Friend’s Foodsteps

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Olahraga, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 7 October 2017

“Life’s journey is easier when you hear your friends foodsteps beside you.” – Quote

Entah apa yang sedang terjadi, tapi aku merasakan angin dengan hawa panas meniup setiap helaian rambutku yang tidak terikat dalam ikatan rambutku yang membentuk ekor kuda. Dari kejauhan tampak banyak sekali lampu jalan yang berjejer dengan rapi dan setia menerangi jalanan beraspal naik turun yang gelap. Seketika oksigen menjadi sangat minim dan pandangan mata aku sepertinya mulai ngawur. Aku melihat banyak sosok orang dengan tubuh yang kira-kira tidak terlalu tinggi tetapi sesekali ada juga sosok yang benar-benar tinggi, rata-rata mempunyai bentuk otot yang atletis, betis kaki yang kokoh bak seorang pelari profesional, rambut yang disisir ke atas dengan headband, kaca mata hitam dan visor yang bertengger di atas kepala, sepatu olahraga beraneka ragam jenis dan warna serta terdengar suara nafas orang-orang yang berlalu lalang. Ketika aku mengedarkan pandanganku, mataku terfokus dengan sesosok tubuh tegap yang sedang berlari kecil dan mendorong seseorang yang terduduk lemah dengan rambut yang mulai memutih di atas kursi roda. Aku menaksir-naksir, sepertinya beliau adalah Ayahnya. Pemandangan itu sungguh mengharukan dan air mataku hampir bergulir. Aku ragu sejenak, tapi aku berusaha dengan keras untuk mencari tau apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ohh ohh ohh, aku tahu! Sepertinya aku sedang bermimpi, gumamku dalam hati.
“Waw! Ini mimpi yang luar biasa,” pekikku di tengah kerumunan.

Namun tiba-tiba seseorang memotong jalanku dan mengatakan “Sorry.. Sorry.” Suara itu sangat jelas dan tubuh yang menyenggol lenganku terasa sangat nyata. Aku mulai memutar logikaku dan mencubit tanganku. Ouch! Ternyata sakit dan aku merasa nafasku mulai tidak stabil. Seketika itu juga terdengar suara seorang laki-laki yang tidak asing dari arah belakangku.
“Go go go Vero! Usahakan untuk tidak terlalu jauh dari pacer. Ayok tempel paman Wil.”

Aku menoleh ke belakang dan melihat seorang laki-laki yang tidak terlalu tinggi mengenakan jersey biru “Runvolution” yang sama denganku dan sedang berlari ke arahku. Mataku terbelalak hingga kedua bola mataku seperti mau keluar dari tempat kediamannya. Aku sungguh tidak percaya.
Bang Johan? It is true? Kenapa dia ada di sini? Apakah dia masuk dalam mimpiku? pikirku dalam hati.

“Go Vero! Jangan ketinggalan jauh dari paman Will.”
Suara itu semakin dekat dan tiba-tiba saja dia menepuk lenganku. Lamunanku buyar dan akhirnya aku mulai berpikir normal, aku tersadar bahwa aku tidak sedang berada di alam mimpi. Wow, ini menakjubkan! Percaya atau tidak, aku hanyalah seorang wanita dengan IQ yang tidak terlalu cerdas bahkan bisa dikatakan pas-pasan, namun dari kecil berani bermimpi bahwa suatu hari nanti akan mendapatkan sebuah medali dari olimpiade yang bergenre pendidikan atau menulis. Akan tetapi, siapa yang dapat menyangka bahwa mimpi akan medali itu berubah 180 derajat? Bahkan sekali pun tidak pernah terbesit dalam pikiranku, aku akan berada di sini. Berjuang bersama dengan teman-teman komunitas “Runvolution” Medan di sebuah gelanggang kompetisi maraton Internasional, menchallenge kemampuanku untuk meraih sebuah medali “Full Marathon”, dan bukan sedang sibuk memutar otak mengingat-ngingat pelajaran yang sudah dipelajari untuk memperjuangkan sebuah medali olimpiade matematika atau sejenisnya.

Nafasku mulai berirama 1 2 1 2 ketika aku memasuki kilometer ke tujuh. Kakiku terasa kram dan aku sangat ingin duduk untuk meluruskan kedua kakiku. Ohh betapa besarnya keinginan itu menghantui pikiranku. Saat ini aku sudah tertinggal jauh dari teman-teman lainnya termasuk paman Will dan pacer 6 jam. Namun aku tetap ditemani oleh dua teman “Runvolution” yang rela mengorbankan personal best lari mereka demi menyemangati dan memastikan aku finish strong.

“Ayok Vero, kamu bisa!” bang Kheng menyemangati.
“Aihh, gak bisa. Kaki sakit,” aku mengeluh dan memperlambat irama kakiku.
“It’s okay Vero. Pelan-pelan saja,” timpal bang Kheng.
“Kamu bisa! Kami jamin kamu bisa,” seru bang Johan yang berlari kecil di sisi kiriku.

Tiga menit kemudian aku memutuskan untuk berlari lagi, tetapi tidak lama kemudian aku kembali mengeluh dan berhenti. Aku mengubah posisiku menjadi jalan cepat.

“Vero, sini armband kamu. Sepertinya kamu keberatan dengan benda itu,” ujar bang Kheng yang telah menungguku di depan.
Aku menghela nafas dan tersenyum kecil. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika mereka tidak berada di dekatku saat ini. Aku sungguh tak menyangka bahwa kaki aku sudah terasa sakit di kilometer awal. Akan tetapi aku sadar bahwa ini memang murni karena kesalahanku yang tidak rutin untuk latihan. Sungguh aku sangat menyesalinya.
“Vero, makan gujelnya (gujel adalah sejenis suplemen makanan).” Jerit bang Kheng.

Akhirnya kami tiba di sebuah water station yang penuh dengan cangkir kecil berisi air minum dingin dan tersedia dua bilik toilet. Seketika itu juga aku meluruskan kakiku dengan menyangganya di atas besi yang membatasi pinggiran jalan tol. Setelah gujel pertama habis, kami melanjutkan perjalanan kami yang masih sangat panjang.

Aku disuruh untuk berlari duluan dan kedua temanku akan menjagaku dari belakang. Tanpa menoleh lagi, aku mulai berlari kecil sembari memandang beribu-ribu lampu kota di ujung jalan yang berkilauan seakan memberikan kehangatan dan rasa nyaman di hatiku. Aku berlari dengan semangat seperti di kilometer pertama. Entah karena gujel atau air yang telah kuteguk, tapi aku merasa staminaku kembali pulih. Aku sungguh menikmati jalur di kilometer sepuluh hingga sebelas lebih ini.

Di mana mereka? Apa aku salah jalan? Tapi aku rasa ini adalah jalur yang benar, batinku dengan penuh kegelisahan.
Aku sangat takut, takut bahwa aku berada di jalur yang salah. Karena aku paling lemah dalam hal menghafal jalan, aku terkenal sebagai Vero si buta arah. Akhirnya aku duduk di tepi jalan, menunggu dan berharap aku akan melihat sosok yang aku kenal.

“Hei Vero! Kami pikir kamu salah arah,” bang Kheng menyapaku.
“Vero juga berpikir demikian. Syukurlah bahwa dugaanku salah.” Hatiku lega ketika mendengar suara yang kukenal menyapaku dalam gelap.
“Tapi di mana bang Johan? Apakah dia tertinggal di belakang?”
“Ohh enggak. Dia mencarimu di jalur Half Marathon, karena kami pikir kamu salah jalur.”

Aku tak tau harus bagaimana. Tapi rasa bersalah menghampiriku. Betapa aku sangat menyesal telah menyusahkan teman-temanku. Walaupun aku tau bahwa mereka tidak merasa aku menyusahkan mereka. Dadaku terasa sesak dan rasanya aku ingin menangis. Ohh betapa cengengnya diriku. Selang beberapa menit akhirnya kami melihat sosok yang sudah tak asing sedang berlari ke arah kami. Betapa leganya melihat dia kembali hingga mengubah ekspresi wajahku menjadi berbinar. Sekarang kami lengkap, kami kembali bertiga lagi.

“Kami pikir kamu tersesat, Vero. Ternyata kami yang terlalu asik ngobrol hilang kehilangan sosokmu,” ujar bang Johan yang masih ngos-ngosan.
“Ayok lanjut,” timpalnya kemudian.

Suasana mulai berubah, aku mulai merasakan tiupan angin dengan hawa dingin yang menusuk ke tulang. Mulai ada suara kendaraan yang berlalu-lalang dan tidak ada lagi lampu berkilauan yang menghiasi jalur-jalur yang kami tempuh. Akan tetapi satu hal yang tidak berubah bahkan semakin sakit adalah kakiku. Aku merasakan seluruh urat di bagian betisku seperti tertarik dan langkahku semakin berat. Aku melirik jam garmin yang dipinjamkan oleh seorang teman yang seharusnya juga berlari dalam kompetisi ini, andaikan saja kakinya tidak cidera. Dia adalah seseorang yang memotivasiku dan meyakinkan aku bahwa wanita juga bisa menyelesaikan Full Marathon.

“Aaaaa sakit. Aku gak bisa lagi, sakit banget,” aku mengeluh untuk kesekian kalinya.
“Kenapa Vero? Masih sakit? Istirahatlah dulu, santai saja. Waktu masih banyak,” bang Kheng berkata lembut.
“Jangan, sakit di kaki harus dipaksa. Kalau berhenti, kamu akan merasakan yang jauh lebih sakit lagi,” sela bang Johan dengan ekspresi serius.
“Gak bisa nih, sakit. Aku yang rasain, sakit banget.”
“Bisa. Ayok lari lagi. Kamu duluan, kami jaga dari belakang,” bang Johan memaksa.

Deg! Aku lemas mendengarnya. Tanpa berpikir lebih panjang lagi, aku mencoba untuk terus berlari. Sesekali aku menoleh ke belakang dan melihat teman-temanku memberi aku semangat. Kepalan tangan yang dinaikkan serasa mengobati sedikit rasa sakit di kakiku. Aku berlari, berlari dan terus berlari. Banyak sekali pikiran-pikiran yang berkelabat di dalam benakku. Aku tidak sanggup, tidak kuat, tapi ini bukan saatnya menyerah, kamu pasti bisa, jangan mengecewakan teman-temanmu. Kalimat-kalimat itu terus terngiang-ngiang di dalam benakku. Tanpa sadar tiba-tiba air mataku bergulir membasahi pipi yang tadinya sudah kering. Perasaanku campur aduk. Namun seketika itu juga aku teringat dengan dua sosok inspirator andalanku.

“Senang melihat kalian ada di sini. Ingat bahwa ini bukan pertandingan kamu dengan orang lain. Ini adalah pertandingan kamu dengan dirimu sendiri. Sakit sudah pasti, tetapi jangan pernah menghitung berapa kilometer lagi kamu akan sampai di garis finish. Just enjoy the race dan finishlah dengan gaya yang keren.” Ujar pak Mil di sebuah food court sembari memberikan pengarahan sehari sebelum maraton dimulai.

“Vero, ingat jaga pace. Jangan terlalu kencang karena kamu akan kewalahan di kilometer dua puluh ke atas. Santai saja, nikmati suasana dan pemandangan yang ada. Anggap kamu lagi menjalani sebuah kehidupan, suka duka sudah pasti ada dalam perjalanan ini. Tetapi ketika kamu berhasil finish, waw.. Semua duka pasti lenyap, kamu akan rasakan sendiri bagaimana sensasinya. Jangan menyerah dan let us finish strong!” kata pak Asan yang sedang berlari di sampingku bersama teman-teman lainnya ketika di kilometer pertama.

Perlahan memori otakku berjalan mundur, memutar moment-moment yang telah berlalu. Aku teringat pada saat pertama kali aku tertarik dengan komunitas Runvolution. Event pertama yang membuat aku terserang virus lari adalah ketika kami diberikan sebuah tantangan untuk konsisten berlari selama dua minggu penuh dan mengumpulkan kilometer sebanyak-banyaknya untuk menjadi pemenang. Pada awalnya aku mengira bahwa aku berlari hanya karena sebuah reward, namun akhirnya aku sadar bahwa aku telah jatuh cinta dengan komunitas ini dan membuatku sangat kecanduan dengan lari. Komunitas lari Runvolution bukan hanya sekedar sekelompok orang yang berlari bersama. Tetapi sebuah komunitas yang saling menginspirasi, saling membangun, saling menjaga, saling mendukung, dan selalu mengutamakan kebersamaan. Sekalipun aku tidak pernah merasa tertinggal jauh di belakang ataupun terasingkan meskipun aku adalah seorang new member, karena akan selalu ada yang berbalik arah untuk menjemputku di belakang. Baik ketika kami sedang latihan maupun ketika saat ini kami berlari dalam suatu pertandingan.

Kenangan aku bersama Runvolution adalah kenangan-kenangan yang mungkin tidak akan pernah tergantikan oleh komunitas lari mana pun. Aku merasa aku sedang berlari bersama sebuah keluarga yang penuh kehangatan. Dengan mengandalkan kalimat- kalimat dari inspirator andalanku dan kenanganku bersama Runvolution membuat aku kembali bergairah untuk berlari, aku mengusap air mataku dan terus berlari dua kilometer ke depan hingga akhirnya menemukan water station. Jam garmin di pergelangan tangan kiriku menunjukkan bahwa saat ini aku telah berlari sejauh dua puluh sekian kilometer.

“Ughh, hampir half marathon,” aku terduduk sembari mengambil gujel yang disodorkan oleh bang Kheng.
“Masih kuat Vero?” tanya bang Kheng dengan sikap santainya.
“Aku rasa begitu, hahaha,” aku tertawa meyakinkan diriku sendiri.
“Habisin gujelnya, sebentar lagi kita akan sampai,” sambung bang Johan yang dari tadi lasak entah ngapain.

Aku bangga dan sangat salut dengan dua temanku ini. Sejak awal mereka tidak pernah mengeluh dan selalu setia menyemangati aku yang entah sudah berapa kali berkomentar. Mereka sangat santai dan menikmati setiap irama kaki yang mereka gerakkan. Secara tidak langsung, irama kaki mereka juga yang telah memberikan aku semangat untuk terus berlari dan memilih untuk tidak menyerah. Setiap hentakan langkah kaki mereka membuat kakiku yang kaku menjadi sedikit lebih rileks. Setiap kali aku melihat sepatu mereka yang sedang kejar-kejaran satu sama lain membuat aku merasa bahwa garis finish tinggal sedikit lagi dan setiap suara nafas mereka membuat aku sadar bahwa aku sedang tidak berjuang sendirian.

“Semangat! Sedikit lagi kita akan sampai,” seru paman Wil dari seberang jalan.
“Ohhh itu paman Wil.” Seketika kami terkejut.
“Wah paman Wil sangat luar biasa. Kencang juga ya,” ujar bang Johan sambil melambaikan tangan kepada paman Wil.
“Ayok Vero! Kamu bisa.” Suara itu datang setelah beberapa menit paman Wil berlalu dari pandangan kami. Ternyata suara itu berasal dari salah seorang teman Runvolution yang sudah berada di jalur seberang yang tadinya dilewati oleh paman Wil. Dia juga adalah seseorang yang sangat menginspirasi di dalam komunitas lari ini. Dia bisa sampai di opname karena kecapekan. Namun dia membuktikan bahwa komitmen dan konsistensi mampu mengubah segalanya.

“Yaa bang Wan, kami akan segera menyusulmu,” jeritku dari tempat aku berlari.
“Wawan keren juga ya. Tadi kami lari bersama sampai kilometer sepuluh sekian. Namun tiba-tiba kakiku naik betis dan sekarang dia sudah jauh di depan. Salut.” Kata bang Calvin yang berlari kecil di sampingku.
“Iya, cool. Sepertinya dia akan finish di bawah 7 jam,” jawabku sembari mengatur nafas.

Matahari mulai menampakkan diri dari tempat persembunyiannya dan awan gelap mulai berubah menjadi gumpalan awan berwarna putih bak gulali yang membuatku takjub. Langit biru dan gumpalan awan putih yang entah bisa jadi bentuk apa saja adalah salah satu hal yang sangat aku sukai. Hatiku penuh damai dan aku melihat impian-impian yang tergores indah di atas sana. It is hope!

“Hey! Beberapa teman kita telah sampai di garis finish dengan durasi waktu di bawah 5 jam.” Seru bang Johan ketika kami memutuskan untuk berhenti sejenak di water station.
“Ohya? Siapa saja?”
“Bang Kin, pak Mil, pak Asan, dan paman Wil.”
“Wow! Awesome! Bangga!”
“Ehh, ngomong-ngomong bang Kin lagi gak enak badan kan? Menakjubkan sekali dia bisa sampai dengan sangat cepat,” lanjutku dengan mata terbelalak dan penuh rasa kagum.
“Iya, kalau bang Kin jangan ditanya lagi. Kencang banget dia. Salut!” ujar bang Johan senyum-senyum dengan jari jempol yang terangkat ke atas.
“Andalan Runvolution,” sambung bang Kheng sembari membasuh kakinya dengan air es.
“Ayok gas! Delapan kilometer lagi. Tinggal delapan! Usahakan untuk tidak cidera hingga garis finish.” Bang Johan bangkit dan bersiap untuk berlari.

Jam tangan garmin yang menempel di pergelangan tangan kiriku menunjukkan bahwa hanya tinggal lima kilometer lagi maka medali akan menjadi milikku. Namun saat itu waktu COT tinggal satu setengah jam lagi. Aku mulai pesimis karena kedua kakiku benar-benar sudah sangat kaku. Lututku serasa merongrong dan minta diistirahatkan. Keringatku bercucuran tak henti-hentinya. Matahari yang terik membakar kedua pipiku hingga merah merona. Aku kelelahan. Sungguh!

Aku tahu aku sudah hampir sampai, tapi kakiku juga tahu sejauh mana batas kemampuannya untuk berlari. Mungkinkah setelah ini aku akan mengalami cidera kaki yang parah? Mungkinkah ini akan jadi terakhir kalinya aku berlari? Mungkinkah aku dan kedua temanku gagal karena aku? Mungkinkah? Mungkinkah?

Terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang menyerang dan membuat mentalku down. Aku berseru dalam hati dan berdoa kepada yang Maha Kuasa. Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba sebuah lagu mampir di benakku. Lagu ini membuat tenagaku seperti full batery. Entah dari mana perasaan ini muncul, namun aku percaya bahwa God is in control dengan mengingatkan aku melalui sebuah lagu. Lagu ini terus-menerus kunyanyikan dan sesekali aku menepuk kedua tanganku sebagai cara untuk memotivasi diriku sendiri.

Hey hey I’m in love with You
I’m sold out for You
You are everything to me
Hey hey I believe in You
Lord I know that no one can take this love away
I’m gonna praise You everyday

Alunan lembut This Love dari Planetshakers mengiringi langkah kakiku di sisa-sisa kilometer hingga menuju garis finish. Akhirnya dalam durasi waktu tujuh jam sekian, aku berhasil mencapai garis finish bersama dengan teman-teman yang mengiring langkah kakiku. Segala sesuatu yang telah aku lalui selama tujuh jam berubah menjadi sesuatu hal yang menakjubkan. Tangisanku berubah menjadi sukacita yang sangat luar biasa, kekhawatiranku berubah menjadi kenangan yang mengesankan dan sakit di kakiku berubah menjadi hadiah terindah yang pernah aku dapatkan serta merah merona pipiku membuatku bangga akan diriku sendiri dan seluruh teman-teman Runvolution yang telah berhasil mencapai garis finish FULL MARATHON untuk pertama kalinya.

Cerpen Karangan: Veronica Acnes
Blog / Facebook: Veroacnesjingga.blogspot.co.id / Veronica Acnes Jingga
Kindly to visit my blogspot and put your comments. Thank you.

Cerpen Friend’s Foodsteps merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Merantau

Oleh:
Malam berlalu, ku lihat awan berkelabu, menemani sepi dalam lamunanku di teras depan rumahku. Namaku Ricky, ini sepenggal kisah yang entah berapa tahun yang lalu, waktu itu aku kelas

Satu Langkah Di Atas Langit

Oleh:
Dunia memang tak selalu seperti apa yang diharapkan tapi kenyataanlah yang harus dijalani. Pun dengan hidupku, tak seorang pun menginginkan hidup yang terlahir dari keluarga yang tak berada. namun

Detak Berdetak

Oleh:
Kenalkan, aku Jean. Aku anak yang paling nakal dari banyak siswa nakal yang kalian tau! Hei, jangan remehkan aku! Aku pernah memecahkan pot bunga kesayangan guru biologiku, aku pernah

Sepeda Kumbang

Oleh:
“saat aku pergi sekolah, aku melihat teman teman ku pergi dengan sepeda motor dan dengan angkutan lainnya. aku pingin sekali mempunyai sepeda motor, tapi agar impian ku terwujud, akhirnya

Dia Ibuku

Oleh:
Seperti biasa ketika aku sedang dilanda masalah yang berkaitan dengan urusan hati atau lebih suka ku sebut dengan perasaan, aku akan duduk di atas atap genteng rumah yang bewarna

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *