Bintang Hancurpun Tak Sepenuhnya Hancur

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 3 June 2020

Rasa tak pernah berbeda ketika seseorang merasa ingin sekali menang. Begitupun aku yang selalu menginginkan kemenangan. Saat ini aku hanya duduk diam berada di atas ranjang tidur. Balutan udarapun masuk ke dalam pori-poriku. Aku hanya berfikir keras, sekeras-kerasnya. Aku hanya bisa merasakan diriku yang mulai rapuh karena celoteh mereka.
Baiklah! Aku akan membeberkannya.

Hatiku rapuh benar-benar rapuh. Aku hanya ingin fokus untuk satu tempat saja, aku hanya ingin berjalan di satu tempat saja untuk saat ini. Semuaya hanya bisa membincangkan diriku, berkata aku takkan berhasil melakukannya. Dalam hati aku selalu menanyakan. Apakah diriku tak disayang tuhan? Apakah aku sudah dilupakan oleh tuhan? Apakah aku bisa menggapai semua cita dan anganku? Sebenarnya, apa yang akan terjadi nanti? Aku sudah tak kuasa menatap diriku. Bahkan untuk melihat masa depan, aku hanya bisa melihat dengan satu mata tertutup dan satu mata terbuka sipit. Aku tak kuat, aku rapuh. Karena celotehnya…

“apa yang sedang kamu lakukan di dalam? Keluarlah makan malam sudah siap.” Kata ibu yang berteriak dari dapur untukku.
“baiklah aku akan kesana beberapa menit lagi” ucapku, membalas teriakan ibu.

Tak lama ibu menghampiriku dan engetok pinti kamarku.
“sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan? Hampir setiap hari kamu selalu telat makan. Apa kamu membuat lagu lagi? Tak akan berguna, mengertilah kamu itu anak pengusaha hebat. Kamu harus meneruskan perusahaan ayah kamu. Sudah! Keluarlah ibu nggak mau tahu, kamu harus bersekolah dengan giat. Lupakan musikmu.” Ujar ibu.

Inilah hidupku, tak ada yang mendukungku sama sekali. Mereka hanya bisa menghela nafas besar untuk bisa menanganiku. Kini usiaku beranjak 18 tahun dan aku sudah terlambat jauh untuk belajar musik. Ya! Aku tak memiliki pengalaman bermusik sedikitpun. Namun aku menyukainya sejak aku kecil. Hanya sebagian mata saja mereka menganggapku itu hanya keinginan anak kecil saja. Namun bagiku ini adalah keinginan besar, aku ingin menjadi pemusik hebat. Namun hanya satu kelemahanku yaitu, aku tak pernah bisa memulai musikku saat orang sekitar mencelotehku.

“apa yang kamu kerjakan?” tanya ibu saat aku menghampiri meja makan.
“hanya menata baju di lemari” jawabku ringan
“baiklah. Ibu kira kamu membuat lagu lagi. Sayang, percayalah, kamu akan mendapatkan banyak uang jika kamu ikut mengelola perusahaan papa kamu dan gaji kamu juga tetap nggak seperti bermain musik.”
“iya baiklah. Bu apa ibu benar-benar membenciku jika aku bermain musik? Bagaimana dengan pengalam waktu kecilku?”
“masa kecil hanya sebuah kenginginan anak-anak. Kamu bahkan tak begitu bagus mengikutinya. Ibu tak membenci, namun ibu menginginkan kamu memiliki masa depan yang bagus dengan gaji tetap.”
“mmm… begitu…” aku tak mau meneruskan, aku hanya takut berdosa jika aku melanjutkan perbincangan ini.

Setelah makan aku masuk lagi ke dalam kamar dan memutar beberapa musik kesukaanku. Beginilah aku, setiap hari aku hanya menerka bagaimana dengan kehidupanku selanjutnya. Aku banyak mencari info bagaimana mengatasi ini dan aku tak menemukan satupun yang cocok denganku.

Aku hanya termenung, terjaga sembari menatap langit-langit kamarku, membuka dan menutup mata bahkan air mata tiba-tiba keluar dengan sendirinya di ujung mataku. Apa yang akan aku lakukan setelah ini? Aku lemah, aku seperti orang bodoh yang mencari lapangan untuk kebodohanku sendiri. Jutaaan hariku kuhabiskan dengan ketakutan besar.

Drrtt…
Aku melirik hp ku. Rasanya malas untuk mengambil hpku meskipun letaknya tak jauh dari jangkauanku.
Aku melihatnya temanku nesti mengirimkan pesan untukku.

Nesti
Sinta, bagaimana kabarmu? Apa kamu baik-baik saja disekolah barumu? Aku ingin mendengar ceritamu walau mungkin itu banyak. Ceritakan aku menunggumu… aku juga akan menceritakan diriku.

Nesti adalah sahabatku dari aku smp dia memiliki kepribadian yang baik dan semangat. Bahkan saat aku tidak betah di sekolahku sma yang pertama dia menyemangatiku meskipun dari jauh, hingga aku berpindah sekolah demi kenyamananku.

Sinta
Aku baik-baik saja. Disini lumayan menyenangkan, tidak seperti yang dulu. Meskipun begitu disini aku tak bisa mengeksplor hobi bermusikku aku terlalu minder.

Nesti
Hmm… sayang banget, menurutku kamu ada basic dalam bermusik meskipun (maaf) kamu tak terlalu bagus. Tapi kamu ada kekuatan untuk bermusik sinta. Lakukan jangan minder.

Sinta
Lupakan! Bagaimana denganmu? Aku dengar kamu juara olimpiade matematika? Apakah menyenangkan kehidupan sma mu?

Nesti
Iya aku juara 2, menyedihkan ya? Aku saat ini tidak begitu bahagia. Aku kehilangan sahabat dekatku di sekolah ini, dia pindah ke sekolah olahraga. Dan sekarang aku melakukan apapun sendirian, bahkan ketika jam olahraga tak ada satupun teman yang mau melatihku agar aku bisa olahraga dengan baik. Kau tahu kan aku tak begitu baik dalam pelajaran olahraga. Ini menyedihkan, aku berharap kamu ada disini, setidaknya ada yang menemaniku setiap hari.

Sinta
Hmm…juara 2 yang pentingkan juara, selamat yaa… aku benar ingin sekali satu sekolah lagi denganmu. Tapi, tidak bisa. Sekarang umurku terlalu tua untuk belajar musik. Aku tidak bisa berekspresi di rumah bahkan sekolah. So, sekarang aku hanya bisa mempersiapkan diriku untuk un tahun ini. Pasti teman kamu senang karena ada yang mendukungnya.

Nesti
tak ada yang namanya terlambat, kamu bisa. Nyatanya apa yang kamu lakukan selalu bagus, kamu hanya perlu sedikit sentuhan dan aku yakin kamu akan mengolah sentuhan itu menjadi indah. Semangatlah! Aku akan menyemangatimu dari sini. Maaf aku tak bisa berada di dekatmu saat kamu seperti ini. Sebenarnya sahabatku pindah orang tuanya sebelumnya tidak ada yang mengetahui satupun. Dia pindah ke sekolah olahraga dan mau mengulang dari kelas satu dengan uang kakaknya, dan sekarang orangtuanya marah besar padanya. Namun dia tak mempedulikannya, pihak sekolahpun menarikanya kembali. Sedangkan sekolah olahraga yang sudah dia masuki beberapa hari tak ingin melepaskannya, meskipun skillnya minim semangatnya cukup besar. Begitulah…

Sinta
berarti dia keluar dari sekolah dan masuk ke sekolah satunya, dia sendiri yang melakukannya? Sendirian?

Nesti
Iya, orangtuanya tidak pernah mendukungnya. karena kakaknya pernah mengalami patah tulang di bagian kaki, makanya dia tidak mendapat restu orangtuanya. Namun dia menemukan hal asik dalam berolahraga, bahkan kakaknya juga mendukungnya. Begitulah…

Sinta
Apa aku perlu nekat? Melakukan diriku untuk masuk ke dunia musik? Sedangkan aku tak memiliki uang sepeserpun untuk belajar musik, bahkan orangtuaku memperhitungkan pengeluaranku setiap bulan.

Nesti
Bukannya kamu bisa membuat cerpen? Puisi? Kirimkan semua tulisanmu ke aku. Aku akan memberikannya kepada jurnalistik sekolahku, jika tulisanmu masuk ke dalam majalah mingguan sekolah dan buletin, kamu akan mendapatkan beberapa uang. Kumpulkan itu. Aku akan membantumu.

Sinta
Benarkah? Apa benar kau akan melakukannya?

Nesti
Ya! Aku akan membantumu mengedit jika itu masih kurang bagus.

3 bulan kemudian setelah lulus dari sma
Hariku sedikit demi sedikit merasa lega. Hambatan kadang simpang siur. Namun tetap saja aku tak bisa membuka lebar kedua mataku, aku tak bisa menatap masa depanku dengan tenang. Untuk bermusikku aku sendiri masih takut mengeksplornya. Bahkan orangtuaku sendiri tak mengetahui aku yang sekarang mendalami musik di beberapa tempat untuk belajar musik (les musik).

Aku sudah lulus, jaminanku sekarang adalah kuliah. Namun aku merasa aku masih belum bisa untuk melakukannya, karena berkali kali orangtuaku menyuruhku untuk belajar bisnis. Namun tetap saja, aku ingin bicara baik-baik tentang musik di hadapan mereka.

“ayah, ibu. Bolehkah sinta bicara sesuatu?”
“bicara apa? Katakan saja.” Ujar ayahku sembari melipat koran yang sedang dibacanya.
“aku… aku… ingin kuliah di musik. Aku ingin mendalami musik”
“hmm… mulai lagi..” ucap ibu. “sebentar-sebentar, apa alasan kamu ingin belajar musik? Basic kamu kan bukan di musik tapi di bisnis? Bahkan kamu juga tak pernah mempelajarinya dari kecil. Mengapa dari awal kamu sma kamu selalu berbicara tentang musik? Coba jelaskan” sela ayah.
Ibu yang tadinya sedang menyetrika langsung duduk di samping ayah.

“ya. Memang aku tak pernah belajar, bahkan pengalaman bermusikku juga tak bagus sama sekali. Namun saat ini aku tahu, apa yang kupelajari dari dulu buakan atas kemauanku sendiri tapi kenginan ibu dan ayah agar aku bisa meneruskan bisnis ayah dan ibu. Sedangkan sekarang aku ingin membuat jalanku sendiri. Izinkan aku, anggap saja belajar musikku ini adalah pekerjaan sampinganku nantinya. Untuk bisnis ibu dan ayah aku janji akan meneruskannya. Dan jika ibu dan ayah tidak mau memberiku uang untuk bersekolah, tidak apa. Aku akan berusaha mencarinya. Percayalah! Apa yang aku inginkan ini bukan keinginan buruk seperti kejadian-kejadian sma ku saat berpindah sma.” Paparku di hadapan ibu dan ayah. Kini ayah dan ibuku terdiam menatapku seolah khawatir mengahadapiku saat aku berbicara seakan pasrah.

“sebenarnya ibu bukan tidak setuju. Namun ibu khawatir…” ucap ibu.
“hmm… begitupun ayah, ayah benar-benar sangat khawatir. Bagaimana jika kamu tidak bisa terkenal di dalam musikmu? Bagaimana kamu bisa mendapatkan uang dari musikmu? Semuanya punya massa dan massa itu akan habis jika sudah tidak ada lagi yang mendukungmu. Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tak bisa tenar?” papar ayah, kini aku mulai paham kalau ayah dan ibu bukan tidak memperbolehkan aku bermain musik melainkan mereka khawatir terhadap masa depanku.

“baiklah.. jadi begini. Jika masa ku sudah habis. Aku akan menjadi produser musik, aku akan menjadi penulis lagu, aku akn menjadi komposer musik. Dan itu tak akan habis… aku akan menghasilkan uang dari situ. Yang ayah dan ibu fikir adalah, jika aku menjadi artis dan aku turun daun apa yang aku lakukan? Begitukah? Maaf bukannya sinta ingin memberontak, melainkan sinta ingin ayah dan ibu mengerti apa yang sedang sinta inginkan.”

“apa benar kamu menginginkan itu? Bukan menjadi penyanyi?” ucap ibu.
“ya. Menjadi penyanyi bisa dibilang hanya sampingan, namun untuk produser, penulis, komposer itu yang utama.”
“hmm… ayah benar-benar salut. Kamu mempunyi keinginan dewasa, lakukanlah. Ayah akan membantumu untuk mewujudkan itu. Apa ibu setuju?”
“hmm… pasti. Ibu juga akan mendukung. Ibu akan mensuport juga. Ibu kira kamu hanya menyukai ketenaran, namun ternyata kamu juga menyukai ketenaran dibalik panggung. Ya! Lakuakan” senyum ibu berimbuh-imbuh.

Aku menatap kedua orangtuaku. Aku selalu menganggap mereka adalah penceloteh terbesar untuk menurunkan keinginan kuatku. Namun pada kenyataannya, mereka hanya khawatir. Aku mulai paham, sekarang aku sepertinya tumbuh sedikit lebih dewasa.

3 tahun kemudian
Aku menyukai hidupku, meskipun aku sering menangis ketika tugas kuliah mulai menghantam. Aku tertawa hingga lupa jika aku sedih aku tak bisa mengingat bahwa aku juga pernah bahagia. Saat ini adalah tempatku. 1 tahun yang lalu beberapa produser mengenalku, beberapa bulan kemudian aku mulai dikenal dengan musikku, hingga kini aku meraih semuanya. Saat ini bukan aku dengan musikku yang terkenal melainkan diriku saja sudah banyak yang mengenalku. Ayah dan ibuku selalu berada di sampingku bahkan ketika aku terjatuh hingga bangkit.

Kedewasaanku mulai tumbuh. Saat ini aku mulai berfikir jernih. Aku paham sebenarnya aku bisa menggapai ini dari dulu, namun aku terlalu takut mempijaknya. Aku takut untuk menatapnya, bahkan sampai saat ini aku hidup rasa khawatirku terhadap masa depanku masih ada. Namun bedanya aku mulai bisa membuka kedua mataku meski ada kekhawatiran di dalamnya.

Untuk kalian…
Jangan takut menghadapi apapun. Katakanlah keinginanmu, namun pastikan dulu apa itu keinginan kuatmu atau hanya sebatas cucuran keinginan kecilmu. Hidup ini fleksibel jika kalian bisa fleksibel juga. Hanya bertahan dan tersenyum, karena di dunia ini tak pernah ada yang tidak membantumu. Bertahan, kuat, dan berdo’a. Kunci itu akan membawamu masuk ke lorong yang kamu inginkan dengan baik. Kuat dan yakin! Jangan kau lupakan.

Terimakasih dan sampai jumpa

Cerpen Karangan: Sinta Za
Blog / Facebook: Sinta Za

Cerpen Bintang Hancurpun Tak Sepenuhnya Hancur merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bangkit

Oleh:
manya Dani Putra Nanda, Adek begitulah orangtuanya memanggilnya. Dia merupakan anak satu-satunya dari keluarga itu, semenjak kecil kedua orangtuanya telah mengajarkan benih-benih kebaikan agama Islam kepadanya. Menginjak masa remaja,

Aku Berbeda

Oleh:
Sesaat kutundukkan kepalaku, duduk tidak tenang dan perasaan ragu-ragu. Bagaimana menjawabnya? Apa yang harus aku katakan? “Mbak Tania?” suara itu terdengar seperti tepat di telingaku. “Hemm… saya… saya…” sembari

Hitam Putih Pergaulan

Oleh:
Dalam kenangan masa lalu yang sangat buruk tentu Naila tak mau lagi jatuh ke jurang yang sama. Karena salah memilih sahabat, ia menjadi anak pemalas dan boros. Sebelumnya ia

Anak Sulung Ibu

Oleh:
“Bareng yan?” tawar Amar, temanku ini sangat bersemangat dengan acara ngejus (minum jus rame-rame) lepas sekolah nanti. “gak Mar! Maaf aku harus nunggu cacakku, dia ada extra siang ini”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *