Biola Sang Maestro

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 July 2016

Yola Viola, seorang gadis desa berumur 17 tahun yang dianugerahi bakat bermain musik. Dari sekian banyak alat musik yang pernah dimainkannya, Yola lebih tertarik untuk bermain biola. Suara lembut nan syahdu yang keluar dari biolanya menghipnotis siapa saja untuk larut mendengarnya hingga akhir.

Sore itu Yola duduk di teras sembari menunggu ayahnya pulang.
“wah tumben sekali anak semata wayang ayah menanti kedatangan ayahnya pulang.”
“ayah, ih ayah bikin Yola kaget aja.” Kata Yola yang terkejut mendapati ayahnya datang dari pintu belakang.
“ada apa nih, tumben sekali kamu mau menyambut ayah pulang?” Tanya ayah heran.
“begini yah, sudah 10 tahun ini aku bermain biola sejak kematian ibu.”
“lalu”
“ih ayah apaan sih, 10 tahun aku bermain biola dan 10 tahun juga aku harus meminjamnya dari kak Vani.” Kata Yola sambil cemberut
“ayah tau apa yang kamu mau.” Ayah masuk ke dalam rumah, tak melanjutkan perkataannya.
“yah malah masuk, huh” keluh Yola
“kalo kamu mengeluh tak jadi ayah berikan ini untukmu”
Alangkah terkejutnya Yola mendapati ayahnya datang membawa biola. Sebuah biola yang sebenarnya cukup tua tapi tampak masih kokoh dan kuat.
“ini biola untuk kamu, cukup tua memang untuk ukuran biola yang ada sekarang, tapi bukankah sebuah biola akan menghasilkan suara merdu nan syahdu dari tangan tangan dan jari jari terampil? Bukan dari tua atau mudanya biola tersebut nak?” kata ayah sambil memberikan biola tersebut beserta kertas brosur.
Sebuah kertas kecil berisi ajakan untuk mengikuti kontes biola. Kontes yang akan diadakan pada hari minggu 11 Januari di aula gedung serbaguna. Dan juga berisi pemenang mendapatkan uang tunai sebesar 10 juta dan juga gelar maestro biola.
“Menangkan kontes ini dan buat ayah dan ibu bangga”. Sebuah kalimat yang keluar dari mulut sang ayah terngiang ngiang di kepala Yola.
“apakah aku bisa?”
“apakah kemampuanku cukup untuk bersaing dengan mereka yang mungkin ikut kursus biola?” batin Yola mulai tidak tenang.

Siang itu sepulang sekolah Yola mulai berlatih dengan biola tua barunya.
“aku harus bisa. Aku harus bisa membuat ayah bangga denganku, dan juga semoga ibu esok melihatku tampil”.
Hari demi hari berlalu. Akhirnya sampailah pada hari kontes. Hari yang membuat batin Yola bercampur aduk. Dengan ditemani sang ayah berangkatlah Yola menuju tempat diadakannya kontes itu. Dengan hangat sinar matahari pagi dan diiringi nyanyian burung burung membuat Yola dapat sedikit menenangkan batinnya.
“ayah akan menuju ke tempat penonton, ini untuk pendaftarannya.” Kata ayah sembari memberikan uang 50 ribu kepada Yola.
“ayah, aku berjanji tak akan mengecewakanmu. Akan aku menangkan kontes ini dan membuatmu serta ibu bangga.” Kata Yola sembari menuju ruang pendaftaran.
“saya mau mendaftar mas, ini uangnya.” Yola memberikan uang 50 ribu kepada petugas pendaftaran.
“oke dek, nomor 40 ya.” Kata petugas pendaftaran sembari memberikan nomer kepada Yola.
“pesertanya berapa orang mas?” tanya Yola
“40 orang dek.” Jawab petugas pendaftaran
“duh apes.” Batin Yola

Satu per satu para kontestan mulai unjuk gigi. Ada yang tampil bak artis dengan pakaian mewah dan berkalungkan emas, ada juga yang tampil hanya tampil menggunakan kaos oblong seperti Yola. Memang yang dinilai dalam kontes kali ini bukanlah pakaian akan tetapi suara yang dihasilkan oleh biola itu sendiri.

Sang surya mulai meninggi dan kontestan nomer 39 telah tampil.
“berikutnya adalah kontestan nomer 40, Yola Viola.” Kata host kontes tersebut.
Yola dengan percaya diri mulai berjalan menuju panggung, panggung yang jika Yola berhasil menghipnotis para juri akan menjadi panggung impian.
Yola menghela nafas dan mulai memainkan Biola tuanya. Sebuah nada indah nan syahdu mulai terdengar dari biola tersebut. Perpaduan antara jari jari lentik Yola dalam mengolah kunci nada dan gesekan busur biola membuat semua penonton yang hadir kagum, kagum akan nada merdu yang keluar dari biola tua membuat mereka larut dalam permainan biola Yola hingga akhir. Setelah not pamungkas selesai dimainkan Yola.
“prok prok prok.” Tepuk tangan juri dilanjutkan oleh penonton membuat aula gedung serbaguna itu riuh.

“Yola kamu memainkan nada indah dengan biola tua, saya tadi sempat berpikir apakah kamu mampu menciptakan nada indah nan sayahdu dengan biola itu? Dan kamu menjawabnya dengan sangat sangat indah. 10 buat kamu.” Kata juri 1
“saya setuju, jujur saya tak bisa berkomentar apa apa mendengar nada yang begitu sempurna bagi saya. Saya kasih kamu nilai yang sempurna juga, 10.” Kata juri kedua
“baiklah karena kedua juri sudah memberi nilai perfect kepada Yola, artinya pemenang kontes biola tahun ini adalah Yola Viola.” Teriak host kontes.
“wuh hebat.”
“luar biasa.”
“prok prok prok.”
“dengan demikian Yola berhak mendapatkan gelar maestro dan uang sebesar 10 juta.”
“prok prok prok.”
Luar biasa memang applaus yang diberikan penonton kepada Yola. Bahkan tak sedikit yang memberikan standing applaus untuk Yola.
“ternyata jika aku yakin bisa pasti bisa yah.” Kata Yola sang maestro biola dalam hati.

Cerpen Karangan: Andi Riswahyudi
Facebook: Andy Yudi

Cerpen Biola Sang Maestro merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Matahariku

Oleh:
Mungkin aku akan berhenti mengejar matahari yang selalu aku ikuti bayang-bayangnya. Berhenti sebelum aku lelah dan letih mengejarnya, sebelum aku bertemu rasa passionless. Setelah membaca buku Morning Light, aku

Cinta Tak Terbalas

Oleh:
Ah… keluh Nafiah arsum yang biasa orang-orang memanggilnya nay, yang sedang mengantri bersama seorang pria paruhbaya yang mungkin saja itu adalah ayahnya, untuk mendaftar di SMA mata nay mencari-cari

Masa Masa Yang Tak Akan Kembali

Oleh:
“Rumah Angker Pondok Indah, Kaw*n Kontrak 3, Per*wan Seberang, cih, apaan nih, engga jelas banget nih film film Indonesia.” Aku menggerutu sendiri, lirih, melihat daftar filem filem Indonesia yang

Dicomblangin

Oleh:
Kenalin nama gue Yusuf Abdul Rahman (baca: Ucup) gue adalah seorang Mahasiswa labil yang baru saja merasakan kebebasan setelah tiga tahun terperangkap dalam dunia kegelapan dan kealayan anak-anak SMA.

Cinta Koin

Oleh:
Lagi-lagi aku dihukum, aku disuruh hormat bendera hanya ditemani sekeping koin yang berada di samping kaki ku, terlihat sangat bening, tapi di sisi lainnya kotor sekali, aku rasa itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *