There’s Something in Dieng (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 21 April 2016

Sementara itu di tempat lain.

“Tumben si Rista enggak kedengeran suaranya dari tadi. Biasanya kan tuh anak doyan ngoceh,” batin Kirana. Dia pun menoleh untuk memastikan. Dan benar saja, tidak ada Arista di belakang mengikutinya.
“Gar, Pras gawat! Arista enggak ada,”
“Enggak ada? Kok bisa? Bukannya tadi dia jalan bareng kamu Ran?” Tanya Pras dengan nada panik.

“Iya Pras, tadi dia emang jalan bareng aku. Terakhir kali aku lihat dia masih ngikutin di belakang aku, tapi sekarang enggak ada. Jangan-jangan dia nyasar. Gar, Pras gimana nih, aku takut dia kenapa-kenapa!” jawab Kirana penuh kepanikan.
“Ran, kamu tenang dulu jangan panik gitu. Arista engga mungkin hilang. Jalan yang kita lewati untuk balik ke penginapan kan cuma satu jalan. Enggak ada lagi. Kemungkinan dia cuma tertinggal di belakang kita,” Ucap Tegar mencoba menenangkan.

“Tapi kamu tuh enggak tahu dia. Dia itu gampang banget kesasar Gar. Apalagi jalannya gelap dan banyak pepohonan gitu. Aku yakin banget dia pasti salah jalan. Plis.. Plis banget Gar, Pras kita harus balik lagi ke sana. Kita harus nemuin Rista, aku takut dia kenapa-kenapa,” Pinta Kirana. Dia memang tahu sekali tabiat sahabatnya itu, yang paling tidak ahli mengenai jalan. Jangankan di pegunungan seperti ini, di Jakarta saja, tempat dia tinggal dan hidup di sana, Rista masih selalu kesulitan dalam mengingat jalan.
“Ya udah Gar lebih baik kita balik lagi ke sana, aku juga khawatir terjadi apa-apa sama Rista. Tapi kali ini kita harus tetep sama-sama jangan sampai ada yang terpencar lagi ya,” Pras menyarankan. Kirana dan Tegar pun mengiyakan kata Pras. Mereka kembali menelusuri jalan yang tadi mereka lewati untuk mencari Arista.

“Hei tunggu, kenapa kamu lari?” terdengar sebuah suara memanggilku.
Seketika itu juga aku berhenti. Ingin sekali aku menoleh untuk memastikan bahwa dia manusia, tapi aku terlalu takut. “Kamu tidak perlu takut,” Katanya lagi.
“Aku hanya ingin menolongmu, aku minta maaf kalau kedatanganku yang tiba-tiba membuatmu terkejut dan takut,” Suaranya begitu lembut dan ucapannya membuatku sedikit tenang. Akhirnya, perlahan-lahan ku beranikan diri membalikkan badanku. Setelah melihatnya, bukannya berkurang malah bertambah keterkejutanku.

“Brakk,” Sekali lagi tubuhku roboh terduduk ke tanah. Kali ini bukan karena tergelincir, namun karena terkejut dengan sosok di hadapanku.

Tersenyum dan menatapku. “Apa kamu baik-baik saja? Boleh aku membantumu?” ucapnya lembut.
“Deg.. Deg.. Deg,” Jantungku berdegup. Mungkin karena aku begitu terkejut. Mataku seolah kaku. Pandanganku tertuju padanya. “Ya Tuhan! Siapa dia ini? Manusiakah atau makhluk gaib?” batinku berteriak. Lidahku mendadak kelu, tak ada satu patah kata pun yang bisa terucap saat di hadapannya. Ku perhatikan kakinya, masih menapak di tanah. Syukurlah.

Wajahnya sangat asing, tidak terlihat seperti dia berasal dari sini. Gambaran sosoknya hampir seperti sosok pangeran dalam negeri dongeng. Rambutnya ikal berwarna cokelat keemasan. Matanya bulat berwarna biru terang membuat kesan teduh dan menenteramkan. Hidungnya mancung dan kecil. Bibirnya tipis kemerah-merahan, ada lesung kecil terbentuk ketika ia tersenyum. Kemeja lengan panjang putih polos dengan celana panjang warna senada yang dia kenakan menambah kesan dia memang pangeran asing dari negeri antah berantah.

“Hei kok diam?” Tanyanya lagi. Memperhatikan kakiku. “Hmm.. sepertinya kamu sedang terluka, aku bantu obati ya,” Dia menawarkan diri sambil tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi berwarna putih. Awalnya aku ragu, karena butuh, akhirnya setuju. Tangannya mulai menggapai kakiku dan dilihatnya dengan seksama. Oh Tuhan, kulitnya tangannya halus sekali, bahkan terlalu halus untuk ukuran kulit lelaki. Bukan cuma itu, dalam jarak sedekat ini aku baru sadar kalau warna kulitnya sangat putih dan bersih seolah bersinar di tengah kegelapan hutan. Setelah yakin, dia pun mulai memijitku.

“Nah sudah selesai. Bagaimana sekarang? Apa sudah terasa lebih baik?”
Ajaib! kakiku sembuh seketika. Sudah tidak terasa sakit sama sekali. “Emh,” hanya itu yang bisa ku ucapkan padanya sambil tersenyum untuk meyakinkan. Sambil mengulurkan tangan. “Ayo, aku bantu berdiri. Sepertinya kamu bukan warga dari daerah sini, aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Apa kamu tersesat?”
“Emh…” Deg.Deg. Sambil terus memegang dadaku yang masih berdenyut, ku raih tangannya.

“Tidak jauh dari sini ada penginapan warga untuk orang dari daerah lain yang datang ke tempat ini. Apa kau berasal dari sana juga?” Tanyanya lagi.
“Emh,” aku hanya bisa menganggukkan kepala.
Tersenyum, “Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarmu sampai ke sana, keluarga atau teman-temanmu pasti khawatir dan mungkin sedang mencarimu juga. Akan aku antar kau sampai ketemu salah satu dari mereka,”

Aku menyambut tawarannya. Dengan perasaan yang masih bercampur aduk, aku berjalan mengikutinya. Perawakannya tinggi, dibandingkan aku mungkin hanya sebatas bahunya saja. Tubuhnya tegap dan berisi, namun seimbang. Seperti seorang model, aku suka sekali. Secara keseluruhan dia sangat kharismatik. Tapi entah kenapa sebagai seorang pria aku tidak melihatnya sebagai pria tampan, melainkan cantik. Cantik di sini bukan berarti wajahnya pakai make up atau berdandan seperti wanita. Tetapi karena setiap lekuk wajahnya berbeda dengan pria kebanyakan. Wajahnya lebih terkesan baby face. “Pangeran cantik,” gumamku dalam hati saat mendeskripsikan wajahnya.

Menggandeng tanganku. “Tidak apa-apa kan? Biar kita berjalan sejajar,”
Degupan jantungku tidak melambat. Pipiku terasa panas. Mungkin wajahku merah merona seperti tomat sekarang. Oh ya, aku belum menanyakan namanya.
“Eng,”
“Adam. Kau boleh memanggilku Adam,” ia tersenyum.
“Emh,” Aku sempat terkejut. Dia seperti bisa membaca pikiranku. Namun aku senang sekali, “Nama yang bagus,” batinku.

Selama perjalanan dia hanya diam dan terus berjalan, sesekali aku mencuri-curi pandang ke arahnya. Saat dia menolehkan pandangannya ke arahku. Aku yang tertangkap basah sedang mengamatinya jadi sedikit salah tingkah. “Tidak terasa kita sudah setengah jalan. Hanya tinggal sedikit lagi kita bisa sampai ke penginapan,” Hah? Saat dia bilang seperti itu, entah kenapa seperti ada yang mengganjal. Dadaku terasa sesak.

“Ta.. Arista, di mana kamu?”
“Ta, apa kamu denger kita? di mana kamu Ta,” sayup-sayup aku mendengar beberapa suara teriakan. Sepertinya mereka tidak begitu jauh dari sini. Aku langsung melepaskan pegangannya dan berlari kecil mendahuluinya beberapa meter. Ternyata benar di ujung jalan ini ada Kirana, Tegar dan Pras yang sedang mencari dan berteriak-teriak memanggil namaku. Aku menatap Adam sambil menunjuk-nunjukkan jari telunjukku ke arah mereka untuk memberitahukannya bahwa aku sudah menemukan teman-temanku.

“Ada apa?” ia menghampiriku, “Apa mereka teman-temanmu?”
Ku angguk-anggukan kepalaku.
Tersenyum lega, “Syukurlah, akhirnya kita bisa menemukan teman-temanmu,”
“Emh,” Anggukku penuh semangat.
Ku tarik napas panjang dan berteriak, “Pras, Tegar, Kirana aku ada di sini,” melambai-lambaikan tangan. Mendadak suaraku kembali.

“Arista!” ucap mereka kompak. Kirana langsung berlari ke arahku. Dia tersenyum lebar walaupun wajahnya terlihat sangat khawatir. Tegar dan Pras juga mengikutinya.
Menghembuskan napas lega, “Syukurlah, akhirnya kita bisa juga nemuin kamu Ta,” ucap Tegar lega.
Langsung memelukku dan menangis, “Arista, kamu ke mana aja sih? Kita semua tuh panik cari-cariin kamu dari tadi. Apa terjadi sesuatu sama kamu?”
“Maafin aku Ran, karena udah bikin semuanya khawatir, “aku jadi ikut nangis. “Kejadiannya cepet banget. Tadi aku sempet jatuh dan kaki aku keseleo. Dan tiba-tiba kalian udah enggak ada,” sambil terisak.

“Kamu jatuh di mana Ta? Terus sekarang gimana kaki kamu? Mananya yang sakit? Coba aku lihat Ta,” Sambung Pras dengan nada cemas.
“Enggak usah Pras, aku udah enggak apa-apa kok. Udah sembuh, soalnya tadi udah dipijitin sama,” aku tidak meneruskan kata-kataku. Ku alihkan pandangan ke sekitar tapi tidak ku temukan sosoknya. “Aneh deh. Tadi barusan dia ada di sini, kok sekarang hilang ya,” ucapku heran. Sekali lagi ku tengokkan kepala ke kanan, ke kiri, dan ke belakang mencari pangeran cantik yang sudah menolongku. Tapi dia sudah hilang tanpa jejak.

“Kamu nyari siapa sih Ta?” Giliran Kirana heran.
“Itu loh cowok yang tadi ada di belakang aku. Kalian lihat enggak? Dia yang nganterin aku sampai sini dan dia juga yang udah sembuhin kaki aku yang keseleo,” kataku menjelaskan. Tapi ketiga temanku malah kebingungan dengan penjelasanku.
“Cowok yang mana Ta? Dari tadi enggak ada cowok lagi kok selain aku sama Pras,” balas Tegar.
“Iya Ta yang mana sih? Dari tadi aku enggak lihat siapa-siapa kok di belakang kamu,” sambung Kirana.

“Ihh beneran tadi ada kok. Masa iya aku bohong. Lagian mana bisa sih aku sampai sini kalau enggak ada yang nunjukkin jalannya. Kamu kan tahu sendiri Ran aku tuh paling enggak inget sama jalan,” ucapku dengan penuh keyakinan.
“Sudah, sudah enggak perlu diributkan lagi. Lebih baik kita cepat balik ke penginapan sekarang. Setelah berjalan terus aku yakin kalian pasti lelah. Kamu juga pasti pada pegal kan Ta? Apalagi kamu sempet jatuh,” Kata Pras menengahi.
“Iya Pras, badanku pada sakit semua. Rasanya pengen buru-buru ketemu kasur biar bisa rebahan,”

Dengan langkah lemas, kami semua pun meneruskan perjalanan kembali ke penginapan. Dalam hati aku masih bertanya-tanya. Ke mana dia pergi? Padahal aku yakin banget kalau dia masih ada di belakangku tadi. Aku bahkan belum sempat bilang terima kasih. Rumahnya juga aku enggak tahu, karena mendadak bisu pas deket dia. Apa aku bisa ketemu dia lagi? Aku jadi terpikir, apa iya dia berasal dari sini? Wajahnya sama sekali enggak ada kesan-kesan warga Dieng. Penampilannya pun beda. Gaya bicaranya juga enggak seperti warga sini. Tapi kenapa dia bisa ada di sana ya? Semakin memikirkannya, semakin banyak pula pertanyaan-pertanyaan yang membuatku penasaran padanya. Sesampainya di penginapan, aku langsung mandi dan berganti pakaian. Lalu ke ruang tamu untuk ikut minum teh dan makan beberapa gorengan yang disediakan pemilik penginapan bersama Kirana dan lainnya. Selesai itu, aku langsung ke kamar dan mengisitirahatkan badanku.

Fajar belum juga menyingsing, tapi aku sudah terbangun. Ku lihat Kirana masih tertidur pulas. Tidurku semalam tidak terlalu nyenyak karena otakku terus memutar kejadian-kejadian yang aku alami seharian kemarin. “Jika sudah terlanjur bangun, aku tidak akan bisa tidur lagi,” gumamku sebal. Ku raih sweeter berbahan wol yang tergantung di pintu kamar. Dengan wajah khas orang bangun tidur, tanpa mandi terlebih dahulu aku putuskan untuk ke luar keliling penginapan. Siapa juga yang berani mandi pagi-pagi seperti ini di Dieng, menyentuh lantai saja kaki serasa beku.

Menghirup napas panjang. “Udara di sini benar-benar enak, masih asri dan sejuk. Bikin hati tenteram. Coba aja setiap hari bisa kayak gini,” kataku dalam hati. Saat ini aku berdiri di dekat kebun kecil yang tidak jauh dari penginapan. Semilir angin yang lembut menerpa wajah. Sesekali rambutku tersibak karenanya. Ku dongakkan kepala, menatap langit. Sebentar lagi matahari akan segera terbit.

Mataku membelot pandangannya ke sekitar perkebunan. “Apa itu?” Samar-samar ku lihat ada sesosok bayangan tersembunyi di balik kabut di kejauhan. Yang jelas itu manusia. Tapi siapa yang pagi-pagi begini ada di sana? Tidak mungkin kalau Kirana, Tegar atau Pras. Mereka masih tertidur saat aku keluar tadi. Karena penasaran, ku langkahkan kaki mendekat ke tempat bayangan itu berada. Saat hampir sampai, sinar matahari muncul. Membiaskan sinar terangnya, memperjelas sosok di balik bayangan yang sedari tadi ingin aku hampiri.

“Adam!” pekikku terkejut.

Sekali lagi aku bertemu dengan pangeran cantik yang sudah menolongku di tengah hutan. Sosok itu sepertinya mendengar teriakanku. Dia pun membalikkan badannya perlahan. Saat mata kami bertemu, jantungku kembali berdegup. Jarakku hanya tinggal beberapa meter darinya. Alih-alih langsung berlari ke arahnya dan melontarkan banyak pertanyaan yang ada di kepalaku tentang dia. Tapi yang ku lakukan hanya berdiri mematung dan memandangi tubuhnya yang kini sudah menghadapku. Aku tersenyum, dia membalas senyumku. Kali ini aku tidak ingin membiarkannya lolos begitu saja. Setidaknya aku harus mengucapkan terima kasih. Belum sempat ku kumpulkan kemampuanku untuk menghampirinya, sosok itu perlahan menjauh. Sambil tetap tersenyum dan melambaikan satu tangannya kepadaku, tubuhnya seolah-olah melayang menjauhiku. Menyaksikannya akan menghilang untuk kedua kalinya aku tidak menyerah begitu saja. Aku segera berlari menyusulnya.

“Tunggu!” teriakku.
Tapi pangeran cantik itu tidak mau berhenti, dia terus menjauh.

“Arista tunggu. Kamu mau ke mana?!” teriakan Kirana membuat pandanganku teralihkan sesaat. Aku tidak menggubrisnya, aku tetap berlari mengejar Adam. Tapi, sayang, saat pandanganku teralihkan tadi sosok itu tiba-tiba lenyap tak berbekas bersamaan dengan terangkatnya matahari mencapai langit. Fajar telah sirna berganti pagi. Begitu juga Adam. Aku terduduk lemas. Perasaan kecewa dan sedih melingkupi hatiku. Butiran-butiran hangat mengaliri pipiku. Hanya air mata yang dapat mewakilkan perasaanku saat ini. Untuk kedua kalinya, aku harus kehilangan Adam.

“Tunggu. Jangan Pergi! Adaamm.. Adaaaammm!”

“Dukk,” kepalaku menghantam dinding kereta cukup keras. Dalam sekejap mataku sudah terjaga.
“Ternyata cuma mimpi,” gumamku.

Ku lirikan mata, mengintip waktu yang terlingkar manis di tangan sebelah kiriku. Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit malam. Kami sedang dalam perjalanan pulang. Suasana dalam kereta hening hampir tanpa suara. Maklum saja, ini kereta jadwal malam. Jadi kebanyakan penumpang memilih tidur selama perjalanan. Termasuk juga sahabatku, Kirana. Sisa liburan kami hari ini, kami habiskan untuk berbelanja macam-macam makanan dan batik khas Pekalaungan untuk oleh-oleh keluarga di Jakarta.

Sebelum kami turun dari Dieng, sebenarnya Kirana sempat menanyakan lagi perihal laki-laki yang aku bicarakan saat di bukit. Tapi aku malah memberi jawaban lain. Aku hanya bilang kalau dia warga sekitar yang kebetulan lewat. Tidak tahu kenapa, kali ini aku tidak bisa menceritakan soal Adam kepada Kirana. Padahal tidak ada yang perlu dirahasiakan soal pangeran cantik itu. Dia hanya lelaki baik hati yang sudah menolongku. Tapi. Aku ragu. Hingga kini sosoknya masih menjadi misteri. Benarkah dia orang asing yang kebetulan lewat. Atau.. memang benar bahwa malaikat berwujud manusia itu ada. Dia salah satunya. Malaikat berwujud pangeran cantik. Entahlah.

Cerpen Karangan: Nur S. Fauziah
Facebook: Nursya Fauziah
Seorang nona biasa, yang suka berimajinasi lewat tulisan. Dan selalu percaya bahwa “Tidak hal di dunia ini yang sia-sia.” 🙂 Cerita ini hanya karangan dan fiktif belaka. Ini karya pertamaku. Terima kasih bagi yang sudah membaca. Semoga kalian suka 🙂

Cerpen There’s Something in Dieng (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Harta Berharga Ayah

Oleh:
Seyum manis itu telah menghiasi wajahnya. Untuk terakhir kalinya, aku melihat seyuman itu. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ia sempat mengatakan sesuatu “Ayah akan mewariskan sesuatu yang berharga untukmu. Pergilah

Missing (Part 4)

Oleh:
Pukul 3 tepat saat kami sampai di perkemahan dan suasana di sana sangat hening. “hulfah..” teriak Davi memanggilnya tapi suara Fitri yang terdengar menyahut dari dalam tenda perempuan. “di

Kau Merenggutnya Dariku

Oleh:
“Hiks… hiks..” tangisku. Karena kejadian malam itu, malam dimana gadisanku direnggut oleh seseorang yang tidak kuketahui wajahnya. Perkenalkan namaku andita biasa dipanggil dita. Malam itu aku sedang di rumah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *