The Call

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 7 December 2018

Drrr… Drrr… Drrr…
Getar ponsel di atas meja berhasil membangunkan Lidya yang sedang berada di alam mimpi. Dengan mata yang setengah terbuka, Lidya meraba-raba meja belajar dan mengambil ponselnya.
Ia pun terpaksa menerima panggilan telepon itu.

“Halo!” sapa Lidya agak kesal. Kedua matanya terus saja mengeluarkan air mata karena kantuk yang ditahannya.
Tak terdengar sama sekali balasan akan sapaannya itu di seberang telepon.

Lidya menatap layar ponselnya. Nomor itu belum mematikan teleponnya.
“Halo!” sapanya lagi dengan ragu-ragu.
“Tolong saya! Tolong!” tiba-tiba terdengar suara seorang wanita disertai dengan isak tangis di seberang telepon.
“Halo! Ini siapa?” tanya Lidya panik.

Tuttt… Tuttt… Tuttt…
Telepon itu tiba-tiba mati. Lidya tampak bingung dan juga takut. Ia lalu menatap nomor itu di layar ponselnya. Lagi-lagi dari nomor yang tak dikenalnya. Bulu kuduknya tiba-tiba merinding. Ia pun segera mematikan ponselnya dan menarik selimutnya. Ia berharap tidur dapat melupakan ketakutannya pada panggilan telepon itu.

Akhir-akhir ini Lidya merasa terganggu karena mendapat panggilan telepon dari nomor yang tak dikenalnya tiap tengah malam. Awalya ia tak terlalu mempedulikannya, mungkin cuma kerjaan orang iseng belaka. Biasanya telepon itu mati ketika ia mengangkatnya. Tapi beberapa hari ini Lidya mendengar suara wanita meminta tolong padanya. Ia merasa takut. Suara wanita itu terdengar menyeramkan di telinganya.

Semilir angin pun tiba-tiba berhembus entah dari mana. Setiap ia menelepon balik nomor itu, nomor itu sama sekali tak aktif. Lama kelamaan ia merasa terganggu dan tak nyaman dengan suasana ini. Ia pun lebih memilih mematikan ponselnya.

Hari ini langit begitu cerah. Semua orang di kelas begitu bersemangat mendengarkan penjelasan dari guru di kelas. Tapi hal itu tak berlaku bagi Lidya. Selama jam pelajaran berlangsung, Lidya terkantuk-kantuk di kelas. Semua gara-gara panggilan telepon tengah malam. Entah kenapa kemarin ia lupa mematikan ponselnya. Akibatnya ia tak bisa tidur karena ketakutan.

Bel sekolah tanda istirahat akhirnya berbunyi nyaring. Semua penghuni kelas tampak bersemangat meninggalkan kelas. Lidya duduk termenung seorang diri di kelas. Anisa dan Sarah tampak aneh dengan sikap Lidya hari ini. Ia terlihat lemas seperti kurang tidur.
“Kenapa tuh anak?” tanya Anisa dengan suara pelan.
“Nggak tau! Kesambet kali,” jawab Sarah asal.
“Hush! Jangan ngaco kamu! Kalo ngomong dipikir dulu!” omel Anisa.

Pandangan mata Lidya terlihat kosong. Berkali-kali ia menghembuskan napas berat lalu menempelkan tangan kirinya ke dagu.
“Lid, kamu kenapa? Kalau ada masalah, cerita dong ke kita!” tanya Anisa menghampiri Lidya di bangkunya.

Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Lidya. Lidya lalu menatap kosong ke arah Anisa dan Sarah yang kini berdiri di hadapannya. Anisa dan Sarah merasa semakin aneh dengan sikap Lidya. Anisa dan Sarah pun duduk di samping Lidya.

“Lid, kamu kenapa? Apa kamu sakit?” tanya Sarah khawatir.
Lidya menggeleng ketika tangan Sarah meraba keningnya. Tidak panas sama sekali. “Beneran nih kamu nggak apa-apa?” tanya Sarah memastikan.

Lidya kembali menggeleng. Anisa dan Sarah pun tak bisa berbuat apa-apa. Mereka tak bisa memaksakan Lidya untuk menceritakan masalahnya.
“Kalian berdua pernah dengar nggak cerita tentang telepon tengah malam?” tanya Anisa memulai kembali percakapan.
“Aku sama sekali nggak pernah dengar cerita kayak gituan. Emangnya ceritanya gimana?” tanya Sarah penasaran.
“Dari cerita yang aku dengar dari orang-orang, bila ada telepon dari seseorang yang meminta tolong di tengah malam, telepon itu bukan dari manusia. Katanya sih dulu ada seseorang yang dibunuh saat sedang menelepon di tengah malam,” cerita Anisa.
“Alahhh… Itu paling cuma gosip. Ngapain coba teleponan saat tengah malam? Kurang kerjaan,” ucap Sarah tak percaya.
“Orang yang dibunuh itu laki-laki atau perempuan?” tanya Lidya tiba-tiba. Ia terlihat sangat serius mendengar cerita dari Anisa.

Anisa dan Sarah semakin aneh dengan sikap Lidya. Dengan ragu Lidya akhirnya menceritakan semua kejadian yang akhir-akhir ini dialaminya. Anisa dan Sarah sangat terkejut. Mereka berdua tampak tak percaya dengan apa yang dialami Lidya sama dengan cerita yang baru saja diceritakan Anisa. Sarah pun meminta nomor telepon yang sering meneleponnya tengah malam. Lidya pun segera menghidupkan ponselnya dan menunjukkannya pada Sarah.

Sarah menatap lama nomor itu. Jemarinya lalu mengetik nomor itu di ponselnya. Sarah sangat terkejut menatap layar ponselnya. Ternyata nomor telepon itu sama seperti nomor telepon temannya. Sarah pun mengajak Lidya dan Anisa ke rumah temannya sepulang sekola nanti.

Lidya, Anisa, dan Sarah berdiri di depan sebuah rumah. Rumah itu terlihat sederhana. Perkarangannya pun tak begitu luas. Sarah pun mengajak Anisa dan Lidya masuk ke pekarangan rumah itu.

“Dion!” panggil Sarah seraya mengetuk pintu rumah.

Terlihat seorang cowok membuka pintu. Cowok itu tampak terkejut dengan kedatangan Sarah yang membawa teman-temannya. Dia pun segera mempersilahkan Sarah, Lidya, dan Anisa masuk ke dalam rumah. Tanpa basa-basi Sarah menceritakan semua yang dialami Lidya selama ini.

Cowok yang bernama Dion itu menunduk malu. Ia tak berani menatap Lidya.
“Lidya, aku minta maaf! Selama ini aku yang meneleponmu tengah malam,” ucap Dion mengaku.
“Dari mana kamu dapat nomor Lidya? Seingatku, aku nggak pernah memberikan nomor Lidya sama kamu?” tanya Sarah bingung.
“Aku dapat nomor Lidya saat aku minjam ponsel kamu, Sar. Aku minta maaf!” ucap Dion menyesal.
“Trus kenapa kamu mesti telepon aku tengah malam? Pake suara wanita minta tolong lagi. Bikin takut aja!” seru Lidya.
Dion tampak bingung. “Suara wanita minta tolong?”
“Iya. Suaranya serem banget. Pake nangis lagi, makin serem aja,” ucap Lidya kesal.
“Aku nggak pernah pake suara begituan saat telepon kamu, apalagi suara wanita minta tolong. Aku cuma diam dengerin suara kamu,” jelas Dion.
“Kamu nggak bohong, kan?” tanya Lidya memastikan.

Dion mengangguk. Ia sama sekali tak tahu mengenai hal itu. tiba-tiba semilir angin berhembus entah dari mana. Lidya, Anisa, Sarah, dan Dion seketika merinding ketakutan.

Cerpen Karangan: Betry Silviana
Facebook: Betry Silviana
Kunjungin ya blog aku di betrysilviana.blogspot.com/
Terima Kasih

Cerpen The Call merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Death Are Pending

Oleh:
Aku Tachibana Myuura. Aku dilahirkan oleh keluarga yang terpandang di Indonesia. Sebenarnya, aku dan keluargaku asli orang Jepang. Tetapi, karena alasan pekerjaan, ayah memutuskan untuk pindah ke Indonesia. Ada

Sandi AZ Dan Ikatan Persahabatan

Oleh:
Kota Samarinda terlihat memukau dengan sungai mahakam-nya. Aku merasakan begitu. Aku kini, duduk di atas dermaga, di sebuah bangku panjang. Menikmati sajian senja berupa sunset. Yang ditemani dengan awan

Ruangan Misterius

Oleh:
Kenalkan nama aku fitrah, kisah ini berawal waktu aku duduk di bangku smp, waktu itu sedang liburan semesteran. Jadi aku diajak kakakku dan suaminya liburan ke daerah pulau samosir,

Sudahkah Aku Terbangun

Oleh:
Belum pernah rasanya kelabu sepekat ini menaungi kami. Sudah beberapa hari matahari selalu menyembunyikan sinar hangatnya yang biasa menyapa kota yang mendadak sepi ini. Yang tampak sekarang hanya jalanan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “The Call”

  1. Dinbel says:

    Masih ada kelanjutan nya gk, kakak? Penasaran nih.

  2. Naimatul Husna says:

    Lanjut donk kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *