Wakker

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 27 January 2016

Pukul 06.45
Hore! Ini hari sabtu pagi, itu artinya aku bebas. Detik inilah hari bebasku dimulai. Fika Iskandar Pramaya, itulah namaku. Selepas mandi dan mengganti bajuku, aku menghampiri meja makan untuk sarapan dan kembali bisa melanjutkan tidurku. “Pagi, Bu.” aku menghampiri ibuku yang berada di dapur.
“Ibu sudah siapkan sarapannya untukmu.” ibu mendorongku pelan ke arah meja makan. Di sana tersedia berbagai macam makanan yang menggoda. Termasuk adik kecilku yang sedang menggambar.

“Mbak!” Danu Iskandar Dwitomo, lelaki tengik ini adalah adikku. Dia menyebalkan, tapi aku tetap menyayanginya.
“hn!” aku tetap fokus pada makananku tanpa melihatnya. “cinta itu apa?” aku hampir tersedak makananku sendiri, bagaimana bisa anak berumur lima tahun ini bertanya seperti itu?
“cinta itu..?” aku berpikir sejenak, lalu tersenyum, “adikku sayang, cinta itu adalah ketika kau mencuri cokelat dari tas sekolahku setiap hari, tapi aku tetap menyimpannya di tempat yang sama. That is love.” ibuku tersenyum ke arah Danu sambil mengelus pundakku.

Aku melihat senyum itu sebentar lalu kembali pada Danu, mengangkat sebelah alisku sambil tersenyum meledek. “IH, MBAK!” Danu senang sekali mengambil cokelat dari tas sekolahku, karena itulah ia merasa tersindir. Si, itu aku, aku bukan orang yang suka menunjukkan rasa sayangku pada orang secara langsung. Tapi, bagaimana pun juga toh, dia tetap adikku. Kami harus saling berbagi.

Pukul 12.45,
Namaku Triaslee Athenarley Dirgahayu. Hanya cukup dipanggil Ayu. Umurku 15 tahun dan duduk di kelas 3 SMA, axelerasi. Siang ini, aku bukan ada di sekolah, berkutat dengan rumus-rumus atau di rumah sedang istirahat. Tapi aku sedang ada di daerah gunung Kidul. Pantai Indrayanti. Yup, sekolahku sedang mengadakan study tour ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Pantai ini adalah salah satu tujuan kami.

“aku heran, kita diharuskan menyelesaikan dua semester dalam waktu delapan bulan.” itu Aida, sahabatku, “tapi bukannya ada di sekolah, kita malah jalan-jalan ke pantai ini.”
“tapi kan judulnya study tour, pasti ada belajarnya juga.” kalau yang ini Dani, “kau bisa lihat Ayu, dia tenang-tenang saja.” aku dapat mendengar mereka membicarakanku.
“ayolah, nikmati saja!” aku menghampiri mereka “kapan lagi kita tidak mendapat tekanan dari orang-orang itu.” aku menunjuk sekelompok guruku yang sedang duduk berteduh.
“ya, dan setelah ini aku yang mendapat tekanan karena aku harus berusaha memulihkan kulitku yang hampir terbakar ini.” Aida berkata sedikit kesal lalu mulai berlalu.

“Aida, bukankah kau mau menjadi BASARNAS?” Dani berusaha menyusul Aida, “kau lihat ombak itu! Mungkin suatu hari nanti, ombak itu yang akan kau hadapi.”
“memang apa hebatnya ombak itu? Aku jauh lebih kuat dari ombak itu.” Aida tersenyum menyombongkan dirinya.
“ombak itu hanya bisa dijadikan tempat pembuangan kertas yang isinya tinta merah.”
“yup, dan ombak itu akan kembali ke pantai ini, membawa serta kertas ulanganmu kembali ke bawah kakimu.” aku melihat kakiku serta dua temanku yang basah karena air laut.
Si, itu aku, percaya bahwa ‘dimana kau memulai, di tempat itu pula kau mengakhiri.’

Pukul 19.45,
Apa yang akan kalian lakukan jika mengalami atau mengetahui bahwa teman atau sahabat kalian dibunuh? Dan itu secara berantai. Namaku Denissa Thamaya. Aku hidup dengan 4 serangkai. Aku, Rila, Jingga dan Verly. Kami berteman sejak kecil sampai umur kami 18 tahun seperti sekarang. Tapi dalam waktu kurang dari satu minggu ini, hanya tinggal aku dan Jingga. Rila ditemukan tewas di kamarnya dengan 3 peluru menembus perutnya dan 2 peluru menembus kepalanya. Dan sebuah senjata peredam ditemukan di dekat jasadnya. Tapi jelas itu bukan bunuh diri. Rila terlalu sempurna untuk bunuh diri.

Aku mengenalnya, bahkan mungkin lebih dari ibunya mengenalnya. Rila hidup tanpa masalah. Tidak ada alasan untuk bunuh diri. Verly mengalami kecelakaan. Mobilnya ditabrak oleh sebuah truk pasir. Galant hitam Verly terguling berkali-kali. Rekaman CCTV milik sebuah salon di tempat kejadian menunjukkan bahwa sopir truk itu turun dari truknya dan dengan jelas memukul Verly berkali-kali dengan pipa baja lalu menancapkan sebuah katana tepat di jantung Verly. Dan sayang ia memakai topeng dan jubah. Dan malam ini aku baru pulang dari rumah duka. Sebagai sahabat, aku pasti sangat kehilangannya. Sekedar untuk menghibur Tante Fina yang sudah seperti ibuku.

“menginaplah di sini malam ini!” aku menerima segelas susu yang disuguhkan Jingga, walaupun ini rumahku, “pembunuh itu masih di luar sana.” aku menawarkan Jingga untuk menginap.
“terima kasih, Sa.” Jingga juga meminum susu yang baru dibuatnya.
“aku takut salah satu dari kita selanjutnya.” aku mulai merasa ngantuk sekarang. Kepalaku terasa agak pusing. Karena kejadian akhir-akhir ini, aku jadi susah tidur.
“kau tidak perlu secemas itu. Tidak akan ada lagi, Sa!” Jingga tersenyum manis padaku.
“kenapa bisa kau berkata seyakin itu, Ga?” aku menaruh kepalaku di atas meja makan.
“karena kau adalah daftar terakhirku.”

Aku tidak melihat apa-apa lagi setelahnya. Ups! Aku melihat satu. Oh, aku ingat, itu adalah fotoku dengan tiga sahabatku saat liburan di kepulauan seribu. Dimana Jingga memelukku erat, Rila tersenyum cerah dan Verly yang duduk di sebuah batu besar dengan gaya tomboinya. Foto terakhir kami.

Cerpen Karangan: Adiningsih

Cerpen Wakker merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ternyata Dia

Oleh:
“Teng… Teng… Teng…” bunyi jam di rumahku tepat menunjukan pukul 00:00 wib, tiba-tiba, “Aaa…” terdengar suara jeritan dari sebelah rumahku. Aku ketakutan, dan tak dapat tidur semalaman… “Kriing… Kriiing…

Simpul Waktu

Oleh:
Kalau saja dulu… kenapa aku tidak melakukan itu saja dulu. Itulah yang aku selalu pikirkan, penyesalan. Kenapa? Karena banyak masalah semenjak aku ada di SMA ini. Rasanya aku ingin

Misteri Waktu

Oleh:
Hal yang membahagiakan di dunia ini adalah dimana seorang manusia memiliki cinta, cinta akan seseorang yang kita sayangi, cinta terhadap keluarga dan cinta pada diri kita sendiri. Aku sendiri

Mencari Sebuah Kebenaran

Oleh:
Seperti biasa, aku dan ketiga sahabatku yaitu putra, faisal dan jasmine selalu menaiki becak mini setiap kali kita ingin pergi kemanapun, atau hanya sekedar jalan-jalan melihat keindahan alun-alun kota.

Sunset And The Misterious Girl

Oleh:
Sore ini, sebuah keinginan untuk menyapa “dirinya” pun muncul secara spontan. Entah mengapa, perasaan ini harus muncul secara spontanitas di pantai yang indah dan sepi ini. Aku memandangi pantai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *