Best Friend

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 15 May 2017

Siapa aku? aku adalah sesosok yang bisa berubah kapan saja. Tapi aku hanyalah sesosok manusia yang lemah, lemah dari segala macam yang sensitif terhadap segala yang membuatku terluka. Kadang aku selalu merasa begitu tak mengenali sifatku sendiri yang terkadang berubah rubah. Sampai aku terlupa akan sosok diriku sendiri. Sebenarnya apa yang membuat batinku lupa seperti apa aku. Aku terlalu melihat kelebihan orang lain, sampai aku sibuk dengan kekuranganku sendiri. Aku mulai berlari bersama kekosongan dalam diriku sampai aku lupa diri sebenarnya apa yang aku lihat dalam diri ini? aku terlalu takut melangkah untuk menapaki setiap langkah demi langkah. Sampai aku berjalan, lalu berlari hingga terjatuh. Rasa sakit itu tak terbendung, yah mati rasa. Entah apa yang membuatku seperti ini, mencari jati diri namun belum kutemukan pula. Apakah aku ini hanyalah seorang yang tak mampu bergerak kesana kemari dan hanya mengandalkan ketakutan? oh tidak! apa yang harus kulakukan? Lihat bunga di taman itu indah bukan? yah indah penuh dengan warna warni. Tapi kenapa aku tidak seindah bunga itu? aku pun menangis layaknya anak kecil yang menangis begitu keras. Tak lama dari belakang ada yang menepuk bahuku, aku menoleh. Aku pun langsung menghapus air mata di pipiku sambil tersenyum. Dan sesosok itu tersenyum manis di depanku dan langsung menyambar memelukku. “Tasya, kamu tenang yah? apa yang membuatmu sedih?”
“Tak apa apa kok nid.” Kataku sambil menatapnya.
“Kamu kalau ada yang menekan pikiranmu, cerita saja.” Sambil menyodorkan sebuah buku notes yang berukuran mungil berwarna pink ke arahku. “ini bukumu kan?”
Aku pun terengah dan cepat-cepat menggapai benda mungil berwarna pink. “kok, kamu tahu aku berada di taman?”
“Iya, tadi aku ke rumah kamu, mau kembalikan buku itu karena terjatuh di sekolah. tapi kata mamamu, kamu lagi keluar. Jadi tadinya aku mau pulang, tidak sengaja aku lewat taman, aku meilhatmu dan samperin kamu disini.” Sambil tersenyum manis ke arahku lalu tampaklah lesung pipi di kedua pipi gadis berambut panjang sampai pinggang. Kemudian berkata, “kalau kamu ada masalah kamu cerita aja, aku siap kok jadi tempat berbagimu.”

Oh yah, namanya Nidya dia itu teman sekolahku. Orangnya cantik, tinggi, pintar, terkenal dan suka mengikuti modeling antar provinsi. Dia sangat baik padaku. Dia begitu istimewa, ramah dan cantik. Dia selalu membantuku disaat aku kesulitan, entah dari mana dia pun tahu rumahku. Setiap ada kontes, dia selalu memintaku untuk memberi pendapat tentang kostum yang ia pakai juga penampilannya tak lupa sering berbagi sharing mengenai hal tulis menulis, dia sangat menyukai tulisanku. Tak heran beberapa majalah remaja yang termuat tentang dertan puisiku dan cerpenku dia membantuku menerbitkannya. Sampai aku memenangkan ajang tulis menulis dalam majalah puisi remaja. Hanya saja aku kadang terlalu takut dengan kemampuan yang kumiliki, rasa percaya diri yang membuatku tidak bertahan. Nidya selalu memberikanku arahan, orangnya begitu ceria. Nidya bagaikan saudara yang sangat berarti.

“Iya nid, makasih yah.” Sambil mengulas senyum padanya.
“Oke deh. Aku pulang dulu yah. Sampai ketemu besok”. sambil mencubit kedua pipiku kemudian berdiri lalu melambaikan tangannya, dan berlalu. Aku pun hanya mengangguk, setelah Nidya berlalu dari tempatnya dan menghilang. Aku pun bergegas pulang.

Setiba di rumah aku pun langsung menaruh buku mungil berwarna pink di atas meja. Lalu aku merebahkan badanku di atas tempat tidur, aku menatap langit-langit kamarku. Terbesit lagi di pikiranku, kenapa aku selalu diam di tempat dan takut terhadap sesuatu, rasa berani yang ada dalam diriku hanya sedikit dan lebih dikuasai rasa takut terhadap sesuatu. Itulah aku hanya mengandalkan tulisan demi tulisan yang kutuangkan di dalamnya. Yah hanya tulisan yang bisa memahami isi hatiku dan kucurahkan semuanya. Tak ada yang tahu seperti apa aku, karena aku pun juga tak mengerti seperti apa aku.

Tak lama aku tersadar dengan pemberian Nidya yang tadi sore memberikanku buku, apa Nidya membaca isi notes ini? oh tidak mungkin kataku. Walaupun kita selalu bersama-sama, tapi aku sangat tertutup, hanya entah darimana dia bisa mengenali karakterku dan bisa masuk dalam hidupku dan sedikit demi sedikit tahu tentang kepribadianku. Lalu aku pun bangkit dari tempat tidurku, aku mendekati meja belajarku lalu aku duduk, dan mengambil buku mungil berwarna pink. Aku pun menghela nafas lalu mulai membukanya. Di dalam buku itu aku melihat tulisan tulisanku tentang isi hatikuku curahkan di dalamnya, ada sebait puisi yang kusisipkan dalam deretan coretan tulisan tanganku di lembaran kertas.

Aku berjalan tanpa beralaskan kaki
Aku berjalan di atas batu kerikil kerikil kecil
Aku merasakan rasa sakit yang begitu perih.
Sampai aku sendiri tak kuasa menahan sakit itu.
Aku terus berjalan, berjalan dan berjalan
Aku berhenti, aku takut di depan sana begitu banyak yang melihatku
Melihatku menatap tajam bagai di terkam
Aku takut melangkah
Aku takut berjalan
Aku takut, aku takut, aku takut
Aku pun berhenti di tengah tengah perjalananku.
Tak berani melangkah, walau kaki ini tak kuasa sakitnya
Aku tertunduk, dan air mata jatuh di pipi
Hujan pun turun membasahiku, sampai sekujur badan dingin membeku
Membeku bagai es yang tak mencair
Berdiam diri dalam ruang kegelapan nan dingin

Saat aku selesai membaca aku membuka lembaran demi lembaran kertas. Sampai pada akhirnya aku melihat ada catatan kecil, “aku tak pernah menulis seperti ini” kataku dalam hati. “Tapi tunggu tulisan ini sepertinya aku mengenalnya, ini kan tulisan Nidya” aku tersentak kaget. Dan mataku mulai membaca deretan deretan kata itu.

Kamu adalah kamu
Kamu tak bisa menjadi saya
Saya tak bisa menjadi kamu
Itulah perbedaan kita
Lihat pada dirimu begitu sempurna
Tuhan menciptakan makhluk yang begitu sempurna
Tunjukan cahaya yang ada dalam dirimu
Yakinkan dalam hatimu
Tekadkan dalam impianmu
Bahwa dirimu begitu indah.
Langit yang biru, matahari yang bersinar
Membuat dunia begitu indah
Pancarkan sinarmu dengan caramu sendiri

Mataku pun berkaca-kaca melihat kumpulan kalimat yang ditulisi Nidya untukku. Aku pun melihat di halaman selanjutnya, tak tahan menahan bendungan air mataku saat aku membaca isi kalimat yang menyentuh perasaanku.

Goresan kecil untuk Tasya. “Sya, Maaf aku sudah lancang membaca buku catatan kecilmu, aku mengira ini hanyalah buku catatan sekolah. Tanpa sengaja aku membaca semua tulisanmu. kamu tidak usah takut dengan apa yang kamu hadapi, kamu bisa berjalan dengan baik kok, kamu jangan takut jika kamu mencoba hal hal yang baru buat kamu, kamu harus percaya diri dengan keyakinan dan bakat yang kamu miliki. Orang sukses tidak akan berhasil tanpa adanya kegagalan. Mereka bermula dengan kegagalan dan semua itu mereka jadikan pelajaran berharga. Dengarkan saja setiap komentar komentar yang kamu dapatkan, tapi ingat Tasya. Komentar positif kamu ambil sebagai acuanmu untuk bangkit dan komentar negatif kamu abaikan. Lihatlah orang-orang yang harus kamu bahagiakan termasuk orangtuamu. Perjalananmu masih panjang, jangan berdiam di tempat karena rasa takutmu. Apa lagi kamu sangat pandai dalam hal tulis menulis. Kamu sudah memenangkan lomba, disitu saya begitu bahagia. Ini adalah permulaan dari bakat yang kamu miliki. Tunjukan bahwa kamu bisa diandalkan. Biarlah saat ini orang-orang masih belum mengenalmu dan tak tahu siapa namamu, tapi ketahuilah keajaiban itu akan datang dengan keberuntungan yang kamu miliki dan datang secara tidak disangka sangka. Makasih yah sudah menjadi sahabatku selama ini. You are my best friend forever. You are the best, Tasya.

Setiba di sekolah dikabarkan berita yang tak disangka sangka, badanku terasa ngilu, pikiranku terasa kosong, hatiku sakit, aku pun menangis. Saat diumumkan di depan kelas bahwa atas nama Nidya telah meninggalkan untuk selama-lamanya. Disebabkan penyakit leukimia yang sudah dialaminya. Hanya saja Nidya selalu menyembunyikan penyakitnya tapi selalu tampak tersenyum, gembira seolah olah tak ada penyakit yang dideritanya. Ternyata kemarin adalah hari terakhir aku bersamanya, entah aku tak bisa bertemu dengannya lagi. Yang telah memberikanku semangat yang luar biasa sampai aku sadar akan semua ini. Terima kasih telah memberikanku arti hidup sebenarnya.

Cerpen Karangan: Pink Angel
Blog: cerpentulisan.blogspot.co.id

Cerpen Best Friend merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Last Best Friend

Oleh:
Bersahabat bukanlah hal yang mudah seperti apa yang kita bayangkan. Kenapa? Karena, satu sama lain harus saling menjaga perasaan dan kebersamaan di antara mereka. Namaku Angelia Vaira, dan aku

Cita-Cita Ashley

Oleh:
Pagi itu tidak seperti biasanya, raut muka Ashley kelihatan murung, tampak kesedihan yang teramat sangat tercermin di sana. Canda, tawa, dan semangatnya seakan sirna, kebiasaannya bersenandung setiap saat pun

3 sekawan (Part 2)

Oleh:
“Liu?” panggilku mengawali pembicaraan. “iya, Gus?” tanya Liu heran. “emm.. aku ke toilet dulu, kebelet.” pamit Naya meninggalkan kami berdua. Di situ aku tambah grogi karena duduk berdua dengan

Selamat Jalan Bibi

Oleh:
Aku terlentang di kamar rumah sakit Bunda dan Aku ( RS BA ). Sudah 3 hari aku berada di RS BA ini. Namaku Renata, lebih sering dipanggil Rena. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *