Amazing Grace

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kristen, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 29 April 2017

Kuhentikan langkahku persis di depan pintu ruang musik. Terlihat di dalam sana, ada seorang gadis sedang menarikan jari-jemarinya di atas tuts-tuts piano putih. Ya, dialah Isabella Kira Gotzoen, yang acapkali disapa Bella. Ia memiliki hobi yang aneh bagiku, yaitu suka menyendiri di dalam ruang musik ini. Setiap hari sepulang sekolah, aku selalu melewati ruang musik dan pasti Bella ada di dalamnya. Hobi yang aneh sekaligus membuatku terkagum-kagum. Kenapa? Karena setiap kali aku lewat di depan ruang musik, selalu kudengar denting piano yang bernadakan lagu dari Hillsong. Aku, Elvaretta Corine yang kerap dipanggil Erine, ingin sekali bertemu dan mengajak bertukar pendapat dengannya. Berjuta-juta pertanyaan tentangnya juga telah muncul dalam benakku sejak lama.

Perlahan tapi pasti, kubuka pintu ruang musik itu. Langkah demi langkah kutapakkan untuk mendekati gadis piano itu. Sesaat kemudian, Bella menyadari keberadaanku. Dengan cepat, ia menutup piano, mengambil tasnya, dan berlari ke luar ruang musik.
“Heyy, Bella! Tunggu dulu!!” teriakku memanggilnya.
Gadis itu pergi melarikan diri tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
“Ada apa dengannya yaa? Mengapa ia begitu takut untuk bertemu dengan orang lain? Padahal aku kan bukan monster. Ah sudah lahh. Akan kucoba mendekatinya besok lagi,” gumamku sembari berjalan meninggalkan ruang musik.

Esok harinya ketika pulang sekolah, aku kembali ke ruang musik untuk menemui Bella. Kejadian yang sama kembali terulang. Ia menutup piano dan meraih tasnya. Ia mencoba berlari ke luar ruang musik, tapi usahanya tidak berhasil. Aku menarik tangannya dengan cepat. Dari arah yang berbeda, ia mencoba memberontakku.
“Lepaskan tanganku! Aku mau pulang!” teriaknya dengan suara yang cukup membuatku kaget.
Dengan cepat kulepaskan tangannya. Tak kusangka, seorang Bella yang cantik parasnya bak seorang bunga desa, mempunyai suara yang tak cukup layak bagi dirinya. Ya, suaranya sangat cempreng.
“Maafkan aku, Bella. Aku tak bermaksud seperti itu,” ucapku.
“Tidak apa-apa. Tujuan apa yang membuatmu ke sini untuk menemuiku?” tanyanya dengan suara yang langsung menjadi ciri khasnya.
“Hmm, sejujurnya aku ingin tahu lebih banyak tentangmu. Aku penasaran mengapa kamu sering menyendiri di ruang musik ini setiap pulang sekolah. Mengapa kamu tidak berkumpul dengan teman-temanmu yang lain?” tanyaku dengan heran.
Bella menundukkan kepalanya. Ia tidak menjawab pertanyaanku. Beberapa saat kemudian, barulah ia menjawab pertanyaanku, “Seharusnya kamu tahu, Erine, mengapa aku tidak pernah kumpul dengan temanku. Yang pertama, Tuhan memberiku suara kacau ini untukku, dan yang kedua, Tuhan tidak memberiku teman karena suaraku ini. Semua orang yang mengajakku berbicara pasti akan langsung mencemoohku. Aku tidak tahu kenapa Tuhan berbuat tidak adil? Kenapa Tuhan memberikan suara payah ini kepadaku? Kenapa Tuhan membuat aku menjadi dijauhi orang lain? Apakah Tuhan membenciku sampai-sampai aku diciptakan seperti ini?”
“Bella, kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Ketahuilah, semua yang diciptakan Tuhan itu indah. Semua rancangan-Nya tidak ada yang buruk, termasuk kamu dan suarammu, Bella,” jawabku dengan mantap.
“Indah? Tidak buruk? Bagaimana bisa? Aku tidak akan dijauhi temanku apabila aku memiliki suara seperti Nikita ataupun Citra Scholastica! Tuhan benar-benar tidak adil!” ucapnya dengan suara parau karena ia hampir menangis.
“Ssttt, Bella. Tuhan menciptakan segala sesuatu pasti dengan maksud dan tujuan tertentu, tidak sembarangan. Apakah kamu pernah membaca Yeremia 29 ayat 11? Disitu tertuliskan bahwa semua rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan. Ingatlah, bahwa semua yang dianugerahkan Tuhan kepadamu adalah sebuah anugerah yang luar biasa. Jadilah kuat dalam kuat kuasa-Nya, Bel,” kataku sambil mengusap air mata Bella yang ternyata sudah mengalir.

Lima hari setelah kejadian itu, aku tidak pernah bertemu dengan Bella lagi. Apakah ia pindah sekolah? Ataukah ia pindah ke luar kota? Apakah ia marah padaku karena perkataanku, sampai-sampai tidak mau berangkat sekolah? Tapi semoga saja, ia benar-benar mengerti apa yang aku sampaikan lima hari yang lalu.

Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, kujalani masa mudaku bersama-Nya. Sudah kutemui diri-Nya dan aku tinggal dalam-Nya. Namun, ada satu hal yang membuatku merasa hampa. Bella tak pernah menampakkan dirinya di hadapanku. Aku ingin sekali bertemu dengannya dan bercerita banyak hal. Nomor teleponnya tak bisa dihubungi, pesan singkatku tak dibalas. Bagaimana cara mencarinya?

Kunyalakan televisi di kamarku untuk menemani waktu santaiku hari ini. Aku menonton sebuah ajang pencarian bakat di salah satu stasiun televisi. Ternyata ajang pencarian bakat itu sudah memasuki babak final dan sudah hampir selesai. Tiba-tiba, mataku terbelalak melihat salah satu finalis dalam acara itu. Ya, dialah temanku, Bella!
Saat pengumuman pemenang dilaksanakan, ternyata Bella lah yang menduduki posisi pertama atau pemenangnya.

“Terima kasih, untuk papa Yesus yang selalu ada untukku. Untuk papa, mama, teman-teman semuanya. Terkhusus untuk yang tak terlupakan, Elvaretta Corine, yang dahulu pernah memotivasiku dan menjadikanku seperti sekarang ini. I miss you so bad, Erine. Thank you all! Jesus bless you!” ucap Bella dalam pidato kemenangannya.
Air mataku sudah tak terbendung lagi dan membasahi pipi kanan dan kiriku. Sesaat kemudian, Bella menyanyikan satu buah lagu yang membuatku terkagum-kagum padanya.

Amazing Grace, how sweet the sound,
That saved a wretch like me
I once was lost but now am found,
Was blind, but now, I see

Suara emas yang dikeluarkan Bella membuatku tak berkedip melihat Bella. Tak terduga, suaranya membuat hatiku gemetaran.
“Aku tahu kamu bisa, Bel. Akhirnya kamu dapat mengenali dirimu sendiri. Aku tahu akan berubah, karena semua rancangan indah dari-Nya. His Grace is always perfect, Bella,” kata-kataku untuk Bella, walaupun aku hanya menontonnya di televisi saja.

Cerpen Karangan: Giovana Brigida Christabelle
Facebook: Giovana Christa
Syallom! 🙂
Namaku Giovana Brigida Christabelle, bisa dipanggil Christa. Aku kelas 10 IPS 1 di SMA Negeri 1 Salatiga. Semoga cerpen yang aku buat ini bisa menjadi berkat buat yang membaca ya
Yang mau lebih kenal aku bisa add/follow sosmed aku:
ask.fm & instagram: giovanachrista
line: giovanachrista27
Terima kasih

Cerpen Amazing Grace merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Winnera

Oleh:
Namaku Winnera Saraswati aku dilahirkan dengan keadaan hanya memiliki satu tangan. Ibuku memberi namaku Winerra karena Ibu berharap suatu saat aku akan jadi pemenang. “Winnera.” diambil dari kata Winner

Tak Ada Yang Sempurna (Part 2)

Oleh:
Siang ini, Chrisa hanya sendirian di dalam kamar dengan ditemani sebuah novel yang dibacanya, sedangkan Pak Ferdi sedang ada urusan dengan kantornya. Karena merasa jenuh, Chrisa memutuskan untuk pergi

Diantara Mahasiswa dan Dosen

Oleh:
Jam menunjukkan pukul 08.00 WIB. Chintya Aryanto menuju ke ruang kelas perkuliahan dengan langkah gontai. Ketika sampai dalam kelas, Ibu Darmayanti, dosen matakuliah Pengantar Ekonomi Makro menyambut dengan nada

Satu Kontemplasi

Oleh:
Langit kini bermandikan warna hitam kelam bertiraikan bintang-gemintang. Dalam senyap malam, pria itu membanting tubuhnya ke pulau kapuk. Di pikirannya, telah terancang berjuta rencana yang akan ia lakukannya malam

Aku dan Organisasiku

Oleh:
Childist, konyol, gila dll, mungkin itu sebagian kecil sebutan buat aku yang tengah menginjak status mahasiswa di sebuah Universitas Negeri di Semarang. Meski sebutan itu kurang enak didengar atau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *