Tak Tergapai (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 26 May 2017

Mataku menggerjap, “aww” ngilu di kepalaku seakan langsung membawaku ke kenyataan. Aku berusaha untuk duduk, aku melihat sekelilingku, dan aku menyadarinya. Ini bukan apartemenku! Kamar ini besar dan aku berada di atas tempat tidur dengan gaun pengantin!
Astaga, aku belum dapat merespon semua yang terjadi dan tiba-tiba seseorang membuka pintu. “Nona, Anda harus bersiap-siap untuk acaranya” belum sempat aku bertanya, segerombolan perempuan masuk ke kamar dan mendandaniku, mengetatkan bajuku. Aku belum bisa berkata apa-apa.

Setelah semua selesai, aku digiring dengan mata tertutup. Dan saat mataku dibuka, aku berada di suatu ruangan seperti ruang dansa. Banyak orang di sana dengan memakai topeng, tetapi tidak ada satu ekspresi pun. Mereka hanya berdiri dengan tatapan kosong. Dan aku melihatnya! Duduk di ujung ruang dengan topi dan topeng hitam. Iya! Dia yang … Tami! Ya Tuhan aku baru mengingatnya, di mana Tami? Apa yang terjadi dengannya?
Ketika aku sedang sibuk berfikir pria itu bangkit dari duduknya, dan orang-orang seakan memberinya jalan atas setiap langkahnya.

Aku membeku! Tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Hanya air mata yang terus menetes mencemaskan keadaan Tami. Aku tak henti-hentinya menyalahkan diriku sendiri. Andai saja aku tak memperbolehkannya ikut denganku, andai saja aku tak menceritakan tentang keadaanku yang sesungguhnya, andai saja… Aku terdiam, tangannya menghapus air mataku, sebuah tangan dingin yang besar. Tangan yang mencekikku di mimpiku kemarin!

Mata kami bertemu, dia sama dengan yang lain tidak berekspresi, tetapi di dalam kedua matanya ada kesedihan yang mendalam, ada keputusasaan. Dan alunan musik lembut mulai berjalan, fikiranku tentang keadaan Tami seakan-akan lenyap karena alunan musik lembut ini. Dia memegang pinggulku dan menarikku ke arahnya. Mata kami tetap bertatapan. Seakan hanya ada kami di sini dan matanya mengatakan betapa lama dia menunggu waktu ini.

Aku terhanyut dalam buaian musik dan dansa ini. Seakan matanya mengikatku dan tak membiarkanku lepas. “kr..” pria itu menggumamkan sesuatu tapi aku tidak bisa mendengarnya. “Kirla” tatapannya berubah menjadi sangat lembut dan ya Tuhan
Aku mengenali suara ini… Dia.. itu..

Ya Tuhan suara itu, suara itu! Aku sangat mengenali suara itu dan tatapan ini. Tatapan yang sangat aku rindukan dan yang telah kutunggu bertahun-tahun. Aku memeluknya sangat erat, aku sangat merindukannya hingga aku menangis. Semua ketakutan yang kurasakan sebelumnya telah menghilang. Yang tersisa hanya rasa lega dan… bingung. Dia juga mendekapku dengan kehangatan. “Hei tidak apa-apa tenanglah, aku di sini” katanya sambil mengelus rambutku. Aku terisak dan membasahi jas hitam yang dipakainya. “Dari mana saja? Kenapa muncul tiba-tiba? Kenapa muncul seperti ini? Mikhael kau begitu kejam padaku. Apa kau berusaha membunuhku secara perlahan? Apa kau tak tau neraka yang kulewati selama tidak ada kau?” Aku meluapkan emosiku padanya dan terisak dalam pelukannya. Dia hanya diam sambil mengusap rambutku.

Saat aku sudah lebih tenang, aku melonggarkan pelukanku padanya dan menatapnya. Dia membalas menatapku, matanya sangat damai, bagai ada padang rumput di dalam matanya. “Aku selalu di sini Kirla, menjagamu dari kejauhan, aku tidak ingin mengganggu kehidupanmu” tiba-tiba aku teringat tentang Tami. “apa yang kau lakukan pada Tami?” suaraku bergetar. Matanya kembali seperti saat pertama tetapi di sana terselip dendam. Aku memucat “kumohon jangan katakan kalau kau..” dia kembali mendekapku “Tidak Kirla jangan pandang aku sebagai orang jahat. Kemari” kami berhenti berdansa dan dia mengajakku ke ruangan yang lain.

Ini mirip seperti kamar yang kutempati ketika aku bangun tadi. Tapi aromanya agak berbeda di sini. Aku duduk di atas tempat tidur dan dia pergi untuk sesaat dan kembali dengan roti dan susu.
Dia menyuruhku makan terlebih dahulu, dia memerhatikan ketika aku sedang makan “hmm ada apa mikhael?” dengan mulut penuh roti “Tidak apa-apa, kau cantik Kirla” aku pun hampir tersedak dan dia langsung memberiku susu, aku meminumnya dalam sekali teguk. “Baiklah, aku siap mendengarkan” sambil merapikan dudukku.

Dia menunduk, memegang kedua tanganku dan dia mengangkat kepalanya dan menyeringai. Aku tersentak dan kembali pucat “mikhael” sambil berusaha melepaskan tanganku tetapi dia jauh lebih kuat. “Taukah kau Kirla berapa lama aku menunggumu? Semenjak kelulusan SMA 8 tahun silam! Aku mempersiapkan diri agar layak di hadapanmu, aku bekerja banting tulang dan akhirnya aku berhasil membangun menara ini! Aku menjagamu dan memastikan bahwa kau tetap aman di rumahmu hingga saatnya aku muncul dan melamarmu.” suaranya gemetar dan cengkramannya sungguh sakit tapi aku tetap tak bisa bergerak dan mengeluarkan suara. “Dan tadi malam kau tega membawa seorang lelaki ke apartemenmu. Dan dia adalah Tami seorang yang ingin kukalahkan dari dulu. Dia merebut segalanya! Bahkan kau juga” suaranya terdengar seperti orang lain. “Tetapi kini aku tak perlu khawatir, kau akan menjadi permaisuriku dan bersamaku selamanya” badanku mulai mati rasa, suaraku tak bisa keluar.

Aku berusaha memberontak tetapi tidak membuahkan hasil “Kau tadi mencari Tami kan? Dia ada di dalam gudang dengan kepala terbelah” setelah mengucapkan itu dia tertawa. Kepalaku sangat sakit, badanku tak bisa bergerak lagi “Ya tidurlah sayang dan temani aku selamanya” sambil mengecup keningku. Kesadaranku semakin menghilang tetapi ada sebuah ketenangan yang kurasakan. Dan semua gelap.

“Kirla” aku melihat sekeliling, “Kirla” dan itu dia.. “Tami” aku mengejarnya dan memeluknya. Damai, itu yang kurasakan. “Baiklah, ayo” sambil memegang erat tanganku.

The End

Cerpen Karangan: Laysen May
Facebook: Laysen Maygel
Salam anak SMA^^

Cerpen Tak Tergapai (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengapa? (Part 1)

Oleh:
Namaku Tissa. Aku tinggal di kota yang tidak pernah tidur. Bukan Jakarta maksudku, tapi kota Tangerang. Namun, tempat tinggalku berada di perumahan yang agak sepi. Sering kubertanya-tanya, mengapa orangtuaku

Gita

Oleh:
Di ujung Desa Kembang, terdapat rumah besar berpagar besi berwarna kuning pucat yang sering jadi buah bibir penduduk desa. Di depan rumah itu terdapat pohon mangga yang sangat rimbun,

Kota Kecil Yang Hilang

Oleh:
Akhirnya liburan pun telah tiba, aku dan teman-temanku mempersiapkan untuk liburan di suatu pulau, mungkin pulau itu tidak terlalu besar, namun pulau itu terlihat sangat indah, pulau itu agak

Sekolah Angker Misterius

Oleh:
“Huft..” Rania mengusap keningnya yang penuh keringat. Ia melihat kedua temannya yang sudah tertidur pulas di sebelahnya. “Bangun, Gunjan! Martha!” seru Rania membangunkan ke dua temannya. Akhirnya, Gunjan dan

Gadis Yang Hilang

Oleh:
Hot news “terjadi lagi! Seorang anak perempuan berusia 14 tahun hilang, polisi belum menemukan petunjuk apapun mengenai kasus ini, dugaan sementara ini adalah kasus penculikan mengingat sudah lima orang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *