Who’s Kill Her?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 12 July 2016

Ditemukan sesosok mayat di sebuah universitas negeri ibu kota, diduga mayat adalah korban bunuh diri. Mayat ditemukan di halaman belakang fakultas teknik universitas tersebut. Itulah bunyi headline news berita yang kutonton pagi ini. Aku mengganti channel berita dengan channel kartun dan langsung saja dapat protes dari teman sekamarku.
“ya… kenapa diganti channelnya?” tanya Anya.
“Ini masih pagi, rasanya enek kalau menonton acara berat apalagi berita kriminal” jawabku santai sambil fokus menonton kartun kesukaanku.
“ya… kamu gak tahu berita apa tadi?” tanyanya antusias.
Aku menggeleng tak peduli.
“Itu berita dari kampus kita, ada yang bunuh diri di kampus kita di fakultas teknik tadi malam Mikhaila”
Aku menyemburkan makanan dari mulutku karena kaget. Aku menatap horor ke arah Anya dan si Anya langsung antusias memindahkan channel tv ke channel berita.
“serius loe Nya? ada yang bunuh diri di kampus kita?”
“beneran… nih liat beritanya!” suruh Anya sambil menunjuk ke arah Tv.
Aku menuruti perintah Anya dan menyimak berita itu dengan baik dan ternyata benar lokasinya di kampus tempat kami belajar. Mendengar kata kampus aku langsung ingat pada Laura teman serumahku yang satu lagi. Laura bilang akan ke perpustakaan tadi malam pasti dia tahu kejadiannya tapi kenapa dia belum keluar dari kamar. Aku beranjak mengetuk kamar Laura tapi tak ada yang menyahut jadi kuputuskan untuk langsung membukanya dan ternyata Laura tidak ada di kamarnya.

“Nya, si Laura kemana kok gak ada di kamarnya?” tanyaku
“meneketehe… si Laura kan anak rajin dia pulang paling telat dan berangkat paling cepet udah berangkat kali ke kampus. Atau mungkin dia gak pulang kali kan gak jauh dari sini ada kosan kakaknya sama pacarnya yang anak teknik itu, dia nginep disana kali” ucap Anya ngasal.
Aku menatap malas ke arah makhluk satu itu, yah Anya dia temanku sejak SMA yang super duper cuek dan gak mau tahu apapun sekelilingnya. Anya maniak game yang hampir setiap jam waktunya dia menghabiskan waktunya di depan laptop, tentu saja bukan untuk belajar tapi main game beruntung dia ada di jurusan design grafis jadi gak ada yang curiga kalau dia melototin laptopnya tiap hari. Sedangkan Laura orang yang kebalikan Anya, dia mahasiswa fakultas hukum yang sangat rajin belajar dan care malah terlalu care pada lingkungan sekitarnya. Kalau aku yah aku makhluk paling normal di antara mereka, aku mahasiswa fakultas pisikologi yang biasa-biasa saja.

Kami bertiga kuliah di kampus yang sama dan sama-sama anak semester 5. Kita udah tinggal bareng sekitar 2 tahunan lebih jadi kita udah bisa saling memahami dan tidak saling menyakiti. Anya dan Laura tidak terlalu dekat mengingat kepribadian mereka yang bertolak belakang jadi bisa dibilang akulah penyambung di antara mereka berdua karena aku dekat dengan keduanya.

Aku tak mendengarkan ocehan Anya tentang Laura yang memang akhir-akhir ini jarang pulang ke rumah. Kuputuskan untuk menelpon Laura, kutekan speed dial no 3 dan nada tunggu lagu Afgan langsung menggema di telingaku. Lama aku menunggu hingga suara seseorang menyapaku. Aku menatap bingung ke arah smartphoneku, memastikan aku tak salah menghubungi orang karena suara yang mengangkat ponsel Laura bukan suara orang yang kukenal.
“hallo… ini nomer Laura kan? Lauranya mana?” tanyaku.
“Hallo apa anda keluarga pemilik ponsel ini? Kami dari kantor polisi ingin mengabarkan jika saudara Laura telah tewas dugaan sementara beliau melakukan bunuh diri” jawab si penelpon terdengar penuh wibawa.
“APA??? YAH JANGAN BERCANDA!! CEPAT PANGGIL LAURA KATAKAN MIKHA MENELPON…” teriaku di telepon.
“Maaf Nona Mikha datanglah ke rumah sakit polri dan anda bisa melihat langsung identitas korban.”
Seketika tubuhku limbung dan merosot jatuh ke lantai, aku bergumam bahwa ini tidak mungkin berulang kali hingga Anya menyadarkanku dan menarikku berdiri. Aku menceritakan apa yang baru saja aku dengar dari polisi kepada Anya dan seketika tangis kami pecah. Anya mengusulkan untuk mengikuti perintah polisi itu untuk memastikan kebenarannya, meskipun dalam hati kami berharap itu tidak benar tapi perasaan tak enak menyelimuti hati kami. Dalam perjalanan aku menelpon Lingga kakak kandung Laura untuk memberitahukan berita yang aku dapatkan.

Kami sampai di rumah sakit polri secara bersamaan, aku dan Anya juga Lingga dan Andrew pacarnya Laura. Polisi membawa kami ke ruang mayat untuk mengidentifikasi korban. Aku dan Anya berharap-harap cemas dan berdoa semoga mayat itu bukan Laura. Aku menatap nanar ke arah mayat yang sudah pucat dengan luka menganga di kepalanya, tangisku langsung pecah melihat mayat itu benar-benar Laura bahkan Anya sudah pingsan di sampingku entah karena saking sedihnya atau karena ngeri melihat keadaan mayat Laura.

Setelah mendapatkan identitas korban, polisi meminta izin untuk melakukan autopsi guna menemukan penyebab kematian korban. Sedangkan kami di minta untuk datang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Aku dan Anya menurut saja ketika para polisi itu membawa kami begitupun dengan kakak dan kekasih Laura. Isak tangis kami belum bisa dihentikan hingga kami berada di kantor polisi hingga membuat polisi tidak jadi memeriksa kami.

“Dari TKP ditemukan sepatu dan surat wasiat korban, dari CCTV pun tidak terekam ada orang yang mencurigakan dan bertemu dengan korban yang membuat dugaan kuat korban melakukan bunuh diri tapi kami belum bisa memastikan karena masih harus menunggu hasil autopsi. Tapi yang menjadi pertanyaan mengapa korban jatuh dari atap gedung fakultas teknik padahal korban adalah mahasiswa fakultas hukum padahal jarak fakultas hukum dengan teknik sangat jauh. Dan kenapa tak ada CCTV yang memantau pergerakan korban selama perjalanan dari fakultas hukum ke atap fakultas teknik? Saya mengerti saat ini kalian masih terguncang jadi belum bisa melakukan pemeriksaan jadi besok jika kalian sudah tenang kita akan melakukan pemeriksaan.”

Setelah pulang dari kantor polisi perasaanku campur aduk antara sedih, takut, gelisah dan tak percaya. Anya yang biasa banyak bicara pun hanya diam dengan mata yang menerawang. Lingga dan Andrew juga duduk di ruang tamu dengan ekspresi kosong.
“akhir-akhir ini apa ada yang aneh dari adikku?” tanya Lingga tiba-tiba.
Aku menggeleng tak yakin, aku mengingat-ngingat tentang sikap Laura akhir-akhir ini.
“tidak ada yang aneh dengan Laura hanya saja dia banyak menghabiskan waktu di perpustakaan dan jarang pulang. Dia juga melarang kami untuk meminjam laptopnya padahal biasanya tak ada rahasia di antara kami. Kupikir itu wajar karena Laura sekarang sudah punya pacar jadi dia mulai memiliki privasi sendiri dan kehidupan yang lain selain bersama aku dan Anya.”
“Laura punya pacar? siapa pacarnya?” tanya Lingga lagi.
Aku menatap bingung pertanyaan Lingga, jelas-jelas pacarnya Laura temannya sendiri kok bisa sampai gak tahu. Aku melihat ke arah Andrew dan dia tenang-tenang saja seperti tak tahu apapun.
“Bukannya Andrew pacarnya Laura?” tanya Anya.
Andrew menatap bingung dan langsung menggeleng, Andrew bilang dia tak punya hubungan apapun dengan Laura bahkan Lingga pun meyakinkan kami jika Andrew punya hubungan dengan Laura mana mungkin dia tidak tahu karena Andrew 24 jam bersamanya. Aku menatap bingung ke arah mereka, kalau memang Laura tidak punya hubungan apapun dengan Andrew lalu kenapa dia bohong pada kami? Kemana Laura selama ini jika tidak pulang dan mengatakan pergi dengan Andrew?
“Laptop… yah pasti ada sesuatu di laptop Laura” ucap Anya tiba-tiba.

Kami langsung berpandangan dan berpencar mencari laptop Laura di kamarnya tapi setelah dicari kemana-mana ternyata laptopnya tidak ada. Esoknya kami datang ke kampus dan mencari di perpustakaan fakultas hukum karena kesanalah Laura terakhir kali izin pergi tapi laptop itu tidak ada. Kami mencari di seluruh tempat yang mungkin Laura lewati bahkan sampai ke atap tempat kemungkinan Laura bunuh diri pun tak ada. Kami masih ingin mencari tapi polisi meminta kami datang untuk pemeriksaan.

Di kantor polisi kami diperiksa sendiri-sendiri di ruangan terpisah, aku tak tahu apa yang akan mereka tanyakan tapi jujur saja aku sangat gugup apalagi polisi yang memeriksaku sedikit seram.
“sudah berapa lama anda mengenal korban?” tanyanya tegas.
Aku meringis mendengar suaranya apalagi mendengar kata korban dari mulutnya rasanya aku seperti tersangka. Aku menjawab semua pertanyaan dari polisi itu dari mulai pertemuanku dan Laura di SMA, pertemanan kami, perasaanku tentang Laura hingga hal janggal yang terjadi padanya sebelum kematiannya. Kurang lebih 2 jam aku diperiksa sampai akhirnya aku boleh pergi dari ruangan itu sebelum pergi aku menceritakan prihal laptop Laura yang hilang dan mohon bantuan pak polisi agar menemukannya karena aku yakin ada petunjuk tentang penyebab kematian Laura disana. Polisi menyanggupinya dan berterima kasih atas informasi dariku.

Aku keluar dari ruang interogasi itu dan mendapati Anya, Lingga dan Andrew juga sudah selesai diperiksa. Polisi menyuruh kami untuk pulang dan menunggu perkembangan kasusnya di rumah. Dua hari setelah kematian Laura barulah mayatnya dikembalikan kepada keluarganya. Laura dimakamkan di kampung halaman orangtuanya, isak tangis mewarnai pemakamannya bahkan ibunya Laura berulang kali pingsan karena tak kuat menahan kesedihan ditinggalkan oleh putri kesayangannya dengan cara yang tak wajar.

Pulang ke ibukota polisi mengumumkan hasil otopsi atas mayat Laura. Polisi bilang terdapat banyak luka bekas penyiksaan di tubuh Laura, dan saat meninggal Laura tengah hamil 2 bulan. Kami semua syok bukan main mendengar penjelasan polisi apalagi polisi mengatakan penyebab kematiannya bukan luka di kepalanya tapi nafas yang tersumbat dari tenggorokannya. Polisi masih butuh waktu untuk mengungkap pelaku pembunuhan mengingat pelaku tidak meninggalkan bukti sama sekali.

Aku termenung di kamar yang dulu Laura tempati, hari ini orangtuanya akan membawa semua barang peninggalan Laura dan mereka meminta tolong padaku dan Anya untuk membereskannya. Semenjak Laura pergi suasana rumah ini memang menjadi sedikit mencekam entahlah orang bilang mungkin arwah Laura belum menerima kematiannya sehingga bergentayangan di sekitar kami. Tapi aku maupun Anya tidak berniat untuk pindah selain karena deposit rumah ini yang sudah terlanjur dibayar hingga tahun depan juga karena terlalu banyak kenangan yang tertinggal di rumah ini bersama Laura.

Aku dan Anya membereskan semua barang Laura dalam diam, setiap barang di kamar memberi kenangan tersendiri tentang Laura. Anya memekik kaget ketika melihat sebuah foto, aku mendekat dan melihat foto Laura dengan seseorang yang tak kukenal tapi wajahnya terasa familiar buatku. Anya mengorek-ngorek laci itu dan mendapatkan banyak foto Laura dengan pria asing itu dari mulai foto biasa hingga foto yang sangat intim.
“apa mungkin dia pacarnya Laura? ayah bayinya Laura?” tanya Anya
“dan mungkin juga dia yang membunuh Laura.” gumamku.

Aku segera menelpon Lingga dan menyampaikan apa yang aku temukan. Tak berapa lama Lingga dan juga Andrew datang dan langsung masuk ke kamar Laura. Lingga maupun Andrew sama-sama tak mengenal pria tersebut, tidak ada nama yang tertulis di foto-foto itu hanya ada inisial L&K. Kami hanya bisa menatap bingung inisial tersebut entah ada berapa banyak nama pria yang berinisial K di ibukota ini lalu bagaimana kami bisa menemukan pria ini.

Aku kembali membereskan barang-barang milik Laura sembari mencari-cari sesuatu yang bisa di jadikan petunjuk. Di bawah tumpukan baju Laura aku menemukan testpack bergaris dua dan setumpuk kertas yang ditulis dalam microsoft excel. Aku menangis melihat testpack itu dan bingung menatap dokumen sejenis dokumen keuangan. Kami sama-sama bingung melihat isi dokumen yang berisi nama-nama orang, nominal uang dan properti yang mereka miliki.
Kami sepakat untuk membawa bukti itu ke polisi besok pagi karena hari sudah malam sekarang.

Seperti malam-malam sebelumnya setelah kepergian Laura aku berbagi kamar tidur dengan Anya karena dia bilang takut tidur sendiri. Malam itu aku tidur nyeyak sampai sebuah belaian halus membelai pipiku, aku membuka mataku dan langsung tersentak melihat Laura menangis di hadapanku. Aku mengucek mataku memastikan ini bukan hanya ilusi saja, belum selesai keterkejutanku suara teriakan membuatku semakin terkejut dan langsung berlari ke arah sumber suara.
Aku berteriak melihat tiga orang asing memakai pakain hitam-hitam sedang menyiksa Anya. Mereka beralih melihatku namun beruntung aku cepat mengambil vas bunga dan melemparnya tepat di kepala salah satu dari mereka. Aku berlari menuju dapur dan menyalakan api berharap alarm kebakaran yang dipasang di rumah ini menyala hingga orang-orang berdatangan untuk menolongku. Dua orang pria itu mendekat ke arahku yang berusaha menyalakan api seperti hendak membakar diriku sendiri. Salah satu dari mereka mendekat dan meraih tanganku aku berusaha melepaskan pegangannya dan meraih pisau untuk menusuknya. Aku menggores lengannya dan dia langsung membantingku, teman orang itu juga berbalik ke arahkau dan sekarang mereka berdua berjalan ke arahku beruntung alarm kebakaran berbunyi sehingga warga berbondong-bondong datang untuk membantuku dan itu sukses membuat dua orang asing itu pergi meninggalkan temannya yang masih terkapar.

Pagi hari polisi datang setelah Anya dan orang asing yang menyusup ke rumahku dibawa ke rumah sakit. Polisi melakukan olah TKP tapi anehnya tak ada barang berharga yang hilang yang hilang hanya foto-foto milik Laura dan tumpukan dokumen yang kemarin kami temukan. Polisi berjanji akan segera menumpas kasus ini secepat mungkin dan memintaku membantu penyelsaan masalah ini dengan kooperatif

Aku memandang rumah tempat tinggalku yang jadi berantakan seperti ini, aku berdoa dalam hati semoga yang punya rumah minta ganti rugi padaku. Aku membereskan barangku dan barangnya Anya untuk sementara karena Anya sakit aku juga akan mengungsi di rumah sakit karena aku takut tinggal sendirian. Aku memandang ke dalam kamar Laura yang berantakan, mataku menangkap sebuah benda kecil berwarna abu-abu di bawah kasur. Aku langsung mengambilnya dan ternyata sebuah flashdisk, aku memperlihatkannya pada Lingga dan Lingga langsung menyuruhku menyalakan laptop untuk melihat flashdisk itu.
Aku menyalkan laptopku dan melihat data yang ada di flashdisk itu. Di dalam flashdisk itu terdapat beberapa file dengan beberapa nama. File pertama berisi dokumen yang dicuri tadi malam dengan judul ‘data korupsi pak rektor’. File berikutnya berisi foto-foto Laura dengan pria asing itu yang ternyata bernama Kevin. File berikutnya berisi video-video kebersamaan mereka sampai video tak senonoh mereka. File berikutnya berisi chapter-chapter pembicaraannya dengan pria bernama Kevin dari mulai kata-kat romantis hingga kata-kata makian di akhir. File terakhir berisi video terakhir yang ditinggalkan Laura sebelum tewas yang membuatku dan Lingga sama-sama nenangis melihatnya.

“hi… ini Laura, jika kalian melihat video ini aku tak tahu bagaimana nasibku saat itu entah masih hidup ataukah sudah mati. Pertama-tama aku mau minta maaf pada orangtuaku, kaka Lingga, kedua sahabatku juga kak Andrew atas semua kesalahan dan kebohonganku. Sebenarnya aku sedang hamil sekarang dan ayah dari bayikku adalah pria bernama Kevin, kekasihku sekaligus putra rektor di kampus kita. Pak rektor tidak setuju dengan hubungan kami, Kevin juga marah karena aku mengandung anaknya tanpa persetujuannya dulu. Kevin dan pak rektor mengira aku mau memoroti harta mereka lewat calon bayiku padahal aku tulus mencintai Kevin bahkan tak keberatan ketika Kevin menyembunyikan hubungan kita. Aku ingin Kevin bertanggung jawab padaku jadi aku mengancamnya akan menyebarkan video hot kami aku juga mengancam pak Rektor dengan buku catatan keuangannya yang tak sengaja kutemukan di perpus. Setelah apa yang aku lakukan kedua orang itu terus mengancamku bahkan menyakitiku secara fisik maka dari itu aku menjauh dari teman-temanku agar mereka tak kena getahnya. Bawa file-file ini dan pastikan kedua orang itu masuk penjara”.

Aku menangis tersedu menonton video tersebut, aku meminta Lingga segera pergi ke kantor polisi dan menyerahkan semua buktinya sedangkan aku akan pergi kerumah sakit. Lingga menuruti rencanaku namun malang bagiku belum sampai ke rumah sakit sebuah tangan menarikku dan membekap mulutku. aku tak tahu kemana mereka membawaku karena ketika sadar aku sudah dalam keadaan terikat. Tiga orang asing berdiri di hadapanku dan tertawa melihat ke arahku.
Aku menatap bingung ke arah mereka tapi mereka tak peduli akan keterkejutanku dan langsung menyiksaku bahkan salah satu dari mereka berusaha melecehkanku. Pria yang dari tadi tersenyum melihatku disiksa dia adalah Kevin. Aku menatap benci ke arahnya dan dia malah menceritakan bagaimana dia menyiksa Laura dulu dan dia tertawa seperti orang gila. Aku bukan orang bodoh, ku melakukan panggilan pada Lingga yang ada di kantor polisi melalui ponsel yang ada di saku depan celanaku agar di kantor polisi sana melihat ucapan pisikopat yang ada di depanku sekarang ini
“jadi kau yang membunuh Laura? tega sekali kau membunuh wanita yang sedang mengandung darah dagingmu sendiri. Kau bukan manusia bahkan kau lebih buruk dari hewan” makiku.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku sampai darah keluar dari mulutku. Kevin mendekat dan menekan rahangku sambil meyingrai jahat.
“kau ini cantik terlalu sayang jika langsung dibunuh, bagimana jika kita bermain-main dulu” ucapnya diikuti tawa dua orang bawahannya.
Aku meludah ke arahnya dan tamparan kembali bersarang di pipiku, mukaku sudah kebas saking sakitnya. Dalam hati aku berdoa semoga ada orang yang menyelamatkan aku segera karena aku tak mau mati di tangan pisikopat ini. Aku memutar otakku untuk mengulur waktu agar dia tidak terus menyiksaku.

“kenapa kau membunuh Laura? bukankah kalian saling mencintai?”
Kevin tertawa mendengar pertanyaanku dan itu berhasil membuatnya menjauhkan diri dariku.
“cinta? kau pikir aku mencintai wanita kutu buku yang penuh obsesi itu? cih yang benar saja. Aku tak mencintai wanita itu, dialah sendiri yang telah melemparkan dirinya padaku dan tentu saja aku tak mungkin menolaknya bukan. Dia mendekatiku atas inisiatifnya sendiri dan dia hamil juga atas kemauannya sendiri lucunya dia malah meminta aku bertanggung jawab hahaha wanita itu benar-benar merepotkan” ucapnya tenang

Aku mengerenyit ngeri mendengar pemikiran pria gila ini, beruntung sebelum dia menghajarku kembali polisi sudah keburu datang dan menangkapnya. Pria itu menyingrai dan tertawa terbahak-bahak ketika polisi memborgolnya tapi matanya langsung membelak ketakutan menatap arah belakangku. Aku tak tahu apa yang dia tatap hingga perlahan matanya menjadi sayu dan menangis sambil menggumamkan kata maaf.

Penangkapan Kevin menjadi berita besar ditambah lagi keadaannya yang sedikit tidak waras membuat keluarga rektor malu. Seakan kurang pak Rektor kembali membuat heboh karena buku catatan korupsinya terbongkar ke media hingga dia diciduk KPK. Aku tersenyum puas melihat apa yang terjadi pada rektor jahat dan anaknya yang sakit jiwa itu, aku juga berharap Laura tersenyum di alam sana karena keadilaan kini sudah kembali di tegakan.

Tak ada kejahatan yang tak terbalaskan di dunia maupun di akhirat, apalagi kejahatan yang dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain tentu itu adalah kejahatan berat yang layak di hukum seberat-beratnya juga.

THE END

Cerpen Karangan: Nina
Facebook: min hyu na

Cerpen Who’s Kill Her? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rumah Tua

Oleh:
Mentari mulai merengsek naik dari peristirahatannya. Warna kejinggaan memperindah langit timur yang dihiasi oleh bintang-bintang kecil. Hari ini hari minggu dan kebanyakan orang lebih memilih bangun siang dibanding menikmati

Perpustakaan Angker

Oleh:
Kring.. Kring, pertanda istirahat. “Gita, ayo ke perpustakaan,” ajakan Meyran sahabatku. “Ayo, aku juga mau balikkin buku nih ke perpus,” kataku. Saat di perpustakaan, penjaga perpus sedang tidak hadir,

Misteri Sebuah Lukisan (Part 1)

Oleh:
Seperti pagi ini mentari sudah menempati janjinya menyinari bumi tanpa menuntut balas… “jelita… Kamu mau kemana pagi-pagi udah cantik begini..” tiba-tiba mama sudah berada di sampingku ketika aku selesai

Dikejar Maut

Oleh:
Malam itu sangat sepi, sekitar pukul 20:45 malam. Semua orang kelihatannya sudah tidur, buktinya semua pintu dan jendela terkunci rapat. Sunyi tanpa suara, begitupun malam, tak ada angin, ataupun

Tak Ada Kejahatan Yang Sempurna

Oleh:
Di seluruh Inggris namanya dikenal. Detektif Richard. Detektif paling berpengalaman di Inggris. Kota kelahirannya di London. Dan hari ini dia akan “bergulat” melawan salah satu dari sekian banyak kasus.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Who’s Kill Her?”

  1. Nanda Insadani says:

    Ceritanya bagus! Mudah mengalir di pikiranku… (y)

  2. nina says:

    thanks nanda…

  3. anonym says:

    Ceritanya bagus tapi masih diluar nalar, tapi keren. semangat

  4. Patricia Tania says:

    Bagus ceritanya. Pembetulan untuk judul, seharusnya “Who Kill Her” bukan “Who’s Kill Her” karena kalau dipisah menjadi “Who is Kill her”. Aneh bukan?

  5. Orin says:

    Wow..amazing. Really nice story!! I like the plot of story^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *