Bakat Terpendam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 September 2017

Namaku Farid, aku adalah murid sekolah menengah pertama, lebih tepatnya SMPN 1 jakarta. Aku adalah anak seorang pengusaha kaya, hidup kaya raya, tempat tinggal bagus, kesenangan difasilitasi dan hal hal mewah lainnya.
Tapi ada satu hal yang membuat hidupku tidak tenang, kebodohanku, ya kebodohanku membuat hidupku tertekan dan dimarahi orangtuaku, nilai akademis pelajaranku kecil, bahkan nilai pelajaran nonakademis dan praktek selalu mendapat nilai kecil

Aku di sekolah sering mendapat hujatan dan berbagai sarkasme yang ditujukan kepadaku, dan aku sering diperlakukan kasar, karena memang juga faktor perawakanku yang kecil dan pendek, julukanku di sekolah yaitu “si bodoh”.

Saat itu aku sedang melamun memikirkan itu semua, sampai tiba tiba aku merasa frustasi memikirkan semua hal itu dan tanpa disadari, sebilah pulpen melayang dengan kuat karena lemparanku sampai menjatuhkan spidol yang dipegang guru matematika di depan kelas yang sedang menulis rumus aljabar yang sangat rumit bagiku, tentu saja aku bisa sampai menjatuhkan spidol guru, karena aku duduk di bangku barisan kedua di kelasku.

“Siapa yang berani Beraninya melempar pulpen tadi!” Ujar guru matematika di depan kelas
“Saya bu” jawabku dengan gemetar karena takut
“kerjakan soal di depan ini dan berdiri dengan satu kaki di depan kelas mengerti!” ujar bu guru
“mengerti bu” jawabku. kemudian bu guru pergi meninggalkan ruangan kelas dan meninggalkan aku dengan teman sekelasku lainnya

“wah wah si bodoh sudah mulai berani bertingkah nakal” kata salah satu teman sekelasku
“gimana bisa coba si bodoh ngerjain soal aljabar kaya gitu” kata salah satu teman sekelasku yang lain
Seketika tertawa jahat mereka meledak satu kelas, tetapi malah ada temanku yang mukanya sedikit tertekuk karena bangku di sebelahnya kosong karena temannya yaitu aku sedang mengerjakan soal aljabar yang membuatku bingung yaitu temuan seorang ilmuwan islam Al-Kwarizmi yang masih dipakai sampai sekarang.

Setelah aku hampir terpaku pada soal aljabar di depan kelas yang sudah hening selama hampir 10 menit, tiba tiba bu guru datang kembali.
“mengapa kamu dari tadi belum mengerjakan soal itu sepatah angka pun?!” ujar bu guru dengan tegas
“maaf bu saya tidak bisa mengerjakan soalnya” jawabku
“Kamu ini, tidak bisa mengerjakan soal, jangan nakal makanya jika tidak mau dihukum begini, sudah bodoh!, nakal pula!” ujar bu guru
“huu, si farid mah sekarang udah nakal bodoh lagi” ujar salah satu murid putri
“makanya jangan nakal!, kalau bodoh penurut kan lebih bagus” ujar salah satu murid putra

Bu guru ke luar meninggalkan kelas karena sudah bel istirahat disusul dengan tertawa puas teman sekelasku karena melihatku dihukum, berbanding balik dengan teman sebangku aku yang malah terlihat sedih karena melihatku ditertawakan seperti komedian yang sedang melawak.

Saat istirahat sahabatku yaitu Ali mengajakku bercakap cakap, Ali adalah mantan santri, waktu di sekolah dasar dia adalah murid pindahan dari pesantren karena orangtuanya tidak mampu membayar biaya pesantrennya yang terlalu mahal, dan menjadi sahabatku sesaat di SMPN 1 jakarta

“Rid kok kamu bisa ngelempar pulpen kayak tadi sih?” ujar Ali
“enggak tahu aku frustasi aja waktu ngelamun” ujarku”
“memang memikirkan apa sampai kamu bisa begitu, kau tidak pernah cerita?” Tanya Ali
“ya kau tahu kan li, nilai nilaiku selalu kecil bahkan nilai pelajaran praktek seperti olahraga” ujarku
“yang ada aku tertekan dan aku tidak dapat membahagiakan orangtuaku yang ada malah membuat marah orangtuaku” ujarku lagi
“Ya” ujar ali pendek
“apakah hanya aku manusia yang sudah bodoh dan tidak memiliki kemampuan sama sekali?, apakah aku manusia tidak berguna di dunia?” ujarku
“kau jangan bilang seperti itu. setiap manusia pasti mempunyai kemampuan, allah pasti menciptakan manusia dengan kekurangan dan kelebihan” ujar Ali
“tapi apa?” tanyaku
“nanti kau akan menemukannya sendiri” ujar Ali dengan senyum

Setelah melalui ujian semester, saat aku pulang ke rumah orangtuaku melihat nilai nilaiku yang dibawah rata rata dan dengan tinta merah, mereka pun marah kepadaku dan membanding bandingkanku dengan adik perempuanku yang baru kelas 1 sd, dan mendapat ranking pertama di kelas dan berbanding balik denganku yaitu ranking terakhir

“Kamu ini masa kalah dengan adikmu yang lebih kecil, dasar bodoh!” ujar bapakku
“Tapi pak, mungkin Farid punya keahlian di bidang lain” jawabku
“tapi apa coba?, selama ini bapak tidak pernah lihat farid mendapat nilai bagus di akademis maupun praktek toh?ujar bapakku
“Farid janji pak, untuk mencari keahlian Farid” jawabku

Sejak saat itu pun aku mulai bertekad keras mencari keahlianku mulai dari membuat kerajinan sampai bermain basket, tetapi tidak ada satupun bakatku di situ. namun pada saat kerja kelompok di rumah temanku yaitu Rizky, saat aku melihat lihat rumah Rizky, aku melihat sebuah Biola dan aku pun penasaran dengan apa itu, karena di keluargaku tidak ada alat musik, karena keluargaku itu tipe keluarga yang seperti tidak mengenal seni.

“Riz ini apaan Riz?” ujarku menunjuk biola tersebut saat dibuka tempatnya
“masa kamu enggak tahu ini rid?, ini biola” ujar rizky dengan sedikit menahan tertawa
“boleh kucoba?” tanyaku
“silahkan jika kau bisa?” ujar rizky dengan sedikit bingung

Pada awalnya aku hanya menggesekkan asal senar dan bunyinya pun dapat memekakkan telinga, namun lama kelamaan aku mulai mengetahui suara suaranya dan mulai menyusung not not lagu, dan mulai memainkannya dengan suara yang enak dan seperti Irama irama lagu yang sedang tren waktu sekarang, karena anggota lain lain sudah meninggalkanku duluan ke tempat kerja kelompok, tiba tiba mereka terheran dengan suara biola yang sangat merdu dan enak didengar tersebut, ali pun melihatku sedang memainkan biola dengan asiknya, ali pun tersenyum dan mengagetkanku dengan kehadirannya

“kamu bisa main ini secara otodidak?” Tanya ali dengan kagum
“iya bisa” jawabku pendek
“selamat ya kamu sudah menemukan kemampuanmu”
“iya selamat li, coba kau tidak memberika inspirasi saat itu mungkin aku sudah tidak akan berusaha lagi untuk hidup di dunia ini” ujarku

Seketika ada yang bertepuk tangan dari belakang, yaitu anggota kelompokku yang lain, mereka memberi pujian, sejak itu mereka pun mulai mau bersahabat denganku dan seluruh sekolah mulai mengetahui bakatku dan aku diikutkan lomba lomba musik, awalnya aku meminjam biola rizky karena aku tidak berani memintanya ke orangtuaku, dan setelah mengikuti lomba, aku mendapatkan banyak juara dan menjadi idaman setiap orang di sekolah dan menjadi inspirasi banyak murid sepertiku dulu. hidupku pun menjadi lebih baik orangtuaku mulai bangga memiliki anak sepertiku, dan keluargaku mulai mengenal berbagai seni, dengan seiring bertambahnya usiaku aku mulai bermain biola di kafe kafe, dan dapat menghasilkan uang sendiri saat kelas 9 SMP.

Perlu kalian ingat, bahwa jika kalian memiliki kekurangan, niscaya pasti kalian mempunyai kelebihan, bahwa jiika kalian hidup di dunia janganlah menyerah, dunia ini mungkin bisa sangat kejam bila dunia dibilang menyenangkan, tapi dunia ini bisa sangat indah jika untuk ditangisi, itu tergantung bagaimana kita menjalani hidup ini.

Cerpen Karangan: Sakha R.H.
Facebook: sakha ruhan
Namaku Adalah Sakha Ruhan Hudaya. Aku adalah Murid SMPIT Al-Fatih panongan Tangerang, Hobiku adalah Membaca dan Bermain Game, Penulis Favoritku adalah
Tere Liye dan Hanum Salsabiela Rais. Ini adalah cerpen pertamaku yang di unggah ke Cerpenmu, semoga kalian terhibur

Cerpen Bakat Terpendam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Visionary

Oleh:
Seolah terpatri di area abiosfer. Terduduk, termangu bak sebuah manekin uzur yang lama tak terjamah. Aku tidak mendengar, aku mengabaikan bisingan-bisingan yang memekakan itu menyinggung gendang telingaku, mengabaikan teriakan

Ternyata Kau Adalah Tipeku (Part 1)

Oleh:
“Sera, ayo selfie bareng.?!” ajak salah satu temannya yang bernama Nabila. “Gak mau, ah. Kalian aja.” jawab gadis aneh yang bernama Sera tadi. “Kamu emang cowok kok, Ser?. Disamping

Awal Pertemuan Kita

Oleh:
Pria itu melirik ke arahku, semakin nakal dan semakin aku ingin berkenalan dengannya. Aku bisa menangkap bening matanya walaupun dalam keremangan. Dia yang di seberang sana bersama teman-temannya itu

Hari Hukuman Nathalie

Oleh:
Mentari pagi menyapa dengan sinar hangat yang terpancar dari jendela kamar. Nathalie, cewek yang periang, cerdas, dan mudah bergaul ini sudah terbangun dari mimpinya. Sedangkan Nathan yang notabennya cowok,

Hujan di Sore Hari

Oleh:
Jadi sore itu hujan, aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 16.31 sudah lewat 1 menit dari waktu masuk lesku. Hujan nampaknya belum ingin berhenti. Aku akhirnya memutuskan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Bakat Terpendam”

  1. agneshutajulu says:

    cerita bagus dan sangat bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *