Esperanza

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 January 2019

Ezperanza berarti harapan. Dan harapan berarti sesuatu keinginan. Thomas Carlyle pernah berkata, “Dia yang memiliki kesehatan, memiliki harapan. Dan ia yang memiliki harapan, memiliki segalanya.” Dan ia juga pernah berkata, “Sebuah pikiran yang kuat selalu berharap dan selalu menyebabkan harapan.”

Sang fajar mulai menghilang, berganti dengan gelapnya malam. Seorang gadis berseragam putih abu-abu sedang duduk merenung di tengah taman kota yang ramai. Merenungkan nasibnya yang tak seindah mekarnya bunga dan hidupnya yang gelap walaupun dikelilingi cahaya terang.

Sumina Esmerada. Dulu, Esme kecil adalah gadis manis yang selalu membuat orang tersenyum dan selalu disukai banyak orang. Esme mempunyai kedua orangtua yang baik dan menyayanginya. Dan ia juga mempunyai seorang nenek yang selalu ada untuknya. Hari-harinya ia lalui dengan penuh keceriaan hingga suatu ketika, ayah Esme jatuh sakit dan mengharuskan perusahaannya untuk guling tikar. Semenjak itulah, Esme dan keluarganya hidup sederhana.

Saat Esme berusia 10 tahun, ayahnya meninggalkannya untuk selamanya setelah 2 tahun sakit-sakitan. Penderitaan Esme pun berlanjut. Setelah ayahnya meninggal, Esme harus membantu ibu dan neneknya untuk berjualan gorengan keliling agar mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari. Saat berjualanpun, ia sering mendapatkan banyak masalah namun Esme tak pernah berkecil hati.

Tepat tiga tahun setelah kematian ayahnya, ibunya meninggal karena kecelakaan saat menjualkan gorengan buatannya itu. Saat itu, Esme benar-benar tak punya harapan untuk melanjutkan hidupnya. Tapi apa boleh buat, ia harus mengikhlaskannya dan melanjutkan hidupnya. Esme masih berjualan gorengan untuk mencukupi kebutuhannya dan neneknya. Terkadang ia juga membuat hiasan berbentuk bunga dari koran-koran bekas yang ada untuk diperjualbelikan. Perjuagannya selama inipun dapat membuat dirinya untuk terus melanjutkan sekolah.

Esme kecil beranjak remaja. Sekarang ia sudah menduduki kelas XI. Selain pandai membuat suatu prakarya, Esme juga pandai dalam pelajaran. Sehingga sekarang ia berada di SMA negeri favorit. Tapi hidupnya disana pun tak seindah masa-masa SMA yang orang bilang. Karna keadaan ekonominya, Esme sering dibully. Teman-temannya bilang, seorang cewek miskin tidak pantas untuk bersekolah di SMA-nya ini. Di sekolah, Esme sering dipanggil Sum atau Sumi untuk bahan bullying teman-temannya.

Esmepun hanya pasrah. Dia berpikir memang sudah tidak mempunyai harapan yang bisa ia raih dengan keadaannya sekarang. Ia sering berkata dalam hati, “Buat apa memiliki harapan jika dirinya saja tidak memiliki kebahagiaan. Dan buat apa ingin bahagia jika hidupnya saja tidak bisa menyentuh kata senang.”

Pernah suatu ketika, teman-temannya merencanakan sesuatu yag buruk padanya. Saat itu, ia sedang duduk di pojokan kelas sambil mencurahkan semua isi hatinya lewat sebuah buku catatan harian dengan sebuah gambar-gambar uniknya. Tiba-tiba saja, teman yang tidak terlalu dekat dengannya mengajaknya untuk mengantarkan dia ke kamar mandi. Esme pun hanya mengiyakan.

Saat Esme sedang ke kamar mandi, teman-temannya yang lain membuka isi tas Esme dan menyebarkan isinya ke penjuru sekolah. Salah satu temannya yang melihat gambar Esme di meja pun langsung memfoto gambar itu dan menge-post ke akun media sosialnya dan berkata di akun itu bahwa, “Seorang Sumi ternyata selama ini menginginkan menjadi seorang desainer {emot tertawa}.” Setelah puas dengan ejeknya, temannya itu menyobek buku harian Esme menjadi sobekan-sobekan kecil yang tidak bisa disatukan kembali.

Saat kembali ke kelas pun, Esme benar-benar kesal mendapati buku gambarnya yang disobek-sebek. Air mata yang sudah ditahannya pun akhirnya menetes. Dengan menangis, dia juga mencari isi tasnya yang disebarkan teman-temannya di penjuru sekolah. Dia pun semakin yakin bahwa dirinya memang tak memiliki harapan.

Selang beberapa minggu, ada guru datang ke kelas Esme dan mencarinya. Sungguh tak terduga, gurunya itu menawari sebuah perlombaan tingkat kota. Perlombaan itu adalah lomba desain baju terbaik dan terunik se-Kota. Esme pun bertanya-tanya kenapa gurunya itu bisa tau kalau dirinya suka menggambar desain-desain baju. Pertanyaannya pun terjawab setelah gurunya berkata bahwa dia melihat gambar Esme di akun sosmed milik salah satu temannya. Esme begitu senang. Ternyata kejadian beberapa minggu lalu bisa membuat sedikit harapan baginya untuk bangkit. Walaupun kejadian beberapa minggu yang lalu juga begitu menyakitkan, tapi ternyata ada baiknya juga.

Ya, dari perlombaan itulah dia sekarang sedikit demi sedikit menciptakan sebuah harapan. Pada perlombaan itu, Esme meraih juara pertama dan mendapatkan hadiah yang cukup besar yang cukup memenuhi kebutuhannya dan neneknya. Setelah perlombaan itu, teman-temannya juga mengakui kesalahan mereka selama ini kepada Esme. Setelah lulus SMA, Esme melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi dan sekarang ia telah sukses membangun sekolah desainer terkenal yang memiliki banyak cabang dan jumlah karyawan yang besar.

Ia telah sadar, bahwa satu kegagalan tidak mempengaruhi keberhasilan seseorang. Suatu harapan kecil bisa menjadikannya harapan besar bagi semua orang. Dan rasa pesimis hanya bisa merendahkan dirinya menjadi semakin rendah dan tak terarah.

Untuk itulah selalu berharaplah untuk mewujudkan suatu keinginan. Karna harapan kecil mempunyai kesempatan untuk menjadi harapan besar. Untuk inilah kita dilahirkan. Untuk mewujudkan suatu keinginan yang kelak bisa membuahkan keberhasilan. Seperti arti namanya. Sumina Esmerada, harapan yang bercahaya.

Cerpen Karangan: Kamilla Sekar
Blog / Facebook: Kamilla Sekar Rosandy

Cerpen Esperanza merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Our Friendship (Part 3)

Oleh:
Bel istirahat pun tiba. Diva dan Rieta berjalan menuju kantin. Alvin lagi berlatih basket dengan teman temannya sedang Rey lagi dipanggil sama Mrs. Mira ke ruangannya. Sesampainya di kantin,

Kamulah Surgaku

Oleh:
Matahari bersinar cukup terik pagi itu, meskipun sejam sebelumnya sempat diguyur hujan deras. Aku melaju di jalanan beraspal menuju sekolah yang berjarak kurang lebih 20 KM dari rumah. Aku

Sekelumit Cerita Tentang Motivasi

Oleh:
Namaku Dodi Abdullah, sahabat-sahabatku biasa memanggilku dengan sebutan Bung Dod. Entah kenapa nama ini familiar di antara sahabat-sahabatku, mungkin karena di salah satu akun medsosku tertera nama bung dod

Cinta Sahabatku

Oleh:
Mungkin aku tak pernah sadar jika ia telah melepaskan aku, aku tidak berhak lagi untuk memilikinya. Mungkin aku adalah orang yang paling gila di dunia ini, aku dengan berani

Hari Ini Lebih Buruk Dari Hari kemarin

Oleh:
Pagi hari yang cerah terdengar kicauan burung yang saling bersahutan dan berirama. Usai menyelesaikan mimpiku, kubuka mata perlahan-lahan. Yang pertama kulihat sebuah kalimat slogan yang kutempel di dinding kamar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *