The New Neighbour

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 26 March 2016

AKU MELAKUKANNYA LAGI!!

Aku tahu itu sangat memacu adrenalinku. Kepribadianku yang lainnya sudah mulai muncul, kepribadian yang membuatku menjadi merasa bersalah. Kali ini siapa? Oiya seorang wanita. Oh tidak. Aku membunuh seorang wanita. Siapa yang telah ku bunuh? Aku benar-benar sangat lupa. Yang aku ingat hanyalah di saat wanita itu berjalan persis di depanku, dia tersenyum kepadaku. Tapi aku malah melakukan sebaliknya. Apa yang telah ku lakukan. Aku benci sekali saat kepribadian itu ke luar dan berinteraksi dengan orang-orang. Kepribadian yang tidak membuatku seperti bukan sebagai seorang wanita. Apakah wanita itu memiliki keluarga? Bodohnya aku memiliki pertanyaan seperti itu. Sudah jelas dia punya. Pikiranku mulai kacau dan sedih, sangat sedih. Bagaimana jika wanita itu memiliki seorang anak? Bagaimana jika anaknya itu masih seorang bayi yang masih membutuhkan susunya? Atau bagaimana jika anaknya sudah besar dan sekarang sedang cemas menunggu dia pulang ke rumah karena semalaman dia tidak pulang? Pikiranku sangat campur aduk. Yang ku ingat hanyalah memuaskan hasratku tadi malam. Dimana kepribadian itu muncul. Kepribadian yang tadinya tidak ku miliki.

Trauma itu. Kejadian itu. Ya, semua karena kejadian itu. Hidupku berubah. Menjadi paranoid dan munculnya kepribadian ini. Kepribadian yang beringas yang akan ku sesali nantinya di saat aku sudah kembali normal. Semua bermula ketika diriku memiliki tetangga baru. Aku sangat senang memiliki tetangga baru, teman baru. Aku membayangkan akan muncul seorang wanita karir sepertiku bersama pasangannya, oh iya tidak lupa juga dengan bayinya mendatangi rumahku untuk berkenalan. Jika anak mereka laki-laki aku akan menjodohkan mereka jauh-jauh hari dengan anakku. Oh, pikiranku terlalu jauh. Lagi pula tahun berapa ini Na? Ini bukan zamannya Siti Nurbaya.

Tok! Tok! Ada yang datang sepertinya. Ketukan itu agaknya membuat Tyas menangis. Aku menggendongnya untuk menenangkannya lalu aku membukakan orang itu, yang mengetuk pintu rumahku. “Selamat pagi, salam kenal aku tetangga barumu.” Ucap seorang pria bertubuh kurus sambil membawakan beberapa buah nan banyak. Ia tersenyum kepadaku. “Hay, namaku Anna. Aku tinggal bersama bayiku. Salam kenal ya. Dan kamu?”

Mukaku tampak sedikit memancarkan kekecewaan. Aku tidak tahu apakah laki-laki itu melihatku tampak kecewa karena dia atau tidak. Aku juga tidak terlalu peduli. Pikiranku yang lalu hanyalah khayalan yang tak terjadi. Sepertinya tetangga baruku hanyalah seorang laki-laki ini. “Saya Chris.” Jawabnya singkat. Oh tidak sepertinya lelaki ini, tipe lelaki yang membosankan. Jawabannya sangat singkat. Bahkan ia memakai kata ‘saya’. Itu terlalu formal, Chris. Aku tidak suka itu. Aku tahu dia hanya mengunjungi rumahku karena harus, bukan dari kemauan dia.

Ternyata benar. Setelah aku mempersilahkan Chris masuk untuk sekedar ngobrol sebentar, ternyata memang Chris hanya tinggal sendiri. Dia tidak menikah. Keluarganya ada di luar negeri. Jadi dia sendiri di Jakarta. Dan ternyata benar juga pikirku. Dia memang seorang lelaki yang membosankan. Chris sangat kaku. Ya sudahlah tak perlu dipikirkan lagi. Aku mau bersiap untuk tidur bersama Tyas. Ya, aku sudah tidak mempunyai suami. Suamiku telah pergi meninggalkanku dan Tyas di saat kami sedang terpuruk dan dia mencampakkan kami. Benar-benar lelaki yang tak bertanggung jawab. Aku hanya berharap dia mati. Jam berapa ini? Dari mana suara berisik itu? Oh sial, ternyata dari tetangga baruku. Baru sehari ia sudah membuatku jengkel. Dengan setengah sadar aku berjalan ke luar rumah untuk memberitahukan Chris bahwa apa yang dilakukannya sekarang sangat menggangguku. Aku bahkan tidak mengerti aku mampu ke luar rumah dan mengunjungi rumah seseorang tengah malam begini (setelah ku lihat jam). Dan lagi ini tengah malam, mengapa Chris berisik sekali?

Tok! Tok! Udara sangat dingin dan Chris belum juga membukakan pintu. Aku tahu ini sangat tidak sopan, tapi aku memalingkan wajahku ke jendela rumah Chris yang tidak dapakaikan gorden. Rumahnya masih berantakan sekali. Masih banyak kardus-kardus dan apa itu? Terdapat bercak merah di lantai. Itu seperti, darah. Aku juga tak terlalu jelas melihatnya, mataku sudah cacat, minus 5 dan sepertinya bertambah. Aku sangat penasaran apa yang dilakukan Chris, tapi dia juga tidak membukakan pintu. Mungkin saking berisiknya Chris tidak mendengar suara ketukanku. Atau mungkin ia juga berpikiran kalau suara ketukan itu hanya ilusinya dia, karena mana ada orang yang berkunjung di tengah malam seperti ini.

Aku berusaha menghiraukan rasa penasaran ini. Aku mulai membalikkan badan kembali menuju rumahku, dari luar rumahnya memang sudah tidak terdengar suara yang berisik. Mungkin pekerjaan yang dilakukan Chris sudah selesai. Di saat aku ingin melakukan langkah pertamaku terdengar suara. ITU JERITAN! Seorang wanita lebih tepatnya. Kaget bukan main. Ada apa di rumah Chris? Aku kembali penasaran dan kembali ku gedor pintu rumah Chris. Semakin kencang dan kencang. Aku bertekad untuk terus melakukan ini sampai Chris membukakan pintu rumahnya untukku.

“Bukankah ini sudah terlarut malam untuk berkunjung Anna?” Chris telah membukakan pintu untukku. Dia sangat ketus sekali, dan dia sedang memakai sarung tangan. Terdapat bercak yang tak asing ku lihat, warna seperti darah. Hatiku agak berdebar-debar. “Kau mengganggu Chris. Suara berisik itu, apa yang kau lakukan?” Tanyaku sambil mencuri-curi pandangan ke dalam rumahnya.
“Apa yang kau bicarakan? Rumah kita tak benar-benar berdekatan bukan? Aku blok 1 dan kamu blok 3, lagi pula jika aku berisik, suara itu tidak akan sampai ke rumahmu.” Benarkah yang ia katakan? Aku rasa kalau dia seberisik itu pun aku akan tetap terganggu dan suara itu pasti akan sampai ke rumahku. Aku juga tidak mungkin berbohong bukan?

“Aku mendengar suara jeritan.” Jawabku dengan ketus. Aku sudah tidak ngantuk lagi. Rasa kantukku kalah dengan rasa penasaranku. “Hei apa yang kau bicarakan Anna? Tak ada suara jeritan. Jangan kehilangan akalmu Anna.” Mendengar jawaban itu aku malah semakin yakin kalau ada seseorang yang teraniaya di sini, ini bukan khalayanku saja kalau ada suara orang menjerit di sini. Seketika itu juga aku langsung menubruk badan Chris dan berhasil masuk ke rumahnya. Aku rasa memang aku tidak salah lihat. Noda di lantai itu berwarna merah dan seperti darah.

“Ini darah bukan?” Aku sedikit histeris dan jantungku berdegup kencang saat menanyakan itu. Chris menjawab kalau itu hanyalah bekas cat yang tadi dan baru saja ia gunakan. Aku tak percaya. Aku menelusuri rumah Chris seakan akulah pemiliknya. “Aku tahu kau menyembunyikan seseorang Chris, aku tahu kau telah melakukan hal jahat.” Aku berkata itu sambil tak menghadap Chris. Sebenarnya aku ini bodoh, sangat bodoh. Bagaimana jika yang aku katakan itu benar? Dan jika benar bisa saja aku akan jadi mangsa baru Chris. Tapi aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih.

“Hei ini rumahku bukan rumahmu! Ingat itu!” Aku menghiraukan ucapannya. Aku tetap mencari dari ruang ke ruang, aku tidak akan menyerah sampai aku menemukan apa yang ku cari. “Dasar kau wanita gila!!” Ucap Chris. Hei apakah aku benar-benar mendengar ia mengucapkan itu? Sebuah perkataan yang selalu ku ingat, yang diucapkan oleh mantan suamiku. Aku melihat pisau dapur berada di depan mataku, persis. Aku melemparkannya. Dengan sangat kencang. Dan mengenai wajah Chris.

OH TIDAK APA YANG KU LAKUKAN?!

Chris tergeletak tepat di depanku. Itu sangat membuatku bergidik ngeri. Dengan sekejap aku membunuhnya. Oh Tuhan padahal ia baru saja pindah ke Jakarta hari ini dan aku telah membunuhnya. Aku tidak percaya melakukan ini, apakah aku benar melakukannya? Aku sangat kacau. Pagi harinya tidak ada berita menghebohkan di sekitar rumahku. Mayat Chris sudah ku bereskan. Aku tidak mengerti dimana maksud dari kata membereskan itu. Aku hanya mampu menaruhnya di dalam lemari tua yang ia punya. Aku tidak punya cukup tenaga dan waktu untuk mengangkat Chris yang untuk ukuranku pastinya sangat berat. Tetapi ada yang aneh dariku, perasaan itu.

Perasaan malam itu. Sesaat setelah aku kaget dengan apa yang telah ku perbuat, aku seperti memiliki rasa puas yang sangat. Beban pikiranku terasa terangkat. Tentu paginya aku sudah tidak merasakan itu kembali. Malahan sebaliknya. Aku takut sekali. Aku takut ketahuan. Aku takut ada bau busuk yang tercium dari rumah Chris. Aku pun juga tidak bisa bolak-balik ke rumah Chris untuk membereskan mayatnya, aku takut dicurigai. Aku sangat paranoid. Seminggu dari kejadian itu, tak ada yang mengingat Chris. Seperti Chris lenyap begitu saja. Entah aku harus lega atau harus bagaimana. Yang jelas ini sangat ganjil. Tetapi, seminggu dari kejadian itu, seminggu dari kejadian itu pun..

AKU MELAKUKANNYA LAGI!!

Ya kejadian itu, kejadian di awal semua cerita ini. Wanita itu, wanita yang telah ku bunuh. Yang ku bunuh setelah dia tersenyum kepadaku. Sungguh kejinya diriku. Aku berusaha mengingat-ngingat kejadian malam itu. Aku kemanakan mayat wanita itu? Apakah aku buang barang-barangnya? Sepertinya ini agak bodoh, tapi aku memeriksa tas yang semalam yang aku pakai. Mungkin ada sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Aku tak kuat lagi. Aku mau mengunjungi keluarga dari wanita itu. Aku tahu, sudah pasti aku akan dicaci maki, sudah pasti aku akan dimasukkan ke penjara oleh mereka. Tapi aku tak mau lagi ada korban. Aku tahu pasti ada yang aneh dalam diriku. Aku sedih, aku takut.

Aku menemukan KTP wanita itu. Aku menemukannya di.. dompetku. Mengapa ada di dompetku? Ini sungguh aneh. Tapi aku juga tidak terlalu peduli. Leni. Dialah wanita itu. Rumahnya lumayan jauh dari rumahku. Aku harus ke sana sekarang juga. Inikah rumahnya? Besar sekali. Sudah pasti dia orang kaya. Aku harus benar-benar siap untuk ini. Aku sudah pasrah akan apa jadinya nanti. Aku berharap mereka akan memaafkanku, walaupun akan menjadi sebuah keajaiban jika itu terjadi. Tok.. Tok.. Ketukanku tidak terlalu kencang. Aku masih berharap jika tidak ada yang akan membukanya. Aku merasa masih belum siap. Aku hanyalah seorang wanita. Ya, wanita memang selalu lemah. Pintu ternyata terbuka. Dia seorang lelaki, tepatnya seorang remaja. Sepertinya berumur 17 tahun.

“Maaf Ibu cari siapa ya?” Tanya pemuda itu kepadaku.
“Di sinikah wanita yang bernama Leni tinggal?” Aku bertanya nyaris dengan suara yang sangat pelan.
“Tidak ada wanita yang tinggal di sini, Bu. Apa benar ini alamatnya wanita yang Ibu cari?” Tanya pemuda itu keheranan.

Tidak mungkin aku salah! Aku melihat kembali KTP wanita itu. Benar ini alamatnya. Aku menjadi bingung. Pemuda itu sedikit mencondongkan badannya untuk mengintip KTP yang aku pegang. “Bolehkah saya melihatnya Bu?” Pemuda itu sangat penasaran sekali. Aku berikan KTP wanita itu. Dan ku lihat wajah pemuda itu, dia terlihat sangat terkejut.
“Apakah ini KTP Ibu? Ibu itu Anna kan? Apa Ibu dulu tinggal di sini? Apa ada barang yang dulu Ibu tinggalkan di sini? Apa Ibu mau mengambilnya?” Aku diserang berbagai pertanyaan oleh pemuda itu. Mengapa dia bertanya itu. Jelas sekali itu KTP Leni, bukan KTP-ku. Aku sedikit gondok. Langsung ku tarik KTP itu dari tangannya tanpa menjawab semua pertanyaannya.

Apa yang terjadi? Ternyata itu KTP-ku. 5 menit yang lalu sepertinya aku memegang KTP Leni, mengapa sekarang aku memegang KTP-ku? Aku bingung. Aku terdiam. “Sepertinya itu KTP lama ibu, ibu belum memperbaharuinya ya? Ibu pasti dulu tinggal di sini ya. Sudah 10 tahun yang lalu ya Bu. Ada barang yang tertinggal di rumah ini Bu?” Pemuda itu sangat banyak bicara dan aku hanya terdiam dan kebingungan. Pemuda itu meninggalkanku. Menutup pintu rumahnya. Dia meninggalkanku di tengah kebingunganku. Aku tidak melihat wajahnya saat dia meninggalkanku. Yang pasti dia sangat kesal karena telah dihiraukan. Apa yang sebenarnya terjadi? Berarti bukan di sinikah rumah Leni? Hei di mana Tyas? Di mana bayiku?

Cerpen Karangan: Abyantama El Anwary

Cerpen The New Neighbour merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jeritan Malam

Oleh:
Malam semakin pekat. Kegelapan yang menyelimuti malam di Kampung Gandaria membuai kehidupan dalam kesunyian yang dalam. Semilir angin yang berhembus mengantarkan sang Dewi Malam ke dalam tapuk penguasa malam.

Sarinah (Part 1)

Oleh:
Dengan nafas yang terengah-engah Audy menutup pintu kamarnya lalu ia duduk di lantai sambil bersandar di balik pintu itu. Audy mulai mengatur nafasnya yang mulai menyesakkan dada, wajahnya pucat

Mawar Berdarah

Oleh:
Jam sudah menujukkan waktu 07.00 tapi sandra belum bangun juga suara mama yang dari tadi membangunkannya pun sudah mulai geram. “San.. Sandra! Denger gak sih udah siang nih buruan

My New Friend

Oleh:
Hari ini di kelasku ada murid baru. Ia berambut pirang, kulitnya putih bersih. Ia sangaaat cantik. Bu Herna, guruku bilang, bahwa ia orang Inggris. “Ayo, perkenalkan dirimu.” pinta Bu

My Secret Admirer

Oleh:
Aku masih duduk di Delight’s cafe lantai 3, kafe kenanganku sambil menatap sunset yang sangat indah. Setangkai mawar putih dan seorang kekasih menemaniku. Aku sangat merindukan momen-momen ini. Momen

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *