Bakat (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 May 2016

Aku bersyukur memiliki sahabat seperti Dinda. Dia yang selalu ada di saat aku sedang berada dalam masa-masa sulit. Seperti sekarang ini, aku tahu dia akan selalu ada untukku. Setiap hari sepulang sekolah, aku selalu berlatih tenis dengan Dinda sampai sore. Malamnya, aku berlatih bersama dengan papa atau mama. Aku berusaha begitu keras, sampai-sampai papa dan mama heran melihatku.

“Nindy, malam ini cukup yah, kamu jangan kecapekan kalau latihan,”
“Iya Pah, makasih ya latihannya hari ini,” Aku dan papa duduk di tepi lapangan. Malam ini bulan purnama, langitnya juga bersih tanpa awan. Momen yang benar-benar tepat untuk mengakrabkan diri dengan papa yang selalu sibuk melatih di luar kota.

“Pah, Nindy mau tanya, jawab yang jujur ya?”
“Iya sayang, mau tanya apa?”
“Apa Papa sama Mama kecewa, Nindy sama sekali gak bakat main tenis?”
“Hm? Kenapa harus kecewa? Nindy jadi anak baik dan penurut aja itu udah cukup buat Papa sama Mama bahagia,”
“Masa sih Pa?”
“Iya, lagi pula, bakat itu nggak bisa dipaksain. Papa sama Mama nggak mau Nindy keberatan nantinya kalau dipaksain buat jadi atlet tenis. Emangnya ada apa? Nindy kok tanya hal seperti itu?”
“Nggak ada kok Pa, cuma penasaran aja,”

“Lagi pula, kalau Nindy berusaha keras, rajin berlatih, pasti nantinya jadi petenis yang hebat kok! Nindy ingat ya, keberhasilan itu 1% bakat dan 99% kerja keras, ngerti nggak maksud Papa?”
“Heh? Nggak ngerti Pah?”
“Hahaha, nanti juga kamu ngerti sendiri kok! Ya udah sekarang kamu mandi terus tidur ya,”
“Idih, Papa kok gitu sih? Iya deh iya,”

Akhirnya, hari pertandingan pun tiba. Setelah melihat jadwal pertandingan, ternyata benar, lawanku adalah Friska.

“Anak SMA sebelah toh..,”
“Astaga Dinda! Bikin kaget aja sih?”
“Hehe, maaf Nin. Abisnya kamu serius banget lihatnya,”
“Kamu gimana Din? Tanding jam berapa? Aku dua pertandingan lagi nih,”
“Ah nanti masih lama, santai aja. Oiya, denger-denger ternyata si Friska itu fans beratnya Om Joe sama Tante Nat loh!”
“Halah, denger dari siapa kamu?”
“Ih beneran Nin..”
“Iya-iya, terserah kamu deh,”

Aku dan Dinda akhirnya memilih duduk untuk mempersiapkan diri. Satu pertandingan lagi, aku akan maju. Berhadapan dengan Friska, si orang sombong yang tiba-tiba muncul entah dari mana seminggu yang lalu. Setelah melakukan pemanasan, aku berjalan-jalan sebentar untuk mengurangi ketegangan hatiku. Tanpa sengaja, aku berpapasan dengan Friska yang tengah melakukan pemanasan.

“Hai Nindy, udah siap ku kalahin nanti?”
“Kamu yang bakal ku kalahin!”
“Duh, aku takut nih!”
“Aku gak mau berlama-lama ngobrol gak penting sama kamu. Sampai nanti,”
Sambil melangkah pergi, aku melihat sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Aku tahu, senyuman itu ditujukan kepadaku, senyuman meremehkan.
“Awas saja ya nanti, akan ku patahkan senyumanmu itu!” geramku dalam hati.

Akhirnya, pertandingan antara aku dan Friska pun dimulai. Tanganku sudah gatal sekali ingin mengalahkannya.
“Nin, kamu yang semangat ya, jangan mau kalah sama dia,”
“Pasti! Doain aku menang ya Din,”
“Jelas dong bakal ku doain,”

Serven pertama, aku yang memulainya. Kemampuanku sudah meningkat cukup pesat dari terakhir kali kami bertanding. Meskipun begitu, dia tetap saja hebat. Set kali ini, aku benar-benar kewalahan. Set pertama aku kalah, meskipun poinnya tidak terlalu jauh. Aku lebih baik dari yang dulu. Saat kembali ke tempat duduk untuk beristirahat sebentar, aku melihat wajahnya. Senyuman itu lagi. Senyuman meremehkan itu lagi. Kali ini aku benar-benar kesal.

“Sial! Kenapa aku harus kalah lagi?”
“Sabar Nin, masih ada kesempatan, jangan mau kalah!”
“Hei, sayang, gimana pertandingannya?” aku terkejut, papa dan mama ternyata datang untuk mendukungku.
“Hai Om Joe, Tante Nat! Apa kabar?” Dinda memang cukup akrab dengan papa dan mama karena sering main ke rumahku.
“Baik, Dinda gimana?” sahut mamaku
“Sehat kok Om, Tante, hehe,”

“Lho, bukannya Papa sama Mama harus ngelatih ya hari ini?”
“Nggak apa-apa dong, sekali-kali bolos kerja buat nyemangati kamu?”
“Hmm iya sih, tapi.. makasih ya Pah, Ma, udah mau dateng,”
“Iya, sama-sama. Oiya Nin, kamu gak boleh emosi ngelawan musuh kayak gitu, senyumin aja, tenang aja, kamu pasti bisa kok,”

Akhirnya papa dan mama yang memberi arahan kepadaku. Aku jadi lebih rileks dan semangat setelah mendapat pengarahan dari mereka. Waktu istirahat pun habis, kami melanjutkan pertandingan yang kedua. Kali ini aku menerapkan arahan dari papa dan mama, jika dia tersenyum meremehkanku, aku langsung balas dengan senyuman yang bersahabat. Ku lihat Friska jadi bingung melihat reaksiku yang berbeda dari sebelumnya. Babak kedua selesai, aku ternyata bisa menang. Sekarang babak penentuan, ku lihat Friska jadi semakin gugup melihat perkembangan kemampuanku.

Babak penentuan dimulai. Aku disuruh tenang dan santai saja agar bisa menang. Tapi tetap saja aku merasa gugup. Ini adalah pertandingan penentuan. Pokoknya aku harus menang melawan orang sombong itu! Pertahanan Friska mulai goyah, pukulannya tidak sekeras babak pertama dan kedua tadi. Aku merasa, staminanya mulai menurun. Sekarang bisa ku lihat kalau dia jarang latihan dan melatih fisiknya. Di babak ketiga ini, Friska benar-benar sudah kelelahan. Sedangkan aku yang sudah rajin berlatih, tubuhku terasa ringan saat digerakkan. Ini kesempatanku! Dengan sekali pukulan, aku berhasil menjatuhkan Friska. Aku menang! Aku hampir tidak percaya ini.

“A-apa? Bagaimana bisa aku dikalahkan? Padahal kamu sangat payah minggu lalu!”
“Hmm, memang terlihat jelas sekali ya, siapa yang berusaha keras di sini,”
“Ha- hah? Apa yang kau–,”
“Aku cuma bicara fakta saja kok!”
“Fakta? Fakta apa maksudmu?”
“Kau tahu, Friska? Keberhasilan itu memang benar-benar 1% bakat dan 99% kerja keras. Sekarang aku benar-benar membuktikannya. Aku tidak perlu terlalu mengandalkan bakat untuk bisa menang, kerja keras bisa lebih memberikan hasil yang nyata,”

Friska tertunduk. Air mata mulai berjatuhan di pipinya. Aku yang melihat pemandangan ini merasa tidak enak.
“Hiks, hiks- aku benar-benar minta maaf karena bersikap tidak baik padamu. Aku juga sudah meremehkanmu, ku mohon maafkan aku,”
“Sudahlah, aku sudah melupakan semuanya. Jangan menangis lagi. Papa dan Mamaku datang ke pertandingan ini. Mau ku kenalkan pada mereka? Ku dengar kau fans berat mereka?”
“A-aku, aku..,” wajah Friska merona.

Ternyata dia memang mengidolakan papa dan mama. Ku tarik tangannya, dan langsung mengenalkannya pada mereka. Kini aku dan Friska sudah berteman, tentu saja dengan Dinda juga. Meskipun Friska dan Dinda terkadang masih sering berdebat, tapi setidaknya kini kami sudah menjadi teman. Papa memang benar, bakat bukanlah hal utama yang menentukan keberhasilan kita. Tetapi sekeras apa kita berusaha, itulah yang menjadi kunci keberhasilan nantinya.

Cerpen Karangan: Ita Sulistiani
Facebook: Kazumi Ren
Hai, aku Ita Sulistiani. Terima kasih sudah membaca karyaku yang satu ini ya.

Cerpen Bakat (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Teman Baru

Oleh:
Tahun ajaran baru dimulai dan aku mendapati namaku terletak di kelas XI ipa 2. Ada 36 murid di dalamnya dan tak satupun dari mereka yang benar benar kukenal. Aku

One Step Closer With Your Love

Oleh:
Kenapa kebanyakan cerita di sinetron, film, novel, komik, atau apapun mengisahkan tentang kisah cinta anak sekolah? Hmm.. Sebenarnya masa-masa sekolah adalah masa-masa yang tak luput dari masalah percintrongan. Entah

Never Leave You (Part 1)

Oleh:
-Jatuh cinta dan patah hati itu udah sepaket kayak paket COMBO di KFC- Andika Pov Setiap manusia di dunia pasti sudah familiar dengan yang namanya “Sahabat”. Pastilah. Suka duka

Orang Ke 3

Oleh:
“Maju Sar, MAJU! Lo gak mungkin disini terus” well, itu adalah salah satu kalimat yang sama sekali gak asing dalam hidup gue. Oh ya, nama gue Sarah. Cewek yang

Cahaya Mimpi

Oleh:
Gontai, aku melangkah ke luar kamar. Hari ini pasti berjalan seperti kemarin kemarin, dan kemarinnya lagi. Rumahku seolah tak bernyawa. Rumah seakan bukan lagi laboratorium keharmonisan yang menginginkan anaknya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *