The Culprit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 27 March 2019

Dunia ini tidak bisa berhenti menangis. Mengapa tangisan itu tak kunjung reda hingga akhirnya kami terpaksa menunggu di sekolah? Ada apa dunia. Mengapa kau menangis tersedu-sedu tanpa henti hingga kau lupa dengan kami. Air demi air kau tumpahkan hingga kau lupa dengan kami. Jangan bilang kau sedang mengingatkan kami akan datangnya bencana. Jangan bilang kau sedang mengingatkan kami akan adanya kemunafikan satu sama lain di dunia. Karena sudah dua hari kau menangis tanpa henti.

Sudah berhenti sih tadi pagi, namun satu jam kemudian kau kembali menumpahkan airmu. Deras pula. Hingga sekarang, aku tak bisa pulang dari sekolah karena ini. Aku lupa membawa payung. Yang kulakukan di sini adalah hanya duduk memainkan ponsel, membaca buku novel yang baru kubeli kemarin, dan mengobrol dengan teman lainnya yang lupa membawa payung.
Apalagi rumahku jauh. Perlu naik angkutan umum untuk sampai ke rumahku. Tidak hanya itu, setelah aku naik angkutan umum, aku harus jalan kaki agak jauh hingga menuju rumah. Bagaimana aku melakukan itu semua tanpa payung? Kapan kau akan berhenti menumpahkan airmu. Berhentilah menangis, dan ingat kami di sini perlukan kebijakanmu. Bukannya kami tidak bersyukur.

Bersama Lily, Novan, Levi, Anin, dan Melati. Enam anak saja yang belum pulang dan masih menikmati suara tangisan dunia dari dalam kelas. Kami semua menunggu hujan reda, dan bingung tidak melakukan apa-apa. Kecuali aku, aku melakukan yang tadi aku baru saja sebutkan. Pukul dua siang. Hampa!

Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon ayahku untuk menjemputku di sekolah daripada aku harus naik angkutan umum dan jalan kaki menuju rumah. Kalau sakit nanti gimana, kehujanan, jalan agak jauh. Kalau pulang dengan ayah masih mendingan, ada motor dan mantel. Tapi masalahnya apakah dia sekarang sedang sibuk? Kalau sibuk bagaimana. Aku tak ingin mengganggu usaha tanaman hiasnya di rumah.
Tapi bisa ibu yang melakukan. Ayah bisa menjemputku kan?

“Halo ayah, apa ayah sedang sibuk?”
“Tidak, Bila. Kenapa? Hujan, kamu bawa payung gak?”
“Gak bawa, gimana kalau ayah jemput Bila di sekolah?”
“Ya ayah cari mantel dulu di rumah.”

Akhirnya aku bisa pulang!
Ayah meminta aku menunggunya di depan sekolah. Di depan ruangan ber-AC yang merupakan letak piala-piala kejuaraan sekolah SMAku tercinta.
“Mela, Novan, dan lainnya, aku pulang duluan ya!”
“Iya Bil! Kamu hati-hati!”

Mela. Iya Mela. Si Melati. Dia biasa dipanggil Mela karena nama panggilan Melati terlalu panjang untuk kami ucapkan. Mela adalah seorang bendahara kelas. Kemudian Anin adalah sekretarisnya, dan aku adalah seksi absensi.

Lanjut.
Sampai di rumah tetap saja basah. Apalagi rok yang kupakai terkena angin yang membawa air hujan itu. Harusnya tadi aku bertanya pada mereka. Bagaimana mereka pulang. Kalau seperti ini terus kapan mereka pulang? Apa mau menginap di sekolah saja?
Media sosial tidak bisa lepas dari tangan kami, sehingga kami tetap bisa mengerti kabar dimana mereka sekarang. Termasuk teman-temanku tadi waktu di sekolah bersamaku. Mereka masih di sekolah sampai sekarang. Kecuali Mela. Mela sudah pulang dijemput ibunya, katanya. Sedangkan Novan, Lily, Anin, dan Levi masih di kelas menunggu tangisan itu reda.

Setelah kabar anak-anak di kelas, giliran satu kabar yang sangat mencengangkan. Mela, selaku bendahara kelas membuat postingan kiriman pada grup Facebook kelas X Fisika 1.
“Perhatian. Telah hilang uang kelas kita sejumlah empat ratus ribu.”
Uang hilang? Bagaimana kejadiannya? Bukannya dia baru saja pulang dijemput ibunya?
“Ketika saya sampai rumah dan membuka dompet, uangnya sudah tidak ada.”
“Lho, diingat-ingat kembali tadi dimana kamu menaruhnya!” tutur Afnan, salah satu teman kelasku melalui komentar.
“Sudah kuingat-ingat! Dari waktu mulai sosialisasi kemanusiaan di kelas XII Ekonomi 2. Pada waktu itu tasnya aku tinggal di kelas dan kurasa tidak ada orang!”
“Tunggu, ada orang yang tidak ikut sosialisasi kok! Ada Brilly, Nada, dengan Anjar kan?”
“Iya memang, ada aku. Tapi aku tidak melihat ada orang yang mencurinya!” tutur Nada tiba-tiba muncul di komentar.
“Siapapun itu, yang menemukan uangnya. Tolong lapor pada saya. Itu uang sangat penting! Utang kita pada koperasi masih banyak! Buku-buku paket juga belum lunas semuanya!”
“Siap komandan!”

Kedengarannya aneh.
Mengapa uang sebanyak itu hilang secara tiba-tiba tanpa tanda-tanda? Iya, tak ada tanda-tanda uang itu akan hilang ataupun dicuri. Masalahnya sekarang, uang itu ada di mana? Dicuri kah, atau lupa menaruh kah, atau hilang kah. Jangan membuat aku semakin bingung. Aku walaupun hanya seorang seksi absensi tapi peduli akan ini semua.

“Oh iya Mel. Tadi kan hujan, kamu terasa ada sesuatu gak?”
“Gak kerasa apa-apa Bil. Semuanya berjalan lancar sesuai kendali. Tidak ada hal janggal, firasat buruk atau apapun itu!”
“Aneh.”
“Memang!”
“Kenapa kau begitu panik?”
“Kau tidak tahu rasanya jadi bendahara kelas. Semua uang dilimpahkan padaku, ketika ini hilang, aku yang merasa bersalah.”
“Aku tahu.”

Bukan. Bukan aku tahu rasanya jadi bendahara kelas. Tapi aku tahu bagaimana cara agar uang itu bisa kembali.
Ada dua kemungkinan. Yah yang sudah aku katakan tadi. Pertama, uang itu memang dicuri. Dan pencurinya bisa berasal dari dalam, ataupun luar. Kedua, Mela lupa meletakkan uang itu dimana sehingga hilang. Ketika lupa dan diletakkan sembarangan ujung-ujungnya pasti dicuri. Aku tahu bagaimana agar ini semua selesai. Aku masih merahasiakannya.
“Bagaimana jika uangnya ketemu?”
“Tentu aku senang! Hatiku tidak terobrak-abrik lagi. Bimbang tau!”
“Coba pake feel kamu. Kira-kira uangnya di mana.”
“Sebentar. Dari sosialisasi kemanusiaan, kembali ke kelas, terjebak hujan, pulang. Sudah itu saja yang kuingat!”
“Yah! Mungkin sebelum sosialisasi kemanusiaan!”

Pusing kepalaku memutar-mutar peristiwa yang telah terjadi. Anehnya, Mela tidak ingat sama sekali akan keberadaan uang itu. Mela juga belum bilang dia mencurigai seseorang! Seharusnya, dia bisa mencurigai seseorang siapapun itu ketika tadi dia sudah menceritakan semua yang telah terjadi. Pasti ada yang membuatnya curiga. Entah siapa!

“Kamu gak curiga sama seseorang?”
“Sebenarnya iya, aku curiga pada seseorang.”
Dugaanku salah. Ternyata Mela mencurigai seseorang.
“Bila, berjanjilah padaku bahwa hanya kaulah yang akan mengerti rasa curigaku.”
“Pasti.”
“Brilly.”
“Brilly? Kok bisa? Jangan bilang karena dia tidak ikut sosialisasi dan melihat tasmu ada di kelas.”
“Iya, tadi juga Brilly kan tidak muncul di grup Facebook. Kalau dia memang bukan, seharusnya dia memberikan penjelasan. Tapi yang muncul malah Nada.”
“Yah kamu gimana sih! Brilly kan tidak pakai akun Facebook!”
“Memangnya iya? Intinya itu. Aku curiga padanya. Brilly kan juga kurang mampu membayar SPP sekolah. Kalau Anjar, kukira tak mungkin.”
“Kau butuh bantuan untuk mencarinya?” bujukku.
“Tidak usah. Terima kasih. Kasus seperti ini akan cepat selesai dengan sendirinya.”

Mengkritisi kalimat yang dilontarkan oleh Mela memang rumit. Berdasarkan petunjuk-petunjuk yang ada, kronologis peristiwa yang terjadi, dan kukira mencurigai seseorang tanpa bukti adalah hal yang tidak baik. Mela dengan mudah bisa mencurigai seseorang hanya karena Brilly ada di kelas.
“Tolonglah siapapun itu, jika kita cinta pada kelas, mari kita cari uang itu bersama-sama. Mana respon lainnya!”
Enter! Klik! Postingan itu sudah muncul.

Esok hari, ketika berita panas di kelas ini sudah mulai reda.
Dunia pun sudah berhenti menangis sehingga aku lebih semangat untuk berangkat sekolah pagi ini. Aku ingin melihat bagaimana Mela hari ini. Apakah Mela sudah menemukan uangnya ataukah belum, jika belum, apakah kita dengan mudah mengikhlaskannya saja?

“Hai!”
“Mela mana?”
“Belum sampai sekolah.”
Ya sudah, kutunggu saja dia di sekolah. Kulihat temanku lainnya biasa saja. Seperti menganggap bahwa masalah ini tidaklah serius. Bagaimana bila benar dugaan Mela, tentunya kita tetap harus waspada. Siapapun bisa menjadi tersangka.

“Ini anak!”
“Mela.”
“Gimana uangnya?”
“Belum ketemu.”
Kulihat wajahnya murung tak berdaya. Pasti akan sakit sekali rasanya, Mela merasa lepas dari tanggung jawabnya sebagai bendahara kelas. Hal ini membuat mental Mela turun, sehingga Mela mengungkapkan sesuatu bahwa Mela ingin mundur dari kepengurusannya menjadi bendahara kelas. Mela juga meminta maaf dengan sangat kepada semua teman kelas.
Padahal ini bukan sepenuhnya salah Mela!
“Kenapa kau sampai segitunya?”
“Aku merasa bersalah.”
“Teman-teman pasti memaklumi. Lagian ini juga bukan salah kamu sepenuhnya!”

Kasihan Mela.
Satu-satunya jalan untuk membuat Mela kembali ceria!
Kalian harus kenalan dengan Om Aziz, seorang guru Ekonomi yang memiliki kelebihan khusus di bidang psikologi. Karena masih sangat muda dan keakrabannya dengan anak-anak, beliau jadi dipanggil Om. Aku sendiri yang akan urus ini. Mela menolak ajakanku untuk berkonsultasi dengan Om Aziz. Entah mengapa. Mela sudah mengikhlaskan semua yang telah terjadi.
Sebenarnya aku juga sudah mencurigai seseorang. Tapi kukira ini mustahil dan tidak mungkin. Tapi aku masih merahasiakannya dari kalian.

Segera kutemui saja Om Aziz diruangannya. Ternyata beliau sedang di mejanya merekapitulasi nilai.
”Om Aziz!”
“Bila! Ini nih yang nilai lintas minat Ekonominya jelek terus!”
“Pak sudahlah, itu dulu pak. Sekarang Bila sudah ada peningkatan.”

“Pak, bagaimana kalau Bila mau konsultasi pak?”
“Boleh. Konsultasi apa ya? Serius amat.”
“Uang kelas kami hilang.”
“Bagaimana kejadiannya?” Om Aziz langsung menjawab dengan sigap!
Kemudian aku menceritakan kejadian yang telah diceritakan Mela pada grup Facebook kemarin. Dengan jantung yang berdegup kencang, kunanti jawab Om Aziz.
“Baik, saya paham ceritamu.”
“Om Aziz pasti paham dong! Hehe!”

“Begini…”
“Jelaskan pada saya pak.”
“Menurut terawangan saya, uang kelas kamu tidak hilang.”
“Lantas di mana pak!?” Apa maksudnya!
“Uang itu sedang ada di tangan temanmu sendiri.” tambah Om Aziz.
“Temanmu harus bertanggung jawab kepada dirinya sendiri karena dia merasa depresi.” tambahnya lagi.

“Mengapa dia depresi?”
“Banyak masalah yang menghadangnya. Seperti keluarganya yang terpecah belah.”
“Aku tidak menyangka Om.”
“Memang kasus seperti ini banyak. Pasti kamu tahu apa yang kamu harus lakukan. Intinya saya tahu anaknya, tetapi saya tidak akan kasih tahu kamu. Coba kamu selesaikan teka-teki ini sendiri.”
“Ingat kuncinya, Bila!” tambahnya lagi.

Oh ya, aku belum menceritakan kalau kelebihan khusus yang dimiliki Om Aziz adalah menerawang sesuatu di waktu lampau. Dengan ini aku bisa mengungkap siapa sebenarnya pembuat masalahnya! Dan lebih tidak menyangka lagi, orang itu adalah anak kelas? Tapi siapa!
Tidak ada yang mencurigakan bagiku, tapi yang Mela bilang sepertinya tidak benar. Aku belum bisa mencurigai siapapun.

“Mela.”
“Iya?”
“Aku tahu siapa pelakunya!”
“Kau tahu dari mana? Dan bagaimana kau bisa tahu?”
“Kau tidak perlu tahu. Yang jelas ayo sekarang kita kumpulkan semua anak kelas.”
“Dan kita akan tahu, Who is the culprit?”

“Aku akan memberikan alasan mengapa aku mengumpulkan kalian disini.”
“Semuanya sudah masuk kelas?”
Semuanya tegang melihat raut wajahku yang berubah murung. Mereka kebingungan ada apa sebenarnya. Tak basa-basi lagi. Aku mengatakannya langsung!
“Salah satu di antara kalian adalah pembuat masalah di kelas ini.”
“Maksudmu apa Bila?”
“Tidakkah kau lihat Mela? Apa yang dia pikirkan seharian kemarin?”
“Uang kita.”
“Salah satu dari kalian adalah pencurinya.”
“Masa!”

Mereka semua tidak percaya. Dan menurut pandanganku, tidak ada anak kelas yang terlihat mencurigakan. Sungguh pintar mereka menyembunyikan sesuatu.
“Tidakkah kalian peduli? Ayo mengaku! Kami tidak akan memarahi.”
“Kenapa kita tidak memanfaatkan CCTV saja?”
“Ide bagus!”
“Mela. Uang kamu hilang di kelas ini kan!”
“Benar.”
“Satu orang. Ikut aku ke ruang pusat. Kita minta petugas menyetel rekaman CCTV!”

Aku menyuruh Brilly untuk ikut bersamaku ke ruang pusat. Setelah ini akan kuungkap siapa sebenarnya!
“Om Waris?”
“Ada apa?”
“Uang kelas kami hilang, bisa tolong putarkan CCTV hari kemarin?”
“Hari kemarin, oke sebentar…”

Kutunggu kira-kira dua menitan. Dan ternyata.
“Dik, saya tidak tahu.”
“Bagaimana bisa! Siapa yang mengetahui lagi selain CCTV ini.”
“Data rekaman di hari kemarin telah dihapus. Entah dihapus oleh siapa. Saya tidak menghapusnya!”
“Datanya hilang!”

Bagaimana ini?
“Om Waris, apa yang Om Waris ingat sebelum datanya dihapus?”
“Seingat saya, anak saya main ke sini sebelum pulang sekolah.”
“Lantas?”
“Dia memainkan komputer CCTV ini.”
“Mungkin dia yang menghapusnya!”
“Jangan sembarang menuduh.”
“Memangnya anak Om Waris siapa?”
“Mela, anak kelas X Fisika 1”
“Lah, itu teman sekelas kami Om!!”
Wah, misteri ini semakin terungkap! Ayo kembali ke kelas!

“Mela.”
“Bagaimana CCTV nya Bila? Kamu dapat petunjuk?”
“Sangat dapat.”
“Bagaimana?”
“Sebaiknya kau ingat-ingat lagi apa yang kau lakukan sebelum pulang sekolah kemarin.”
“Bukannya sudah kuceritakan kemarin?”
“Tapi kau belum menceritakan bahwa kau main ke ruang pusat dan memainkan komputer CCTV!”
“Iya, aku memang main ke sana menemui ayahku.”
“Apa yang kau mainkan di komputer itu?”

Mela hanya diam, tak menjawab pertanyaanku.
“Haha, kurasa topengku sudah mulai dibuka.”
“Kaulah pencurinya Mela! Kau yang menghapus data itu kan!”
“Mengapa!!”

“Haha. Aku kesal pada kalian. Apapun yang aku lakukan tidak dihargai di sini. Aku hanya dipandang sebelah mata. Aku merasa tidak dianggap. Itulah mengapa aku mengkorupsi uang itu. Aku ingin kalian tahu, makanya aku tulis kiriman di facebook kemarin. Tenang saja, uang itu akan kembali jika kalian melakukan satu hal.”
“Apa itu?”

Cerpen Karangan: Muhammad Hafidz Agraprana
Facebook: facebook.com/muhammad.agrapranaii
Nama: Muhammad Hafidz Agraprana
Umur: 16 tahun

Cerpen The Culprit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berpegang Teguh Pada Prinsip

Oleh:
Diera sekarang itu remaja sepertiku sangat identik dengan pacaran. Menurut sebagian besar dari remaja sekarang kalau nggak punya pacar itu nggak gaul lah, nggak lakulah apalah. Tapi menurutku buat

Photo Bareng Yuk

Oleh:
“Tepuk kanan.. Tepuk kiri.. IIIPPPAAA DDUUAA!!!”. Oh My God, buusyeet dah temen-temen gue ini, seru gue dalam hati. Oke, gue juga nggak mau kalah sama mereka. “Ayoo Iiipaaa duuaaa

Story of Ma’ndu

Oleh:
Malam ini, aku dan kelompok supranatural kami pergi untuk memenuhi panggilan dari salah seorang warga. Ia menginginkan kami untuk mencari tahu kebenaran dari keberadaan “Ma’ndu”, sosok yang baru-baru ini

Lugunya Hati

Oleh:
Cinta, kata yang selalu melekat dengan usia remaja. Dan mungkin sampai kapanpun akan tetap menjadi bagian dari kisah hangat remaja. Kata itu adalah kata misterius, karena menjadi sebab akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “The Culprit”

  1. Wana says:

    Kak, lanjutannya gimana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *