Dunia Tanpa Suara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 February 2018

Apakah salah aku berharap akan sesuatu, ya? Apakah aku tidak boleh mempunyai mimpi dan tujuan seperti orang lain? Tapi kenapa? Walau aku seperti ini, aku masih punya hak untuk semua itu, kan? Atau mungkin karena aku yang seperti ini, justru … Impian dan mimpiku saat kecil yang kuharap mampu kuwujudkan, bisa dihancurkan begitu saja? Tapi memang, aku tak menyangkal bahwa kini, kenyataan berkata begitu.

Namaku Adina. Umurku telah menginjak usia 17 tahun yang baru kurasakan beberapa bulan sejak acara kelulusanku di SMA diselenggarakan. Kalau boleh jujur, raut wajahku yang sekarang sangat berbeda dari waktu itu. Karena sialnya, kejadian itu terus mengingatkanku.. Ya, kejadian yang mampu mengubah cahaya kecilku menjadi kegelapan terbesarku kini.

14 Mei 2016, entah mengapa tanggal ini sudah terpatri di otakku. Saat itu, aku di perjalanan pulang dari acara kelulusan sekolah. Karena semangatku untuk memulai impianku menjadi seorang penyanyi, aku sangat buru-buru untuk menuju tempat audisi sebuah kontes pencarian bakat menyanyi sepulang dari sekolah. Ayah yang mengantarku dengan mengendarai motor maticnya itu juga terus memotivasiku di tengah perjalanan. Tanpa menghiraukan perkataan ayah, dalam hati, aku hanya berharap ayah cukup meningkatkan kecepatan motornya itu, karena lokasi audisi cukup jauh dan aku tidak ingin terlambat. Hingga aku kelepasan..

“Yah, ayah gak bisa lebih cepat lagi? Udah gerimis gini juga, mana waktu udah mau jam 3 sore. Kalau telat gimana nih?”
“Waduh, mau hujan gini. Apa kita gak neduh dulu aja, dek? Ayah takut kamu sakit lho.”
“Loh, kok malah mau neduh sih yah? Aku kan ada audisi, udah ayah ngebut aja yah. Lagian makin cepat justru makin baik, kan? Ini juga baru gerimis doang kok.” Ucapku dengan tekanan.

Betapa malangnya nasib kami waktu itu, yang tidak disangka hujan justru turun deras sekali. Air sudah masuk ke dalam pakaian kami, bahkan suara ramai jatuhnya air terus mengiringi perjalanan kami berdua. Dan di perjalanan, kami terus berdebat untuk berteduh atau melanjutkan perjalanan menuju tempat audisiku. Sampai-sampai… itu terjadi.

Jalan yang licin membuat motor kami terperosok jatuh tepat di bawah jembatan layang yang kami lewati. Aku sudah tidak ingat apa-apa semenjak kecelakaan itu, yang bisa kulihat hanya ayah yang terkapar tak berdaya 2 meter dari tempatku jatuh, dan darah menjadi lautan untuk kami.

Sampai di rumah sakit, ayahku kritis dan selang beberapa hari, beliau tak bernafas lagi. Aku yang mendapat luka tepat di wajah dan leher akibat posisi jatuhku saat itu masih dapat ditolong, meski harus mengorbankan sesuatu yang berharga. Akibat kecelakaan itu, suaraku lenyap karena bagian leher dan tenggorokanku mengalami luka parah. Dan berlanjut.. sampai kehidupanku yang sekarang..

2 tahun berlalu, di usia 19 tahun ini aku harus terus menafkahi ibuku yang sedang sakit dan adikku yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Sejak suaraku menghilang, aku melupakan semua impianku tentang dunia tarik suara, bahkan semua penghargaan yang kudapatkan dari kecilpun, kusimpan rapat di gudang, seakan tak mau mengingat kejadian pahit itu lagi. Sekarang, aku bekerja sebagai pengangkut barang, pekerjaan yang mampu kulakukan. Memang, pekerjaan apa yang diharapkan dari seorang manusia bisu ini?

Berbekal doa dan kekuatan dari keluarga, membuatku masih mau bertahan. Walau kadang, ini sakit. Sakit sekali mendengar perkataan orang-orang di sekitarku, terlebih yang tak disangka temanku sendiri ketika ia menjengukku 2 tahun lalu. Peduli di depanku, namun mengejek di belakangku. Sedangkan aku? Hanya dapat mendengar tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.

Ketika itu…
“Eh eh, masih inget gak? Pas Adina bilang mau jadi seperti Rossa?” Ucap Rina sehabis menjenguk Adina di rumah sakit.
“Oh, iya iya. Dari SMA dulu, sampai diomongin berkali-kali di kelas loh Rin.” Respon Tania yang diselingi gelak tawa.
“Yah, takdir berkata begini, mau gimana lagi. Cuma bisa tabah kan sekarang, makanya lu kalo punya impian jangan tinggi-tinggi Tan hahaha.”

Ah.. kenapa teman baikku harus berkata begitu. Rina.. Tania… Suara kalian… Walau terhalang tembok pun, volume dan celaan itu masih dapat terdengar. Dan hanya air mata yang bisa kujatuhkan saat itu.. sendirian.. tanpa siapapun. Hanya goresan pulpen di buku yang dapat menjelaskan perasaanku saat itu sampai sekarang.

“Hei, Dina. Tolong angkat kotak yang di pojok itu, ya. Usahakan selesaikan tepat waktu karena bos sudah meminta laporan.”
“(Baik, Don. Laksanakan! 😀 )” Ucapku tidak langsung
“Hm? Tulisanmu aku lihat semakin hari, semakin bagus ya. Pakai emoticon segala lagi, kamu ini.” Balas langsung doni dengan senyum.

“Oh iya, Dina. Pulang kerja kamu ada waktu? Aku mau ngomong sesuatu ke kamu, bisa?”
Doni dan aku sudah bersahabat hampir 2 tahun. Kami berada di satu divisi yang sama, dan awalnya Doni yang lebih duluan bergabung sekaligus teman pertamaku di sini. Baik, rajin dan disiplin, mungkin sifat itu yang bisa kulukiskan untuknya.

Setelah tadi Doni dan aku membuat kesepakatan, kami pun ketemuan sehabis pulang kerja. Aku dan Doni pergi ke sebuah kafe untuk mengobrol. Aku yang tidak tahu apa yang ingin ia bicarakan, terus memandang heran wajahnya yang sejak tadi terlihat gembira.

Sesaat setelah duduk di sebuah kursi di kafe, aku segera mengeluarkan buku catatan dan alat tulis untuk menanyakan maksudnya.
“(Jadi, apa yang mau dibicarakan, Don?)” Sontak pertanyaan langsung kuperlihatkan.
“Santai, santai hehe. Aku punya kabar baik buat kamu! Mau dengar?” Jawab Doni sedikit mempermainkan.
Aku pun semakin penasaran dengan ekspresi dan tingkah lakunya itu, hanya mengangguk yang dapat kulakukan untuk memperoleh jawabannya.

“Aku tahu kamu ini dulu suka dunia tarik suara kan? Aku masih ingat cerita kamu waktu itu, Na!” Cetus Doni dengan sedikit bersemangat.
Sontak aku langsung berpikir keras. Memikirkan maksud dan tujuan Doni berbicara seperti itu. Jelas dia sudah tahu keadaanku dan masa laluku.. lantas kenapa..
Aku yang terdiam tak berani menulis apapun, hanya menunggu penjelasan berikutnya..

“Eh, jangan langsung galau begitu, dong. Kelihatan jelas lho! Justru, karena aku tau kamu, makanya aku mau menyarankan ini. Ada lowongan pekerjaan yang berhubungan dengan itu.”
“(Aku masih tidak mengerti)” Jelas Adina yang masih duduk terdiam.
“Jadi, temanku baru membuka sebuah kursus musik. Semacam… kau tahu. Latihan vokal, dan lainnya. Dan ada Marching Band nya juga. Oh iya, acapella juga ada! Dan kalau aku menawarimu pekerjaan di sana sebagai tenaga pengajar, bagaimana tanggapanmu?”

Keesokan harinya, aku kembali melanjutkan rutinitasku sebagai pengangkut barang. Beberapa hal masih tidak kumengerti terhadap pernyataan Doni semalam. Setelah Doni menawariku pekerjaan itu, aku langsung menyerahkan sebuah kertas robekan dan pergi begitu saja. Tanpa balasan yang mengenakan, pulang dengan memikirkan takdir yang mengikat padaku.

“Hei, Adina! Dina!” Teriak Doni dari kejauhan.
Mendengar suara pria itu, sontak aku belum berani membalikkan badan, namun rasa ingin meminta maaf terus memotivasiku untuk berbalik. Setelah ku berbalik, Doni sudah berada di depanku sambil menggandeng seorang wanita. Rambut berwarna hitam nan indah yang memanjang hingga bahu itu pun mencuri perhatianku, seiring dengan sebuah kacamata hitam yang digunakannya.
“Kenalin nih, ini teman aku yang nawarin pekerjaan kemarin. Namanya ka Stella” Ucap Doni memecah kesunyian.

“Pasti kamu Adina, ya?” Tanya wanita itu.
Aku hanya bisa menganggukan kepalaku, tanpa menulis apapun.
“Dia berkata iya, Stel” Jawab Doni pelan.
Mataku yang keheranan melihat Doni yang justru menjawab pertanyaan wanita berkacamata hitam itu. Apa mungkin…

“Saya ini tidak bisa melihat, Adina. Makanya, Doni membantuku untuk datang ke kamu langsung. Saya juga sudah tahu tentangmu darinya.”
Jadi, benar rupanya… Apa maksudnya ini Don? Ingin kutulis itu untuk menanyakan tapi keadaanku langsung membisu ketika mendengar ucapan wanita ini.

“Saya tidak bisa lama-lama di sini, saya hanya ingin menanyakan padamu.” Ucap serius Stella pada Adina. “Apa alunan musik itu masih terdengar, nak? Apa suara itu masih ada?”
Mendengar hal itu, mataku sedikit berkaca-kaca.. dan langsung kutulis..
“(Suara itu telah hilang)” Tulis Adina yang langsung dimediasi oleh Doni

“Suara itu belum hilang!” Tegas Stella dengan keras. “Dia masih mengikatmu, nak. Berusaha menggapaimu kembali. Mungkin kau mencoba lari darinya sejak kejadian itu, tapi kamu masih tidak bisa.”
Perlahan, mata yang berkaca-kaca ini mulai berubah menjadi tetesan dan linangan air..
“Dulu, saya juga sempat berpikiran seperti itu setelah mata saya seperti ini, seakan dunia gelap dan makin lama menghilang. Tapi, coba kau ingat lagi.. untuk apa kamu terlahir di dunia ini? Untuk menjadi manusia yang berguna dan melakukan yang harus dilakukan? Itu Benar, tapi jangan lupakan juga untuk melakukan hal yang ingin dilakukan, nak. Kalau api impianmu itu masih menyala, itu berarti cahayamu masih belum mati seluruhnya!” Ujar Stella haru.

Suasana yang tak disangka, ketika aku mendengar perkataannya, seakan cahaya itu kembali bersinar, walau sedikit. Tapi… apa aku bisa? Pikirku sejak tadi, dan langsung kutanyakan ke tante Stella.
“Kamu bisa, Na.” Tegas Doni setelah melihat tulisan yang baru dibuat Adina. “Pekerjaan mengajar bidang musik bukan berarti mengeluarkan suara. Menurutku, mendengar alunannya lah yang membuat musik itu spesial. Iya kan?” Jelas Doni sekali lagi.

“Musik untuk diperdengarkan dan dinikmati. Benar kata Doni, karena itu saya ingin mengajakmu menjadi tenaga pengajar kelas acapella dan marching band saya nanti, nak. Menjadi dirigen bukan berarti salah, kan? Dengan mengandalkan gerakan tangan untuk menentukan nada, saya yakin justru kamu bisa melahirkan generasi yang pandai akan musik” Stella memberi semangat kepada Adina.
“Dan hei, yang paling utama.. kamu masih bisa terhubung dengan impian kecilmu itu. Dengarkan dan senandungkan ke murid-muridmu, bahwa kamu masih punya suara di dalam hatimu.” Doni kembali menyemangati.

Aku yang sejak tadi terdiam menunduk, tak kuasa memperlihatkan air mata yang sudah membasahi pipi dan tak terhitung yang sudah jatuh ke tanah. Membayangkan bagaimana sebelum kejadian 2 tahun lalu, bagaimana ayah yang dengan semangatnya mengantarku ikut lomba menyanyi dari Sekolah dasar hingga SMA di berbagai kompetisi, ibu yang selalu mendengar nyanyian anehku di rumah, dan adik yang selalu terganggu belajarnya ketika aku sudah keasikan melantunkan nada di kamar. Sungguh, mereka benar-benar semangat mendukungku hingga sekarang. Rasanya, tanpa suara pun, hati ini masih bisa memanggil semuanya

“(Doni, Tante Stella, Terima kasih banyak. Aku rasa, aku siap mengarungi jalan itu lagi! :’D)”
“hahaha, emoticonmu ternyata masih berlaku, ya?” Ucap Doni yang langsung memeluk Adina dan Stella.

Seolah, dinding itu kini telah runtuh dan aku siap menemukan cahaya yang lebih besar lagi!

Cerpen Karangan: Sudarmadji
Facebook: Sudarmadji
Jakarta, 12 Juli 1999

Cerpen Dunia Tanpa Suara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Persahabatan Yang Adanya Cinta

Oleh:
Hari ini adalah hari pertama aku menggunakan pakain abu-abu putih. Sungguh sangat menyenangkan karena masa SMA adalah masa dimana kedewasaan itu dimulai, masa dimana akan mengalami indahnya percintaan dan

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Namaku Elvira Aghizah Arana sering dipanggil vira, ara, atau gizeh. Tapi kalian cukup panggil aku vira. Aku bersekolah di SMA Tanujimasa Cerdas. Aku memiliki dua orangtua sebut saja mereka

Love You Till The End

Oleh:
Dua minggu aku merasakan hari hari tanpamu seakan aku kehilangan mu. Yah… Aku yang selalu merasakan itu dan mungkin kamu tidak. Dua hari sebelum masuk sekolah aku merasakan yang

Inggar

Oleh:
Priitttt. Kuarter empat dimulai. GOR Untung Surapati Pasuruan semakin bergemuruh. Sorak-sorai suara suporter dan nyanyian yel-yel saling bersahutan. Riuh, ramai. Malam ini tengah berlangsung pertandingan final basket Walikota CUP

Jerrot Makin Melorot (Part 1)

Oleh:
GAGAL MOVE ON Awan hitam yang mulai perlahan menutupi awan putih, aku dan Widya yang sedang duduk berdua di puncak tetapi bukan sedang romantis-romantisan melainkan mengatakan putus seperti film

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Dunia Tanpa Suara”

  1. Dinbel says:

    Kerenssss cerita nya, goods job untuk pengarang.

  2. Taaja says:

    kak, ceritanya keren. gimana cara bisa berhubungan sama penulisnya ya kak ? pengen kolaborisi sama pembuatan film pendek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *