Teror Arwah Pasangan Calon Pengantin (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 14 March 2016

15 maret 1998
“Kecelakaan Maut, Sepasang Calon Pengantin Meninggal Di Tempat”

Semalam terjadi kecelaksan di belokan tajam menuju Jalan Jagakarsa ketika motor yang dikendarai oleh Johan dan Ayu ditabrak oleh Metromini jurusan Pasar Minggu-Blok M. Kecelakaan terjadi pada pukul 11.10 WIB dengan pengendara motor tewas di tempat sedangkan sopir dan kenek Bus metromini masih buron dan dalam pengejaran pihak Kepolisian. Menurut saksi mata, bus metromini yang sedang melaju kencang dari arah Blok M ketika akan berbelok tidak mengurangi kecepatan. Sehingga menabrak sepeda motor yang berjalan dari arah yang berlawanan, tidak ayal kecelaksan pun terjadi…

…Kecelakaan ini membawa duka yang dalam bagi kedua keluarga Johan dan Ayu. Menurut pengakuan keluarga, mereka berdua akan melangsungkan akad nikah di akhir bulan Maret ini. Namun takdir berkata lain, di malam yang naas tersebut, Johan sedang mengantar Ayu untuk pulang ke rumahnya di Jl. Radio dalam. Di mana keduanya baru saja pulang dari kediaman Johan untuk membicarakan mengenai masalah persiapan acara..

Pada tanggal dan hari yang sama..

Duduk santai di bangku tempat istirahat pengunjung yang berada di depan sebuah toko buku. Sambil melepaskan penat di badan dan kaki yang dari tadi pegal berjalan. Sekalian menikmati megahnya interior dalam mall ini serta pengunjung-pengunjung yang menurut Aan ajaib. Ajaib karena yang maha kuasa bisa menciptakan makhluk yang bernama manusia dalam berjenis-jenis bentuk, sifat dan karakter yang berbeda-beda. Satu hal yang membuat Aan mau berlama-lama di tempat tersebut adalah menikmati keindahan dari suatu bentuk ciptaan Tuhan yang tidak habis-habisnya patut disyukuri adalah yang namanya perempuan.

Hal tersebut bisa membuat mata menjadi terang dan pikiran pun menjadi jernih menurut Aan. Siang ini walau terlihat lenggang namun kebanyakan para pengunjung Mall yang menuju ke toko buku ini berasal dari kaum hawa. Rata-rata mereka berstatus kuliah dengan dandanan yang menarik, baik dari wajah maupun penampilan dalam berpakaian. Tidak sulit untuk menebak, karena rata-rata penduduk di kota selatan Jakarta ini adalah anak kampus.

Toko buku tersebut merupakan Retail Waralaba Nasional yang terkenal, tempatnya yang berada dalam sebuah mall terkenal di sebuah kota selatan Jakarta, menambah prestise tersendiri bagi pengunjungnya. Pengunjungnya kebetulan berasal dari perumahan real estate yang tersebar di sekitar Mall ini. Belum lagi pengunjung yang berasal dari kalangan anak-anak kuliah. Terhitung di sekitar Mall ini ada 7 kampus terkenal yang tersebar di beberapa tempat atau bagian kota ini. Jadi tidak heran kelau Mall ini terkenal sebagai tempat nongkrongnya anak-anak kuliahan. Kebetulan juga pada hari ini toko buku tersebut menggelar acara bazzar buku, terlihat dengan wagon-wagon yang berjajar di depan toko beserta POP besar yang menginfokan jenis promo di setiap wagonnya.

Tidak jauh dari tempat duduk Aan, berjejer rapi etalase yang menjajakkan beberapa barang dagangan seperti boneka, tas dan dompet kulit. Ada juga etalase yang menjual product kerajinan tangan seperti tas rajut, sendal kulit, dan lain-lain, di samping itu beberapa etalase juga menjual berbagai mainan anak-anak. Etalase berjajar rapi yang berukuran sedang ini berada di tengah-tengah jalan utama yang menuju toko buku. Sedangkan di samping kanan dan kirinya etalase, berjejer counter-counter modern seperti counter salon, counter elektronik, counter peralatan rumah tangga, counter mainan anak-anak, counter accessories hp, dan komputer serta cafe.

Suasana siang ini memang wajar terlihat tampak lenggang pengunjung, karena memang terhitung jam kerja atau jam kuliah. Hal tersebut tentu saja sangat berbeda dengan hari-hari akhir minggu, karena frekuensi kunjungan ke Mall ini bisa membludak. Walaupun begitu terhitung masih banyak para pengunjung yang lalu lalang di dalam mall ini. Termasuk pengunjung di toko buku ini pun juga relatif ramai. Selain para anak kuliahan banyak juga pengunjung yang berasal dari para perkerja lepas serta ibu rumah tangga yang membawa anak-anaknya. Cukup dimaklumi, karena Indonesia dikenal sebagai penduduk terbesar dan penduduk paling konsumtif di dunia. Apalagi jika ada gelaran acara bazaar atau discount untuk product terkenal, pasti ramai.

Di berbagai kota, apa pun productnya, tentu acara discount atau bazzaar tetap ramai. Aan memainkan tuts tuts hp-nya untuk mengetikkan pesan singkatnya. “Guys di depan toko buku nih.. buruan..” Setelah menekan tombol oke dan memilih nomor yang dituju, pesan pun dikirim. Tidak lama kemudian Aan menerima pesan bahwa pesan tersebut telah diterima. Aan menunggu balasan dari temannya, sambil meneruskan kegiatannya sedari awal yaitu memperhatikan para pengunjung kaum wanita yang hilir mudik di hadapannya. Sebenarnya Aan sudah mempunyai tautan hati yaitu perempuan kampus berjilbab yang berkuliah bahasa asing di Cikini.

“Tapi tidak ada salahnya kan kalau hanya memperhatikan. Toh tidak mengkhianati cintaku pada dirinya.”
“Wajarlah laki-laki normal, masa melihat wanita cantik tidak tergoda,”
“Tapi, kalau cewek cantik seperti mereka mereka ini biaya perawatannya mahal juga nih. Mana mau juga mereka kalau jalan kaki. Harus pakai pelet Jepang kalau begini,”
Dari tadi pikiran-pikiran tersebut yang berputar-putar di benak Aan. Bertanya-tanya terkadang menjawab sendiri. Bahkan pikiran-pikiran negatif sempat terlintas jika melihat wanita yang berpakaian lebih seksi.

“Kalau gak sengaja melihat, berarti rejeki. Kalau lama-lama dilihat malah jadi dosa.” berpikir sok alim namun tetap saja matanya tidak bisa dialihkan. Tidak terasa waktu berjalan. Sudah setengah jam Aan menunggu teman-temannya. Sebenarnya ada keinginan untuk masuk ataupun melihat buku-buku bazaar ataupun buku yang baru terbit. Tapi hal tersebut diurungkan Aan, bukan karena tidak suka buku. Namun ia tidak pernah bisa menahan diri jika ada buku yang ia suka. Padahal sekarang ia sedang mengirit uang makannya yang menurut perhitungannya, jika dibelanjakan maka tidak akan sampai ke akhir bulan. “Malu untuk minta lagi ke orangtua, kasihan ke mereka.” pikir Aan.

“Wooii, bengong aja..” Teriak suara cempreng membuyarkan lamunan Aan, disambung dengan suara mengikik. Dion yang tadi berteriak di samping Aan langsung duduk menghempaskan badannya di bahu kursi. “Seksi juga ya An,” seru Dion bergabung dengan menatap buruan Aan, “Tapi sayang An, gak mau sama gue,” seru Dion menampakkan muka serius. Sedangkan Aan hanya diam menatap wajah Dion.. entah apa pikirannya saat itu, terpana kagumkah, muakkah, atau terpesona.

Andri yang tadi datang bersama Dion langsung menyela, “Mana ada yang mau sama lo Dion, kurus kering cungkring, jelek lagi kayak hantu kayu,” nyaring nyelekit menghujam langsung ke sasaran. Tapi memang dasar gaya anak-anak kost timbul, kebiasaan berbicara kasar, tidak disaring, apa adanya. Namun dianggap hal yang biasa, “No hurt feelling” semuanya atas dasar pertemanan. Dion hanya tertawa mengikik seperti kebiasaannya.

Andri memang bukan penghuni satu kost dengan Aan dan Dion. Ia merupakan penghuni kost yang berada tidak jauh di belakang rumah kost Aan. Mereka menyebut anak-anak kost di jalan tersebut sebagai komunitas anak-anak kost timbul, di mana pun tempat kostnya, asal masih berada di jalan timbul. Karena satu kesatuan, senasib, dan sepenanggungan mereka sering mempunyai sifat nomaden namun tetap menghormati privasi untuk penghuni asli. Maksudnya nomaden karena anak-anak kost lain sering menyambangi atau menginap di kost teman yang lain, begitu juga sebaliknya.

Terkadang anak-anak sekitar kota Jakarta sengaja untuk bermalam di rumah kost temannya, selain lebih akrab juga menambah keramaian di lingkungan kampus. Rumah kost Aan pun sering menjadi sasaran anak-anak kampus menginap, namun semenjak menyebar cerita tentang peristiwa “si baju merah” kost mereka aman dari anak-anak yang mau menginap. Hanya saja untuk meramaikan tetap saja kost mereka dipakai base gaplek serta judi gaplek cepek-an (Rp.100-an) sampai Rp.500-an. Mengingat rumah kost mereka sangat strategis mudah dijangkau dan berada di pinggir jalan, untuk keadaan kamar-kamarnya sangat tertutup dan penuh privasi. Memesan makan atau minum pun cepat, tinggal pakai telepon teriak, semi pun meluncur ke arah kost.

“Gimana Dri, fix? Dapat bahan-bahannya?” Tanya Aan mengalihkan.
“Dapat An, fix tadi ketemu costumer. Dia mau pesan 3 lusin dulu untuk counternya.” Jawab Andri.
“Oke Dri, pakai kost-an kita saja. Pay sama Rubby berdayakanlah, dari pada bengong. Kalau di JK (nama kost andri dan nama organisasi mahasiswa kampus yang artinya “just kiding” Aan dan Dion masuk menjadi anggota tetapnya) sekarang banyak penghuni keluarga, gak enak sama mereka,” ujar Aan membujuk. Kebetulan bentuk kost jk adalah seperti bedeng berjajar. Di mana tiap kamar langsung ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan kamar mandi. Sangat berbeda dengan keadaan kost Aan dan Dion tempati yaitu berbentuk rumah dan lebih privasi.

Andri mempunyai konsep untuk menambah uang saku bagi anak-anak kost. Konsepnya yaitu berjualan souvenir lilin yang terbuat dari lilin halus warna-warni dan malam yang diukir pada gelas kecil. Pada gelas tersebut malam dibentuk menjadi tulisan ataupun tambahan-tambahan merchandise seperti kerang atau lainnya untuk memperindah. Ditutup dengan lilin pasir atau lilin yang diparut yang berwarna warni lalu dipanaskan.

Tidak lupa meletakkan sumbu lilin sebelum di panaskan. Lilin atasnya mencair dan menutup merekatkan pasir lilin warna warni yang berada di tengah dan sangat indah. Sedangkan tulisan atau pun merchandise yang melengkapi di dalam gelas terpatri dengan aman. Merchandise ini memang berfungsi sebagai souvenir lilin ulang tahun perkawinan, ataupun untuk hiasan di ruang tamu. Andri sudah sangat menguasai tekniknya dan sudah share dengan anak-anak kost. Kebetulan untuk ide tersebut mendapat support penuh dari teman-teman satu kost Aan.

Hari ini Dion dan Andri menemui costumer yang akan order barang tersebut. Kebetulan costumer ini masih teman dekatnya andri dan ini order pertama mereka. Pada awalnya, usaha ini mereka jalankan dengan dana patungan. Untuk promosi, mereka jalankan dari kampus baik dari papan pengumuman, “mouth to mouth”, serta selebaran di kampung sekitar kost mereka. Untuk rumah kost dipasang lembar reklame yang terbuat dari karton ditempel di dinding, sangat sederhana sekali.

Sesampainya di kost, mereka mengadakan rapat kecil. Dihadiri semua penghuni rumah kost dan sebagian kost jk. Terbentuklah tim Aan, Dion, Pay, Rubby, Andri, dan Beni. Sedangkan Robert dan Apri tidak bisa mengikuti karena tidak suka hal-hal yang berbau “ribet.” Entahlah kami tidak memaksa. Sore itu pun kami mulai produksi. Jam 11.47 WIB, Rubby mendendangkan lagu-lagu iwan fals di depan rumah kost. Produksi dihentikan karena tinggal finishing pemanasan saja yang dilakukan Andri.

Robert dan Dion sibuk memasang biduk untuk bermain catur tidak jauh dari pintu masuk depan ruang tamu atau berkumpul anak kost. Koran yang berada di bawah catur sengaja dijauhkan dan dijadikan alas untuk asbak rok*k. Fungsinya agar abunya tidak mengotori lantai. Aan menghisap rok*k kreteknya dengan ditemani kopi susu buatan semi si tukang warung. Pay sedang termenung memperhatikan Rubby yang sedang memetik gitar sedangkan Benny bersenandung menyuarakan suara yang menurutnya merdu tapi menurut anak-anak.. sangat jauh dari merdu. Tapi lumayanlah untuk malam ini daripada gak ada yang nyanyi.

Malam ini langit menggantung mendung tanpa bintang. Hujan turun rintik-rintik bersama sang angin malam, bertiup dingin melenggak-lenggokkan daun-daun pohon waru yang tumbuh di seberang depan kost mereka. Lalu lintas di depan kost pun sunyi senyap. Hanya satu dua mobil angkot 105 yang lewat namun terkadang berputar balik di depan kost untuk kembali ke terminal karena sepi penumpang. Tiba-tiba entah dari mana asalnya, di depan kost berhenti sebuah motor bebek yang pada awalnya tidak ada seorang pun menyadari. Biasanya suara motor baik dari arah kanan maupun kiri jalan pasti terdengar mendekat. Kecuali motornya didorong, nah itu pasti tidak akan terdengar.

“Permisi, selamat malam,” seru suara perempuan yang turun dari belakang motor tersebut. Motor tersebut ditunggangi oleh dua orang, seorang laki-laki yang mengendarai dan di belakangnya sang perempuan yang turun menyapa kami. “Maaf, saya mau pesan souvenirnya 8 lusin untuk acara pernikahan kami, bisa?” Tanyanya sambil memberikan sebuah kertas detail nama, tanggal pernikahan, ucapan pernikahan, serta tambahan alamat rumah untuk barang diantar. “Oh, bisa-bisa Mbak, sebentar.. silahkan duduk dulu, saya panggil Andri teman saya, kebetulan ia koordinatornya.” seru Benny menyilahkan sang tamu untuk duduk di bangku panjang yang berbuat dari kayu. Rubby dan Aan pun menyingkir ke teras depan dan berjongkok di sana bersama Pay sambil memperhatikan sang tamu.

Sang perempuan pun hanya mengangguk dan tersenyum. Ada yang nampak aneh dari kedua orang tersebut. Sang lelaki terus duduk di motor dalam posisi menunduk tanpa bergerak, memakai kemeja putih dan bercelana jeans biru gelap. Motor di parkir di tempat yang lebih gelap dinaungi oleh pohon waru agak ke depan pagar depan kost. Sang perempuan pun tidak duduk seperti yang Benny persilahkan namun lebih banyak berdiri menjauh ke tempat yang gelap dengan posisi membelakangi kami menghadap ke jalan raya. Tidak ada kata-kata yang ia keluarkan, hanya menunduk dan diam mematung.

Pakaian yang dikenakannya menggunakan atasan kebaya putih dan memakai bawahan celana katun gelap. Keadaan pada saat itu di teras depan memang lampu dipadamkan. Sengaja dipadamkan ketika anak-anak kost nongkrong di depan kost. Hal ini menjaga supaya tidak menjadi pusat perhatian orang-orang yang lalu lalang ataupun dari orang kampung. Namun siluet pucatnya wajah dan kulit perempuan tersebut masih terlihat jelas walaupun posisinya ia berdiri di tempat yang lebih gelap. “Baru kali ini aku melihat tamu yang aneh,” bisik Aan ke Rubby, Rubby pun mengangguk mengiyakan. Mereka sepertinya tidak mengetahui siapa yang ada di hadapan mereka sebenarnya/ Tidak lama kemudian Andri pun muncul.

“Bisa Bu, kalau boleh tahu kapan kami antar ya Bu?” Tanya andri langsung pada tujuannya.
“10 hari ya Mas, antar aja ke alamat yang dituju, ini uangnya saya kasih panjar Rp.300.000, sudah ya Mas, ditunggu,” seru sang perempuan menjawab masih dengan posisi membelakangi lalu berbalik menyamping memberikan uang kepada Andri lalu melangkah pergi.
“Oh iya Bu, terima kasih,” seru Andri terburu-buru melangkah mengambil uang lalu menatap sang perempuan pergi dari hadapannya menuju motor.

“Ben, mana kertasnya tadi,” seru Andri mengalihkan perhatian mereka sejenak ke beni. Beni pun memberikan kertas yang diberikan perempuan tadi. Tidak sampai beberapa menit, perhatian mereka teralihkan, kehadiran kedua orang misterius itu pun lenyap. Tidak ada tanda-tanda suara motor ataupun perbincangan antara laki-laki dan perempuan tersebut. Kedua orang tersebut hilang misterius. Sebenarnya Aan dan Rubby menyadari keanehan itu semua. Namun Aan beserta yang lain begitu sangat gembira menerima order dari sang tamu misterius. Sedangkan Rubby masih tertegun dingin berusaha untuk menerima semua hal tersebut dengan nalarnya seraya menatap tempat hilangnya pasangan tadi beserta motornya.

Rasa penasaran membuat Rubby melangkah menuju ke arah luar pagar tempat tersebut. Namun yang ia lihat hanya jalan yang gelap, suram dan sepi dengan penerang lampu jalan yang redup karena terhalang daun pohon waru. Hanya Warung makan semi yang terlihat terang dengan beberapa anak kost yang mengobrol di dalamnya. Rubby merasakan rintik-rintik hujan dan angin dingin yang menyapa tubuhnya. Seperti sebuah hembusan napas dingin menyapa tengkuknya, membuat ia segera mengambil keputusan untuk secepatnya berlari masuk dan bergabung dengan teman-temannya.

“Dri, mana kertas ordernya gue lihat,” seru Robert. Kebetulan Robert dan Dion tidak menyadari bahwa baru saja ada tamu datang untuk order souvenir. Hanya teriakan gembira saja yang mereka ketahui dari teman-temannya. “Johan dan Ayu, Menikah Tanggal 1 April 1998. Terima Kasih Atas Kehadirannya.” seru robert membaca dengan suara yang agak keras, lalu membaca dalam hati alamat untuk mengantarkan barang.

“Dekat kok dri, ini ‘Akamsi (anak kampung sini maksudnya)’ nih.” Ujar Robert.
“Wah, kena dong promosi gue, aa ganteng yang promosi pasti dapetlah costumer, yang datang cantik kan An?” seru Dion seperti biasanya membual membanggakan dirinya sambil tertawa mengikik. “Iya Dion, cantik..cantik,” seru Aan memuluskan pertanyaan Dion untuk menyenangkannya sambil menyeruput kopi susunya.

“Ganteng.. wasaiteng.. muka lo kayak septiteng Dionnnn,” seru Robert nyaring seperti biasanya, “skak..mampus loh..” Lanjut robert mengagetkan, mengejutkan Dion. Tampak Dion berpikir sangat dalam sambil menatap lekat biduk-biduk catur yang ada di hadapannya. Pada akhirnya ia menyentil rajanya jatuh dan mengakui kekalahannya. Robert tertawa-tawa ringkih melihat kelakuan Dion. Dion selalu menganggap setiap permainan menang atau kalah adalah sebuah perang yang harus wajib dimenangkan.

Oleh karena itu, ia selalu kecewa jika ia kalah dalam suatu permainan ataupun pertandingan. Setiap kekalahan membuat kelakuannya berubah 180 derajat menjadi orang pendiam, serius dan terlihat seperti orang yang sedang berpikir keras. Sebuah kelakuan yang tidak seperti biasanya ia tampilkan yang selalu ceria, bermulut besar dan tidak tahu malu serta terkesan angkuh. “Pesen susu akh..” Seru Dion seraya bangkit dari tempat duduknya, ke luar menuju warung makan semi dengan muka yang kusut.

Malam ini, angin semilir malam tetap menerbangkan bulir-bulir hujan rintik-rintik yang menari di luar kost-an. Sementara anak-anak kost sebagian sudah ada yang tenggelam dalam mimpi indahnya termasuk Aan, Dion, Apri, dan Robert. Sementara Beny, Rubi, Pay, dan Andri masih memperbincangkan rencana mereka untuk menyelesaikan order pesanan pasangan misterius tersebut dengan semangat.

“Ndri, aku gak yakin dengan order ini. Kalian gak merasa aneh dengan gerak-gerik tamu tadi. Gue aneh guys,” seru Rubby memasang tampang yang serius sambil meringkuk di ujung kamar dengan sarung tidur dirapatkan ke badan.
“Alaaah, parno (paranoid maksudnya) lo akh.. ” seru Pay sambil tertawa dan menepuk badan Rubby. Pay melihat keadaan Rubby yang meringkuk seperti ketakutan seperti baru melihat hantu, membuat dirinya tidak bisa menahan tawa. Ini kejadian kedua kalinya setelah kejadian penampakan si baju merah. Namun itu sudah lama sekali dan sampai saat ini penampakan itu pun tidak pernah terjadi lagi.

“Rubby, rasional ajalah.. maksudmu yang tadi order bercanda? Kalau bercanda masak mau kasih panjer Rp.300.000 men?” Ujar Andri dengan nada kebapak-an, seperti karakternya selama ini. Penuh dengan ide-ide cemerlang, cerdas, pintar bicara. Karena karakternya tersebut, ia terpilih menjabat sebagai ketua senat di kampus mereka. Jadi wajar jika jiwa kepemimpinannya melekat dan terpancar dari tutur bicaranya. “Bukan, bukan Dri, dari datang dan pergi yang tiba-tiba muncul dan lenyap. Ditambah kelakuan kedua orang tersebut yang banyak diam, membelakangi lalu menyamping seperti menutupi wajahnya, Jujur sampai sekarang aku tidak bisa ingat wajahnya seperti apa Dri,”

“Aan tadi bilang ke gue juga aneh, satu hal lagi perempuan tersebut tampak putih seputih mayat.” Jelas Rubby, dengan gerakan-gerakan tangan seperti politikus di rapat-rapat gedung dewan. Ada sebersit muka cemas terlihat dari Rubby menjelaskan. Rasa takut yang barusaha ia sembunyikan tapi tidak berhasil dan dapat tertangkap oleh teman-temannya. Bukannya menenangkan namun teman-temannya malah mengolok-olok Rubby.

“Jadi yang pesan hantu dong… aneh-aneh juga kau Rubby,” seru benny tertawa mengakak.
“Souvenir lilin calon pengantin kubur,” sambung Benny setengah berteriak, sambil tertawa lalu merebahkan diri di kasur. Semuanya membubarkan diri untuk tidur. Pay kembali ke kamarnya, sedangkan Andri dan Benny memilih untuk menemani Rubby tidur di dalam kamarnya atas permintaan Rubby.

Bersambung

Cerpen Karangan: Asep Kurniawan
Blog: https://aanfutureimagine.wordpress.com
Nama: Asep Kurniawan
Alamat Email: aan_future[-at-]yahoo.com
Alamat Facebook: asep.kurniawan.35762[-at-]facebook.com
Kelahiran Palembang tanggal 10 September 1978, lebih mencintai tanah kelahirannya. Sampai suatu ketika tiba waktunya untuk membuka mata, pikiran serta hatinya untuk melihat keindahan kota-kota lain di dunia ini. Menamatkan dengan baik Sekolah Dasarnya di SD 1 PUSRI PALEMBANG, SMPN 8 PALEMBANG, SMUN 7 PALEMBANG, dengan predikat anak baik, tanpa nark*ba, tanpa minuman keras, tanpa pernah berkelakuan tidak baik atau mendapat catatan hitam di kepolisian serta tanpa dikejar-kejar oleh orangtua untuk dinikahi anak perempuannya, untungnya…

Berbekal predikat tersebut saya merantau di negeri seberang yaitu tanah jawa. Tanah kelahiran orangtuaku yaitu ayahku yaitu Jawa Barat. Tepatnya di kota bandung untuk melamar menjadi mahasiswa di perguruan tinggi ITB, namun gagal total karena ternyata otakku masih kalah encer dengan calon-calon lainnya. Akhirnya aku pun terdampar di Kampung Paling Besar di Negara ini adalah Jakarta. Aku pun akhirnya mendapat predikat gelar mahasiswa di salah satu kampus negeri Kementrian Perindustrian dan Perdagangan (dahulunya masih digabung karena sering berebutan jatah akhirnya sampai dengan tulisan profil ini saya buat alhamdulillah sudah dipisah) yaitu APP (Akademi Pimpinan Perusahaan) ceritanya sih pengen jadi Direktur itu pun kalau ada modal, tapi apa daya tangan tak sampai jadi karyawan pun masih Alhamdulillah, mengambil jurusan Perdagangan Internasional.

Tahun-tahun di kampus aku abdikan dari tahun 1997-2001 serta termasuk predikat mahasiswa paling beruntung karena tidak menjadi korban penganiayaan aparat ketika demo mahasiswa untuk menurunkan Presiden Soeharto. Aktif dalam kegiatan Mapala, sepak bola kampus walaupun jadi cadangan dan pemandu sorak, aktif dalam berorganisasi dengan organisasi bentukan dadakan oleh anak-anak kost yang memang belum punya kerjaan terpenting ada ide dan kumpul bahkan aktif dalam dunia jurnalistik walaupun hanya baru sebagai penikmat dan pengamat. Termasuk mahasiswa pencinta buku yang hobi mengkoleksi buku apa pun serta mempunyai hobi menulis walaupun belum pernah kesampaian.

Berbekal ijazah aku pun mendapatkan perkerjaan sebagai EDP (Entry Data Processing) di sebuah perusahaan advertising yang kebetulan menangani ponsel Ericcson. Sambil berkerja ku teruskan untuk berkuliah mengambil Strata 1 di Universitas Nasional Jakarta jurusan Hubungan Internasional. Kecintaanku pada literatur sejarah dunia, Tokoh-tokoh besar dunia, semakin terbuka ketika mengambil jurusan ini. Pemikiran-pemikiran Islam dan Barat beradu argument di kepalaku, tokoh-tokoh sentralnya pun tidak luput dari perhatianku.

Selama berkuliah di Universitas Nasional ini sudah dua kali berganti
perkerjaan. Untuk di perusahaan advertising saya abdikan dari bulan Juni 2001-Maret 2002. Setelah itu saya bergabung dengan PT Summit Plast Cikarang sebagai team Leader. Saya abdikan di perusahaan tersebut dari bulan Oktober 2003-Jan 2004. Selepas mendapatkan predikat Sarjana Strat 1 dengan gelar Sarjana Politik saya pun bergabung di PT Yomart Rukun Selalu dengan spesifikasi perkerjaan retail dari tgl 14 september 2006-15 mei 2011 jabatan terakhir sebagai Spv area untuk daerah Bandung.

Di bulan Mei 2011 saya pun bergabung di PT MNC SKY VISION bergerak di bidang Pay tv (saluran tv berlanganan) sebagai spv area untuk daerah Cirebon, Majalengka dan Kuningan. Saya abdikan di perusahaan ini sampai dengan bulan Maret 2012. Terakhir saya mengabdikan diri saya masih didunia retail yaitu retail garment di perusahaan PT Sandang Makmur Sejati Tritama dengan brand Royalist sebagai Spv Wilayah Indonesia Bagian Timur yang meliputi semua area Jawa kecuali Jabodetabek, Sulawesi dan Kalimantan.

Saya sekarang mempunyai keluarga kecil yang masih menuju bahagia, dengan dianugerahi seorang istri bernama Lina Marlina dan sepasang anak. Anak pertama yaitu perempuan bernama Adinda Zahra Putriana dan adiknya laki-laki bernama Fathi Rizqi Faqihazam Zuhdi (azam). Kami sekarang menetap di kota bandung yang indah nan sejuk.

Cerpen Teror Arwah Pasangan Calon Pengantin (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Kelas Kosong (Part 1)

Oleh:
Pagi ini adalah pagi yang sangat menyusahkan bagi semua siswa SMPN 4 GORONTALO, bagaimana tidak pagi itu adalah pagi yang diguyur oleh hujan yang sangat lebat dan disertai angin

Nenek Dan Sisir Tua (Part 1)

Oleh:
Kupasang headseat di kedua kupingku, kusenderkan bahu dan kepalaku di jok mobil yang aku tumpangi sambil mendengarkan musik rock kesukaanku. Hari ini aku benar-benar merasa sangat lelah. Sekujur tubuhku

Memecahkan Misteri (Part 2)

Oleh:
Lanel, si murid baru nan misterius, mengalahkan kehebatan semua orang pandai di kelasku. Itu membuat kami curiga lalu kami mulai melakukan penyelidikan. Dan kami temukan antena, dua buah baterai

Siapa?

Oleh:
“Pak, temanku bilang, bulan ini aku harus sudah mengganti hpnya.” “Bukannya sudah diganti dengan hpmu itu?” “Nggak bisa, pak. Hp Ahmad tidak sebanding. Cuma murahan. Lagian dia menuntut harus

Misteri Cinta Mautmu

Oleh:
“Selamat bagi kalIan semua yang telah lolos mengikuti tes dan berhasil untuk sekolah di sini. Untuk itu, MOS tahun ajaran 2009/2010 dinyatakan, dibuka!!” Demikian pernyataan yang telah diserukan ketua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *