Emily Nareya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 25 May 2016

Seorang gadis dengan rambutnya yang panjang sehingga menutupi wajahnya serta gaun merahnya yang ia gunakan membuat dirinya begitu menarik untuk dilihat. Saat ini ia sedang terduduk manis sambil memegang biolanya yang sudah lama ia punya sejak ia masih berumur 9 tahun memang biola itu merupakan peninggalan mendiang ibunya yang sudah lama meninggal “Emily Nareya” itu adalah namanya ia dipanggil agar menuju ke panggung untuk memainkan biolanya.

Ratusan orang menyaksikan ia memainkan biolanya saat itu beberapa orang kagum walaupun beberapa ada yang tidak memperhatikannya dan setidaknya ia sudah bangga pada dirinya sendiri walaupun dia kalah dia masih senang dapat memainkan biolanya di depan ratusan orang dan sayangnya ia kalah. Keesokan harinya ia di sekolah masih terduduk di bangku kelasnya sambil memandangi pemandangan di luar menunggu sahabatnya yaitu May yang biasanya datang lebih awal hingga “Bukh!” Hesti beserta temannya dan mulai mendorong Emily yang sedang memandang pemandangan yang indah harus hancur karena Hesti.

“Loh kenapa kamu duduk di depan kami?” tanya Hesti.
“Bukanya ini tempat duduk aku, aku kan memang sudah duduk di sini sejak awal memasuki kelas ini kenapa kamu marah-marah sama saya?”
“Eh enak-enaknya kamu melawan kami Ti, Si pegang dia!”
Sontak Emily ingin tapi ia tidak bisa karena tangannya sudah di pegang.
“Dukh!” bunyi itu terdengar sehingga membuat teman-teman sekelasnya agar menjauh dan tiba-tiba.

“Hei apa yang kamu lakukan lepaskan dia!”

Emily yang sudah mengeluarkan darah dari hidungnya melihat sahabatnya May mulai melawan Hesti sayangnya saat itu bu Desi sudah masuk dan mengetahui kelakuan mereka berlima dan menyuruh mereka agar mereka semua menanggung akibatnya di ruangan konseling dan setelah proses penghukuman Hesti langsung berkata. “Kamu masih ingat bahwa kamu telah kalah dalam lomba!” Dan ia langsung meninggalkan Emily dan Hesti berdua.

“Kamu tidak apa-apa? ya ampun hidungmu sampe berdarah begini aku khawatir sama kamu ya udah ayo kita ke ruang kesehatan,”
“Tidak usah aku tidak apa-apa kok,”
“Ya elah udah parah begini kamu masih saja melawan,”
“Ya sudah ayo kita ke ruang kesehatan.”
Setelah tiba di ruang kesehatan May segera memberi Emily kompresan untuk mengurangi pendarahannya.

“Oh iya Emily kamu itu jangan biarkan omongan Hesti tadi masuk ke dalam hati kamu,”
“Loh kenapa? Jelas-jelas omongan dia itu buat aku sakit hati,”
“Tidak maksudku kamu boleh menyimpan omonganya dan bukan merasa sakit hati karena setelah kamu gagal komentar orang itu merupakan motivasi buat kamu agar kamu terus maju dan terus berjuang,” mendengar omongan May ingin sekali Emily menangis tapi ia tetap harus menahan tangisannya.
“May terima kasih dan aku akan berusaha dalam lomba selanjutnya dan doakan aku juga ya,” tiba-tiba May langsung memeluk Emily.
“Hei Emily aku akan membantumu oke.”
“Oke.”

Mulailah mereka berlatih dalam seminggu setiap pulang sekolah mereka selalu berlatih di taman tanpa diketahui oleh seseorang dan hari itu tibalah harinya hari dimana Emily akan terbang jauh begitu jauh seperti komet yang berada di luar angkasa.

“Marilah kita beri tepuk tangan kepada Emily Nareya!!”

Ratusan orang bertepuk tangan untuk Emily akan tetapi saat itu dia begitu gugup hingga May menasihati agar dia tidak terlalu ingat seperti sebelumnya gagal bagaikan burung puyuh yang gagal meninggalkan sarangnya tapi kali ini harus berbeda hal itu yang terpikirkan di kepalanya. Setelah lantunan indah yang ia keluarkan akhirnya semua orang bertepuk tangan hingga akhirnya pemberitahuan pemenang walaupun kali ini Emily pemenang yang ketiga ia pasti yakin suatu hari dia akan menjadi juara pertama dan ia juga merasa yakin bahwa suatu hari ia akan terbang bebas seperti burung elang.

Cerpen Karangan: Shofa Nur Annisa
Facebook: Shofa Deas

Cerpen Emily Nareya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengapa? (Satu Kata Merubah Segalanya)

Oleh:
Kuawali catatan ini dengan sebuah kata Tanya yang bagi sebagian besar kaum memerlukan jawaban yang berbelit dan memusingkan. Mengapa?. Sebuah kata tanya yang sangat sederhana. Tersusun dari tujuh huruf

Layangan Bumi

Oleh:
Namanya Bumi dan usianya 9 tahun. Tak bisa bermain layang-layang bahkan untuk menerbangkannya ke langit saja ia masih payah. Sering layang-layangnya berakhir dengan mencium tanah dan kemudian robek akibat

Filosofi Kejujuran

Oleh:
Kejujuran itu memang sulit dilakukan namun, dibalik kejujuran ada kebahagiaan. Sama halnya dengan ceritaku ini, dulu ketika aku masih SD aku mengerti tentang kejujuran. Pilihan untuk berbohong dan jujur,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *