Tragedi Berdarah di Perry’s Bookstore (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 20 February 2019

Mario secepat kilat, berlari menuju Inspektur dan memanggilnya untuk kembali ke ruang loker Perry’s Bookstore dan menjelaskan alasan tindakannya itu.
“Pak Inspektur! Mohon tunggu sebentar, sepertinya ada hal yang harus anda lihat sendiri. Sepertinya anda salah membawa pelaku pembunuhan ini, kita harus segera kembali ke ruang loker tadi.” Terlihat rengutan dahi di wajah Mario. Iya, ini benar-benar serius.

Di waktu yang sama, di dalam ruang loker toko buku ini, Adam terlihat antusias mencari tahu, benda apa yang digunakan oleh pelaku untuk merusak kotak pengunci loker Tora. Lubang kunci bagian luar loker ini terlihat biasa saja, tidak terlihat seperti lubang yang telah dibuka paksa. Tetapi anehnya, baut yang terletak di pojok kanan dan di pojok kiri atas pada bagian kotak pengunci yang berada didalam loker ini menghilang. Dan terlihat ada beberapa goresan kecil di pintu loker, tepat di sebelah kanan lubang kuncinya.

“Mengejutkan! Pelaku pembunuhan ini cukup profesional dalam melakukan tindakannya. Jika dilihat dari banyaknya goresan, sepertinya ia sudah beberapa kali mencoba melakukan trik ini dengan loker Tora. Kemungkinan besar menggunakan kawat atau besi kecil yang mudah dimasukkan ke dalam sela loker ini, terlihat dari besarnya ukuran goresan pada pintu loker.” Pikir Adam sambil bersandar di dinding layaknya Cover Boy sebuah majalah Fashion ternama.

“BRAAAAK!!” terdengar suara pintu yang dibuka dengan kasar dan mengenai dinding.
“Apa-apaan ini nak!? Jelaskan dengan rinci alasan kalian mengapa meminta saya untuk kembali ke ruangan terkutuk ini!? Bukankah kita sudah menemukan pelakunya!?” Nada tinggi Inspektur membuat suasana sunyi sejenak saat itu.
Suasana yang semakin tegang ini membuat panggung sandiwara ini bak tempat bertarungnya para Gladiator di Roma untuk melawan musuhnya hingga tewas. Kejadian tak terduga ini sungguh menarik perhatian semua orang, walaupun kecurigaan terhadap Tora tidak berkurang dari sebelumnya.

“PLAAAK!!” tiba-tiba terdengar suara yang cukup mengejutkan.
“Masih saja kamu berani menampakkan wajahmu itu di depanku!? Apakah kamu tidak mempunyai rasa malu!? Kau pantas mendapatkan tamparanku itu Tora! Cepat jebloskan dia ke penjara secepatnya Pak Inspektur!” Isak tangis dan emosi tercampur jadi satu hingga menutup kewarasan pikiran Nadya saat itu.
Ilham dengan cepat memeluk Nadya untuk menenangkan perasaannya yang sedang hancur berkeping-keping karena masih tidak bisa menerima kenyataan pahit, kalau kekasih yang ia cintai itu telah menghilang selamanya dari dunia ini.
“Tenang Nad, sekarang ada aku di sini bersamamu yang akan melindungimu. Tidak akan aku biarkan seseorang melukaimu lagi, relakanlah kepergian Alex agar ia tenang di sisi-Nya.” bisik Alex pada Nadya yang semakin erat lagi memeluknya.
“Aku sangat mencintai Alex dengan segenap jiwaku, bagaimana mungkin aku bisa merelakan kepergiannya secepat itu!? Dan mengapa pula Tora melakukan hal keji itu? Alex tak pernah sedikitpun cerita kepadaku tentang Tora ataupun ada masalah dengan Tora sebelumnya.” Jawab Nadya dengan wajah lebam di matanya dan bertanya pada dirinya sendiri.
Karena kurangnya Alibi, Tora hanya bisa menundukkan wajah tampannya itu dengan tangan yang sudah terkunci dengan borgol. Di saat yang sama pula, ternyata Adam telah memperhatikan drama para tersangka dengan seksama tanpa memalingkan pandangannya dari mereka.

“Hentikan drama kalian, menurutku bukan Tora pelaku pembunuhan ini.” Ucap Adam sambil berjalan mendekati para tersangka dengan posisi tangan dimasukkan ke dalam kantung depan celana jeansnya.
“Apa maksudmu berkata seperti itu sobat? Bisakah kamu menjelaskan secara rinci alasan ucapanmu barusan?” Tanya Mario keheranan.
“Aku setuju dengan kawanmu!” Tambah Nadya.
Senyum Adam keluar dari mulutnya, terlihat jelas jika ia sudah yakin telah memecahkan salah satu fakta atau lebih dalam misteri kasus pembunuhan ini. Tanda tanya besar terlahir pada tiap benak orang-orang yang berada di ruang loker toko buku ini. Bagaimana bisa Inspektur Polisi dan Mario bisa melewatkan sebuah kunci jawaban dari misteri ini? Apakah Adam hanya berspekulasi saja? Ataukah memang benar jika pelaku pembunuhan ini bukan Tora Ali?

Sebelum Adam menguak salah satu misteri ini, ia meminta Inspektur Polisi untuk mengumpulkan para tersangka lagi tepat di hadapannya agar lebih mudah melihat tingkah laku mereka ketika nanti ia menjelaskan faktanya. Daya analisis Adam memang lebih tinggi jika dibandingkan dengan Mario dan anak-anak sepantarannya. Ia juga membisikkan beberapa hal yang harus Mario lakukan nanti ketika Adam mulai berbicara di depan Inspektur Polisi dan para tersangka pembunuhan ini.

“Menurut data yang telah saya dapat dari Mario setelah ia melihat rekaman CCTV yang berada di lorong kecil yang berada di pojok Perry’s Bookstore tepat di depan ruang staff (Lensa mengarah ke pintu masuk ruang staff) sebelumnya, ternyata ada tujuh orang yang memasuki ruangan itu pada hari ini. Tetapi, saya akan memperkecil pencarian pelaku pembunuhan ini dengan waktu. Karena sebelumnya Alex terbunuh pada pukul 13:00, maka saya hanya bertanya pada Mario siapa sajakah yang memasuki ruang staff mulai pukul 12:00 sampai pukul 12:30 waktu setempat dan hanya ada satu orang yang berada di ruangan itu.” Adam berkata dengan angkuhnya sambil bersandar di dinding.
“Siapa orang itu nak!?” Tanya Inspektur tegang dengan mimik muka yang cukup lucu terlihat di wajahnya.
“Orang itu adalah, Nadya Perry!!” Jawab Adam dengan lirikan tajam ke sang kekasih korban.

Semua mata tertuju pada satu-satunya wanita yang masih berada di TKP saat ini, dan untuk sesaat tak ada seorangpun yang mampu mengucapkan sebuah kata atau satu suku katapun. Nadya pun hanya bisa terdiam seribu bahasa karena tak menduga sedikitpun jika Adam akan berkata seperti barusan. Suasana sunyi sebelumnya sangat mendebarkan, jika ruangan itu lebih terutup rapat lagi, mungkin detakan jantung Nadya akan terdengar sedikit.

“Alex sendiri yang memanggilku untuk menemuinya sebelum dan sesudah waktu kematiannya, dan hal itu pula yang membuatku penasaran setengah mati hingga sekarang. Jika kalian tidak percaya padaku, Pak Inspektur bisa melihat sendiri chat-ku dengan Alex di dalam ponsel saya.” Jelas Nadya dengan ringkas dan cukup mengejutkan.
“Sebelum dan sesudah waktu kematian!? Apa maksudmu itu!?” Tanya Inspektur heran sebelum mengambil dan melihat isi chat dari Alex dengan mata kepalanya sendiri.
Isi dari chat yang pertama, terkirim pada pukul 12:15 “Sayang, ada beberapa berkas yang harus kamu lengkapi di ruang kantorku, Love you..” Setelah menerima chat dari Alex, Nadya langsung menemui Alex di kantornya, dan terlihat di CCTV jika Nadya memasukki ruangan itu mulai pukul 12:17 dan keluar ruangan pukul 12:30 waktu setempat.
Isi dari chat yang kedua, terkirim pada pukul 12:54 “Nad, segera ke ruanganku sekarang, terima kasih.” Setelah menerima chat kedua dari Alex, Nadya tidak langsung menemuinya karena ia sedang berada di toilet saat itu. Ia baru menemui Alex pada pukul 12:59 dan terlihat dari CCTV kalau ia hanya membuka pintu dan tiba-tiba saja terjungkal kebelakang karena melihat mayat kekasihnya yang sudah berlumuran darah, tepat pada pukul 13:00 waktu setempat.
Dikarenakan CCTV tidak berada di dalam ruang staff itu, keadaan Nadya saat ini sangat dirugikan, sehingga ia juga dicurigai sebagai pelaku pembunuhan Alex karena hanya ia yang terakhir bertemu dengannya. Bagaimana mungkin pelaku pembunuhan ini malah bertambah? Siapakah pelaku sebenernya dalam kasus pembunuhan ini? Apa mungkin Nadya dan Tora bekerja sama dalam membunuh pelaku? Apakah drama pertengkaran Nadya dan Tora sebelumnya benar-benar hanya sandiwara belaka? Semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam benak masing-masing orang yang berada di ruangan terkutuk itu.

“Nadya, bagaimana mungkin kamu membunuh kekasihmu sendiri!?” Akhirnya Tora mulai mengeluarkan suara dari yang sebelumnya hanya bisa menundukkan wajah saja ke bawah dan melihat sepatu kulitnya itu.
“Bukan aku pelakunya, bukankah kamu yang membunuh Alex!? Barang buktinya sudah jelas berada di lokermu Tora!” Emosi dan tanda tanya besar mulai terlihat di wajah manis Nadya saat ini.
“Aku tak percaya ini, aku yakin Nadya tidak akan berani melakukan hal semacam itu.” Sela Ilham yang kebingungan dengan fakta mengejutkan yang sedang terjadi di sini.
“Cukup! Jangan saling menuduh seperti itu! Memang benar jika fakta dan buktinya sudah jelas terekam di CCTV kalau Nadya bertemu dengan Alex pada pukul tersebut. Tetapi, apakah saya sudah berkata kalau Nadya lah pelaku pembunuhan ini?” Ucapan Adam malah membuat suasana semakin tegang.
“Jelaskan pada kami apa yang kamu maksud nak!? Berani sekali” Bahkan Pak Inspektur juga masih kebingungan, sebenernya apa tugas Pak Inspektur di sini, sepertinya ia lebih banyak memberi pertanyaan ketimbang pernyataan. Karena ia pun belum pernah mengatasi kasus pembunuhan penuh misteri seperti ini sebelumnya.

Entah mengapa semua mata justru tertuju pada Adam bukan kepada para tersangka ataupun Pak Inspektur berwibawa itu. Semua orang di ruangan itu mendegarkan tiap ucapan dan memperhatikan tiap gerakan yang Adam buat tanpa berpaling sedikitpun, bahkan mereka tetap memperhatikan Adam ketika ia sempat bercermin sebentar untuk menyisir gaya rambut Jar Head kekiniannya itu. Dengan sedikit tingkah konyolnya itu, mereka tetap saja menunggu dan mendengarkan dengan seksama tiap kata yang keluar dari mulut Adam, karena hanya ia yang tahu kebenaran apa saja yang akan terkuak pada misteri pembunuhan ini.

“Hanya satu dan satu-satunya orang yang memiliki kesempatan terbesar tanpa ada seorangpun yang akan curiga dengan pergerakannya, berlagak menjadi pahlawan di dalam kesedihan terdalam orang lain, dan sangat cermat memanfaatkan setiap peluang yang ada. Orang ini tidak bisa dibilang awam dalam sebagai pembunuh karena dilihat dari perencanaan dan trik membunuhnya, kasus pembunuhan ini hampir berjalan dengan mulus. Iya, kamu lah pelaku pembunuhan Axel Fernandi di Perry’s Bookstore ini, Ilham Haryadi!!” Dengan lantangnya Adam berkata sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Ilham.

Keheningan tiba-tiba memasuki suasana ruangan ini, jika dalam hitungan detik, sepuluh detik pertama setelah Adam selesai berbicara, sempat terasa seperti di kuburan pada malah hari. Bayangkan saja sendiri alasan mengapa suasananya bisa seperti itu. Apa yang ada di dalam pikiran mereka sekarang? Apa kali benar-benar pelaku pembunuhan sesungguhnya? Atau praduga yang masih belum bisa terbukti dengan jelas seperti sebelumnya?

“Hahahahaha!! Tuduhan macam apa itu? Bisakah kamu menjelaskan hal ini dengan logis? Bukti apa yang bisa kamu tunjukan kepada kami? Ataukah ini hanya bualan kosong dari bocah ingusan sepertimu karena tidak bisa memecahkan misteri ini!?” Dengan jelas Ilham terlihat meremehkan kemampuan analisis Adam
“Sudahkah kamu selesai bicara sobat? Apakah menurutmu aku sudah selesai bicara dan menjelaskan alasanku berkata seperti tadi? Aku belum memberitahu kalian semua kalau ternyata ada saksi mata yang melihat suatu kejadian janggal pada pukul 12:45 sebelumnya?” Entah ini jawaban atau pertanyaan balik yang ditujukan untuk Ilham, dan membuat panggung beku ini menjadi panas. Tak lupa Adam melengkapi ucapannya itu dengan senyum kecilnya.
“Memangnya apa yang kamu lihat di CCTV itu pada pukul tersebut? Bukankah sudah terlihat dengan sangat jelas dalam rekaman itu jika saya keluar masuk ruangan staff sekitar pukul 09:45, 10:30, dan 11.45 waktu setempat untuk mengambil buku-buku baru dan menyusun ke rak buku sesuai tugas saya sebagai pegawai penyusunan buku. Lalu, apakah ada hubungannya kejadian janggal pukul 12:45 dengan saya??” Ilham bertanya sambil menggaruk belakang kepalanya yang terasa gatal karena keringat yang mulai bercucuran dari pori-pori rambut belakangnya.
“Bisakah kamu memberi kami penjelasan, untuk apa kamu memasuki ruangan staff tanpa mengenakan jaket dan tiba-tiba kamu keluar dari ruangan itu mengenakan jaket? Apa yang terjadi didalam ruangan itu? Bukankah itu yang terjadi sebelumnya?” Tanya Adam sambil menaikkan alisnya dan membuka pintu ruang loker. Terlihat ada bayangan seseorang dari belakang pintu tanpa menunjukkan wajahnya.
“Iya, benar, saya melihat kejadian itu saat bertugas di meja kasir, kalau Ilham keluar dari ruangan itu mengenakan jaket hitam. Seingat saya, ia hanya memakai seragam pegawai dan memegang sebuah buntalan pakaian di tangan kanannya.” Jawab Jordi tanpa menunjukkan wajahnya di depan para tersangka dan para petugas polisi.
“Dingin… Iya di ruangan itu sangat dingin, kebetulan badan saya juga tidak begitu sehat hari ini, jadi saya meminjam jaket Alex ketika berada di ruangan itu. Dan jaket itu terbawa olehku saat keluar ruangan.” Dengan cepat Ilham membalas, setetes keringat terlihat keluar dari dahi kanannya dan turun mengalir ke pipinya.
“Itu hanya akal-akalanmu saja! Lebih baik kamu mengaku jika kamulah pelaku pembunuhan ini! Kamu juga kan yang mengirim chat kedua ke ponsel Nadya menggunakan ponsel Alex dan kamu pula yang menaruh barang bukti pembunuhan kedalam loker Tora agar lebih banyak tersangka yang dicurigai sebagai pelaku!” Kali ini emosi mulai terlihat dari nada tinggi Adam.
“Jangan asal menuduh tanpa mempunyai bukti yang jelas hanya karena aku memiliki kesempatan paling besar dalam membunuh Alex! Lagi pula, untuk apa aku membunuh sahabatku sendiri!?” Bentak Ilham diikuti dengan senyum kemenangan.
Adam memang belum memiliki bukti yang kuat untuk membuktikan analisis sebelumnya itu, ia hanya bisa menundukkan wajahnya kebawah dan berpikir keras apakah ada sebuah kejadian penting yang terlewatkan. Tanpa adanya bukti yang cukup jelas, Pak Inspektur tidak bisa melakukan apa-apa. Analisis Adam sebelumnya hanya membuat kecurigaan terhadap Nadya semakin besar.
“Saya minta kerja sama kalian berdua, Saudara Tora dan Saudari Nadya untuk memberikan penjelasan kalian berdua dengan kami di kantor…” Ketika Pak Inspekur hampir selesai memberi arahan dan menyiapkan borgol kedua untuk mengunci tangan Nadya, tiba-tiba terdengar sebuah suara samar dari belakang pintu loker yang sudah terbuka sejak tadi.
“Cakar.. Iya, luka cakaran tangan.” Terdengar seseorang mengucapkan kalimat yang cukup aneh.

Semua orang yang berada di Perry’s Bookstore benar-benar melupakan keberadaan tokoh utama pemecah misteri pembunuhan ini, terkecuali Adam. Suara parau Mario sebelumnya menggema perlahan di ruang loker itu, Apa cakar yang Mario maksud itu? Darimana saja ia selama panggung sandiwara ini berlangsung? Dari dingin hingga ke panas, aura suasana yang kian terus bergantian sebelumnya dilewatkan Mario begitu saja.

Cerpen Karangan: MisterEar!
Blog / Facebook: juancaraafiano.blogspot.com / Juanca Raafiano
Seorang pria yang menyukai gambar, fotografi, menulis dan jalan-jalan!

Cerpen Tragedi Berdarah di Perry’s Bookstore (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Kakek Hari

Oleh:
Sinar matahari menembus dari celah daun pohon rambutan di kebun Kakek Hari. Matahari mulai meninggi, banyak orang sudah berlalu lalang di jalan setapak desa yang ditempati Kakek Hari itu.

Ghost Hunter

Oleh:
Aku adalah Tania salah satu anggota di Ghost hunter. Ghost hunter adalah salah satu organisasi yang memiliki anggota dengan kekuatan supranatural untuk mengusir mahkluk astral yang menggangu. Suatu hari

Pembantaian Di Asrama Putri

Oleh:
Jingga, Rachell dan Melisa tinggal di sebuah Asrama Putri. Mereka sekamar dan juga seangkatan. Asrama Putri yang mereka tinggali ini, ternyata memiliki sebuah kisah tersendiri. Asrama Putri ini adalah

Maaf Untuk Mama (Part 1)

Oleh:
“nggak aku nggak mau, aku nggak mau ikut sama kamu, aku nggak mauuuuuuu…! hosh hosh hosh” ternyata mimpi buruk itu lagi, aduh siapa sih sebenarnya perempuan itu, kenapa dia

Misteri Lagu Bunda

Oleh:
Namaku Naya Aqilla. Aku punya Bunda yang sangat pengertian padaku, namanya Bunda Nisa. Namun sayang, bundaku telah tiada. Mau tau ceritanya? Kok bisa bundaku meninggal. Suatu malam, ketika aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *