Dengarkan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 7 November 2016

“Dengarkan…”

“Tolong aku. Kumohon, siapapun tolong aku.”

Jika saja aku diberi kesempatan untuk meminta sesuatu dari Tuhan yang bisa langsung terkabul, aku hanya akan meminta satu hal. Bukan untuk membuatku bahagia. Bukan juga untuk mengambil hidupku. Aku hanya akan meminta pada Tuhan agar ketika aku terbangun dari tidurku esok pagi, aku telah kehilangan semua ingatanku. Bukan hidupku, aku hanya ingin Tuhan mengambil semua ingatanku. Karena sungguh, ingatan ini selalu saja menerkamku. Semakin aku berusaha untuk membuangnya, justru semakin lekat ingatan itu di dalam pikiranku. Masih memiliki ingatan ini seperti aku telah kehilangan hidupku. Entah bagaimana ingatan ini membuatku sesak.

“Apa yang kau lakukan? Semua orang memerhatikanmu!” Suara itu sama sekali tak membuatku bergerak. Aku masih terduduk dengan nampan dan piring yang berantakan di hadapanku. Ya, aku terjatuh dan masih belum terbangun. Aku masih di dalam posisi yang sama. Terduduk dengan tatapan kosong. Aku merasa dunia ini tak adil. Mengapa disaat semua orang nampak bahagia, seolah hanya aku saja yang merasakan hal seperti ini. Sesak yang tak pernah ada habisnya.

Kedua tangan itu menggenggam erat kedua lengan atasku dan mencoba menarikku untuk berdiri. Aku mengalihkan pandanganku dan menatapnya. Kedua mataku sudah dipenuhi oleh air. Air yang sebentar lagi akan terjatuh menjadi bulir dan tak akan pernah dapat aku bendung lagi ketika bulir itu sudah berjatuhan, “Sadarlah! Semuanya sudah berakhir!” seruan itu membuat kedua lututku semakin gemetar dan membuatku tak sanggup berdiri. Aku terjatuh ke dalam pelukan seseorang itu dan menangis sejadinya. Seolah aku sudah tidak bisa menghentikan tangis itu, dan aku semakin kesal sehingga tangisan itu semakin menjadi-jadi.

Setidaknya saat ini aku sudah mulai tenang. Meneguk satu gelas teh hangat itu cukup membuatku tenang meski sesekali aku masih terhanyut dalam ingatan itu.
“Yang sudah pergi, biarlah pergi. Kau tak perlu menyesali apapun. Dan berhenti menyiksa dirimu sendiri seperti ini. Apa kau tak merindukan kehidupanmu yang dulu?”
Kehidupan yang dulu? Mengingat kehidupanku yang dulu, tentu saja aku sangat merindukannya, “Merindukannya pun aku tak bisa membuat kehidupanku kembali seperti itu.”
Ibu jari sepasang tangan itu menyeka air mataku yang hendak mengalir, “Air matamu. Jangan biarkan mereka mengalir lagi. Jangan kalah.”
Aku terdiam. Pikiranku kembali tenggelam. Aku seolah memiliki dua sisi yang berbeda di dalam diriku. Satu sisi seolah mengerti bahwa alasannya melakukan hal itu adalah untuk kebaikanku. Itu adalah niat baik yang seharusnya aku hargai. Sedangkan di satu sisi yang lain, seolah diriku tidak bisa menerima perlakuan seperti itu. Aku marah dan harga diriku terluka. Dan yang paling menyakitkan dari hal itu adalah aku menjadi seseorang dengan dua sisi seperti itu. Sangat menyakitkan ketika dua sisi itu berdebat. Aku sudah berusaha menghibur diriku sendiri. Aku melakukan semua hal yang menyita waktuku. Tertawa seperti orang gila.

Yang paling membuat dadaku sesak adalah ketika aku terluka dan aku berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Aku tersenyum dan tertawa pada semua orang seperti orang gila. Padahal sama sekali tak ada hal yang lucu. Aku berbicara tanpa henti padahal aku sendiri menyadari bahwa apa yang aku bicarakan itu sangat tidak penting. Aku mencoba menghibur diriku sendiri dan mengatakan pada diriku bahwa semua akan baik-baik saja. Sedangkan diriku sendiri, jauh di dalam hatiku.. aku telah tenggelam. Jatuh dan entah bagaimana nanti aku akan bangkit. Hanya orang-orang tertentu yang akan menyadari perubahan sikapku.

Aku ikut tertawa meski aku tak tahu apa yang harus aku tertawakan. Karena ketika aku hanya terdiam dan tenggelam dalam ingatanku, aku hanya akan menangis dan menangis. Entah, Tuhan mengatakan jika manusia pasti memiliki daya tahan yang jauh lebih besar daripada cobaan itu sendiri. Tapi, entahlah aku sendiri tak yakin pada diriku sendiri. Aku percaya bahwa suatu hari aku bisa melewati ini. Dan di hari itu aku hanya akan mengenang ingatan ini sebagai bagian dari masa lalu dan sesekali menertawakannya. Apa aku bisa langsung menuju masa itu? Tanpa harus merasakan sesak ini lebih lama. Tersiksa? Tentu saja aku tersiksa. Setiap hari.

Tangan itu menggenggam erat kedua tanganku seolah menyadarkanku bahwa duniaku belum berhenti. Aku sempat merasa bahwa dunia telah berhenti dan aku terperangkap di dalamnya. Namun genggaman itu menyadarkanku bahwa aku masih memiliki kehidupan yang seharusnya aku syukuri. Bukan malah sibuk meratapi perasaanku sendiri. Aku masih dua puluh tahun dan perjalananku masih panjang. Tak seharusnya aku berhenti disini.

Aku tak membenci siapapun yang menyakitiku. Aku juga tak menyalahkan siapapun dalam hal ini karena aku tahu bahwa hal ini juga tak akan terjadi jika aku sudah menutup pintunya dari awal. Ini juga kesalahanku. Aku harus kembali. Kembali pada kehidupanku yang dulu. Aku masih memiliki banyak orang yang peduli padaku. Terutama keluargaku dan seseorang yang saat ini ada di hadapanku. Aku melihat senyumnya begitu lembut dan menggenggam erat tanganku dengan tangan kirinya. Tangan dimana aku melihat sebuah cincin perak melingkar di jari manisnya. Tunanganku. Tunanganku yang telah berada di suatu tempat yang jauh. Tempat dimana aku tak akan pernah bisa menyusulnya. Surga.

“Yang membuatmu terjatuh adalah takdir. Tapi yang membuatmu tak bisa bangkit lagi adalah pilihanmu sendiri.”

SELESAI

Cerpen Karangan: Amita Apriyanti
Blog / Facebook: fiktifmita.blogspot.co.id / Amita Apriyanti
Namaku Amita Apriyanti dan aku masih 19 tahun. Nama penaku adalah Mhee. Aku sangat menyukai dunia kepenulisan. Saat ini aku masih mencoba untuk menerbitkan salah satu novel karyaku. Dan saat ini juga aku tengah membuat novel baru dan masih sampai di Bab II. Ini adalah cerpen yang aku buat secara otodidak, tanpa ada rencana apapun. Cerpen ini tercipta. Mungkin 15 menit aku membuat cerpen ini. Bagaimanapun, semoga kalian suka dan bisa memberikan sedikit inspirasi yaaa. Selamat membaca..
Terima kasih

Cerpen Dengarkan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tetap Bercahaya, Lilinku

Oleh:
Hujan yang turun di sore itu membuat Aditya termenung. Sambil menatap alam sekitar yang dibasahi hujan, Adit pun memanggil “ma..ma, pa..pa” dengan suara yang kedengarannya tak tahan rindu. Mendengar

Maaf Aku Meninggalkanmu

Oleh:
Namaku Adel. Aku bersekolah di salah satu SMA swasta di jawa tengah. Aku sangat suka bunga karena di setiap kelopaknya aku menaruh harapan untuk esok. Aku mempunyai seorang kekasih

Keadaan Atau Kehendak

Oleh:
Aku memang bodoh, dan cinta yang membuatku seperti ini. Dua tahun yang lalu aku dan kamu dipertemukan oleh tuhan untuk saling mengenal satu sama lain. Aku ingat saat kali

Kesalahanku Melepasmu

Oleh:
Aku pacaran sama (dia) sudah 4 tahun lebih sejak kami SMP, dan hubungan kita memang sering ada konflik bahkan putus nyambung. Tapi akhir di pertengahan anniversary setelah itu hubungan

Cukupkah Kata Maafku ini?

Oleh:
“karena kamu yang aku tunggu..” kata itu menjadi kata yang paling berkesan yang pernah aku dengar. Bisa dibayangkan bagaimana tersanjungnya hati seorang cewek kalau dapet pujian seperti itu dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *