Aku Pantas Dianggap

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 April 2018

Kami hanya diam membisu tanpa sepatah kata pun, setelah kami berdebat dengan Aini cs masalah kelompok bahasa Perancis. Padahal, kami yang lebih dulu mendaftar pada kelompok Aini dibandingkan mereka. Entahlah, apa yang ada di benak mereka sehingga berhasil menyingkirkan kami dan memenangkan perdebatan itu. Yang dimaksud “kami”, adalah aku dan teman sebangkuku, yang bernama Fani.

“Kamu ngerasa enggak si Yun? Kalo kita enggak dianggap?” tanya Fani padaku. Yun? Namaku bukan Yuyun ataupun Yuni. Namaku adalah Ayunda Putri.
“Kan aku udah pernah bilang, ibarat kata kita cuma numpang duduk ama numpang belajar.” ucapku sambil memandang Vanda yang termasuk dalam kelompok Aini cs. Yah, memang seperti itulah kelasku pada kenyataannya. Yang dianggap hanya yang memiliki kelebihan dengan embel-embel kata “wow”. Seperti Vanda si Juara Satu, Resa si Juara Dua, Sari si Juara Tiga, Mutia yang menjabat sebagai si Ratu Cantik di kelas, Khoril si cowok yang selalu menang lomba apapun.
“Aku capek, Yun. Aku pengen menjadi bagian dari kelas ini.” ujar Fani.
“Ya udah, kalo gitu kita buktiin aja kalo kita pantas dianggap.”.

Semenjak hari itu, aku dan Fani berusaha untuk tidak lagi mengandalkan mereka (teman-teman sekelas kami). Aku tak lagi bertanya jawaban jika terdapat soal, hanya saja bertanya mengenai caranya. Jika tak ada orang yang mau menjelaskan, maka kuberanikan diri bertanya pada guru. Itu pun kulakukan jika sudah tak ada cara lain, sebab aku bukanlah siswi yang aktif bertanya. Hal itu juga kulakukan dengan penuh perjuangan, sebab aku adalah seorang introvert yang bukan dengan mudah memberanikan diri dan bisa bersosialisasi dengan orang lain tanpa perjuangan. Meski hanya berusaha memperbaiki nilai tanpa mengandalkan orang lain, aku tetap menjadi diriku sendiri, tanpa berusaha menjadi mereka yang berkategori, seperti Vanda, Resa, Sari, dan lain lain.

Hari demi hari kulalui dengan masih berpegang teguh pada prinsip tidak mengandalkan orang lain. Yah, semakin lama aku merasa lebih baik menjalani hidup seperti ini. Hingga tak terasa bertahun-tahun sudah aku meninggalkan SMA tercinta yang telah terukir dalam sejarah hidupku. Memang tak ada yang istimewa. Tetapi dalam ingatanku, ada sebuah pelajaran berharga yang membuatku harus berpegang teguh pada prinsipku saat ini. Mungkin, tanpa prinsip itu aku akan tetap zero di mata mereka, saat masih SMA atau bahkan hingga sekarang.

Saat ini, kedua kakiku telah sampai di suatu tempat, di mana aku akan bertemu kembali dengan mereka, teman-teman SMA seangkatanku. Yah, di sebuah acara reuni.

“Ayunda, apa kabar?” tanya Weni padaku.
“Baik Wen. Kamu sendiri gimana?”.
“Aku juga baik. Eh, aku udah baca beberapa bukumu, menurutku itu sangat menginspirasi”. Aku hanya tersenyum.
“Thank you”.

Saat tengah asyik mengobrol, seseorang memanggilku. Aku senang sekali dapat bertemu dengannya lagi, Fani. Kami saling melepas rindu.
“Hai Fan, Yun. Apa kabar?” sapa April pada kami.
“Baik. Aku kira, gak ada yang inget sama kita.” ucap Fani.
“Gimana mungkin bisa lupa? Dulu kan, kalian sering ngajarin aku soal atau materi yang aku enggak paham.” ujar April. Hanya itulah yang bisa kami lakukan semasa SMA. Walaupun kami bukanlah termasuk orang berkategori, setidaknya kami masih membekas dalam memory mereka. Mungkin jika aku tak berubah atau tak memegang prinsip itu, yang muncul bukanlah pertanyaan mengenai sapaan, pujian, dan lain lain. Melainkan pertanyaan, “Kamu siapa?”, “Kamu pernah sekolah di sini juga?”, “Kamu dateng juga to? Aku kira enggak dateng.” dan lain sebagainya.

Setelah berbincang-bincang, kami pun ikut bergabung dengan teman-teman lainnya.

Cerpen Karangan: Ria Puspita Dewi
Facebook: Elfa Puspita

Cerpen Aku Pantas Dianggap merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anak Petani Masuk Akmil

Oleh:
Menjadi abdi Negara adalah impianku, sejak kecil aku bercita-cita ingin menjadi tentara. Namun apakah menjadi tentara cocok untuk seorang Suberta Mahesa, sebenarnya ragu dengan mimpiku yang terlalu tinggi ini

Aku Bukan Diriku Lagi (Part 1)

Oleh:
Seorang gadis dengan angkuhnya berjalan di tengah koridor sekolah yang bertaraf internasional. Semua mata menatap ke arahnya. Ada yang memujinya karena kecantikan wajahnya dan tatapannya yang sangat tajam. Dan

Cinta Datang Terlambat (Part 2)

Oleh:
Satu minggu sudah berlalu. Hari ini aku bisa kembali bersekolah. “Hai guys, Good Morning” “Hai Ra, Good Morning” jawab teman-temanku serempak “Hai Ra. Udah sembuh ya?” tanya Wanda “Iya

When You (Part 2)

Oleh:
Setibaku di rumah sakit Adinda langsung diarahkan ke ruangan Instalasi gawat darurat/IGD. Aku panik, aku tidak tau harus bagaimana, aku mencoba menghubungi sahabatku bagas, tetapi tidak ada respon, tidak

Gulali Chaca

Oleh:
“Eh… lihat!” terdengar di kanan telinga Chaca. “Apa…,” sahut Chaca menoleh yang di tunjuk Sinta. “Nyam… Gulali!” ucap Chaca dan Sinta serentak dan berlari ke arah yang ditunjuk Sinta.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *