Desparate Dialogue With My Otherself

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 20 October 2017

Orangtuaku menjadikanku sebagai Investasi untuk masa depan. Namun yang kulakukan justru membuat mereka kecewa bila mereka tahu faktanya. Tanpa sepengatahuan orangtuaku Aku bertindak sebagai koruptor di kehidupanku.
Koruptor? Maksudmu?
Bagaimana tidak, aku telah mengkorupsi banyak waktuku. Anggaran Waktu yang semestinya kuasosiasikan untuk sesuatu yang berguna, aku gunakan untuk main-main. Aku juga kurang menghormati guruku, aku pemalas dan ceroboh. Sungguh amat buruk jika aku ceritakan lebih dalam.

Lalu apakah kau tak merasa bersalah atas tindakanmu dan apakah tak terbayangkan olehmu untuk berubah menjadi lebih baik?
Seburuk-buruknya aku, aku juga punya pikiran untuk berubah. Namun, begitulah aku, aku kurang percaya diri untuk bisa merealisasikan apa hal yang lebih baik yang sepatutnya kulakukan. dan bodohnya lagi, aku juga lebih memprioritaskan hal-hal yang sebenarnya kurang penting untuk kulakukan.

Bagaimana apa kau tercengang?
Aku turut prihatin padamu, namun aku juga harus bersikap objektif. Bagaimana bisa kau lakukan itu pada dirimu? Apa kau tak menyayangi dirimu? Hidupmu tak semurah itu, coba kau pikirkan mekanisme tubuhmu. Contohnya jantungmu.

Jantugku? Ya coba kau bayangkan jantungmu ia tidak pernah mengeluh lelah karena terus menerus berusaha memompa aliran darahmu agar kau bisa bernafas agar kau bisa hidup! Bahkan sekalipun ia sedang tidak sehat, ia tidak pernah mencoba berbicara berkeluh kesah padamu, bahkan sekalipun ia sangat lelah ia akan malu untuk terus terang padamu bahwa ia tak sanggup lagi bergerak. Ia ikhlas melakukan itu tanpa kau suruh dari kesadaranmu, ia ikhlas membuatmu merasakan kehidupan yang bahagia. Dan jika seandainya juga ia hampir sekarat ia tidak pernah mengungkapkan padamu secara eksplisit tentang perasaanya, mungkin ia hanya akan mengirimkan emosi terselubungnya padamu, dan kuyakin kau mungkin tak akan peka. Dan asal kau tahu jika kau menderita penyakit jantung parah kau butuh banyak biaya untuk pengobatanmu dan yang paling menyeramkan donor dan cangkok jantung yang mahal itu tidak menjamin kesembuhanmu!.

Hah apaa sih kau barusan pidato? menakut-nakutiku saja kau ini. Apa kau benar-benar tidak mengerti maksudku? Intinya kau harus menempatkan malu dan percaya dirimu dengan tepat kau harus malu jika kau tidak bisa berbuat baik untuk keluargamu dan kau juga harus percaya diri ketika kau punya niat baik untuk hidupmu, jangan pernah pikirkan lebih hal buruk yang mungkin terjadi atas tindakakanmu yang belum kau lakukan itu
Karena kalau kau tak mencoba kau tidak akan temukan jawabannya, kau paham sekarang?

Sekarang kau tampak seperti penceramah, eh eh iya iya aku ngerti maksudmu kok, makasih deh nasihatnya, bagian diriku yang lain.

Cerpen Karangan: Anisa Risma Wati
Facebook: Anisa Risma Wati

Cerpen Desparate Dialogue With My Otherself merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Don’t Give Up Clara

Oleh:
Namanya Clara, ia adalah sahabatku yang sangat pasrah akan segala hal. Ia tidak pernah percaya diri dan merasa terendah dari semua orang. Teman-teman sekolahku pun tak ada yang mau

Kapsul Cita-Cita

Oleh:
Matahari mulai terbit dari ufuk timur dan mulai menyelinap masuk menerobos jendela kamar Nia. Tak lama kemudian terdengar seseorang membuka pintu kamar Nia perlahan dan dengan suara lembutnya membangunkan

Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?

Oleh:
Hai, namaku Hani. Sekarang, aku tengah menduduki bangku Kelas Enam semester dua. Tentu kalian tahu bukan, sebentar lagi aku harus mengikuti Ujian Nasional SD. Aku paling takut akan UN,

Sulut Kehidupan

Oleh:
Aku memulai pagi hari ini dengan senyum di wajah. Hari ini merupakan hari yang kunanti-nantikan sejak sepuluh tahun yang lalu. Sepuluh tahun bukan merupakan waktu yang singkat untuk dilewati,

Buta Bukanlah Akhir

Oleh:
Namaku Rina. Umurku sembilan tahun kelas 4 SD. Aku sekolah di Girls International Junior High School, sekolah khusus perempuan. “Bun, Rina berangkat ya!” Kataku. “Hati hati.” Bunda menyahut sambil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *