Aku, Diriku dan Pengharapan Itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 22 December 2016

Suatu saat aku ingin seperti Maddi Jane. Penuh seribu talenta. Dikenal melalui karya. Aku juga ingin menjadi seseorang yang dikenal dan dikenang melalui kemampuan dan karya yang aku miliki. Sebuah pengharapan dalam hatiku, semoga semua harapan itu tertuang dalam kenyataan di masa depan. Ah, bercermin kepada diriku sekarang, tanda tanya besar di benakku, APA AKU BISA?, sesaat kemudian hatiku menenangkan pikiranku dengan jawaban simple, WHY NOT?

Keberanian, itulah yang tidak aku miliki sekarang. Setiap detik terasa kaku, aku bahkan tidak bisa bernapas dengan tenang. Aku hanya menjadi cecunguk yang dilirik ketika dibutuhkan. Hilang… lenyap sudah. Benda yang aku miliki harus menjadi bulan-bulanan orang lain. Disaat itu, bibirku hanya bisa terkatup, berat tak bisa diangkat, bahkan setengah sentimeter pun. Diam seribu bahasa.

Setiap lantunan lagu yang terdengar menyadarkan aku akan hal-hal yang tak pernah aku sadari. Kerinduan, ketakutan dan kehampaan rasanya itu terus membuntuti. Ya, inilah diriku sekarang, punya tujuan tapi tak tahu arah. Kemana samudera yang harus aku tuju. Kemana aku harus berpandang. Kuliah-pulang kuliah-pulang itu saja pekerjaan tetapku. Saat di asrama kadang aku bercengkrama dengan konco arek atau teman akrab orang Indonesia bilang, kadang aku berkhayal sendiri, jika khayalan itu menggelitik, maka aku akan memejamkan mata, memutar tubuhku ke arah dinding, kemudian bibirku akan mengeluarkan senyuman terbaik dan merayu. Sering Aku tertidur dalam khayalan tersebut.

Aku seakan dibelenggu oleh dosa besar, aku tak tahu apa Tuhan akan mengampuni setiap tetes dosa yang telah aku lakukan. Disaat melakukan sebuah perbuatan dosa memang kesadaran itu pernah datang. Setelah kesadaran pulih, penyesalan yang tak pernah berpihak dari awal itu pun datang. Mendera setiap jiwaku, aku seperti tak berguna lagi. Inikah hidupku? hidup yang harus aku jalani? jalani seumur hidupku?. Rasanya sangat kejam. Tak sedikitpun celah untukku bernapas. Aku ingin keluar, menghirup udara segar musim semi, hidup sebagai manusia yang berarti… Detik-detik yang aku rasakan tak pernah terasa berarti dalam setiap hembusan napasku. Sesak, pengap dan ingin menyerah. Tapi tak mungkin. Menyerah berarti kalah, dan akan menjadi pecundang seumur hidup, bahkan sampai akhirat. Tidak! aku tak ingin!!! Biar setiap aku sadar dan menyesal kembali, kemudian kembali berdosa yang sama, aku tak akan meyerah, sampai aku benar-benar keluar dari belenggu nafsu setan diriku sendiri, yang mengalahkan jiwaku.

Penghinaan. Ya, penghinaan tadi sangat menyakitkan bagiku. Mungkin bagi orang itu setiap kata-kata yang Ia lontarkan tidak apa-apa baginya. Bagiku itu sangat mengiris batinku, mengabrik perasaanku, hatiku terluka… Benda berharga yang telah dibelikan oleh orangtuaku dari setiap tetes-tetes keringat mereka dihina dan direndahkan seperti tak punya nilai. Jujur aku bukan sedih karena Dia merendahkan pembelian orangtuaku, bukan itu! Tapi karena Aku merasa harga diri orangtuaku telah dilukai, jerih payah orangtuaku telah dihina mati-matian. Orang paling berharga dalam hidupku, orangtua nomor satu seluruh dunia. Setelah kejadian itu mungkin sulit bagiku untuk mengartikan namanya teman. Semakin banyak terluka, membuat Aku semakin memahami tak ada teman yang lebih baik, kecuali amal ibadah dan orangtua.

Ingin menangis, tapi tertahan. Apa aku begitu bodoh? Bodoh sekali sampai tak berhak dihargai. Tolong… tolong hentikan semua. Tak sanggup rasanya memikul bertuni-tubi penghinaan ini. Orang bijak berkata roda pasti akan berputar. Apa itu berlaku untuk hidupku yang menyedihkan ini? Mungkin ini peringatan dari Allah karena dosa-dosaku yang terlalu banyak, karena sebuah kutipan mengatakan “setiap masalah yang datang itulah yang akan membuatmu tetap bertahan dan tetap ber-Tuhan.” “Lebih baik mencoba lalu gagal, daripada gagal untuk mencoba.” Begitulah sepetik kata yang masih Aku ingat dari sebuah video motivasi dalam youtube.

Untuk orang-orang yang pernah menghinaku, terima kasih karena telah menyadarkanku bahwa hidup ini tidak mudah, terima kasih telah mengingatkan aku atas kekuranganku, terima kasih telah menegurku setiap saat, karena setiap kata-kata itu membuat Aku menjadi seseorang yang lebih kuat.

“Fokuskan Langkah, Mantapkan Pikiran, Hadapi dan Lakukan”
“Maka Kamu akan Tahu Siapa Kamu”

Cerpen Karangan: Syafiayata Asrarin Nas
Facebook: Syafiyata Asrarin Nas

Cerpen Aku, Diriku dan Pengharapan Itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Author

Oleh:
Seperti biasa, ku terdiam dalam lamunan rencana yang akan kulakukan. Mungkin aku terlalu pendiam hingga diri mungil ini tak mampu melontarkan apapun yang ingin kutanyakan. Entah kenapa ku tak

Bertekad Untuk Berubah

Oleh:
Namaku Reno, anak yang terkenal sangat nakal sejak SMP dan suka berkelahi. Aku tinggal di Jakarta. Saat ini aku duduk di bangku SMA kelas 3. Aku anak ke-2 dari

Harus Kuat Sebagai Ulat

Oleh:
Seperti biasa, pada pagi buta Andi harus bersiap menuju sekolah dengan mengendarai sepeda butut kepunyaan ayahnya. Andi terlahir dari keluarga yang kurang berada, dimana dia harus mencari uang sendiri

Setitik Harapan Gadis Lorong Kota

Oleh:
Hai perkenalkan namaku nana, aku adalah seorang gadis yang tinggal di desa terpencil dari sebuah kota. Perbedaan yang sangat mencolok di masyarakat. Dimana yang kaya diperlakukan bak seorang raja,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *