Gadis Matematika Dan Kakek Misterius

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 September 2017

Sania Mahadewi, seorang gadis asal Manado yang ber-IQ diatas rata rata orang biasa. Tidak semua anak sekolah menyukai Matematika, bila pelajaran yang mudah aja kebanyakan anak tidak bisa apalagi pelajaran yang sulitnya bukan main itu.

“Hai.. San lagi ngapain, asik bener tuh?” sapa Mela, teman sekelas Sania. “Biasalah ngerjain tugas.” perhatiannya menulis terhenti sejenak. “Pasti matematika yah”, “tau aja luh Mel”. “Kalau orang yang suka baca julukannya apa hayo”, “ya kutu buku lah.”. “Tapi kalau kayak kamu yang sukanya matematika julukannya apa?” tanya Mela menahan tawa. “E… e.. entahlah” jawab Sania menggeleng kepala. “Jawabannya… kutu rumus hahahah” tawa Mela yang penuh kegirangan. “Kenapa kutu rumus?”, “karena matematika kan banyak menggunakan rumus, jadi… ya kutu rumus deh” gelak tawa mereka terbahak bahak.

Ketika mereka sedang asyik bersendau gurau, datanglah Aldo teman mereka yang paling suka molor di kelas. “Lagi ngapain sih kalian, kayaknya asyik bener tuh. Boleh gabung” perhatian mereka teralihkan ketika Aldo datang. “Kepo lu do” sahut Mela. “Oh ya kalian udah tau belum sekolahan kita minggu depan akan ngadain olimpiade matematika sekota Manado. Katanya sih yang jadi ketua panitianya dari pihak sekolah kita gitu.” kata Aldo. “Wah wah wah ini kesempatan bagus untuk kamu San. Yang paling jago dalam hal rumus rumus kan kamu ahlinya.” lirih Mela pada Sania. “Hah aku!” kaget Sania. “Iya San kamu ajalah yang mewakili sekolah kita. Di sekolah ini yang pintar dalam matematika kan cuma kamu sama Ata. Tapi mending kamu aja deh, kan kamu tau sendiri bagaimana sifatnya di sekolahan ini.” sekali lagi ajakan kedua temannya itu membangkitkan semangat Sania untuk mengikuti olimpiade ini.”, “tak ada pilihan lain, ya aku ikut aja deh.”

2 minggu cepat sekali berlalu. Kini gadis berkulit langsat ini menunjukkan keberaniannya. Dengan persetujuan dari pihak sekolah, Sania memperkokoh niatnya untuk melangkah ke ruang perlombaan, yang di mana banyak orang orang terpilih dari berbagai daerah di Manado yang ikut olimpiade tersebut. Dua tiga langkahnya telah dijangkahkan memasuki ruangan lomba. “Jangan gugup ya!” tepuk seorang laki laki tua yang turut mendukungnya. Karena gugup dia tidak sempat merespon pria tersebut. Kursi demi kursi telah dia telusuri untuk mencari namanya yang tertempel di kursi, memakan waktu dua menit untuk mencari namanya dan akhirnya sebuah kursi bertuliskan SANIA telah dia temukan di belakang ruangan.

“Semangat… semangat… semangat San kami bersamamu” teriak teman teman sekelas Sania dengan membawa spanduk. “Aku harus menang” teguhnya dalam hati. Sebuah laptop lengkap dengan mouse dan keyboardnya telah siap berdiri di meja tempatnya bertanding. Semua soal telah tertera di dalam laptop tersebut. Dan terkejutlah Sania, menghadapi soal yang membuatnya bingung tak ada ujungnya. “Soal apaan nih, sulit banget. Biasanya soal soal semacam ini aku selalu bisa. Tapi entah kenapa, saat saat pertandingan. Memoriku tentang rumus ini bagai hilang ditelan bumi”. Waktu yang diberikan hanya berlangsung dua jam. Satu jam dia membuang buang waktunya hanya untuk satu nomor, bukan berarti dia tidak belajar semalam. Karena semua rumus yang dihafalkan serasa tidak muncul dalam soal tersebut, atau mungkin karena dia lupa rumusnya.

Waktunya tinggal lima belas menit lagi, dan dia belum juga menjawab satu nomor pun. Doa dan usaha yang selalu mengiringinya dalam mengerjakan. Tiba tiba di pikirannya teringat pesan dari seorang kakek yang ditolongnya pagi tadi di jalan. Kakek itu berkata “Jangan urungkan niatmu untuk melangkah ke arah kesuksesan, buatlah orang orang di sekelilingmu merasa takjub akan keberhasilanmu. Ubahlah yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang tidak bisa menjadi bisa. Kamu pasti bisa nak”, pesan kakek tersebut membukakan jalan pikir Sania. Tiba tiba semua rumus yang tadinya dia anggap sulit, menjadi mudah. Hanya dalam lima menit, ketangkasannya dalam mengerjakan empat puluh soal, telah dimainkannya. Setelah selesai wajib pekerjaannya dikirimkan ke e-mail Olimpiade Mathematic.

“Kriiiinnnggg” bel tanda selesai telah terdengar bagi seluruh peserta. Semua peserta berdiri dari tempatnya duduk dan meninggalkan ruangan lomba, begitupun dengan yang Sania lakukan.

“Gimana soalnya San, apa kamu mengalami masalah dalam pengerjaannya.” tanya Mela menggodanya. “Kalau ada emangnya kenapa?”, “iya nih Mela sukanya nggodain aja.” tanggap Aldo. “Ye siapa juga yang nggodain, orang cuma nanya” gerutu Mela. “Tapi… Kalo sulit ya nanya aku aja San, gini gini walau sedikit aku juga bisa matematika lho!” sombong Mela. “Hah hahahahah kamu lucu Mel.” gelak tawa Aldo. “Lucu dari mananya”, “iya lucu, orang jelas jelas nggak bisa rumus gitu kok ngaku ngaku bisa. Huh…” ejek Aldo mengisi candaan Mela. “Hih Aldo nih bisanya ngejeeeekkk mulu”. “Sudah sudah dari tadi ribut mulu.” potong Sania.

Satu minggu telah berlalu, dari kejauhan terlihat kerumunan para siswa mengintari mading. “Ada apa ya rame banget sih. Kepo ah!” pikir Sania yang baru tiba di sekolah. “Selamat ya San” seorang siswa yang mengucapkan kata itu pada Sania. “Ada apa emangnya” bingung Sania. “Lihat aja di mading” jawab siswa tersebut. Langkah penasaran membawaku sampai di mading, dan seketika aku berlonjak kegirangan. “Yes aku berhasil.” ucap Sania dalam hati. Ini semua berkat kata bijak dari kakek yang dia tolong waktu itu, hingga dia bisa mewujudkan impiannya membawa nama baik sekolah. “Oh ya tapi.. Siapa kakek itu?” pikirnya heran.

Cerpen Karangan: Nanda Dwi Irawan
Facebook: Nanda Dwi Irawan

Cerpen Gadis Matematika Dan Kakek Misterius merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pemilih Hati

Oleh:
Semua orang lihai dalam masalah cinta. Namun, tidak bagi pemuda yang sedang terduduk melamun di atas balkon itu. Matanya yang hitam pekat memandangi pemandangan di depannya. Seulas senyum ia

Anak Pisang

Oleh:
Tiada hari tanpa aroma pisang goreng di dapur emak. Itu yang Ana rasakan ketika terbangun dari tidurnya. Dan aroma teh panas menyapa pagi Ana dengan kehangatan. Ia mengunyah pisang

Agoraphobia

Oleh:
Ada seorang anak semata wayang dari keluarga kaya bernama Gwendy. Sejak lahir Gwendy mengidap penyakit cacat, sehingga kaki kanannya lebih panjang dibanding kaki kirinya. Awalnya ia tidak mempedulikan hal

Haflah Akhirussanah

Oleh:
Perpisahan… Bukan berarti kita tidak akan bertemu kembali… Perpisahan… Hanyalah agar kita tetap akrab saat bertemu kembali… H-12 sebelum Haflah Kriinggg… Bel telah berbunyi menandakan UN hari terakhir telah

Titipan Cinta

Oleh:
Semilir angin menemani indahnya siang ini, Dinda yang duduk manis melihat kekompakan teman-temannya yang bergurau tak sungkan dia juga ikut dalam gurauan teman-temannya. Di ujung sana terlihat Dino sedang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *