merasakan debaran yang belum pernah ku rasakan dalam hati ini. Aku mencintaimu, Daru” tangis Vira.
“Vira!!” pekik Daru.

Teriakan Daru terdengar parau, air matanya berjatuhan. Tangannya dengan sigap memangku tubuh gadis yang ia cintai yang kini meregang nyawa. Ardi menatap tak percaya. Ia tak bermaksud menembak Vira, perhitungannya salah. Namun semua terlambat, kini tinggallah penyesalan.

“Vira! Bangun, Vira! Aku mohon. Viraa!!!” pekik Daru mengguncang-guncang tubuh Vira yang lemah.
“Daru. Mungkin kaulah jodohku, kau cinta pertama dan terakhirku. Lewat surat misterius itu, kau suguhkan cinta yang belum pernah ku rasakan. Apa kau mencintaiku?” ucapnya lirih.
“Tentu. Sangat, aku sangat mencintaimu. Bertahanlah!” Daru berusaha menggendong Vira namun ia tak mampu, luka tusuk itu terlalu membuatnya sakit. “Arrgghh!”
“Sudahlah. Tak perlu kau paksa.” Tambah Vira.
Daru semakin panik saat tangan yang ia genggam mulai terasa dingin.
“Daru… aku mencintaimu.”
“Tidak, Vira. Tidak!! Viraaa!!”

Vira mengakhiri kesakitannya. Ia telah tiada. Daru menangis memeluk erat tubuh gadis yang ia cintai selama ini. Tangisan Daru perlahan semakin terisak, saat Ardi menembak kepalanya sendiri sebagai balasan atas penyesalannya.

Daru menangis sendiri dalam naungan senja yang mulai hadir. Tak akan ada lagi surat yang akan ia tulis. Tak akan ada lagi surat misterius yang selama ini pernah membuat gadis dambaannya merasa bahagia. Terungkapnya si pengirim surat misterius, menyisakan duka mendalam bagi si pengirim surat misterius itu. Daru. Ia terduduk menangisi kepergian Vira dan sepupunya.

Tamat

Cerpen Karangan: Ersa Nazwa
Facebook: Ersa Nazwa
Cerita bersambung ini adalah cerpen yang kubuat di awal aku memulai untuk serius menulis, tepatnya di tahun 2013 yang lalu. Maaf kalau ceritanya agak absurd, wajar saja cerpen ini kubuat di saat aku memulai menulis. Kritik dan sarannya bisa dikirim lewat akun facebook-ku. ^_^ Terima kasih.

Cerpen Surat Misterus (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


KA-32 Gajayana

Oleh:
“Horee, anak saya sukses. Sekarang saya jadi orang kaya.” Begitulah suara teriakan laki-laki paruh baya yang melewati jalan gang di rumahku itu, tanpa sedikit pun menghiraukan sekeliling orang yang

Pencarian

Oleh:
Belum sempat masuk ke dunia mimpi sania sudah dikejutkan oleh suara dering hp yang cukup membuat siapapun terganggu. “Halo?” Sapaku di awal pembicaraan “Apa kau sudah tidur? Maaf menganggu

Please Smile!

Oleh:
Suatu hari yang cerah ada anak bernama Fatimah Azzahra Launi, panggil saja Fatimah, ia kelas 4 SDIT. Pagi itu, Fatimah sudah siap dengan memakai seragam merah putih gamisnya. “Fatimah,

Hmm…

Oleh:
Terpaku membisu dalam keheningan malam, ingin rasanya ku menjerit dalam kesunyian, namun apa daya. Untuk apa ku menjerit dalam kesunyian, tak akan ada pula yang dapat mendengar jeritanku meski

SMA Jaeguk

Oleh:
Namanya Minah dan duduk di kelas XI IPA 4 di Jaeguk High School. Ia punya teman, namanya Iren dan dia adalah siswi terpintar di kelas. Mereka bertemu sewaktu sekolah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Surat Misterus (Part 3)”

  1. nia ai says:

    seru ceritanya.
    suka banget.feel nya dapet. ^^

  2. Ahmus says:

    Sipzt banget critanya,,,
    Seru + bikin deg-degan..
    I Like It..

  3. Feyz says:

    Seru banget ceritanya
    Terua berkarya ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *