Tak Tergapai

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 15 May 2017

Aku terbangun dari tidurku dan “Hei! siapa di sana?” aku buru-buru menyalakan lampu kamarku. Tadi aku melihatnya, bayangan hitam bertopi itu kembali muncul.
Perlahan-lahan aku turun dari tempat tidurku suara gemerisik tiba-tiba memecah kesunyian. Aku sudah mengalami ini berulang-ulang dan hal ini hampir membuatku gila. Baiklah kali ini aku akan mengalah karena badanku sedang sangat lelah, jadi aku memutuskan kembali tidur dengan lampu menyala.

“Kirla” aku pun menoleh dan tak mendapati siapapun. “Kirla!” dengan nada yang lebih tinggi, aku ketakutan “Siapa? Di mana kau? Tunjukan wujudmu!” aku gemetar ketakutan. “Ha ha ha ha haa” suara tawa tiba-tiba menggelegar memekakkan telingaku. Dan sepasang tangan dingin mencengkram leherku dan..

Tit tit titttt Aku terbangun lagi dengan nafas terengah-engah. Aku kira aku sudah akan… mati. Tapi tidak, aku masih hidup sekarang, aku masih hidup. Aku mematikan alarmku dan pergi ke kamar mandi, aku membasuh wajahku yang memucat.

Aku memanggang roti dan memberi makan kucingku. Namanya Mephistopheles, seekor kucing hitam dengan mata berwarna merah rubi. Aku mengelusnya sebentar kemudian menuju kantorku.

Di sinilah aku sekarang duduk di depan komputer tanpa mengerjakan apapun. Bagaimana bisa aku bekerja dengan seseorang di dalam rumahku dan mengawasiku setiap waktu.
“La lu mau kopi gak?” aku tersentak kaget, dia Tami direktur utama di perusahaan ini. Tampan, berkelas, dan dia sahabatku sejak SMA. Dia pernah menyatakan perasaan terhadapku, tetapi aku menolaknya karena aku tidak ingin ada hal yang berubah di antara kami. “Hoii kok malah ngelamun? Gak mau nih kopinya? Ya udah gua kasih ke yang lain aja” Aku pun menyambar tangan Tami dan terjebak diposisi ‘aneh’, aku pun salting dan menunduk “Gua mau kok kopinya, sorry gua lagi ada masalah makanya ngelamun”. Dengan tatapan damai Tami ngeletakin kopinya di atas meja dan mengambil kursi. Dia duduk di hadapanku “Kalau lu punya masalah lu mestinya cerita ke gua, buat apa gua di sini kalau gak jadi sandaran lu Kirla” sambil mengangkat daguku. Aku pun mengangguk dan menceritakan apa yang terjadi dalam kehidupanku beberapa hari ini sambil menyesap kopi yang Tami berikan.

Dia memang seorang pendengar yang baik, tak sekalipun dia memotong ceritaku. Dia terlihat sangan simpati dan antusias dengan ceritaku, dan aku sangat menghargainya. Setelah aku selesai bercerita seperti ada sedikit beban yang terangkat dari dalam hati ini. “Jadi gitu ceritanya, ya udah gini deh ntar pulang kerja gua anter lu ke rumah sekalian gua mampir bentaran” kata Tami dengan memamerkan rentetan giginya dan lesung pipit yang menambah ketampanannya. Saat aku ingin menolak dia langsung bergegas kembali ke ruangannya “See you later honey” dengan tawanya yang manis.
Yahh apa boleh buat. Hanya untuk sekali ini saja kok. Aku pun tersenyum.

05.45 p.m
Waktunya pulang kantor, aku menyusun barang-barangku dan menunggu Tami di lobi. Dan dia pun muncul dengan mobil SUV-nya. Masih dengan senyuman manisnya dia turun dan membukakan pintu untukku, memang cara yang klise tetapi aku menyukainya. Setelah pintu ditutup dia membicarakan banyak hal yang membuatku lupa akan hal yang aku alami beberapa hari ini.

Dan kami sampai di apartemenku kami naik ke lantai 10. Aku membuka kode pin kamarku dan Tami mengecek sekeliling yang malah membuatku resah. 35 menit bersamanya di perjalanan lenyap begitu saja ketika kulihat Mephistopeles dengan kepala terpenggal dan bercak darah di lantai. Aku berpaling dan melihat bayangan bertopi di belakang Tami dan semua gelap…

Cerpen Karangan: Laysen May
Facebook: Laysen Maygel
Semoga bisa lulus moderasi dan jadi inspirasi bagi penulis yang lain

Cerpen Tak Tergapai merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Suara itu

Oleh:
“Aurrelia? Cepat bangun! Kamu harus sekolah sayang” kata bunda, “huaammmm, aku masih mengantuk bunda” ujarku sambil terus mengusap mata. Lalu bunda membelai rambutku “ayo bangun sayang, bunda tunggu di

Pinkbells

Oleh:
“Dia pernah datang dalam mimpiku dan menjanjikan sejuta perhiasan asalkan puisinya dibaca khalayak ramai,” ujar Rugosa Smith ketika sadar setelah jatuh pingsan karena tertimpa plafon gedung itu. Plafon yang

Pisau Daging

Oleh:
“Shannon, jangan lupa! nanti malam datang ke pesta ulang tahunku ketujuh belas ya?” Laffy menyodorkan sepucuk undangan berwarna merah muda itu kepada Shannon. “Tentu saja! Terima kasih, Laffy!” Shannon

Misteri Pencurian Permata

Oleh:
Rumah Pak Jupri semalam kemalingan. Pagi itu, hampir seluruh warga komplek berkumpul untuk menyaksikan rumah Pak Jupri. Sementara beberapa polisi sibuk memeriksa dan memasang garis polisi. Kejadian itu baru

Siapakah Yang Menyapu Malam Malam Itu

Oleh:
Suasana sabtu sore itu sangat cerah, warnanya merona kemerahan di langit tanpa terlihat satu pun awan mendung yang menaunginya. Kenalkan namaku Irvan. Seperti biasa… aku dan tetangga sebelahku sebut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *