Don’t Judge A Book by its Cover

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 December 2016

Menjadi Sosok yang pendiam sangatlah tidak menyenangkan, selalu diremehkan oleh orang-orang. Mereka menganggap orang pendiam tidak mempunyai sebuah keahlian, tidak pandai bicara, tidak suka bergaul, pendendam, jarang menuai prestasi. Anggapan mereka salah, mereka hanya melihat dari luarnya saja, mereka tidak tahu, orang pendiam juga bisa melakukan yang mereka lakukan dan menuai prestasi. Bahkan lebih dari yang mereka kira. Janganlah menilai sesuatu dari apa yang terlihat.

Aku adalah seorang gadis yang pendiam. Namun, Aku juga tidak ingin menjadi sosok yang pendiam. Aku sangat ingin seperti mereka yang aktif. Aktif di kelas, aktif dalam berbagai kegiatan, pandai bicara di depan umum, namun inilah aku, seseorang yang mempunyai karakteristik pendiam. Aku mempunyai suatu keinginan yang besar yaitu mengikuti lomba olimpiade Matematika dan debat Bahasa Inggris tingkat nasional. Namun, bagaimana bisa? Mereka menganggapku tak akan mampu.

Suatu hari, di bawah terik matahari seluruh siswa berkumpul mendengarkan pengumuman dari Ketua Osis.
“Oke, langsung saja pengumumannya Bahwa akan ada lomba Olimpiade Matematika dan juga debat Bahasa Inggris tingkat nasional. Bagi yang mau mengikuti lomba ini silahkan hubungi saya, nanti akan kita seleksi” Ucap Ketua Osis

Setelah pengumuman selesai, Banyak siswa yang berminat dengan lomba tersebut. Mereka berbondong-bondong mendaftarkan diri termasuk aku.

“Orang pendiam sepertimu mana bisa lulus seleksi lomba, apalagi ini tingkat nasional” Ucap salah satu siswa tersenyum sinis.
Aku hanya diam “mengapa mereka Hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hariku. Setiap hari mereka selalu mengejekku. Namun, ejekkan mereka membuatku semangat untuk mengikuti lomba tersebut. Setiap hari aku berusaha belajar dengan maksimal supaya lolos seleksi. Pulang sekolah aku langsung belajar sampai larut malam.

Pengumuman lulus seleksi pun telah keluar, akhirnya aku pun lolos dari seleksi tersebut dan menjadi perwakilan sekolah mengikuti lomba Olimpiade matematika dan debat bahasa inggris ke tingkat nasional. Mereka yang selalu meremehkanku pun tak terima, kicauan mereka semakin menjadi-jadi.
“Orang pendiam sepertimu kok bisa lolos? Pasti kamu nyogok kan? Ayolah jujur saja kamu. Orang pendiam sepertimu tidak akan bisa jadi juara. Lebih baik kamu mundur daripada disana nanti kamu memalukan” Itulah salah satu kicauan mereka yang tidak terima aku menjadi perwakilan sekolah ke tingkat nasional.
Aku tidak mempedulikan ucapan mereka. Segala hinaan, ejekkan dari mereka kujadikan motivasi supaya lebih semangat lagi menggapai impianku dan bisa mengharumkan nama sekolah bahkan membanggakan orangtua.

Hari yang ditunggu-tunggu datang, aku berada di Jakarta mengikuti lomba tersebut dengan baik. Keringat mengucur di seluruh tubuhku, jantungku berdegup dengan kencang menunggu hasil. Sangat mengejutkan ternyata aku mendapat peringkat pertama Olimpiade Matematika dan debat bahasa Inggris tingkat nasional. Bulir airmata menetes di pipiku, aku bersyukur bisa menjadi peringkat pertama. Aku telah membuktikan bahwa orang pendiam juga bisa menuai sebuah prestasi. Dan yang lebih penting adalah janganlah menilai seseorang dari apa yang kau lihat.

Cerpen Karangan: Ina Torina
Facebook: facebook.com/ina.csmashblast

Cerpen Don’t Judge A Book by its Cover merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Now I Know

Oleh:
“Ta, tunggu!” Teriak Meyla sambil berdiri di depan pintu kelas. Yang dipanggil tetap tidak menoleh dan berjalan dengan santai menuju depan gerbang sekolah. “Lolita!” Panggil Meyla sekali lagi. Akhirnya,

Bungee Jumping

Oleh:
“A-aku takut…” kata Farhan pelan sambil melihat pada teman-temannya yang ada di dalam mobil. Ia menyangka bahwa temannya akan mentertawakannya ketika ia mengakui bahwa ia takut… Tapi teman-temannya malah

Kebahagiaan Merenggut Nyawa

Oleh:
Pagi hari yang cerah tampak seorang remaja yang sedang merenungi hidupnya di pekarangan rumah. Remaja tersebut bernama Agus yang masih duduk di bangku SMP di kota Mataram, Nusa Tenggara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *