Di Antara Nada Nada dan Spektrum Warna

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 February 2017

Gelap. Hitam pekat. Tiada warna, tiada cahaya. Itulah pemandangan yang selalu menemaniku di setiap hari. Memang tidak mudah terlahir sebagai tuna netra, terbiasa dengan kegelapan yang mencekam, tanpa celah bagi cahaya untuk masuk. Aku benci keadaanku ini. Aku benci terlahir seperti ini. Ada banyak hal yang ingin kulakukan, banyak hal yang ingin kucoba, tetapi kekuranganku ini selalu menghambatku, selalu menghalangiku dari mencapai apa yang ingin kucapai.

Sembari mengehela napas panjang, aku melanjutkan perjalananku menyusuri lorong. Aku telah menghapal setiap belok dan likuk sekolahku itu, sehingga aku tidak lagi membutuhkan siapapun untuk memanduku di dalam lingkungan sekolah.
Aku mengulurkan tanganku ke samping, merasakan dinginnya permukaan jendela yang berada pada kiriku. Langkahku melambat.

Sunyi senyap. Aku tidak tahu pasti jam menunjukkan pukul berapa saat itu, tapi aku yakin matahari sudah terbenam. Kehangatan sinar mentari yang biasa kurasakan berdiri di samping jendela tersebut sudah lama memudar.
Kegelapan. Gelaplah yang kulihat. Dingin pula yang kurasa. Aku benci perasaan ini.

Ini benar-benar tidak adil. Anak-anak lain seumuranku dapat melakukan berbagai hal yang mereka sukai. Mereka dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan. Aku? Berjalan dari rumah ke sekolah saja aku masih harus ditemani ibuku.
Kekosongan yang amat hebat sering kali menghantam dadaku. Kekosongan yang muncul akibat kekuranganku ini. Sering terlintas dalam benakku, perubahan macam apa yang dapat terjadi pada hidupku jikalau aku dianugerahi pengelihatan? Akankah aku menjalani keihdupan yang benar-benar berbeda dari yang sedang kujalani sekarang? Dapatkah aku hidup seperti anak-anak lainnya seumuranku? Akankah aku menjadi lebih bahagia?

Aku berhenti berjalan, menarik napas panjang dan berdiri mematung untuk waktu yang lama. Saat itulah aku sadar bahwa langkah kaki dan napasku bukan satu-satunya suara yang mengisi kesunyian lorong tersebut. Aku menajamkan pendengaranku. Mereka berkata, ketika seseorang memiliki kelemahan dalam salah satu inderanya, inderanya yang lain otomatis akan bekerja lebih tajam. Mungkin pernyataan tersebut benar, karena pendengaranku memang jauh lebih tajam dan jelas dibandingkan pendengaran orang-orang lain di sekitarku.

Melodi yang indah memenuhi gendang telingaku, samar tapi jelas. Suara piano seketika meredam kesunyian yang hampir menelanku hidup-hidup. Nada yang dimainkan energetik dan bergairah, membuatku melupakan duka dan kegelisahan yang baru saja kurasakan dalam hitungan detik. Aku menoleh ke belakang, terpancing oleh permainan yang begitu indah dan menyentuh hati. Lekas, aku memutar tubuhku dan melangkah maju.

Satu-satunya ruangan dengan piano di sekolah ini hanyalah ruang musik dan naluriku berteriak agar aku segera bergerak dan menemukan sumber melodi tersebut.

Apa yang akan kulakukan ketika aku menemukan sumber suara tersebut? Akankah aku mendobrak masuk ruang musik dan memperkenalkan diri kepada sang maestro yang bermain sebegitu indahnya? Atau akankah aku menunggu di depan ruangan dan mendengarkan permainannya diam-diam seperti seorang penguntit yang memiliki terlalu banyak waktu untuk dibuang? Kedua ide terdengar sangat buruk di benakku.

Kupercepat langkahku, menggunakan tangan kirku untuk menelusuri dinding di sebelahku sebagai satu-satunya pemandu yang dapat mengantarkanku ke ruang musik. Nada-nada piano terdengar semakin vibran dan jelas di setiap langkah yang kuambil.

Aku berhenti ketika nada-nada tersebut terdengar begitu nyaring di telingaku. Tanganku meraba permukaan pintu yang mengarah kepada sumber melodi tersebut. Ketika kukira lagu telah berakhir, jari-jari sang pianis kembali menari-nari di atas tuts piano, mengeluarkan suara-suara indah yang memikat. Aku terpaku, mulut menganga takjub.

Sang pianis memainkan lagu yang berbeda, lagu yang terdengar begitu melankolis dan indah di telingaku. Dibandingkan lagu yang pertama, lagu ini jauh lebih lembut dan lambat. Aku dapat merasakan hatinya, merasakan perasaannya yang begitu lembut dan halus di setiap nada yang ia mainkan. Permianannya memberikan kesan bahwa ia sedang mencurahkan seluruh hatinya dalam lagu yang ia mainkan. Kututup mataku perlahan, sebuah gerakan yang tentunya tidak akan mengubah apapun.

Dari kecil, aku selalu menyukai musik, terutama musik klasik. Musik adalah satu-satunya hal yang dapat kunikmati sepenuhnya tanpa pengelihatanpun.

Seketika, kegelapan yang seharusnya terasa akrab di mataku berubah menjadi sesuatu yang begitu asing. Lantunan melodi yang memenuhi telingaku begitu vibran, begitu berwarna. Jika kuberkata bahwa aku telah menemukan definisi warna dalam setiap melodi yang mengalun di lagu ini, tidak akan ada yang percaya. Tetapi itulah yang kurasa, itulah yang kulihat. Lagu ini berbeda dari lagu-lagu lainnya yang pernah kudengar. Semua aspek dalam lagu ini dimainkan dengan begitu tulusnya, begitu indahnya. Lagu tersebut diakhiri dengan indah, mengundang kembali kesunyian.

Kubuka mataku. Kegelapan kembali menyambutku, kegelapan yang kutahu tidak akan pernah meninggalkanku, ditemani oleh sunyi yang membawa sesak. Kekecewaan melanda ketika suara piano yang tadinya membanjiri lorong kembali ditelan kesenyapan.

“Hei.” Sebuah suara memanggil dari dalam ruangan. Aku membeku, jantung berdegup keras. “Aku udah lihat kamu, jadi kamu gak perlu sembunyi-sembunyi lagi.” Suara tersebut mengulang, dalam dan serak. Aku mematung di depan pintu, terkejut.
“Masuk aja.” Ujar suara itu, dingin. Bingung, aku memutar kenop pintu di hadapanku dan melangkah masuk ke ruangan tersebut. Aku berdiri dengan canggung, membelakangi pintu. Entah mengapa aku memilih untuk mengikuti perkataan suara tersebut dengan patuh. Kesunyian memenuhi ruangan, membuatku mengira akulah satu-satunya orang di ruangan tersebut.
“Gimana?” Suara tersebut berkata, lebih lembut kali ini.
“Gimana apanya?” Tanyaku bingung.
“Gimana permainan pianoku?” Suaranya dalam dan terdengar begitu jelas di telingaku. Pertanyaan tersebut mengejutkanku. Aku membuka mulutku untuk menjawab, namun tidak ada sepatah katapun yang dapat kulontarkan. Tak kutemukan satu katapun yang dapat mendeskripsikan permainannya yang begitu indah.
“Sebagus itukah permainanku? Sampai kamu tidak dapat berkata-kata?” Suara tersebut tiba-tiba terdengar ringan, dan aku bisa membayangkan senyum yang merekah di bibir pemilik suara tersebut. Ia benar-benar membacaku. Aku mengangguk, degup jantungku melambat. Suara tersebut tertawa, tawa hangat yang memenuhi ruangan seketika. “Atau kamu terkejut seorang cowok seperti aku bisa main piano seperti itu?” Candanya lagi. Aku menggeleng. Suara tersebut diam untuk sementara, aku mendengar langkah kaki dan suara piano menutup.

“Kamu sudah selesai main?” Tanyaku canggung, kekecewaan terdengar dalam suaraku.
“Ini sudah jam berapa? Kamu mau aku tetap di sekolah sampai malam? Aku mau pulang.” Ujarnya datar. Aku membisu, canggung. Aku tetap berdiri seperti patung di dekat pintu, merasakan langkah kaki yang ringan mendekatiku.
“Aku main setiap hari kok. Jadi kalau kamu mau, kamu bisa datang lagi besok. Mungkin aku bisa mengajarimu cara bermain pula.” Ia berkata, mengejutkanku. Aku dapat merasakannya berdiri di hadapanku. Ini pertama kalinya seseorang menawarkan diri untuk mengajarkanku cara bermain alat musik. Tawaran seperti ini tidak pernah kujumpai sebelumnya. Siapa sih yang mau mengambil tanggung jawab untuk mengajarkan seroang tuna netra bermain piano? Aku terkesiap.
“Aku tidak keberatan kok.” Suara tersebut meyakinkanku dengan hangat.
Aku mencoba untuk mengarahkan pandanganku menuju sumber suara tersebut. Di saat itu juga, aku memutuskan bahwa aku menyukai pemilik suara tersebut.
“Bagaimana?” Ulangnya. Aku tersenyum dengan lebar, sebelum menganggukkan kepalaku dengan antusias. Aku akan melakukan apa saja untuk mendengar permainannya sekali lagi. Ia tertawa kecil, sebelum menepuk pundakku dan berjalan melewatiku, keluar dari ruang musik dan meninggalkanku sendiri.

Perasaanku bercampur aduk, sebuah efek samping dari pertemuanku dengan sang pianis tadi dan permainan pianonya yang luar biasa. Aku bergerak menuju grand piano yang bertengger di tengah ruangan, meraba-raba sekitarku. Aku membuka tutup piano dan duduk di atas kursi di hadapannya. Perasaan ini begitu asing bagiku, yang tidak pernah menyentuh alat musik apapun seumur hidup. Tidak sedikit orang yang memberitahuku untuk tidak membuang-buang waktuku dengan bermain alat musik. Mereka tidak pernah memberitahuku mengapa, tetapi aku dapat menerka alasannya.
Kekuranganku ini memang sering kali menghambatku dalam mencoba hal-hal baru dan melakukan hal-hal yang anak-anak lain seumuranku dapat lakukan. Pemikiran seperti inilah yang juga meyakinkanku bahwa aku tidak mampu melakukan apa-apa akibat kekuranganku.

Aku meletakkan tasku di lantai dan mengulurkan tanganku untuk menekan nada di atas piano.
Rasa malu dan gugup membanjiriku, tetapi apa salahnya memainkan beberapa nada secara asal-asalan? Toh, sudah tidak ada orang di sekolah. Aku memencet nada, satu persatu, mendengarkan suara yang dikeluarkan dengan penuh perasaan. Lalu pikiranku kembali ke pemuda yang kutemui barusan, bagaimana permainan pianonya menunjukkan perasaan yang paling dalam, membuatku merasa seperti aku telah lama mengenalnya. Bagaimana permainannya menunjukkan berbagai spektrum warna untuk muncul dalam mata benakku yang hanya mengenal kegelapan.
Aku menelan ludah.
Aku ingin bermain sepertinya. Aku ingin mengutarakan perasaanku, mengutarakan isi hatiku melalui nada-nada yang kumainkan. Aku ingin membuat orang-orang di sekitarku melihat warna-warna asing yang tidak pernah mereka lihat sebelummnya. Jari-jariku menari lebih cepat di atas piano, berusaha keras untuk melahirkan kembali nada-nada yang kudengar. Dunia di sekitarku meluas dengan setiap nada yang kumainkan.

Aku mencoba untuk mengingat nada-nada yang sang pianis mainkan, dari nada tinggi yang energetik dan penuh gairah, sampai dengan nada rendah yang lembut dan melankolis. Aku mencoba setiap nada di piano dan menyamakannya dengan apa yang kudengar barusan. Benakku dipenuhi dengan perkataan orang-orang lain di sekitarku yang semua mengatakan hal yang sama. Semua secara tidak langsung mengatakan bahwa aku tidak mampu. Bahwa kekuranganku ini menghambat perkembanganku. Bahwa aku tidak dapat melakukan apa-apa.

Nada-nada yang kumainkan berantakan, jauh dari cara sang pianis bermain. Namun aku tidak peduli. Kumainkan terus bagian-bagian yang meninggalkan kesan terdalam dalam hatiku. Ini kali pertama aku menyentuh sebuah piano, tetapi nada-nada yang kukeluarkan tidak seburuk yang kukira.

Tiba-tiba, pintu ruang musik terbuka, mengeluarkan suara nyaring yang mengagetkanku. Serentak, aku mengangkat kedua tanganku dari atas piano dan menoleh ke belakang, menajamkan pendengaranku. Entah siapa yang memasuki ruangan, tetapi orang tersebut langsung berjalan menuju tempatku terduduk dengan langkah yang lebar dan yakin.
“Kamu.” Aku langsung mengenal suara tersebut, suara lelaki yang baru saja menyentuh hatiku melalui permainan pianonya. Ia kembali, entah untuk apa.
“Ya?” Aku menggagap, mendadak kembali gugup. Apakah ia mendengarkan permainan pianoku barusan? Jika iya, habis sudah diriku. Aku menunduk, berusaha untuk menyembunyikan wajahku.
“Kamu yang barusan main?” Tanyanya. Suaranya yang tadinya santai dan tenang, membuatnya terdengar sangat percaya diri, berubah total. “Kamu kan yang barusan main?” Desaknya lagi, suaranya diwarnai keterkejutan. Aku mengangguk perlahan.
“Aku hanya ingin mencoba bermain sepertimu.” Aku berkata pelan, entah mengapa merasa seperti seorang anak yang sedang dihukum atau diceramahi.
“Ini bukan pertama kalinya kamu bermain piano kan?” Pertanyaannya mulai tidak masuk akal.
“Iya, ini pertama kalinya aku menyentuh sebuah piano.” Aku menjawab, mengakhiri jawabanku dengan tawa canggung. “Memangnya kenapa?” Separah itukah permainanku? Ia tidak mengeluarkan sedikitpun suara untuk sepersekian detik, membuatku bertanya-tanya apakah dia sudah pergi.
“Kok kamu bisa langsung bermain seperti itu?“ Ia terdengar terkesima, pujiannya membuatku merasa jauh lebih baik.
“Aku hanya mengulang kembali permainanmu barusan dalam kepalaku. Lalu aku coba untuk mainkan di atas piano.” Jelasku, mencoba untuk tidak terdengar sombong. Apakah hal seperti ini jarang terjadi? Aku memang mempunyai pendengaran yang tajam dan ingatan yang baik.
“Kamu benar-benar berbakat!” Ujarnya tiba-tiba. Membutuhkan waktu yang lama bagiku untuk mencerna kata-katanya, membisu dengan mulut menganga. Permainan asal-asalan barusan itu sebuah bakat di matanya? Atau mungkin ia hanya ingin menyanjungku saja? Mungkin ia merasa iba dan mengasihaniku yang mencoba begitu keras untuk bermain sepertinya?
Mungkin karena raut wajahku saat itu menunjukkan ketidak-percayaan yang begitu hebat, sang pianis kembali melanjutkan kata-katanya.
“Aku tidak bohong. Kamu itu jenius ya? Aku membutuhkan lebih dari setahun untuk menyempurnakan lagu itu dan kamu hanya membutuhkan beberapa menit setelah mendengarkan lagu tersebut untuk memainkannya!” Ia berseru. Aku dapat merasakan kekagumannya yang tulus dari caranya berbicara, membuat jantungku berdegup lebih kencang.
“Terima kasih. Tapi permainanku tadi… Memangnya sebagus itu? Perasaan masih sangat kacau dan berantakan.” Ujarku ragu. Pendengaranku yang setajam pendengaran anjing dapat membedakan seberapa besar perbedaan antara permainan kami berdua. Bagaikan langit dan bumi.
“Yah, levelnya masih jauh sih dari permainanku…” Ia berkata, nada suaranya penuh canda. Kami tertawa ringan sebelum ia melanjutkan. “Tapi kan aku memang sudah dilatih bermain piano selama bertahun-tahun. Kamu! Kamu baru mendengar sekali saja sudah tahu nada-nada utama yang dimainkan! Bagaimana kau melakukannya?” Pujinya sekali lagi. Aku hanya tersenyum kecil.
“Aku tadi mencoba-coba semua nada yang ada di piano. Lalu aku ingat-ingat kembali beberapa bagian dari permainanmu tadi dan mencoba untuk memainkan nada yang pas untuk mengulang lagu tadi.” Aku mendengar suara nyaring tepuk tangan lelaki di hadapanku.
“Kamu jenius!” Suara tersebut menggelegar. Dari caranya berbicara, caranya mengutarakan kekagumannya padaku, aku dapat menyimpulkan bahwa dia sangat serius dalam mendalami musik, dan bahwa yang kulakukan barusan bukanlah sesuatu yang biasa. “Jika kamu belajar dengan seorang profesional, bayangkan apa yang bisa kamu lakukan!” Mendengarnya, aku seketika menggeleng-gelengkan kepalaku, tidak setuju.
“Lho? Mengapa tidak?” Tanyanya bingung. Aku terdiam, mencoba untuk mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan sederhananya. Kesunyian yang memekakan telinga mengisi udara.
“Aku buta.” Ujarku dengan bodohnya, rasa malu dan benci yang ditujukan kepada diriku sendiri mulai muncul satu persatu. Tentu saja ia mengetahui bahwa aku buta. Aku baru saja membuat situasi ini lebih canggung dan tidak nyaman bagi kami berdua dengan dua kata tersebut. Aku kira pemilik suara itu akan meminta maaf, atau mulai menunjukkan rasa iba terhadap kondisiku yang menyedihkan ini. Aku salah.
“Apa kaitannya?” Tantang suara itu dengan lancang. Aku tidak dapat menemukan suaraku. “Jawab aku. Apa kaitannya?” Aku membuka mulut untuk menjawab, namun menutupnya lagi, berpikir keras. Apa kaitannya? Pertanyaan tersebut membuatku merasa lebih bodoh. Ini sungguh hari yang panjang dan melelahkan.
“Aku buta. Mana bisa aku bermain piano seperti kalian semua yang memiliki pengelihatan?” Jawabku, tiba-tiba kesal. Kesal terhadap apa, aku tidak tahu. Aku benci fakta bahwa jauh di dalam hatiku, aku ingin bermain piano. Aku ingin menciptakan nada-nada yang melebur menjadi suatu melodi yang dapat menyentuh hati banyak orang. Terlebih lagi, aku ingin jatuh cinta dengan musik itu sendiri. Tetapi bagian diriku yang lebih dominan selalu berkata “Tidak. Kamu tidak bisa.”
“Justru itu! Kamu mungkin tidak bisa bermain piano seperti kita yang bisa melihat. Tapi itulah yang membuatmu spesial!” Ia terdengar sama frustrasinya denganku. “Kamu bisa main dengan gayamu sendiri. Gaya yang berbeda dari kebanyakan orang di luar sana. Aku sudah mendengar caramu bermain barusan dan kamu itu benar-benar berbakat.”
“Tapi, akan sangat sulit bagiku untuk bermain piano. Aku tidak bisa melihat nada-nadanya. Aku bahkan tidak tahu seperti apa bentuk sebuah piano!” Bantahku.
“Kamu tidak harus melihat sebuah piano untuk memainkannya. Ada banyak pianis buta di luar sana yang bisa bermain piano berpuluh kali lipat lebih baik dibandingkan mereka yang bisa melihat. Apa yang membuatmu merasa kamu tidak bisa?” Kata-katanya menumbuhkan rasa percaya diri di dalam diriku.
“Menurutmu aku bisa?” Tanyaku, setengah tidak yakin. Belum pernah aku menemui seseorang yang begitu yakin akan kemampuanku. Belum lagi ia baru saja mengenalku.
“Ya kalau aku pikir kamu tidak bisa, buat apa aku lari kembali ke ruang musik setelah memutuskan untuk pulang?” Tanyanya. Tanpa melihat raut wajahnya, aku bisa menduga bahwa ia sedang tersenyum. Tanpa kusadari, menjadi sulit bagiku untuk menahan senyuman di bibirku.
“Jangan biarkan kekuranganmu membatasi potensimu yang sesungguhnya.” Kata-katanya kuresapi satu persatu, membangun rasa percaya diri dan keberanian di dalam diriku. “Kamu memiliki bakat yang tidak semua orang miliki. Kamu harus yakin dengan kemampuanmu!” Mendengar hal itu, aku tidak bisa menyembunyikan rasa bangga yang tiba-tiba muncul dalam diriku, aku merasa aku bisa melakukan apa saja.

“Bagaimana? Maukah kamu coba bermain?” Ia bertanya sekali lagi, sekarang lebih serius.
Aku menoleh ke arahnya, senyuman lebar merekah di bibirku.
Tak kusangka, satu pertemuan dapat mengubah segalanya dalam hidupku.

Cerpen Karangan: Tiara Amanda

Cerpen Di Antara Nada Nada dan Spektrum Warna merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ibu Pahlawan Yang Tak Tergantikan

Oleh:
Berbicara mengenai sosok seorang Ibu memang tak akan pernah ada habisnya. Kepeduliannya, perhatiannya, kasih sayangnya yang juga tiada habisnya diberikan kepada anak-anaknya. Begitu mulianya seorang Ibu, ia tidak pernah

Aku Bukanlah Segalanya

Oleh:
“Titt… Tiitt!” ku raih segera handphoneku yang lagi nagkring di meja belajarku, ku buka segera sebuah pesan singkat di layar handphoneku. From: Faza Hai Neisya?, met pagi ya:D! Huft,

Hujanku Matahariku

Oleh:
Satu, dua, kuhitung tetes demi tetes air dari langit yang mulai berjatuhan.. Lama, semakin lama, semakin banyak, hingga kusadari bahwa sebenarnya aku tidak bisa menghitung banyaknya air yang turun

Perubahan

Oleh:
Aku Rio, cowok paling keren di sekolah tempatku menuntut ilmu. Hampir semua cewek tergila-gila melihatku. Tapi hanya satu yang dapat menarik hati dan perhatianku. Dia telah memikat hatiku. Namanya

Jarak Pertama

Oleh:
Apa yang kupikir lagi? Semua telah benar-benar jauh dari gapaian. Walau menangis tiada guna, masih saja melakukannya. Seperti orang tolol meradang disini. Mengunci diri berhari hari tanpa sesuap nasi.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Di Antara Nada Nada dan Spektrum Warna”

  1. Sukaaa banget :” bagaimana kamu bisa membuat cerita kayak begini? seolah-olah kamu bisa benar-benar memposisikan diri menjadi seorang yg tuna netra?

  2. asil fiya says:

    sangat bagus sekali ceritanya dan aku suka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *