Tragedi Berdarah di Perry’s Bookstore (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 20 February 2019

Mario mulai menghilangkan keberadaan dari kerumunan itu layaknya Assasin sebelumnya, setelah Adam menjelaskan beberapa trik yang digunakan pelaku untuk membunuh korban. Adam juga meminta tolong Mario untuk memeriksa kembali rekaman CCTV lebih detil dan memeriksa tiap luka yang berada di mayat korban yang masih berada diruangan staff toko buku ini, ia menemukan beberapa hal ganjil pada kondisi mayat Alex.

Di tangan kanan Alex, tepatnya di ujung kuku empat jari tangan kanan Alex, dari jari kelingking hingga jari telunjuknya terlihat bekas darah. Seharusnya, jika sang korban memegang perutnya setelah ditusuk dengan pisau oleh pelaku pembunuhan, sudah pasti bekas darahnya akan memenuhi telapak tangan kanan korban. Tetapi, mengapa bekas darah hanya berada di keempat kuku jari tangan kanannya saja? Setelah berpikir beberapa saat setelah menerka-nerka apa yang terjadi sebelumnya, ia menyimpulkan jika Alex sempat memberi perlawanan ketika perutnya ditusuk dengan cara menahan tangan pelaku sebelumnya tenaganya habis karena kehabisan darah yang mengucur keluar dari perutnya. Dan hal ganjil lainnya adalah, mengapa Alex tidak teriak atau meminta pertolongan ketika perutnya ditusuk oleh sang pelaku?

“Hei sobat, bolehkah saya melihat kedua lengan tangan kamu?” Tanpa memberikan penjelasan yang lengkap untuk alasan perkataannya barusan, Mario meminta Ilham untuk memperlihatkan lengannya di depan para orang-orang.
Perlahan Ilham menggulung seragam pegawai berlengan panjangnya itu hingga siku, dimulai dengan tangan kanannya dan tidak terdapat luka sama sekali. Kemudian ia lanjut dengan tangan kirinya, mengejutkan! Tepat seperti dugaannya, sangat jelas terlihat ada bekas luka yang masih baru, empat luka cakar terlihat di lengan kirinya.
“Luka ini saya dapat tadi pagi ketika saya menabrak pagar rumah saya ketika saya hendak berlari untuk berangkat kerja di toko buku ini.” Jawab Ilham cepat dengan gelagat yang sangat aneh.

“PRRAAAK!!” Mario melempar sebuah kantong plastik hitam di depan kerumunan orang.
“Alasan apalagi yang akan kamu berikan untuk kami untuk penjelasan yang beberapa barang ini. Dua buah cetak foto hitam putih dengan potret yang sama dengan gambar CCTV yang berada di depan ruang staff dan ruang loker. Dua buah pencapit yang cukup kuat dengan bentuk yang aneh, dan kawat kecil yang mudah dibengkokkan?”

Kaki Ilham yang bergetar membuatnya jatuh lemas karena Mario sudah menemukan barang bukti penting lainnya dalam kasus pembunuhan ini. Perkataan Mario barusan sudah cukup membuat Ilham terkejut, ia hanya bisa tertunduk malu, menatap kebawah dan tak berani lagi menatap muka Nadya dan Tora yang berada tepat di depannya itu.

“Bagaimana mungkin kamu bisa menemukan barang-barang itu? Barang itu berada di loker yang sudah tidak terpakai di gudang toko buku ini, aku tak berpikir jika kamu bisa menemukannya.” Ucapan Ilham ini bisa dibilang sebagai bentuk lain bahwa ia mengakui perbuatan kejinya itu.
“Alex memang pantas mati! Ia sudah berjanji padaku untuk menjaga hati Nadya seorang, bukan untuk menyakiti hatinya dan tega berselingkuh dengan wanita lain. Bodoh sekali diriku ini sudah mempercayai Alex untuk menjaga orang yang aku sayangi, tak cuma Nadya, aku pun telah dikhianati olehnya!” Tambah Ilham dengan penuh emosi dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.
“Aku benar-benat tidak percaya kalau ucapanmu yang kudengar ini adalah sebuah kenyataan dalam hidupku ini, kamu menyakiti hatiku lebih dari Alex jika seperti ini Ilham. Aku sangat mempercayaimu layaknya kakak kandungku sendiri. Jangan pernah sekalipun kamu menunjukkan wajahmu di depanku lagi, dengan menghilangkan keberadaanmu dari hidupku mungkin aku akan memaafkan perbuatanmu kejimu ini!” Kesedihan teramat dalam terlihat dari punggung Nadya yang hendak masuk ke ruang kantornya, ia butuh waktu untuk menenangkan dirinya yang telah dikhianati oleh sahabatnya sendiri.
“Tidaaaak!! Aku sangat menyesal! Maafkan aku Nad! Aku melakukan perbuatan ini karena menurutku inilah yang terbaik! Tunggu Nad…” Jeritan penyesalan Ilham tampak jelas menutup panggung sandiwara para tersangka dalam misteri pembunuhan ini.

“Jika kamu benar-benar menyayanginya, kamu tidak akan melakukan perbuatan kejimu ini. apalagi kamu sampai menggunakan Nadya sebagai tameng perlindunganmu sebelumnya dengan mengirimkan chat melalui ponsel Alex ke ponsel Nadya sebelumnya.” Tegas Adam tidak setuju dengan ucapan dan perbuatan iblis itu.
“Simpan penyesalanmu nanti di sel jeruji mendatang! Silahkan renungkan perbuatanmu itu! Penyesalan memang selalu datang terakhir sobat, berpikirlah sebelum bertindak lain kali. Dan asal kamu tahu, yang terbaik menurutmu belum tentu yang terbaik pula bagi orang lain.” Tambah Mario menyelipkan nasihat kecilnya.

Akhir kisah, Inspektur Polisi, Mario, Adam dan para petugas polisi berjalan bersama keluat Perry’s Bookstore dan menuntun Ilham Haryadi kearah mobil polisi untuk menginterogasi lebih lanjut untuk menanyakan beberapa trik, barang bukti, dan motif pembunuhan pada kasus kali ini. Iya, Ilham hanya bisa berjalan menundukkan wajahnya ke bawah dan tak berani mengucapkan sepatah katapun.

“Kami benar-benar terbantu ‘lagi’ dengan kehadiran kalian berdua! Mungkin aku bisa memberi kalian berdua tempat spesial dikantor polisi nanti jika kalian sudah cukup usia HAHAHAHA!” Tawa lepas Pak Inspektur sangat besar hingga membuat beberapa pejalan kaki yang melihat mereka tersentak kaget.
“Tentu saja! Kami memang hebat! Kami berdua saling melengkapi dalam merumuskan sebuah masalah! Dengan senang hati kami akan membantu jika ada kejadian seperti ini Pak Inspekutur!” Dengan percaya diri yang besar Adam menjawab ucapan Pak Inspektur barusan.
“Benar sekali! Kami akan membantu pihak kepolisian semaksimal mungkin. OH, iya! Pak Inspektur, jangan lupa untuk mengambil barang bukti asli yang berada diloker dalam gudang toko buku ini. untung saja aku ingat sebelum kita kembali pulang ke rumah.. Hahahahaha.” itulah jawaban yang cukup mengejutkan mereka berdua, ketika Mario bilang disaat tertawa bersama.

Pak Inspektur dan Adam saling bertatapan tak percaya setelah mendengar ucapan Mario barusan, dengan segera Pak Inspektur membuka kantung plastik yang sebelumnya Mario lempar di ruang loker. Di dalam kantong plastik itu ternyata berisi, beberapa paku kecil, kawat dan sebilah besi yang sudah berkarat.

“Instingmu benar-benar kuat nak! Ternyata kamu hanya menggertak saja sebelumnya! Benar-benar tak masuk akal! Haruskah aku salut padamu atau menegur perbuatanmu barusan nak?” pak Inspektur hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan mata sedikit melotot.
“Gila! Bagaimana jika Ilham tidak memeberi tahu pada kita letak barang bukti lainnya yang berada di gudang tadi? Bukankah akan berakibat fatal? Bisa jadi, barang bukti yang digunakan pelaku tidak ditemukan sampai sekarang!” Perkataan Adam yang biasanya memperlihatkan kelucuan untuk mencairkan suasana menjadi hilang sesaat, ia benar-benar dibuat shock juga oleh sobatnya sendiri.
“Tenang sobatku! Tenang Pak Inspektur! Semua sudah saya pikirkan matang-matang sebelumnya. Seandainya tadi Ilham tidak memberi tahu letak barang bukti lainnya, aku akan meminta salah satu petugas polisi untuk mengidentifikasi darah yang berada di salah satu korban jari korban, dan meminta masing-masing sample darah tersangka. Kemudian tinggal kita cocokan dengan saja, dan ketika kita sudah menemukan darah siapa yang cocok, dengan mudah Pak Inspektur menemukan pelaku dan bapak bisa menanyakan barang bukti lainnya saat diinterogasi nanti.” Penjelasan Mario yang sangat jelas, telah menenangkan hati Pak Inspektur yang sempat meragukannya tadi.

“Bagaimana dengan pencapit dan foto hitam putih itu?” Tanya Adam cepat.
“Untuk hal itu, memang aku sudah menduga bahwa sang pelaku memang menggunakan sebuah alat yang dapat mencapit kertas yang bisa digantung di CCTV toko buku ini. Terlihat dari goresan tipis yang berada dikedua CCTV depan ruang staff dan ruang loker. Aku berulang kali memperhatikan rekamannya tanpa memalingkan mata sedikitpun dari layar kamera pengawas. Untuk beberapa waktu, ada gerakan cepat dan membuat rekaman CCTV ini terasa diam untuk beberapa menit. Dan kebetulan saja CCTV pada toko buku ini hanya berwarna hitam putih.” Jelas Mario lagi untuk melengkapi yang misteri kali ini.

Gelengan kepala Pak Inspektur terlihat kagum, tidak percaya, terkejut? Mungkin itu yang sekarang ada dalam benaknya. Ia tak menyangka kalau Mario sudah berpikir sejauh itu, apakah anak seumurannya memang sepintar dan secermat ini?
“Nak Adam, hampir saya lupa, bagaimana dengan chat kedua yang Nadya Perry terima di ponselnya? Bagaimana kamu bisa mengetahui kalau itu termasuk dalam trik pembunuhan kali ini?” Tanya Pak Inspektur dengan kerutan dahi diwajahnya yang belum hilang dari penjelasan Mario sebelumnya.
“Chat yang pertama, Axel memanggil Nadya dengan kata ‘Sayang’, lalu mengapa chat kedua ia memanggil Nadya dengan kata ‘Nad’? Menurutku itu cukup aneh, dan selagi aku memperhatikan para tersangka saling berdebat sebelumnya, Ilham terdengar sudah terbiasa memanggilnya dengan Nad, sedangkan Tora tidak memanggil sapaan ke Nadya sedari tadi.” Adam menjawab dengan senyum manisnya seperti biasa.
“Terima kasih untuk penjelasan kalian berdua yang sangat masuk akal! Semoga kita bertemu lagi dilain waktu ya! Kalau bisa tidak dalam sebuah pertemuan tak mengenakan seperti ini Hahahaha!” Pak Inspektur berkata sambil melambaikan tangan dan memasuki mobil untuk menuju kantor polisi.

Sekali lagi, kemenangan kali ini diraih oleh kebenaran. Sepintar-pintarnya tupai meloncat, pasti ada kalanya ia terjatuh. Begitu pula dengan kebohongan, sepintar-pintarnya seorang menutupi kebohongan, ada kalanya pula ia akan ketahuan. Perumpaan yang sering kita dengar bukan? Tetapi, memang itulah yang terjadi, suatu saat nanti, kebenaran akan berada di puncak tertinggi dunia.

Cerpen Karangan: MisterEar!
Blog / Facebook: juancaraafiano.blogspot.com / Juanca Raafiano
Seorang pria yang menyukai gambar, fotografi, menulis dan jalan-jalan!

Cerpen Tragedi Berdarah di Perry’s Bookstore (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pembantaian Di Asrama Putri

Oleh:
Jingga, Rachell dan Melisa tinggal di sebuah Asrama Putri. Mereka sekamar dan juga seangkatan. Asrama Putri yang mereka tinggali ini, ternyata memiliki sebuah kisah tersendiri. Asrama Putri ini adalah

Menghilang

Oleh:
Mungkin bukan saatnya membicarakan cinta dalam benakku saat ini. Karena ku terperangkap dalam banyak tanggung jawab dan segudang target yang harus dicapai semester ini. Tapi, dia membuatku ternganga saat

Misteri Sebuah Kelas

Oleh:
Kelas 9A adalah kelas unggulan yang menjadi panutan dari semua kelas. Anak anak dari kelas 9A adalah anak anak pandai walaupun 99,9 % dari mereka adalah anak yang suka

Entah Siapa

Oleh:
Biklah, karena aku muslim, acara ini kita mulai dengan mengucapkan Bissmillahirrahmaan nirrahhim. Begini, kala itu aku beserta teman-teman dari suatu sekolah berencana pergi mendaki gunung di daerah Jawa Barat.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *