Bangun Dari Mimpimu, Dennis!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 3 June 2020

Dering alarm terdengar dengan jelas di setiap pukul 05.00 dari handphone. Dengan malas saya bangun dan membereskan tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi.

“Denisss” panggil Ibu “Sarapannya udah siap nih”
Saya pun menghampiri meja makan dengan pakaian yang sudah rapi.

“Nanti lembur lagi?” Tanyanya
“Iyaa bu sehari lagi” Jawabku
“Ibu udah siapin bekal nih nanti makan ya”
“Iya bu, Dennis berangkat ya”

Setibanya di Kantor saya disambut oleh banyaknya pekerjaan, meskipun sulit tapi saya menikmati pekerjaan ini sebagai seorang Akuntan karena memang tidak ada hal lain yang bisa saya lakukan selain Akuntansi. “Semangat Dennis jangan sampai besok kita lembur lagi, duhh bisa bisa kepala gue pecah” “Gue juga gak mau kali Ran, udah ah kerja gih” ucapku kepada Rani teman sekantorku.

Sudah sekitar belasan jam saya menatap layar komputer dan akhirnya selesai juga, rasanya terlepas dari jeratan pasung yang sedari tadi menahan. Sesampainya di rumah saya disambut dengan keadaan rumah yang sepi, Saya memang hanya tinggal berdua dengan Ibu karena kedua Kakak saya sudah menikah dan Bapak sudah meninggal sejak saya masih SMP.

Sekarang umur saya hampir menginjak 28 Tahun, meskipun kehidupan saya terlihat normal saja tetapi sebenarnya saya mengalami gangguan psikologi. Saya selalu berhalusinasi tentang diri saya yang sempurna. Sejak kecil saya adalah seorang yang introvert, Saya sering mengkhayalkan diri saya adalah seorang yang tampan dan dikagumi oleh semua orang. Jelas, kenyataannya adalah sebaliknya dari apa yang saya halusinasikan seperti langit dan bumi. Saya pemalu, saya sulit bergaul, saya penakut dan segala sifat yang menjelaskan seorang introvert ada pada diri saya ditambah kejelakan kejelekan yang lain. Hampir selama 10 Tahun saya hidup seperti ini, seakan akan saya memiliki dua dunia yang berbeda disaat siang hari saya menjadi diri saya sendiri yang lemah dan disaat malam hari sebelum tidur saya bertranformasi dalam halusinasi menjadi sosok yang sempurna. Saya sadar saya orang yang menyedihkan, saya juga menginginkan kehidupan yang normal seperti orang lain, tetapi saya tidak bisa disetiap saya ingin berubah terdapat penolakan dalam hati saya yang akhirnya terjadi peperangan antara hati dan otak saya yang akibatnya pusing tak tertahankan. Tapi untungnya, saya masih bisa membedakan mana dunia nyata dan mana dunia khayalan, saya ingin suatu saat saya hanya hidup di dunia nyata.

Meskipun saya seperti orang yang tidak memiliki iman tapi saya tidak pernah meninggalkan sholat seperti sholat subuh ini. Detik ini saya meminta ampunan lalu detik berikutnya mungkin saya berdosa, seperti itu saja kehidupan saya. Hari ini saya bekerja hanya setengah hari, ya hari ini adalah Sabtu rekan sekantor saya ribut merencanakan agenda malam minggunya. Berbeda dengan saya yang ingin cepat cepat berbaring di ranjang tercinta dan melanjutkan halusinasi saya seperti biasa, entah itu Sabtu ataupun Minggu semua hari sama aja.

Bruukk.. Meja dihantam oleh Rani yang tergesa gesa “Guys, pengganti Pak Budi Senin sekarang dateng lhoo, namanya Pak Ari dia dari Surabaya katanya udah di Bandung sih trus katanya juga dia ganteng bangett..” “Ah kata siapa? belum diumumin juga di divisi kita masa udah nyebar aja beritanya ke divisi luar” bantah Farhan yang seperti mewakili pertanyaanku “Kata yang lain tadi dia kesini ngeliatin kita” “Uwaahh.. Kenapa ga langsung nyapa kita aja ya” Balas Farhan “Udah ah, pulang yu udah lebih dari jam pulang nih kita liat aja pas hari Senin nanti” Ucapku tak perduli dengan pembicaraan mereka.

Sesampai di rumah Saya langsung menuju kasur dan memandangi langit langit kamar. Pimpinan baru lagi, adaptasi lagi. Saya hanya berharap semoga dia cocok dengan kepribadian saya tidak seperti atasan saya kemarin yang ketus dan judes.

Pagi Senin ini sangat cerah dengan suasana sejuk khas Bandung seperti sedang menyambut pimpinan baru kami. Jalanan sangat macet lima menit lagi saya akan telat, ini semua karena lampu rambu mati ahh sial pikirku ini pertemuan pertama dengan pimpinan baru. Pukul 08.22 saya baru sampai di kantor sementara yang lain sudah berkumpul di ruang pertemuan, dari celah pintu yang saya intip terlihat badan tegap dengan wajah rupawan pikirku apa itu yang namanya Pak Ari, dengan melawan rasa takut saya mengetuk pintu, semua mata langsung tertuju kepada saya, saya menjelaskan dengan detail berharap semua orang mengerti dan betapa beruntungnya saya Pak Ari memahami kondisi saya dan memperbolehkan saya ikut kedalam pembicaraan.

Isu yang beredar ternyata benar, fisik Pak Ari sangat sempurna mungkin dia baru berusia 30 tahunan. “Deniss, dipanggil Pak Ari” ucap Rani. Duhh, ada apa ya sambil berpikir saya melangkah menuju ruangan Pak Ari
“Denis Setyoadji?”
“Iya pak” jawabku
“Silahkan duduk, Kamu adalah akuntan paling lama di kantor ini kan?”
“Iya itu betul pak, saya sudah bekerja selama hampir 6 tahun”
“Itu sudah cukup lama, berarti saya memanggil orang yang tepat untuk memberikan saya info tentang keadaan di divisi ini, kamu bersedia?”
“Ohh.. Mm bersedia pak, kalau begitu saya akan memberikan beberapa laporan penting tentang divisi ini”
“Kita seumuran jadi lebih santai saja, saya ingin punya satu teman disini, setidaknya satu” Saya benar benar kaget mendengar fakta bahwa kami seumuran.

Sejak saat itu saya rutin berbicara dengan Ari, dia memang tidak mau dipanggil Bapak oleh saya karena umur kami sama. Awalnya hanya pemicaraan kantor saja tapi pembicaraan kami meluas ke berbagai topik. Hal yang membuat kami berdua cocok adalah kecintaan kami terhadap akuntansi. Sampai pada akhirnya saya sadar dia seperti ‘saya’ dalam halusinasi saya, dia baik, dia dikagumi banyak orang, dia pintar dan fisiknya sempurna. Saya mengaca pada diri saya, saya benar benar tidak ada apa apanya dengan Ari, dengan hadirnya seorang teman saya mencoba untuk lebih terbuka dan menikmati hidup. Saya pikir saya harus berubah saya terus meyakinkan bahwa belum terlambat untuk merubah kebiasaan buruk, sedikit demi sedikit saya merubahnya saya meluangkan banyak waktu untuk aktifitas berguna dan tidak mengurung diri lagi, saya mulai mendekati wanita dan memupuk rasa percaya diri saya.

“Kamu tidak bersyukur Denis!” itu kalimat yang pertama dia ucapkan saat dia mendengar pengakuan tentang gangguan psikologi yang saya derita “Aku tau kamu akan merasa rendah diri dengan ucapanku ini, tapi terimalah itu memang kenyataannya. Hanya ada satu obat untukmu yaitu, TERIMA KENYATAAN dan MAAFKAN DIRIMU, HIDUP INI INDAH JIKA DISYUKURI APAPUN YANG TERJADI JALANI SAJA, aku tau akan sulit untuk merubahnya, aku akan membantumu Denis aku temanmu, sekarang BANGUNLAH DARI MIMPIMU DENNIS”

Cerpen Karangan: Annisa Azhari
Blog: annisasastra28.blogspot.com

Cerpen Bangun Dari Mimpimu, Dennis! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pemimpi Bermimpi Menjadi Pemimpin

Oleh:
Di pagi yang dingin menusuk tulang dan embun pagi masih tampak bersinar di antara dedaunan. Aku terbangun dari tidurku, yang semalam telah kurajut sebuah mimpi indah. Mimpi-mimpi yang semalam

Memori Hujan Kenangan

Oleh:
“Duh PR-nya susah banget siiih!” Rengekan Elva setelah beberapa menit mengerjakan PR fisikanya. Seperti biasa Elva selalu mengerjakan PR-nya ketika sore hari, karena di saat-saat itulah kerja otaknya mengalami

Miss Eum nya Tak Mau Neneng Foto

Oleh:
“Jangan takut… karena rasa takut itu hanya bayangannya saja yang besar, seperti David menang melawan raksasa besar bernama Goliath itu tak akan terjadi tanpa keberanian yang besar!” Jumat 14

My Freaks Holiday

Oleh:
Liburan menurut gue sangat membosankan ketika gue liburan bersama bokap sama nyokap gue, karena setiap liburan kami selalu ke rumah saudara. Tiada liburan tanpa ke rumah saudara itulah motto

Kabut Yang Menutupi Senja

Oleh:
Duduk merenung di tepi pantai. Bosankah, bencikah, salahkah. Berjuta pertanyaan itu selalu muncul di benak hati Riani, senyum manisnya seakan pudar, hilang dan musnah tatkala ia tak lagi mengenali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *