Tengu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 5 January 2016

Hari ini aku mendapatkan kabar bahwa aku lolos sebagai finalis kompetisi model majalah remaja Celestica. Harusnya aku bahagia alih-alih aku merasa sedikit bingung. Aku tidak pernah yakin akan cocok dengan kehidupan model dan hal-hal semacam itu. Bagaimana pun juga ini adalah sebuah pencapaian. Aku tidak ingat pernah mendapatkan pencapaian di bidang apa pun sebelumnya. Di sekolah nilai pelajaranku tidak istimewa dan aku tidak terlalu suka olahraga dan aku tidak punya prestasi apa pun. Aku harusnya senang terhadap pengakuan ini.

Dengan perasaan yang gundah aku setengah berlari ke ruang keluarga. Di sana mama sedang duduk di sofa. Ia terlihat sangat lemas dan cara duduknya seperti sayur direbus terlalu lama. Ia membaca sebuah majalah sementara televisi di depannya dibiarkan bicara sendiri. Pemandangan seperti ini selalu ku lihat ketika mama baru saja pulang dari kantor. Mama selalu terlihat lelah di rumah. Selalu begitu dan aku juga tiba-tiba akan terasa lelah ketika melihatnya, selalu begitu. Aku mencoba menyampaikan kabar tadi dengan sikap setenang mungkin.

“Oh, kamu lolos,” kata mama dengan sikap terkejut yang terkesan dibuat-buat, “Kapan berangkat ke Jakarta?”
“Minggu depan.”
“Berapa lama nanti di Jakarta?”
“Seminggu mungkin.”
Ada jeda, hanya terdengar suara televisi. Tatapannya kosong ke depan.
“Sepi jadinya nggak ada kamu.” Mama mengatakannya seolah-olah aku akan pergi ke medan perang dan berada di barisan terdepan yang siap mati atau semacamnya.
“Ya, Mama jadi sendirian,” jawabku mengiyakan.

Kabar itu datang pada sore hari. Aku sedang duduk di meja belajar dan mengerjakan tugas matematika. Baru mengerjakan lima soal aku sudah kehilangan minat dan detik berikutnya aku hanya membolak-balik halaman-halaman buku catatanku lantas berhenti pada halaman terakhir. Di sana ada gambar yang ku buat ketika aku sangat bosan di kelas. Gambar seorang laki-laki ganteng dengan raut wajah kegirangan sedang memejamkan matanya dan bersiap mencium perempuan cantik di hadapannya. Di belakang perempuan cantik sesosok Tengu -makhluk ajaib dengan fisik seperti manusia, tapi berkepala gagak- sambil senyum jahil di paruhnya menutup mata si perempuan cantik dengan kedua tangannya yang lebar.

Ada cairan hitam encer yang menetes dari mata si perempuan cantik, tempat jari-jari panjang Tengu menempel. Gambar ini pernah dilihat Bayu, seorang teman yang duduk tepat di belakang mejaku. Dia melihatnya ketika meminjam buku catatanku. Ia sangat sering meminjam buku catatanku dan itu sudah jadi ritual yang menyebalkan sebab ia tidak pernah mencatat apa pun di kelas. Bayu memuji gambarku. Dia yakin karakter dalam gambarku itu diambil dari manga atau anime atau semacam itu. Lantas ia memintaku untuk menceritakan manga itu.

Sebenarnya itu bukan karakter dari manga mana pun. Aku meniru lukisan cat air Joao Ruas, seorang seniman Brazil. Yang berbeda adalah posisi laki-laki dan perempuannya terbalik. Aku sendiri tidak tahu apa makna lukisan Joao Ruas itu, tapi untuk memuaskan Bayu aku berniat untuk cerita asal-asalan, misalnya cerita setan atau semacamnya. Namun karena ada suatu gangguan yang kini sudah tidak ku ingat lagi pembicaraanku dengan Bayu terpotong.

Bus lalu-lalang di depanku. Datang dan pergi sesukanya. Bau solar menguarkan sesuatu yang memualkan. Pedagang asongan menawarkan barangnya. Aku sudah mengatakan kepada mama untuk tidak perlu menemaniku di terminal, tapi mama tetap bersikeras. Aku tidak bisa apa-apa. Seperti biasa menunggu selalu membosankan. Mama sibuk dengan ponselnya dan aku membaca novel. “Baca novel apa?” tanya mama.
“Novel Sidney Sheldon.” Mama hanya mengangguk.

Ia tidak bertanya bagaimana cerita novel ini, ia bahkan tidak bertanya judulnya. Kalau ia bertanya aku akan mengatakan di novel ini ada tokoh yang penyakitnya mirip ayah dan ia mati. Ponselku bergetar, hanya pesan singkat dari operator, tapi tiba-tiba dalam kepalaku muncul ide jahil.
“Dari seorang teman sekolah,” kataku ketika mama menoleh ke arahku. Mama hanya mengangguk tanpa minat.
“Aku kira dia suka aku.”
“Oh ya,” kini mama mulai menunjukkan minatnya, “siapa namanya?”
“Bayu, dia anak yang pintar. Dia juga aktif di ekstrakulikuler basket. Selain itu dia juga tampan dan lucu.”

Mama hanya mengangguk, tapi aku melihat kesan tidak senang.
“Menurut Mama apakah boleh aku pacaran?” tanyaku.
“Kamu sudah pacaran dengan anak itu?” jawabnya dengan nada tinggi.
“Belum Ma, bukan begitu. Tapi seandainya dia memintaku jadi pacarnya apa yang harus aku lakukan?”
“Tolak saja, kamu serius belajar dulu saja.”

Ada jeda yang sangat tidak menyenangkan.
“Kalau Mama sudah punya pacar belum?”
Mata mama terbelalak. Setelah papa meninggal, mama selalu terlihat murung. Sebelum aku mendengarkan jawaban apa pun, mama menunjuk sebuah bus.
“Itu bus kamu bukan?” Aku melihat bus itu sejenak dan ketika aku melihat nomor bus itu aku menggeleng, bukan bus itu yang akan ku tumpangi. Setelah itu kami tidak bercakap-cakap lagi hingga bus yang membawaku datang.

Aku duduk dekat jendela. Di luar sana ada senja. Aku merasa sangat depresi. Mungkin karena senja. Begitu banyak karya sastra yang menggunakan metafora senja. Setelah pembicaraan dengan mama sebelumnya tentang Bayu aku jadi ingin mengirim pesan singkat kepadanya.
“Bayu, besok selama aku nggak sekolah, aku gantian pinjam buku catatanmu ya.”
“Kamu sudah berangkat? Mau pinjam catatanku ada syaratnya. Memang kamu berani bayar berapa?”
“Sudah berangkat. Pelit banget, padahal selama ini kamu pinjam punyaku. Tidak masalah. Sepertinya aku juga tidak akan pulang lagi. Mau tahu rencanaku? Setelah kompetisi selesai aku akan mencari tempat kontrakan di Jakarta. Barangkali aku akan masuk model agency dan mengikuti casting. Yang pasti aku tidak akan pulang.”

“Jangan bercanda deh, terus sekolahmu bagaimana?”
“Aku serius.”
“Aku nggak percaya.”
“Hei kamu ingat tidak gambar Tengu di buku catatanku?”
“Gambar laki-laki berkepala gagak itu ya?”
“Kamu dulu pernah tanya ceritanya, tapi aku belum sempat cerita. Masih berminat dengan ceritanya tidak?”
“Iya, seperti apa ceritanya?”

Richard Rider, seorang ayah dan Cammi, anak gadisnya yang berumur enam tahun kerap menghabiskan sore hari di taman kecil yang terletak di bagian belakang rumah mereka. Tempat favorit mereka adalah ayunan. Si ayah akan mendorong ayunan dan gadis kecil akan melayang-layang di udara sambil tertawa kegirangan. Namorita, sang ibu hanya sekali-kali melihat dari dalam rumah. Ia tidak suka taman itu. Pernah seekor gagak bertengger di atas ayunan. Gagak itu tidak mau pergi sebelum Namorita melemparnya dengan sandal. Semenjak itu ia sering mendengar suara gagak di tempat itu.

Saat usia Cammi memasuki tujuh, ayahnya terkena stroke. Pembuluh di belakang otaknya pecah. Ia terbaring di rumah sakit dengan selang-selang melilit tubuhnya. Selama seminggu ia begitu terus. Rumah sakit itu adalah tempat Namorita bekerja sebagai dokter. Ia sendiri yang merawat suaminya. Ia depresi sebab suaminya belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan dan dalam benaknya ia yakin semua upaya yang dilakukannya hanya sia-sia. Ia mencintai suaminya dan dengan dasar itu ia melakukan euthanasia pada suaminya sendiri.

Keluarga dan temannya menghibur Namorita bahwa suaminya adalah orang baik dan ia pasti akan ke surga. Kata surga membuatnya ngeri sebab ia tidak yakin apakah euthanasia itu sebuah dosa atau tidak dan apakah kelak surga mau menerimanya atau tidak. Namorita juga ngeri membayangkan tindakannya itu akan menyeretnya ke penjara. Hingga saat itu tidak ada yang tahu bahwa ia melakukan euthanasia kepada suaminya. Di pemakaman suaminya, Namorita bertemu dengan mantan pacarnya. Mantan pacarnya mengucapkan bela sungkawa dan ternyata ia belum menikah.

Semenjak ayahnya meninggal Cammi hanya bermain ayunan sendiri di taman. Namorita tidak pernah mau menemaninya. Namorita mulai suka minum bir dan mer*kok. Kini suara gagak tidak hanya terdengar dari taman belakang. Di kamar mandi, di dapur, di kamar tidur dan di setiap sudut rumah Namorita mendengar suara gagak. “Koak-koak,” seolah-olah suara gagak itu mengisi kekosongan suaminya. Itu membuatnya gila. Ia mengunci pintu belakang menuju taman dan melarang Cammi bermainan ayunan di sana sebab ia yakin taman itu merupakan sumber aura jahat. Namorita tidak akan membuka pintu itu lagi. Cammi menangis, tapi Namorita tidak peduli.

Pada suatu sore menjelang malam peristiwa ganjil terjadi. Pintu belakang terbuka, padahal Namorita sangat yakin pintu itu dalam keadaan terkunci dan ia sendiri yang memegang kuncinya. Mustahil bagi Cammi untuk membuka pintu itu. Dari arah taman terdengar suara tawa riang dan suara ayunan. Di sana Cammi sedang bermain ayunan sementara di belakangnya sosok tinggi besar berkepala gagak mendorong ayunan.

Ketika Namorita tiba di taman, Cammi berhenti tertawa. Cammi turun dari ayunan dan berjalan mendekati manusia berkepala gagak. Sosok itu menatap Namorita dengan ganjil. Tiba-tiba sayap laki-laki berkepala gagak mengembang dan dengan sekali hentakan ia membawa gadis kecil terbang ke langit. Lalu menghilang. Namorita terduduk lemas. Perlu berjam-jam bagi Namorita untuk menenangkan diri. Ia tahu harus melakukan sesuatu tapi tidak bisa memikirkan apa pun. Namorita yakin tidak ada yang percaya dengan apa yang dilihatnya. Esoknya Namorita melapor ke kantor polisi. Ia harus melakukan itu, ia bilang anaknya mungkin diculik, tentunya tanpa menyebutkan apa pun yang berkaitan dengan sosok manusia berkepala gagak.

Setelah seminggu tinggal di rumah sendirian, Namorita merasa sensasi aneh. Ia merasa seseorang sedang membisikinya dari belakang. Alih-alih merasakan horor, Namorita justru merasa harus mengikuti saran bisikan itu. Bisikan itu menuntunnya untuk menghubungi mantan pacarnya. Dan menyuruhnya untuk kembali berpacaran. Namorita setuju dan mereka menjalin ikatan. Hubungan itu berjalan selama dua bulan sebelum mereka memutuskan untuk menikah. Namorita menghancurkan ayunan di taman belakang dan memutuskan untuk menjual rumahnya. Ia hidup dengan lembaran baru. Perlahan-lahan Namorita melupakan euthanasia, ayunan, Cammi, dan suara gagak.

“Kira-kira siapa Tengu itu? Apakah itu jelmaan dari arwah Richard Rider.”
“Aku tidak kepikiran soal itu, bisa jadi.”
“Ceritanya agak menakutkan. Hei, kau pikir apakah Cammi akan kembali. Maksudku kadang makhluk halus juga mengembalikkan manusia yang diculiknya kan. Jadi menurutmu apakah Cammi akan dikembalikan?”
“Entahlah.”

Cerpen Karangan: Muhammad Ferdiansyah
Blog: http://ocinperspektif.blogspot.com

Cerpen Tengu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misi dan Misteri

Oleh:
Aku adalah siswi sekolah menengah atas. Namaku Adellia Veronica Mozarella. Teman temanku biasa memanggilku Adel. Dua bulan lagi, aku sudah menginjak usia 17 tahun. Sekarang, usiaku 16 tahun lebih

Miss

Oleh:
Katakan ia gila, bagaimana bisa ia merindukan sosok pria jangkung itu. Untuk waktu tertentu bahkan ia sangat ingin memeluk pria itu. Mereka bukan sepasang kekasih meski nyatanya banyak yang

Gerbang Neraka

Oleh:
Gerbang neraka. Begitulah mereka menyebut tempat ini. Tempat yang dahulu adalah tempat tinggal seorang kakek pemuja makhluk terlaknat yang tewas atas perbuatannya ini, kini menjadi tempat mengerikan yang tak

2 Sherlock And Their Watson

Oleh:
“Oi.. Sha minjem cutter dong!” teriak seorang teman yang seketika memecah lamunanku di kelas kala itu. Aku memang biasa melamun di kelas jika tugasku selesai lebih cepat dari waktu

Perpustakaan Berdarah

Oleh:
Pagi itu matahari semburatkan sinar cerah tak terbendung. Bayang-bayang pepohonan begitu jelas dibuatnya. Basah embun masih belum kering teruapkan panas. Ditambah kicau burung mengalun nyaring membuat suasana seolah ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *