Di Bawah Sinar Mentari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 7 April 2021

Meskipun orang-orang bisa berkata bahwa usianya itu sebenarnya masih sangat muda, ia tetap merasa sudah lama tinggal dan hidup di dunia ini. Dunia sama saja di matanya. Kala itu, masih pagi buta. Seluruh penghuni rumah terlihat belum memulai aktivitas. Namun gadis itu sudah tidak berada di kamarnya. Sekarang. ia menuju ruang tamu yang mempunyai jendela besar dan hampir menyentuh lantai. Ia menghampiri kursi tangan yang membelakangi jendela itu dan duduk disana.

Sebenarnya, ia berpikiran kalau mungkin saja ia akan merasa gabut hari itu karena sedang tidak ada ponsel di jangkauannya melainkan sedang dicharge. Jadi pagi itu ia hanya duduk. Sorot matanya menelusuri tajam setiap bagian yang dilihatnya di luar jendela. Lalu, ia menikmati ‘ritual’ paginya yang sudah lama dia nantikan – menikmati matahari terbit, setelah beberapa hari disiram hujan. Ia tahu, banyak orang menyukai pemandangan matahari tenggelam. Namun baginya, matahari terbit memberikan kesan tersendiri. Oleh karena itulah, ini adalah salah satu aktivitas favoritnya.

“Apa yang akan aku lakukan hari ini?” pertanyaan di kepalanya ini sudah menyerangnya beberapa kali sejak ia bangun tidur. Ia mencoba memikirkan hal-hal yang bisa ia lakukan, tetapi sepertinya hanya ada di dalam benak saja, tidak ada suatu keinginan yang sangat.

Ia masih memandangi luar jendela. Awalnya, ia hanya bisa melihat gradien biru-jingga meskipun sedikit terhalang oleh atap rumah tetangganya. Namun perlahan, matahari semakin bergerak ke atas sehingga sinarnya menyeruak menerangi alamnya. Cahaya semakin terang kemudian berhasil meluncur bebas menembus jendela besar itu. Seisi ruangan berubah. Cahaya telah menelan kegelapan.

“Ah, hari ini titiknya bagus ya…” batinnya kembali dalam hati. Setidaknya, ia bersyukur pagi itu mataharinya sangat indah. Karena sedikit yang ia tahu, tempat matahari terbit bisa bergeser dan ia tidak bisa menerka kapan tepatnya akan seperti ini lagi.

Akhirnya gadis itu merenung. Pikirannya mulai mencoba menembus alam semesta. Dengan mata yang agak menyipit, dilihatnya matahari disana sangat jauh. Jaraknya enam juta kilometer jikalau dia tidak salah ingat. Di tempat matahari itu berada, tentu sangat panas bukan? Tetapi Tuhan menciptakan anugerah tujuh lapis atmosfer di atas bumi, yang terus membuat bumi ini menjadi tempat tinggal yang sejuk dan nyaman tanpa perlu memanggang beragam makhluk yang hidup di dalamnya. Atmosfer membuat langit dan matahari terlihat lebih indah dipandang sehingga tak perlu melihat libasan demi libasan cahaya matahari yang mengerikan di luar sana. Dalam hati, ia bersyukur dan memuji. Yang mana tak satupun manusia di bumi ini mampu menciptakan dan menandingi keindahan yang sedang dinikmatinya.

Tak lama, angin turut mengikuti kehadiran matahari, menyapa dan menggoyangkan tanaman yang disiramnya sebelum beranjak ke ruangan itu. Ya, kini menyiram tanaman telah menjadi rutinitasnya di pagi hari. Burung-burung kecil telah lebih banyak berlalu lalang ketimbang manusia. Awan mulai berkumpul, menjadi aksen lukisan langit yang luar biasa menakjubkan. Ponsel samasekali tidak terlintas di pikirannya. Karena sungguh, bukanlah gabut yang ia rasakan malah ingin terus tenggelam berada di dalam suasana, andai ia mampu menghentikan waktu.

Tanaman kembali bergoyang dihembus angin. Sesekali ia meneteskan air dari ujung daun. Gadis itu kembali memperhatikannya.
“Mereka kusiram dengan air setiap hari, mereka tumbuh setiap hari. Terus tumbuh perlahan-lahan sampai akhirnya berbunga”

Seperti menemukan titik terang, ia terus mencoba menyingkirkan apa yang menghalangi jawaban itu. Terlintas filosofi pohon di kepalanya. Pohon juga tumbuh layaknya tanaman tanaman kecil miliknya. Ia teringat meskipun sebuah pohon dilempari batu, meskipun kadang tersakiti oleh tangan tangan yang mengukir di permukaan batangnya, namun pohon itu tetap berbuah memberikan manfaat pada siapapun tanpa pilih-pilih. Gadis itu terus menarik benang bagai membentuk jaring laba-laba hingga suatu gambaran kecil terbayang di sudut imajinasinya.

“Bukankah aku … juga harus seperti itu?”
“Berbunga seperti tanaman itu? Bersinar seperti … matahari?”

Matanya semakin fokus ketika ia tersadar. Tidak ada gunanya terus bertopang dagu. Jika ia terus membiarkannya, lama lama ia akan sulit berbunga, terus layu dan berakhir kering kerontang. Ia akan sulit tumbuh dan sulit menjadi manfaat untuk orang lain. Sungguh bagai tanaman yang akan mati! Apakah gerangan tujuan hidupnya?

Kini, matahari sudah terlihat lebih jauh di atas atap rumah tetangga. Dua tiga orang mulai melintas di pandangan matanya. Diperhatikannya, salah satunya sedang membawa barang dagangannya dengan gerobak menuju pasar. Terbesit dalam pikirannya bahwa dunia setiap orang itu berbeda. Diikuti oleh dunia yang kian hari kian berubah dan makin banyak coraknya. Manusia, mau tidak mau harus bisa menyesuaikan dengan tumbuh mengikuti pergerakannya sehingga seirama. Benar, usianya masih sangat muda ibarat sebuah tunas dan kini ia merasakannya. Meskipun tidak ada tombol jeda dalam umur setiap manusia, waktu akan terus berjalan tanpa henti sampai waktu yang ditentukan oleh Tuhan. Waktu tetap berjalan dalam setiap tarikan nafas. Dengan sekian waktu yang tersisa…

“Bukankah aku ingin tumbuh hari ini?” batinnya lagi begitu menyadari sesuatu. Kedua kakinya yang sedari tadi ikut berada di permukaan kursi kemudian bergerak turun … dan melangkah pasti.
Ya, tentu ada yang bisa ia lakukan.

“Di bawah sinar matahari ini, dalam tarikan nafas ini, aku ingin tumbuh dan terus tumbuh, hingga berbunga dan tak tumbang diterjang angin dunia”

Cerpen Karangan: Little Candle
Blog: little–candle.blogspot.com

Cerpen Di Bawah Sinar Mentari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semangkuk Bakso Diskusi

Oleh:
Di siang hari yang terik memang mantab menyantap yang segar-sagar, bakso. Bakso tidak pernah kehabisan untuk dijelajahi dan bakso selalu hadir dengan pesonanya yang pedas dan seksi. Siang yang

Detak Berdetak

Oleh:
Kenalkan, aku Jean. Aku anak yang paling nakal dari banyak siswa nakal yang kalian tau! Hei, jangan remehkan aku! Aku pernah memecahkan pot bunga kesayangan guru biologiku, aku pernah

Keringat Perjuangan

Oleh:
Matahari bersinar terang. Senyumnya membangunkan bunga-bunga yang terkuncup letih. Burung berkicau dengan merdunya menandakan pagi telah tiba, malam telah berlalu. Saatnya bagi jihan untuk memulai awal baru. Hari pertama

Matahariku

Oleh:
Mungkin aku akan berhenti mengejar matahari yang selalu aku ikuti bayang-bayangnya. Berhenti sebelum aku lelah dan letih mengejarnya, sebelum aku bertemu rasa passionless. Setelah membaca buku Morning Light, aku

Nothing Is Impossible

Oleh:
Sebuah roda kehidupan tentu tidak akan pernah bisa untuk ditebak. Ada 3 misteri yang belum terpecahkan sampai saat ini yaitu, jodoh, rizki, dan maut. Bahkan para peneliti dunia pun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *