Unsual (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 27 January 2018

Perjalanan menuju seattle terlihat sangat sendu. Jalanan yang begitu sepi aku lalui. Pohon-pohon pinus di samping jalan menjadi pemandanganku. Perjalanan menuju kediaman paman tidak terasa menyenangkan lagi sejak orangtuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Saat itu hujan lebat aku melihat ibu dan ayahku hanya terduduk tak sadarkan diri saat mobil kami menabrak sebuah pohon besar. Setelah itu aku tidak ingat lagi.

Semuanya telah berubah semenjak tragedi itu. Setidaknya aku harus terlihat tersenyum agar paman tidak khawatir, walau bayangan tragedi itu masih menghantui pikiranku, kini yang tersisa hanya sebuah boneka kecil pemberian ayah saat aku masih berumur lima tahun. terlihat sedikit usang dan banyak bekas jahitan.

Ke mana tujuanku sekarang?
Aku bingung harus menjawab apa. Aku terlalu lelah melihat semua yang ada di dunia ini setelah lima bulan lamanya. Antara realita dan mimpi. Batinku sudah terkuras habis. Aku melewati sebuah lorong sempit, ada dua jalur. Yang kiri bertuliskan ‘kehidupan selanjutnya’ dan yang di sebelah kanan bertuliskan ‘jalani takdirmu yang baru?. Ini adalah pilihan yang sulit. Jadi aku putuskan untuk menjalani hidupku dengan takdir yang baru. Kematian telah merenggut orangtuaku, sekarang aku sendirian. Kini semuanya tidak lagi seperti dulu.

Aku kehilangan ingatan tentang hal-hal kecil dalam hidupku. Aku lupa tempat dimana aku terakhir kali bermain. Aku lupa dengan nama kedua orangtuaku, aku lupa dengan teman masa kecilku. Dan Aku bahkan lupa siapa aku sebenarnya. Tidak ada hal yang aku ingat setelah kecelakaan itu. yang aku ingat adalah siapa yang menggandeng tanganku pada saat tragedi itu, seseorang yang seumuran denganku. Hanya itu yang aku ingat.

Di dalam mobil, hanya ada aku seorang. Aku suka situasi ini. Sangat hening dan nyaman. Aku memilih tidur untuk sebentar. Saat mencoba tidur sesekali melihat telapak tanganku. Bekas luka terkena pecahan kaca mobil. Aku mencoba untuk memejamkan mataku. Tiba-tiba saja sepotong masa-masa indah bersama orangtuaku mulai terulang kembali, aku meneteskan air mata. Kenapa ini harus terjadi, kenapa tuhan harus merenggut orangtuaku. Ini sangat tidak adil.

Mobil itu berbelok, memasuki sebuah perkarangan rumah di north seattle street. Rumah Connor. Rumahnya terlihat besar dengan aksen mediterania ada campuran gaya gothic. Connor berdiri menyambutku.

‘WELCOME.’ Tulisan selamat datang berada diatas pintu utama rumah tersebut.
“baik tuan kita sampai” kata supir pribadi tersebut.
“lama tidak berjumpa keponakanku!. Ayo, masuk! Pasti lelah sekali setelah melakukan perjalanan panjang dari colorado,” ajaknya dengan ramah.

Aku menatap sekitar. Sebatang pohon besar yang tumbuh di halaman rumah. Di bawahnya ada sebuah bangku panjang. Bangku tersebut sangat kotor. Ada beberapa daun-daun yang berserakan di alasnya. apa tidak ada yang membersihkannya, seperti tidak ada yang menduduki selama setahun. Lalu, aku mengadah ke atas. Langit terlihat mendung sebentar lagi akan turun hujan. Angin sudah mulai bertiup kencang membuat dedaunan pohon mulai membuat suara khasnya.

Connor mengajakku untuk melihat kamar yang telah disediakan olehnya. Sedangkan pembantu Connor membawakan koper dari bagasi mobil. Rumahnya terlihat sedikit hangat membuatku nyaman untuk tinggal di sini. Kamarku telah ditata rapi dengan gaya mediterania, aku suka sekali. Rasanya seperti kembali ke abad pertengahan. Beberapa barangku juga sudah ditata rapi, semuanya termasuk koleksi novelku juga sudah disusun dengan rapi. Aku membaringkan tubuhku di ranjang yang empuk. Connor menghampiriku.

“bagaimana, willson?. kau suka dengan kamarmu? Dulu ini hanya sebuah gudang.” kata connor sambil duduk di sebelah ranjang.
Aku mengangguk pelan. rasanya seperti kembali ke masa kecil, aku sering bermain di gudang bersam ayahku.

“Mulai saat ini kau akan tinggal bersama paman di sini. Melihat kondisimu setelah kejadian itu membuat paman khawatir. Jadi paman memutuskan untuk mendapatkan hak asuh penuh atas dirimu Will. paman harap kau bisa menganggap paman sebagai ayahmu.” kata connor santai.
“iya paman, aku akan berusaha bersikap normal sebisa mungkin. Apa paman tinggal sendirian di rumah sebesar ini?” kataku, pelan.
Paman hanya mengangguk.

“tentu paman tinggal sendirian, namun sekarang ada kau hadir di sini. Jadi paman tidak kesepian lagi.”
Setelah mendengar kata kesepian, aku menundukkan kepala. Wajah ayah dan ibuku masih terus terbayang di kepalaku.
“hey!, kenapa dengan wajah itu, tersenyumlah tidak perlu murung seperti. Paman tahu rasanya seperti apa rasanya kehilangan orang yang paling berharga buat kita. Paman juga merasakannya Will, kita berdua juga dalam posisi yang sama.” Terang Paman.
Aku hanya bisa diam ketika mendengarnya.

“Dan selama kau di sini paman sudah mendaftarkanmu di sebuah sekolah, tenang saja sekolahnya tak jauh dari sini.” Lanjut connor
Aku bahkan lupa terakhir kali aku sekolah. Aku nyaris lupa dengan semuanya.

“ops! hampir lupa, sirius high school itu nama sekolahmu” sambung paman connor.
“semuanya sudah diatur, kau tenang saja. Paman akan menjagamu dan memastikanmu semua keperluan yang kau butuhkan sudah paman sediakan. Akan ada banyak hal baru yang akan membuat kesedihanmu berlalu dengan cepat.” kata paman connor sebelum aku tertidur.
‘Sudah tidur rupanya. Mimpi indah nak’ guman Connor dalam hati.

Pagi hari telah menyambut, Pintu kamarku dibuka oleh seseorang. connor. Dia datang membawa sepiring kue gandum dan segelas susu hangat, sama seperti yang dilakukan oleh ibuku.

“merasa baikan, will?” tanya paman connor.
“ya sedikit.”
“apa yang kau rasakan saat ini?”
Aku menghela nafas ”entahlah paman rasanya sulit dijelaskan. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku. Yang pasti aku merasa baik-baik saja sekarang.”

“bagaimana rasanya di sini? Apa kau betah tinggal di sini atau kau perlu sesuatu yang lain.” connor duduk di samping ranjangku.
Aku berpikir sejenak, bingung harus berkata apa. Aku berusaha mengingat semua kejadian sebelumnya dalam memoriku. Kejadian itu membuatku ingat betul siapa anak kecil itu. beberapa memori mulai memutar kembali kejadian waktu itu

BRUUUUG!!!
Serpihan kaca-kaca jendela depan mobil pecah mengenai orangtuaku yang berada di depan. Sedangkan aku tak sadarkan diri di belakang. Lalu, kesadaranku kembali pulih karena ada seseorang yang membangunkanku.
“HHHHHH,” desahku
“hey, ayo bangun kita keluar dari sini.” Jawab suara misterius mengajakku.

Saat itu, yang aku pikirkan hanyalah cara keluar dari mobil yang terbakar. seseorang menggandeng tanganku lalu menarik tubuhku keluar dari mobil. Tak lama setelah kami menjauh beberapa saat kemudian mobil tersebut meledak. Lalu seseorang misterius itu mengajakku masuk ke dalam hutan. Namun, sesuatu menghalangiku. Aku seperti melihat dimensi lain dalam gelapnya hutan. orang itu tersenyum padaku lalu menghilang di telan kegelapan. Aku mencoba menghampirinya Namun seperti ada yang menarikku keluar dari kegelapan ini, kesadaranku hilang.
“Hhhhhh…”
Gelap.
Aku tidak merasakan apapun lagi semuanya berwarna putih. Lalu ada suara banyak orang samar-samar.

“Hey? Willson! Kau melamun nak?”
Aku terperangah. “Hm?. oh!, aku tidak melamun, hanya mencoba mengingat kejadian lima bulan lalu. Sangat cepat sekali kejadian itu berlangsung. Aku tak tahu bagaimana pada saat itu terjadi. Seorang yang seumuran denganku mengajakku ke dalam hutan lalu dia menghilang begitu saja. Apa itu terlihat normal atau ini efek dari koma, paman connor?”

“kau normal, Will. Kau terlihat baik-baik saja. Mungkin itu hanya sebuah gambaran atau semacamnya dari pikiranmu. Apa kau membentur sesuatu?.”
Aku meraba kening kepala “mungkin kau benar paman aku membentur sesuatu di kepala. Sebaiknya aku perlu melupakan hal itu agar kondisi mentalku pulih dengan lingkungan baru di sini.”

“Lalu, bagaimana dengan seseorang yang kau ceritakan tadi? Aku penasaran siapa dia.” tanya paman connor dengan penasaran.
“entahlah paman dia pergi begitu saja. Sampai sekarang itu menjadi misteri bagiku.”
Paman connor mengangguk pelan

“baiklah, semua akan kembali berjalan normal, memorimu perlu pemulihan setelah koma yang panjang. Besok aku akan mengantarmu ke sekolah baru. jadi Jangan telat bangun atau kau akan melewatkan hari pertama masuk sekolah, kau tidak mau itu terjadi kan?.”
“sekolah?” tanyaku
“ya sekolah, kau harus melanjutkan pendidikanmu yang tertunda setelah pulih dari koma.”

“semua diulang dari awal lagi?.”
“aku rasa iya Will, kita mulai dari awal bersama-sama. Oke!” jawab Connor sambil mengancungkan jempolnya.

Aku tidak menyangka paman connor sebaik itu mau merawatku setelah kematian orangtuaku, sampai-sampai memperjuangkan hak asuh. Sebaiknya aku tidak boleh mengecewakan paman. Orangtuaku sangat berharap agar aku dapat melanjutkan kehidupan ini tanpa mereka. ayah dan ibu sedang mengawasi dari atas sana.

“Willson! Ayo turun saatnya makan malam. Hari ini menu utamanya daging steak.” Sahut Connor
“aku segera turun paman! Sebentar lagi.”

Aku menaruh sebuah bingkai foto di atas meja belajar “sekarang aku bersama paman. Jadi kalian tidak usah khawatir, ibu ayah. Aku akan baik-baik saja tanpa kalian.”

Cerpen Karangan: Galih Anharriansyah
Facebook: Galih Anhariansyah

Cerpen Unsual (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sang Miliuner

Oleh:
Pernahkah kau bermimpi untuk menjadi dirimu sendiri? Pernahkah kau merasa tidak sanggup membedakan antara esensi diri dan batas imajinasi? Kutenggak kaleng b*r kedua yang kubeli sore ini. Setelah pulang

Gita

Oleh:
Di ujung Desa Kembang, terdapat rumah besar berpagar besi berwarna kuning pucat yang sering jadi buah bibir penduduk desa. Di depan rumah itu terdapat pohon mangga yang sangat rimbun,

Black D. School

Oleh:
“Hoaammm” aku bangun di pagi hari, aku sekarang baru lulus dari SMP, aku berencana mendaftar sekolah di SMA Black D. School. “Ma, kapan kita mendaftar di sekolah itu ma…”

Sang Detektif

Oleh:
Hari ini, Indri menangis. Handphone baru pemberian Ayahnya hilang. “Sebelum salat, aku letakkan di dalam tas. Saat selesai salat, handphone itu hilang. Huhuhu.” ucap Indri sambil menangis. Wali kelas

Terkadang Kebenaran Menyakitkan (Part 1)

Oleh:
Suara tangisan berdengung dari ruangan itu, seorang pria, yang juga kepala keluarga, baru saja kembali ke pangkuan sang illahi, sang anak, Rahmad, adalah yang hatinya paling tersakiti, kematian ayahnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *