Bullying In Last 15 Years

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 February 2018

“Ibu Thalita, ini berkas-berkas penerimaan karyawan-karyawan baru di perusahaan kantor kita”
“Ah, iya taruh saja di meja saya ya, terima kasih”
“Iya Bu”

Thalita masih memandang kota Jakarta dari ruangan di kantornya. Ia mengingat kembali kenangan pahitnya ketika di sekolah.

“Woi minggir minggir woi, orang miskin mau lewat! Awas nanti kebauan” ledek Keshy. Thalita menghembuskan nafas kesal. Ia ingin marah, tapi untuk apa marah? Ia hanya orang kelas bawah. Ia buru-buru berlari menuju kelasnya. Lalu duduk di bangku yang paling belakang. Menaruh tangannya di meja dan kepala menunduk.
“Sabar ya Lit” hibur Rika sambil mengelus-elus pundak sahabatnya itu. Hanya Rika yang mau berteman dengan Thalita.
“Makasih ya Rika, kamu udah jadi temenku” kata Thalita sambil menyeka kristal bening di pelupuk matanya.
“Gak masalah, jangan nangis lagi ya” sahut Rika. Thalita tersenyum.

“Lit ke kantin yuk” ajak Rika semangat. Thalita tampak lesu.
“Aku gak punya uang, Rika. Maaf ya aku gak ke kantin”

“Ayolah, aku traktir” bujuk Rika.
“Jangan Rika, nanti uangmu habis!” tolak Thalita.
“Nggak, udah yuk!” paksa Rika sambil menarik tangan Thalita ke kantin. Thalita hanya menurut saja.

Di kantin tampak ramai. Semua siswa maupun siswi berdesak-desakan dikantin.
“Kamu mau beli apa Lit?” tanya Rika. Thalita kebingungan, karena makanan yang tersedia mahal-mahal semua.
“Aku lontong aja deh,” kata Thalita. Karena ia pikir, lontong itu murah. Hanya seribu rupiah saja.
“Kok lontong sih? Kamu pilih aja yang mana terserah, aku bayarin!” bantah Rika.

“Mahal-mahal semua, Rika” ucap Thalita lirih.
“Gak apa,” kata Rika. “Aku beli nasi goreng sama puding berry, kamu beli apa?”
“Hmm aku bakso urat aja deh sama es teh,” ujar Thalita pelan.
“Ya udah tunggu sini ya! Aku pesenin dulu ama ibu kantin” Thalita mengangguk.

Tiba-tiba segerombolan anak perempuan datang menghampiri Thalita. Mereka berjumlah 5 orang. Thalita kenal betul siapa mereka. Mereka adalah Michelle, Afika, Cyntia, Resia, dan Caca di Geng CCC, alias Cewek Cewek Cantik. Ketuanya, yaa si Michelle.

“Eh lo anak miskin, tumben jajan di kantin? Di sini kan makanannya MAHAL-MAHAL!” tanya Resia sinis.
“Iya! Eh gua tau lo pasti dijajanin kan ama Rika?! Alah lo mah bisanya manfaatin kebaikan orang aja,” tuduh Cyntia.
“Lo tuh gak pantes disini! Ya gak guys?” tanya Michelle pada anggotanya. Afika, Cyntia, Resia, dan Caca menganggu setuju.

Tangan kanan Caca memegang segelas jus mangga, sedangkan Afika memegang segelas susu coklat. Secara serempak, mereka berdua menyiramkan kedua minuman itu ke badan Thalita. “Itu buat lo, dasar gak tau diri!” cetus Caca kesal.
“Dan ini juga buat lo, dasar sok sok polos” sambung Afika. Michelle tertawa sinis, lalu mengajak anggotanya pergi dari kantin.

Thalita menangis sesenggukan di toilet perempuan.
“Mereka jahat!! Mereka jahat!!” teriak Thalita histeris.
“Siapa yang jahat, Lit?” tanya seseorang. Rika. “Kamu kenapa? Kok pergi dari kantin? Trus ini baju kenapa basah?” tanya Rika bertubi-tubi. Thalita diam.
“Anak CCC lagi? Disiram pake minuman?” tanya Rika memastikan. Thalita mengangguk. Rika tampak iba, teman terbaiknya ini selalu saja menerima perlakuan kasar dari teman-temannya sendiri. Bully. Sejak itu, Thalita mulai menjauhi semua orang, Rika juga ia jauhi.

Kejadian itu masih ada diingatan masa kecil Thalita. Bully itu membuat jiwanya terguncang. Itu dulu, 15 tahun yang lalu. Kini ia bangkit kembali, dan sukses menjadi seorang pimpinan perusahaan di kantornya.

Thalita teringat akan berkas-berkas penerimaan karyawan-karyawan baru di kantornya. Ia memeriksa satu-satu. Setelah membuka sebuah kertas, ia terhenyak. Michelle. Michelle Afirga Listya. Teman masa kecilnya dulu di sekolah. Teman yang selalu berlaku buruk padanya. Teman yang mampu membuat jiwanya terguncang selama bertahun-tahun bersama teman-temannya. Teman yang… Ah. Sulit melupakan kejadian itu. Thalita membuang kertas yang berisi berkas yang pemiliknya bernama Michelle. Bukannya apa, ia ingin melupakan jauh-jauh kejadian itu. Kejadian 15 tahun yang lalu.

Cerpen Karangan: Salma Suhailah Rajwa
Haii, ini cerpen ku yang ke 4, komen yah

Cerpen Bullying In Last 15 Years merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Merindu

Oleh:
Sebuah gelas pun enggan diisi air yang butek, sekali saja diisi air butek, tak terbayang bagaimana bekasnya, bakal susah dibersihkan. Yaa seperti halnya manusia, makan dan minum pun harus

Cinta Yang Sempat Terputus

Oleh:
“woy sya tunggu gua kenapa sih!” teriak nita sahabatku yang enggak ku perdulikan, hati ku benar-benar hancur melihat robby, orang yang aku cintai ngungkapin perasaanya ke cewek lain di

Nilai Seratus

Oleh:
Hangatnya secangkir teh manis buatan ibuku menghangatkanku di tengah-tengah dinginnya pagi. Aku melahap sesuap demi sesuap nasi bercampur sayur tak lupa tempe yang menambah nikmat dalam sarapan pagiku. Lalu,

Senyum Terakhir

Oleh:
Malas adalah kebiasaan burukku, Orang-orang memanggilku dengan sebutan Ade dan sahabat baikku adalah Bagas, banyak yang mengatakan bahwa kami seperti saudara kembar. Sahabatku adalah Anak yang cukup rajin dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *