Telepon

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 29 June 2013

“Kring… kring…” Bunyi telepon genggamku, pertanda ada panggilan masuk. Aku yang sedang menonton televisi langsung mengambil telepon genggamku, ini dari Dani, pacarku. Aku langsung menerimanya, dan berkata, “Halo?”
“Halo, sayang.” Suara Dani yang aslinya bagus, di telepon menjadi sedikit serak, namun aku tetap suka.
“Ngapain telepon malam-malam kayak gini?” Tanyaku, seraya tangan kiriku mengambil berondong jagung yang sudah aku siapkan sejak tadi.
“Aku kangen aja sama kamu, kamu lagi ngapain?”
“Lagi nonton televisi.” Jawabku.
“Nonton apa?”
“Film.”
“Film apa?”
“Horor, bagus lho, Yang.”
“Tapi bukannya jam segini kamu sudah di suruh tidur sama orang tua kamu, ya?”
“Orang tuaku lagi pergi ke luar kota, ada urusan gitu, pulangnya besok pagi, jadi malam ini aku bebas!” Aku tertawa kecil. Ia juga tertawa.
“Enaknya, sedangkan aku terkurung di kamarku sendiri.”
Aku tertawa, “Kasihan.”
“Aduuh!” Tiba-tiba ia mengaduh, dan telepon itu terputus.

Aku langsung meneleponnya lagi, namun tidak di angkat. Aku khawatir, aku meneleponnya lagi, dan tidak di angkat juga. Lalu aku menelepon Sinta, sahabatku. Rumahnya bersebelahan dengan Dani.
“Hai, Karin. Ada apa?” Tanyanya.
“Sin, tadi aku sama Dani ngobrol di telepon, tapi tiba-tiba dia teleponnya terputus. Ada apa, ya?”
“Nggak tahu, dari jendelaku sih kamar Dani gelap, nggak kelihatan apa-apa. Mungkin sudah tidur.”
“Tapi masak nggak bilang dulu kalo mau tidur, masak langsung dimatiin gitu aja. Kan aneh, Sin.”
“Iya sih, mungkin tiba-tiba Ibunya dateng, terus karena kaget, Dani langsung matiin telepon kamu.”
“Iya juga sih.” Aku sudah mulai lega. “Ya udah, makasih lho, Sin. Maaf udah ganggu malam-malam.”
“Iya, sampai ketemu besok, ya. Dah!”
“Dah!”
Aku memutuskan telepon.

Lalu aku kembali lagi ke film horor yang sedang di putar di televisi. Film ini memang seru, banyak adegan-adegan brutal yang disajikan, namun sayang, adegan itu di sensor ataupun di potong. Tapi tetap seru.

Tiba-tiba telepon berbunyi. Itu dari Dani. Aku langsung mengangkatnya. “Dani? Kenapa kamu langsung matiin gitu aja teleponku?”
“Karin, aku… aku…” Suaranya seperti orang yang sedang terluka, yang, Dani sedang terluka.
“Kamu kenapa, Dani?”
“Aku…” Belum sempat dia melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba Dani berteriak, dan telepon kembali terputus.
Ada apa dengan Dani? Aku langsung menelepon Sinta. “Halo?”
“Hai, ada apa lagi?”
“Dani tadi telepon aku, terus dia itu kayak orang terluka gitu, terus dia teriak, dan akhirnya telepon dimatiin, ada apa sama dia sih?”
“Aku lihat dari jendelaku sih kamarnya dari masih gelap, tapi memang tadi aku dengar suara teriakan gitu, tapi mungkin suara dari televisi, kan hari ini ada film horor di televisi.”
“Iya, tapi aku khawatir sama dia, aku takut kalo ada apa-apa sama dia.”
“Tenang, Karin. Kalo ada apa-apa sama dia pasti aku bakalan telepon kamu langsung deh.”
“Yakin?”
“Yakin. Sudah dulu, ya. Aku harus makan.”
“Makan pada saat jam 9?”
“Iya, Ibuku baru datang, bawa spagetti.”
“Oh, ya udah. Dah!”
“Dah!”

Aku kembali dengan film yang sedang di putar di televisi. Namun, pikiranku masih penuh dengan tanda tanya terhadap Dani, ada apa dengan Dani? Kenapa dia berteriak?

Adegan yang sedang di putar adalah si pembunuh yang sedang bersiap-siap untuk membunuh si korban. Dan, di saat pisau si pembunuh akan segera mendarat di perut si korban, mulutku di sekap.

Aku mencoba melawan, namun lawanku lebih kuat. Tapi, sebenarnya siapa lawanku?

Dia memakai topeng ala pencuri. Topeng. Namun, belum sempat aku berpikir, aku sudah di bunuh. Ya, aku sudah mati.

Si pembunuh membuka topengnya. Ia Santi. Sahabat Karin. Lalu dia mengambil teleponnya, dan foto Dani dijadikan wallpaper. Lalu dia memotret mayat Karin, dan pergi. Meninggalkan mayat Karin, dan televisi yang sedang memutar film horor.

Cerpen Karangan: Wahyu Tio

Cerpen Telepon merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ada Tapi Tak Terlihat

Oleh:
“Aku tidak percaya hantu” Doni berkata dalam hatinya sendiri. “Hantu itu hanyalah kebohongan yang diberitahukan kepada anak-anak agar mereka tidak berbuat nakal” sambungnya. Seketika dia membuyarkan lamunannya, bel sekolah

Rumah Tua Seberang Rumah

Oleh:
“Bukannya sudah kubilang kalau jangan pernah mendekati rumah itu?” Dio berkata pada Mia dengan galak. Mia menunduk, tak berani menatap wajah garang Kakaknya. “Memangnya apa sih yang menarik dari

A Deadly Vacation (Part 2)

Oleh:
Aku telah merenungi masalah ini semalaman penuh. Setelah aku menyadari bahwa tulisan itu pastinya ditulis berdasarkan arah pandangan Emilia sendiri, aku menemukan titik terang. LE pastilah menunjukkan tempat, entah

Jiwa Kedua

Oleh:
Suara yang ditunggu-tunggu akhirnya berbunyi, suara bel tanda pulang sekolah. Akhirnya pelajaran akuntansi 5 jam berakhir. Ku langkahkan kakiku ke musala sekolah, mengambil wudu lalu menghabiskan waktu berlama-lama dengan

Mysterious Admirer

Oleh:
Siapa yang tak kenal dengan Carl, cewek yang paling populer di sekolah terelit di pusat ibu kota. Tiada yang tau seperti apa keluarganya, tetapi dilihat dari cara berpakaian dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *