Hal kecil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 13 November 2014

Jam alarm ku berbunyi tepat pukul 05.30, aku segera bangun lalu sholat subuh. Karena ini hari aku sekolah aku bergegas sarapan, mandi lalu segera berpamitan kepada ayah dan ibuku. Saat menuju ke sekolah, aku melihat ada poster perlombaan menyanyi.
“Sepertinya perlombaan ini sangat menarik dan mungkin aku bisa membantu ayah dan ibu mencari uang, karena hadiahnya juga lumayan besar”, kataku dalam hati. Setelah itu aku menuju ke sekolah.

Aku bertemu temanku saat di depan gerbang sekolah.
“Hay adi, tahu gak tadi aku lihat poster perlombaan menyanyi loh. aku mau kamu membantuku untuk latihan perlombaan, kamu mau gak?” kataku sambil memegang bahu adi.
“Mau saja, tapi untuk apa kamu ikut lomba menyanyi?”.
“Begini, aku mau membantu ayah dan ibu mencari uang karena akhir-akhir ini kondisi keuangan keluargaku sedikit berkurang, jadi aku mau membantu ayah dan ibu.”
“Wah, kamu memang anak yang baik ya, oke nanti sehabis sekolah kita latihan” kata adi sambil menunjukan jari jempolnya.

Kami pun menuju ke kelas pelajaran pertama yaitu pelajaran bahasa indonesia tentang puisi. Aku mendengar dan memperhatikan semua yang ibu guru terangkan supaya aku dapat lebih mengerti apa yang diajarkan ibu guru, setelah itu ibu guru menyuruh kami untuk membuat puisi dan membacakannya.
“Siapa yang mau maju ke depan kelas dan membacakan puisinya, nanti akan ibu beri nilai 90 tapi dengan ekspresi”.
Suasana kelas menjadi hening, karena tidak ada yang mau maju dan membacakan puisinya akhirnya aku pun maju. Aku pun membaca puisi dengan judul matahari
Matahari, kau lah yang pertama yang kulihat di pagi hari
Kau menerangi bumi dan alam seisinya

Aku membaca puisi dengan ekspresi yang tenang dan baik.

Bait puisi yang kubaca akhirnya selesai juga. Ibu guru memberi ku nilai, lalu mempersilakan aku duduk. Jam menunjukan pukul 13.00, Bel pulang sekolah berbunyi aku pulang sekolah bersama adi menaiki sepeda, tapi sebelum pulang aku dipanggil oleh ibu guru.
“Ini bener alwan kan, siswa kelas 9F yang ibu suruh membuat puisi, benar”.
“Iya ibu, memangnya ada apa?.”
“begini nak ibu ingin kamu ikut lomba menyanyi untuk mewakili sekolah kita, karena suara kamu yang bagus itu walaupun kamu laki-laki ibu suka dengan suaramu”. kata ibu guru
“masa sih haha, baiklah bu jadi kapan kita latihan menyanyi bu?” sambil tertawa kecil
“Mungkin nanti sore jam 15.40, oke”.
“Oke, bu tapi, bolehkah aku mengajak adi juga.”
“Tentu saja boleh supaya kamu bisa lebih semangat latihan”.

Akhirnya aku pun pulang dengan hati gembira, aku memberi tahu kabar baik ini kepada ayah dan ibu. Setelah selesai makan dan istirahat aku pun langsung ke rumah ibu guru, betapa terkejutnya aku bahwa yang kulihat adalah kumpulan piala di dekat ruang keluarga
“Gimana menurut kamu alwan, banyak pialanya, kan”. kata ibu guru sambil menghidangkan minuman dan makanan kecil untukku
“Iya bu, tapi ini piala apa ya?”
“Ini piala lomba nyanyi, ada yang antar daerah, kota dan masih banyak lagi”.
“Wah, ibu hebat sekali, tapi apa aku bisa seperti ibu mempunyai banyak piala?”
“Ya tentu bisa kamu hanya perlu latihan, berdoa dan berusaha mungkin kamu bisa seperti ibu”. kata bu guru sambil tersenyum
“Baiklah, bu guru”. kataku sambil membalas senyum ibu guru. Kami pun memulai latihan bernyanyi dari latihan pernafasan yang tepat dan ekspresi bernyanyi agar lebih menjiwai lagi.

Setelah pukul 17.30 aku dan adi berpamitan kepada ibu guru dan mengucapkan terimakasih, saat aku dan adi dalam perjalanan kami melihat mobil berhenti di depan kami. Keluar 2 orang anak dari mobil itu
“Kamu Alwan, kan anak Smp Tunas Bangsa itu”.
“Benar, memang ada urusan apa?” kataku dengan penasaran
“Kami cuma ingin bilang sebaiknya kamu menyerah saja dari perlombaan menyanyi itu jika tidak akan tahu akibatnya” kata seorang anak itu
“Sembarangan, memang kamu siapa menyuruh-nyuruh orang untuk menyerah”. kata adi dengan sedikit membentak. Lalu kedua anak itu menuju ke mobil dan pergi
“Sudah lah adi biarkan mereka bicara apa adanya, kita harus membuktikan kepada mereka bahwa mereka itu salah.” kataku sambil menenangkan adi.

Kami pun pulang ke rumah masing-masing dan istirahat, aku pun sampai di rumah ternyata ada kabar ibuku sedang sakit tifus dan harus dibawa ke rumah sakit. Mendengar kabar itu aku dan ayah langsung menuju rumah sakit. saat di rumah sakit aku melihat ibu dengan muka pucat
“Ibu tidak apa-apa, kan?”. kataku sambil memegang tangan ibu
“Ibu tidak apa-apa nak, ibu hanya sedikit lelah dan butuh istirahat saja sebaiknya kamu pulang kan besok kamu mau lomba nyanyi”.
“Baiklah bu, doakan biar alwan menang ya”. kataku sambil tersenyum
“Tentu saja, nak”. kata ibu sambil membalas senyum ku.

Keesokan harinya aku menuju tempat perlombaan, disana banyak peserta dengan suara yang indah dan bagus
“Ingat Alwan kamu cuma perlu tenang dan jangan gugup ketika di atas panggung”. kata bu guru dengan sedikit membisik
“Baik, bu aku akan memberikan yang terbaik”. sahutku sambil tersenyum. Satu demi satu orang ada yang lolos dan ada yang tidak lolos, saat giliranku tampil hatiku deg deg-an aku takut kalau nanti penampilan ku tidak bagus dan dicemooh tapi apa yang terjadi ternyata aku lolos dan masuk ke final

“Ibu guru, adi aku lolos dan masuk final nih”. kataku sambil berlari
“Wah hebat kamu Alwan”. puji adi
“Hebat tapi kali ini kamu harus memberikan yang terbaik dan tidak perlu gugup, oke”.
“Oke ibu guru”.

Aku pun menuju ruang tunggu tapi ada keanehan yang terjadi, aku melihat anak yang menyuruhku menyerah kemari dan ternyata dia adalah perwakilan dari Smp negeri 2 yang terkenal dengan suaranya dan penampilannya yang bagus. Semangat aku pun sedikit pudar karena sainganku kali ini lebih berat, aku hanya bisa berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk memberiku kemudahan.

Sebelum tampil aku ingat kata-kata ibu dulu saat aku mengikuti lomba puisi yaitu “Untuk menjadi yang terbaik tidak perlu dengan piala atau dengan penghargaan tetapi dengan kerja keras dan usaha”. Mengingat nasihat ibu semangat ku kembali tinggi dan aku pun menuju panggung, aku bernyanyi dengan merdu, tenang dan tidak gugup.

Setelah selesai tampil ada ibu guru dan adi melihat penampilan ku
“Bagaimana Alwan apakah kamu yakin akan menang”. kata ibu guru
“Itu tergantung, aku hanya perlu berdoa saja dan melihat hasil dari kerja keras ku itu”. kataku sambil tersenyum.

Ketika juri mengumumkan para pemenang aku merasa takut
“Baiklah juara ketiga adalah perwakilan dari Smp budi dharma yaitu Dimas Adi laksa, dan juara kedua adalah perwakilan dari smp negri 2 yaitu airlangga saputra dan ini dia yang kita tunggu saudara-saudara juara pertama yaitu adalah…”. ketika itu hatiku merasa gugup dan takut jika nanti aku bukan juara mungkin aku akan mengecewakan ayah dan ibu
“Juara pertama yaitu perwakilan dari smp tunas bangsa Muhammad Alwan trisatya.” mendengar namaku aku kaget dan senang sekali bahwa juara pertama adalah aku, akhirnya aku menuju panggung untuk mengambil piala dan hadiah uang tunai sebesar 3 juta rupiah. Aku pun pulang dengan hati gembira dan memberi tahu kabar baik ini kepada ayah dan ibu, dan sejak saat itu aku pun menjadi penyanyi cilik yang berbakat.

TAMAT

Cerpen Karangan: Muhammad Khalif
Facebook: Muhammad Khalif

Cerpen Hal kecil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bertangan Tuhan

Oleh:
“Suatu hal yang diyakini dengan kuat akan menumbuhkan hasil hebat tanpa pernah kalah dengan proses pahitnya” Seorang laki-laki dewasa terpekur risau di pinggir trotoar. Matanya tak lepas dari genangan

Mengejar Matahari

Oleh:
“Uhuuk.. Uhuuk.. Uhuuk…!!”. Juleha yang menyunggi nampan yang berisi jajanan pasar, menahan batuk dengan tangan kanannya, lantas ia mencoba menaruh sunggihannya di atas meja. Mendengar suara batuk-batuk dari sang

Langit itu

Oleh:
Entah apa yang langit pikirkan sekarang. Langit itu redup, diselimuti oleh awan tebal yang membuat matahari mulai hilang. Aku hanya bisa terdiam saat air-air jernih itu mulai turun darinya.

Fallen

Oleh:
Apakah kalian sudah pernah merasakan ‘jatuh’ dalam hidup kalian? Bukan Jatuh Cinta, oke? Jatuh yang ku maksud di sini adalah jatuh dalam jurang kegagalan dalam hidup. Terdengar mengerikan, bukan?

Soedirman

Oleh:
Panas matahari menyengat tubuhnya yang berjalan menyusuri cairan aspal yang telah memadat. Suara bising kendaraan yang merambat lebih cepat dari siput yang cacat, sama sekali tak dihiraukannya. Bibir hitamnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *