Wajah Sang Primadona

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 17 March 2018

Tak pernah kulihat wajah sesempurna itu seumur hidupku. Tak pernah sekalipun. Bila aku menutup mataku akan teringat jelas wajah itu, sepertinya wajah itu telah merekat dan menusuk sangat dalam di pikiranku. Ke manapun pergi, apapun yang kulakukan, wajah itu akan selalu ada di hadapanku. Terkadang aku tampak seperti orang bodoh di saat-saat sendiri. Mungkin ada yang berpikir aku ini aneh ya, tepatnya ketika aku menikmati es krim seorang diri. Saat mulutku terbuka siap menerima sendok perak berisi es krim berwarna ungu seperti anggur, entah mengapa mendadak bayangan wajah itu muncul di hadapanku. Dia tersenyum sambil mengucapkan kata “Aku dan kamu.”

Tidak tahu berapa lama aku mengkhayalkannya, begitu tersadar es krim dalam genggamanku tadi telah mencair tumpah tepat di depan mulutku tanpa sempat aku memakannya.
Begitu tersadar, aku langsung mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Benar saja, seperti yang sempat aku pikirkan. Pelayan yang menghidangkan es krim tadi memandangku dengan tatapan aneh, juga salah satu pengunjung berbadan gemuk tersenyum sambil menggeleng-geleng ke arahku.
Aku tadi sempat seperti patung. Sungguh, aku yakin itu tapi berapa lama? Wajahnya memang memiliki daya magis yang memikat otakku sampai sejauh ini. Dia memang sempurna.

Pada dinding kamarku penuh dengan poster-poster wajahnya. Kumpulan album yang berisi wajah-wajahnya yang mempesona, aku juga sangat menyukai lagu-lagunya hingga semua lagu-lagu lama sampai terbaru kini aku koleksi dalam format kaset dvd. Berawal dari seorang model majalah dewasa, kemudian masuk dapur rekaman, dan akhirnya menjadi bintang film. Sungguh dia seorang yang multitalenta, aku benar-benar mengaguminya apalagi wajahnya. Suaranya memang pas-pasan namun entah mengapa aku tetap setia mengoleksi lagu-lagunya. Setiap kali aku mendengar suara nyanyiannya mataku tidak pernah lepas dari salah satu poster dirinya saat berada di pantai mengenakan bikini berwarna pink.

Wanita dalam keindahan yang begitu mempesona seperti bidadari surga. Aku tidak peduli meskipun ia pernah menjadi kekasih simpanan salah satu pejabat negara, tidur dengan sutradaranya sendiri, bahkan pernah menjadi objek pelecehan di salah satu klub malam sekitar dua tahun lalu hingga menjadi berita terhangat ketika itu, bahkan sempat foto-fotonya beredar dalam dunia maya karena ulah produsernya, juga pernah menjadi artis yang diisukan terlibat prostitusi namun aku tidak peduli dengan semua itu. Aku sudah memaafkannya karena wajah indahnya dari Yang Maha Agung. Aku tidak mampu membanding-bandingkan wajahnya kepada manusia manapun di dunia ini. Cukup melihat wajahnya saja, duniaku terasa begitu indah dan jauh dari rasa kesepian.

Salah satu album kubuka dan aku memandangnya begitu bangga sampai hampir menangis setiap kali memandangnya. Aku tersenyum masam dan dirinya tersenyum biasa saja. Hanya inilah foto antara aku dan dia, ya hanya satu ini dan ini begitu sulit sekali mendapatkannya, karena aku harus mengantri tiga jam lamanya hanya untuk berpose berdua dengan dirinya.

Aku kecewa sekali ketika itu. Lihat ini, terpampang jelas dari senyumku begitu terpaksa hanya karena aku ditolaknya untuk mendapatkan dua kali jepret saja. Dia menolak karena cukup terburu-buru untuk dapat meladeni yang lain. Sekali lagi aku memaafkannya karena wajahnya itu.

Saat aku berjabat tangan dengannya aku langsung mengungkapkan isi hatiku padanya yang telah lama terpendam. Dan inilah saatnya, seperti harta karun tersimpan lama dan sudah saatnya dibuka agar dapat dinikmati isinya.
“Bolehkah aku menyentuh wajah kamu?” Begitulah kata yang terucap dari bibirku yang sedikit gemetar.
Ia berujar, “Untuk apa?”
“Aku hanya ingin memiliki wajah seperti kamu?” Aku benar-benar malu saat mengatakannya hingga jantungku berdebar keras. Sungguh aku berharap sekali dapat menyentuhnya.
“Kamu bisa saja…” Setelah berkata seperti itu tidak sedikit pun kata-kataku tadi dianggapnya serius, untuk selanjutnya ia malah meminta agar aku cepat pergi dengan alasan ia ingin pergi untuk syuting. “Lihat masih banyak yang antri.” Katanya tersenyum terpaksa kepadaku.
“Dua kali foto boleh kan?” Kataku memohon.
“Maaf, sesuai prosedur kalau berfotonya hanya sekali saja.” Katanya lagi dengan mimik mulai nampak kurang simpati. Kami pun berfoto dan hasilnya menjadi seperti sekarang tepat di depan mataku kini.

Aku kecewa sekali karena tidak dapat menyentuh wajahnya, namun tetap saja kumaafkan karena wajahnya itu yang mempesonaku. Suara lain muncul dari dalam diriku, lantas mengatakan, “Aku tidak butuh sentuhan tanganmu, namun yang kubutuhkan yaitu agar aku dapat menyentuh wajahmu.”

Sebulan kemudian terjadi peristiwa yang memilukan. Ia mendapat musibah mengerikan, wajahnya dirusak seseorang di kediamannya tepatnya di dalam kamarnya di lantai dua, para penggemarnya mengecam perbuatan itu sembari berduka karena peristiwa itu. Awak media sibuk memunculkan berita-berita tentang dirinya. Banyak penggemarnya berujar kalau itu perbuatan orang yang anti padanya. Sebagian media memberitakan tentang aksi balas dendam dari salah seorang istri yang suaminya pernah dekat padanya. Kata sebagian yang lain, mungkin orang yang tidak waras bahkan ada yang berkata kalau itu adalah perbuatan orang iseng. Begitulah celotehan mereka kepada para awak media.

Polisi benar-benar angkat tangan dalam kasus ini. Dari keterangan polisi, media mendapat informasi kalau peristiwa itu terjadi ketika tengah malam. Banyak jejak yang ditemukan di dekat taman, jejak kaki seseorang bersepatu keds masuk melalui jendela yang dibuka paksa. Travo perumahan yang sengaja dimatikan, seperti keterangan sekuriti yang menjadi korban pemukulan seorang nenek. Menurut dugaan polisi, kalau ia telah dikuntit sejak lama tanpa disadarinya ketika pulang syuting malam itu. Sopirnya benar-benar tidak mengetahui hal itu, ia berujar kalau malam itu tidak nampak sedikit pun ada kendaraan di belakang mereka saat pulang, hanya taksi berwarna kuning saja yang sempat memotong jalan mereka dan menghilang di salah satu tikungan. Ketika polisi menyelidiki taksi itu, polisi mendapat keterangan dari sang sopir kalau ketika itu ia memang bersama seorang nenek tua yang minta cepat-cepat diantarkan karena penyakitnya kambuh lagi, obat penyembuh satu-satunya hanya ada di rumahnya. Itulah yang polisi dapatkan dari keterangan sopir tadi. Nenek tadi minta diturunkan di simpang empat sebuah perumahan elit. Dan tempat diturunkannya si nenek ternyata tidak jauh dari kediaman artis itu.

‘Saat itu pukul sebelas empat puluh lima tepatnya setelah setengah jam nona tiba di rumah, pada saat itu mendadak lampu padam saat saya berpatroli mencari teman saya.’ Kata polisi kepada media mengutip kata-kata sekuriti yang menjaga kediaman sang artis.

Sekuriti yang satu lagi berkata, ‘Seorang nenek datang kepadaku meminta tolong membawakan barangnya yang ketinggalan karena dia tidak sanggup mengangkatnya. Aku hanya merasakan pukulan keras menghantam belakang kepalaku saat tiba di lokasi…’ begitulah penuturan polisi melalui sekuriti yang satunya lagi.

Namun malam itu, kejadian yang sebenarnya adalah…
Taksi berhenti tidak jauh dari kediaman sang artis. Seorang nenek berjalan mendekati travo, membukanya dengan kunci duplikat. Kemudian si nenek mendekati sekuriti penjaga gerbang bermaksud meminta pertolongan. “Memangnya nenek ada keperluan apa kemari?”
Si nenek lantas menceritakan masalahnya mengenai barang miliknya yang ketinggalan di dekat persimpangan. Sekuriti yang berjiwa besar itu langsung menunjukkan sikap ringan tangannya, namun tanpa sepengetahuannya si nenek mengeluarkan pentungan kecil dari dalam tasnya begitu si sekuriti berjalan terlebih dahulu ke depan. Pukulan keras menghantam kepala belakang si sekuriti. Meski kesulitan, si nenek berhasil menyembunyikan manusia yang tidak berdaya itu ke taman yang penuh semak-semak. Setelah melakukan aksinya itu, si nenek bergegas menuju travo dan langsung memadamkan panel listriknya. Kembali si nenek menuju ke kediaman si artis. Dari dalam gerbang muncul sekuriti yang satu lagi dengan senter di tangannya. Ia berjalan di sekitar gerbang dengan sikap kebingungan seperti sedang mencari seseorang. Tanpa sepengetahuan si sekuriti yang lalai, nenek itu dengan mudah menerobos masuk ke dalam kediaman si artis.

Baru saja ia memasukkan tubuhnya ke dalam bak air hangat mendadak lampu padam. Ia berteriak memanggil pelayannya, namun tidak ada jawaban sama sekali. Ingin rasanya ia bangkit, namun rasa malas menghinggapinya. Kegelapan membuatnya menjadi kebingungan kehilangan arah, bahkan memunculkan rasa takut pada dirinya. Akhirnya keputusan diambilnya, bergegas bangkit dan masih dalam balutan handuknya, ia meraba-raba mencoba menuju ke salah satu lemari kecil tempat ia biasa menaruh lilin dan korek api di dalamnya. Hanya berselang lima menit ia menemukan lemari itu, membukanya dan dengan cepat menyalakan korek apinya. Bayangan hitam muncul mendekatinya dari belakang. Bayangan wanita yang semakin jelas menjadi sesosok wanita tua yang memegang sapu tangan merah yang telah dioleskan kloroform sebelumnya. Mulutnya dibekap hingga pingsan akibat pengaruh obat bius yang dibasahi pada sapu tangannya. Wanita tua itu mengeluarkan jarum suntik berisi cairan penghilang rasa sakit, lantas ia menyuntikkan pada tubuh artis itu kemudian ia mengeluarkan kembali benda tipis, kecil, dan tajam dari dalam tasnya. Sebuah silet…

Sementara itu sekuriti yang kebingungan tadi bergegas menuju panel listrik. Ia sempat terperanjat mendengar lolongan anjing dari kejauhan saat sedang berjalan menuju panel listrik yang terletak di dekat persimpangan.
Tidak berapa lama listrik kembali menyala begitu ia mengaktifkannya kembali. Baru saja rasa lega menyambanginya mendadak malah rasa kaget begitu melihat pelayan yang biasa mengantar makanan untuk tuannya muncul dengan wajah pucat ketakutan bersama sang sopir yang datang menghampirinya di dekat travo. Terdengar kembali lolongan panjang dari beberapa ekor anjing di kejauhan membuat ketiganya sempat kaget. Si pelayan dengan agak terbata-bata langsung melaporkan tentang kejadian di lantai atas kepada si sekuriti yang baru menghidupkan panel listriknya. Tanpa mereka sadari seorang nenek keluar ruangan itu, menuruni tangga, membuka gerbang, berjalan begitu tenangnya di bawah terangnya bulan purnama malam hari.

Wajah yang begitu indah. Aku memuji-mujinya sambil mendengarkan berita duka dari artis yang kusukai itu. Di depan cermin aku kegirangan menatap wajah yang ada di dinding kamarku dan kini seolah-olah sedang bergerak-gerak, tersenyum, bernyanyi-nyanyi bahkan kini suaranya terdengar lebih merdu.

Akhirnya aku dapat menyentuh wajah itu, mengelus-elusnya dengan perlahan karena takut bilamana kalau terlalu kuat mengelus akan menjadi rusak. Oh, wajah ini begitu mempesona, sempurna, dan aku seratus persen sempurna. Aku merasa begitu.

Aku bernyanyi-nyanyi dengan lagu-lagu yang biasa dibawakannya saat pentas. Aku memperagakan semua hal tentangnya, mulai dari cara berjalannya, bicaranya, tatapannya, senyumannya. Oh Tuhan, benar-benar persis. Aku seperti bermimpi saja. Kemudian aku tertawa keras karena ini bukanlah mimpi. Melihatnya ini nyata. Aku tertawa lagi. Aku menyaksikan juga segala sesuatu yang berada di kamarku, dan kini wajah-wajah yang menempel itu adalah wajahku. Aku sangat berterimakasih terlebih sekali kepada cermin yang saat ini berada di hadapanku. Sempurna, begitulah menurutku.

Aku tertawa. Aku puas. Aku menyentuhnya, tapi kini aku takut terhadap orang bilamana melihatku saat ini. Aku hanya takut kalau mereka berubah menjadi mengagumiku seperti dirinya dikagumi orang kebanyakan. Oh Tuhan sekali lagi aku berkata, “sungguh sempurna apa yang telah kau ciptakan ini.” Persetan dengan orang lain karena yang terpenting sekarang aku bisa menyentuhnya.

Seminggu kemudian aku mendengar berita pagi dan sangat sesuai harapanku. Aku tersenyum melihatnya ditemani secangkir susu hangat. Sekarang ini ia telah berhasil melewati masa-masa kritisnya. Luka-lukanya telah membaik dan dirinya kini siap melakukan operasi plastik.
“Wajah yang bagaimana ya yang terlihat nantinya,” gumanku tidak sabaran untuk melihat wajah barunya.

Sebulan kemudian muncul berita kalau dia telah kembali dari luar negeri setelah melakukan operasi pada wajahnya itu. Media mengatakan kalau biaya yang dikeluarkan untuk operasinya hampir mencapai satu miliar. Waktu sebulan yang cukup lama untuk sebuah operasi karena ia telah banyak menunda jadwal-jadwal kegiatannya sebagai artis selama ini.
Aku kaget mendengarnya, karena wajahnya akan ditampilkan saat pementasan lagu terbarunya. Padahal kabarnya lagu ini akan dibawakannya satu setengah bulan yang lalu namun peristiwa itu mengubahnya.

Aku bergegas membeli tiket konser itu. Sungguh beruntung karena aku termasuk seratus orang pertama pembeli tiketnya, sehingga mendapatkan kaus bergambar. Aku tertawa melihat wajah di pakaian itu ternyata mirip denganku.

Tidak kurang dalam waktu satu jam ribuan orang telah memenuhi lapangan konser hanya untuk menantikan wajah fans tercintanya saja termasuklah diriku yang kini bergaya aneh menggunakan syal yang kugunakan menutup separuh wajahku, topi musim dingin, baju hangat, dan tidak lupa kacamata bening. Aku terlihat seperti orang yang sedang menghadapi musim penyakit dan sekarang dapat dikatakan aku nampak sekarat dengan penampilan begini. Kulakukan ini hanya untuk menutupi wajahku saja.

Lampu tiba-tiba padam sejenak lalu kemudian menyala kembali dibarengi dengan tersingkapnya tirai yang berada di atas panggung. Suara penonton bergemuruh menyaksikan itu, seketika semuanya terdiam karena tirai yang tersingkap itu tidak nampak apa-apa sedikit pun seperti hanya ruang kosong saja.

Mendadak lampu tembak mengarah kepada para penonton lebih tepatnya ke arahku. Astaga, aku terkejut bukan main. Aku kini merasa sedang ditelanjangi dan mungkin saja aku akan ketahuan sebentar lagi. “Bagaimana ini?”
Tidak, tunggu dulu. Sepertinya bukanlah aku yang mereka maksud, tetapi wanita yang tepat berada di belakangku dengan dandanan yang begitu anggun dan mempesona dalam balutan gaun hitam berenda-renda seperti bintang yang bersinar.

“Inilah dia yang kita tunggu-tunggu.” Seru pembawa acara dengan penuh semangat. Pembawa acara langsung menyebut namanya. Nama yang benar-benar tidak asing lagi padaku. Ia maju ke atas panggung dalam sorotan cahaya lampu tembak bersama lima laki-laki pengawalnya yang berbadan besar. Semua penonton bergemuruh senang ingin menyentuhnya namun dihalang-halangi kelima orang itu.

Ia terus berjalan dalam balutan kain sutra hitam yang menutupi wajahnya hingga tibalah ia di atas panggung. Namun sebelum ia menunjukkan wajah barunya, mendadak layar yang ada di dekat panggung menyala.
Semua kenangan pada wajah-wajah lamanya diperlihatkan. Penonton sangat histeris menyaksikannya. Sungguh aku tidak dapat membendung kebahagian ini juga, sehingga aku turut menjerit-jerit menyaksikannya.
Dan akhirnya ia pun memperlihatkan wajah barunya diiringi musik orkestra. “Dramatis sekali,” pikirku.

Kali ini penonton terdengar lebih histeris lagi melihat wajah barunya itu. Aku melihatnya tampak terkejut, sungguh cantik tetapi sedikit pun aku tidak tertarik, sungguh aku tidak begitu tertarik dengan wajah itu lagi. Wajah yang asing bagiku, tidak seperti yang berada di dinding kamarku.
Apa yang mereka pikirkan, bukankah wajah baru itu hanyalah wajah plastik, tidakkah mereka menyadari seharusnya mereka lebih mengagumi wajah sebelumnya karena langsung berasal dari Tuhan. Aku ingin meludah jijik menatap wajah hasil karya manusia itu.

“Saya sangat bersyukur ternyata Tuhan masih mengijinkan saya hidup dan juga mengizinkan saya untuk dapat berkarya kembali, namun sebelumnya saya juga mohon maaf kepada para penggemar saya, karena insiden ini membuat kalian yang setia kepada saya begitu kuatir. Bahkan saya mendengar…” Sebagian besar penonton berseru terharu. Ia melanjutkan kembali setelah seruan tadi berhenti. “Bahkan saya mendengar kalau para penggemar saya sempat mendemo salah satu stasiun televisi yang memuat berita tentang kematian saya atas peristiwa itu.” Ia menghela. “Saya mengucapkan ribuan terimakasih sekali kepada seluruh penggemar setia saya.” Ia menyeka airmatanya yang sejak tadi menetes membajiri wajahnya. “Mungkin karena kasus ini saya kembali merasakan meja operasi dan ini untuk kedua kalinya setelah sebelumnya saya pernah melakukannya. Mungkin tidak ada yang tahu ya, hal ini saya lakukan sebelum saya benar-benar tenar seperti sekarang ini.”

Lantas muncul di layar wajah yang sangat asing bagi kami semua. Seorang gadis berambut panjang, mata sipit, di wajahnya banyak sekali plak-plak hitam seperti ribuan kutu.
“Ya, inilah wajah saya sebelumnya. Mengapa saya menunjukkan kepada kalian?”
Pikiranku mulai menerawang jauh tentang wajah mengerikan itu. “Jadi semuanya palsu…” Aku bergidik serasa hendak muntah menyadari kenyataan ini.

Tiba-tiba aku mulai kepanasan dan panas ini menyerang ke seluruh tubuhku seperti ribuan semut yang hendak menggerogoti tanpa ampun. Diawali dari kulit kepala sampai perut, menuju kemaluan, dan berakhir pada kedua telapak kakiku.

“…Karena dari sinilah saya mulai mengetahui pentingnya rasa syukur terhadap apa yang Tuhan berikan kepada saya, setelah dahulunya saya mengoperasi wajah, kesombongan pun muncul dari dalam diri saya…” Ia terus bercerita tentang masa lalunya.
“Saya tidak menyangka saat terbangun melihat wajah saya yang telah rusak hingga saya menangis, menjerit, dan tersadar akan Tuhan. Dan seandainya bila Tuhan mengizinkan kembali untuk menyembuhkan wajah ini saya pun berjanji akan menunjukkan wajah asli saya kepada para penggemar saya agar dapat menjadi cambuk bagi saya ketika muncul kesombongan kembali dalam diri saya. Dan juga saya akan membangun sebuah panti yang akan menampung orang-orang tunawisma.”
Ia menangis menceritakan dirinya sementara hatiku yang mendengarnya menjerit kepanasan.
“Tuhan mengabulkannya, maka dari itu sesuai janji saya telah melakukannya. Untuk kalian semua para penggemar, saya akan membawakan lagu baru hasil ciptaan saya sendiri yang judulnya adalah ‘Bersyukur.’

Kepalaku rasanya mau pecah mendengar itu semua. Aku langsung balik badan, berlari pulang dan tidak ingin mendengar semuanya. Aku muak dengan omong kosongnya.

Masih dalam wajah berpeluh keringat, kurobek semua posternya yang berada di kamarku, fotoku, dan dirinya juga. Pikiranku kini kacau akan dirinya, sampai kucoba membuangnya jauh-jauh meski tetap tidak bisa.

Sampai keesokannya harinya saat aku bangun pagi kudapati wajahku nampak memerah, dua hari kemudian muncul nanah dan mulai menggelembung pada hari keempat. Seminggu kemudian aku sudah berada di rumah sakit. Dokter tidak mampu melakukan apapun pada wajahku yang mulai membusuk jadi disarankan agar aku melakukan operasi ini di luar negeri.

Aku akhirnya dikirim keluar negeri untuk menyembuhkan terlebih dahulu wajahku yang membusuk. Setelah sembuh, operasi pun akhirnya dilakukan.

Sebulan kemudian aku sudah kembali di depan cermin menatap wajahku. Mataku terlihat sipit, di pipiku banyak sekali plak-plak merah seperti ribuan kutu yang menempel.
Aku lantas tersenyum melihat ini semua dan berkata, “Aku menyukainya.”

Cerpen Karangan: Choco Haya
Facebook: Kokoandrian[-at-]ymail.com

Cerpen Wajah Sang Primadona merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Teman 4 Hari

Oleh:
Ya, perkenalkan namaku keyl rumania chester. Tapi aku lebih sering dipanggil keyl. Aku berumur 10 tahun, aku tinggal di canberra bersama keluargaku, sebenarnya aku orang asli indonesia. Ya begitulah,

Tragedi

Oleh:
Dini terbangun mendengar suara gaduh di lantai bawah. Ia keluar kamar mencoba memastikan suara gaduh tersebut. Namun, apa yang dilihatnya di bawah sangat membuatnya takut. Keringat dingin mulai membasahi

13 Desember

Oleh:
Malam ini, seorang wanita berambut gelombang tengah berjalan dengan tergesa-gesa melewati jalanan yang begitu sepi. Terang saja, karena jam sudah menunjukan 11.45. wanita tersebut memakai pakaian khas winter, kedua

Ladies In The Bathroom

Oleh:
Malam ini aku dan 4 orang temanku pergi menyelinap ke sekolahku. Aku masuk ke sekolah ini sendiri dengan cara memanjat dinding yang berada di bagian belakang sekolah yang langsung

Lelaki Misteri di Tepi Telaga Dewi

Oleh:
Siapakah yang punya pengalaman misteri di puncak Gunung Singgalang? Sepertinya mungkin baru aku, atau ada beberapa di antara para pendaki yang pernah mendengar, melihat, atau bahkan berjumpa sesosok lelaki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *