Harapan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Mengharukan, Cerpen Motivasi, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 April 2013

“Eh?” Misa terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Nel. Sungguh saat itu Misa tak pernah menyangka, dan belum bisa memahami apa yang dikatakan Nel. Kalau dipikir-pikir, kondisi Nel memang menjadi aneh akhir-akhir ini, dan keanehan itu mulai terlihat setelah liburan semester 1 kemarin…

****

“Nurramdhani, jangan lemas begitu! Semua juga kepanasan sekarang!” Bentak Bu Ira. Terlihat Nel sedang memegangi kepalanya dan terkadang hampir tertidur. “Kamu nggak apa kan Nel?” Tanya Misa.
“Iya, aku baik-baik aja kok..” Jawabnya.
Misa tidak terlalu mempercayai apa yang dikatakan oleh Nel. Jelas-jelas dia sering terlihat lemas, Dan Berhari-hari selalu Diare..
Selama 4 hari Nel absen sekolah. Dia terkena masuk angin dan sulit sembuh. Dan ketika Nel mulai masuk sekolah seperti biasanya, Misa menyadari keanehan lagi pada Nel. “Wah, Nel tambah kurus ya? kok bisa sih.. sejak kapan?”
“Ya begitulah.. aku juga kaget, Padahal makanku teratur.” Kata Nel sambil memakai baju olahraganya. “Lho Nel, kamu habis makan apa? lidahmu ada putih-putihnya tuh.. Nih, kaca!”
Nely baru sadar di lidahnya ada flek-flek putih. Flek-flek itu nampak jelas. “Ayo semuanya..! Buat 2 baris. Cepat!” Teriak pak Khoir, Guru olahraga. Semuanya melakukan pemanasan selama 5 menit. Dan mulai berhitung dari arah kanan. “Tu… wa…ga…pat! tu.. wa…ga.. pat! tu…..”
“Nely, Kamu nggak bersuara sama sekali! Ada apa?” Tanya pak khoir. “Eng.. ngak… pak.. Saya baik-baik aja.” Jawab Nely dengan wajah pucat.
“Kamu harus periksa ke rumah sakit Nel.. Dari minggu lalu kamu selalu seperti ini..”
“Baik pak kh..” BRUUK!
“Nely!?” Nel jatuh pingsan. Serentak teman-temannya dan pak khoir langsung mengangkat Nel ke UKS. Pihak sekolah menelepon orangtua Nel karena setelah berjam-jam Nel tak sadarkan diri di ruang UKS. Akhirnya setelah melihat keadaan anaknya, orangtua Nel memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.

****

“Kemarin aku uda bilang sama Surya..”
“Bilang apa Nel? Nggak mungkin kan kamu…” Misa tak mau melanjutkan ucapannya. Ia tak habis pikir, Sahabatnya yang cantik dan pintar ini, Nely Nurramdhani akan terjangkit penyakit yang sampai sekarang obatnya belum bisa ditemukan, yaitu penyakit “AIDS”. Menurut orangtuanya, Penyebab Nel terkena virus HIV itu ketika sedang berlibur bersama orangtuanya di luar negeri.” Waktu di luar negeri, Nely pernah kecelakaan dan menerima transfusi darah.. Mungkin saat itulah ia terkena darah dari orang yang punya penyakit ‘AIDS’.. Tapi itu saat Nel masih kelas 3 SD, Mana mungkin dia tertular 8 tahun lalu.” Jelas Ibu Nel. “Dan padahal waktu di luar negeri, ia dirawat di rumah sakit besar.. Hingga hari ini kami tak pernah mencurigai mereka. Sebagai orangtuanya kami tak menyadari hal itu. Kalau saja dia diperiksa lebih cepat..” Ibu Nel menangis terisak-isak. “Konon.. hiks… daya tahannya kini hanya 1/5 dari… hiks.. orang biasa.. Dan Nely bisa komplikasi kapan saja..” Misa menenangkan Ibu Nel. Dan tanpa sadar Air mata Misa pun ikut mengalir.

‘AIDS? Itu kan penyakitnya Atlet luar negeri, musisi dan artis-artis ternama yang pergaulannya bebas. Kenapa Nel bisa terkena penyakit itu..’ Pikir Misa. Misa memegang tangan Nel dengan erat. “Terus apa kata Surya?”
Nel menggelengkan kepala. Bicara tentang Surya, dia adalah pacar Nel dan juga teman sepermainan Misa dari kecil. Mereka bertiga selalu akrab sejak kelas 3 SMP. Meskipun bertepuk sebelah tangan, Misa menyukai Surya, Namun ia tidak bisa mempercayainya ketika Nel berkata, “Aku jadian ama Surya” .
Sejak Nel mengatakannya, Misa merasa terpukul dan merasa patah hati. Rasa menyesal karena telah mempertemukan Surya dengan Nel akhirnya lenyap pada bulan Juni lalu. Sekarang ia merasa bahagia dengan adanya Surya untuk melindungi Nel.
Sepanjang perjalanan pulang Misa terus berfikir dalam hati, “Jadi Nel tertular virus HIV.. Dia pasti syok dan putus asa mendengar hal ini.. Tapi dia harus mulai menyembuhkan dan menjaga dirinya sendiri. Agar tidak menulari orang lain, kurasa Nel nggak boleh nyembunyiin hal ini. Dan ia nggak boleh melakukan hubungan se…”

‘TAP! ’ Langkah Misa terhenti. Ia baru sadar, bahwa mungkin saja hal ini terjadi di antara Nel dan Surya.

****

Misa memandang Surya dengan tatapan penuh tanya. 5 menit mereka saling terdiam.. Tiba-tiba Surya mulai bicara, “Terlambat… Mungkin aku sudah tertular Nely..”
Misa masih belum paham maksud Surya, dan bertanya, “Maksudnya.. kalian…?”
“Bukan! bukan kayak gitu..! Tapi.. aku kan… uhuk… sering keluar dan jalan-jalan ma Nely.. Mungkin saja aku tertular.. uhuk..” kata Surya dengan panik. “Aku harus.. uhuk.. bagaimana? aku bingung..! .. uhuuk.. uhuk..”
“Sur… kamu kenapa? sakit?” Misa khawatir karena dari tadi Surya batuk-batuk. “Uhuuk.. uhuuk.. uhuk.. haah.. haah..” Surya memandang tangannya. Ia menelan ludah.
“Belakangan ini tubuhku terasa lemas.. Demam, Flu dan batukku terus berlanjut.. Tenggorokanku juga sakit.. ini pasti….” “Kamu ngomong apa sih Sur? masa’ dadakan gitu.. mungkin itu cuman masuk angin bia…” belum sempat Misa meneruskan, Surya langsung menyelanya. “Setelah 2 minggu tertular, katanya akan muncul gejala seperti masuk angin..” Misa tak mampu berkata-kata melihat wajah Surya yang pucat. Sambil melewati Misa, Surya berkata, “Mungkin.. akupun terjangkit ‘AIDS’..”

Misa terdiam kaku. Dalam hati ia bergumam, “Bagaimana denganku? apa aku baik-baik saja? Apa sampai hari ini aku pernah menyentuh darah Nel?” Hal itu terus dipikirkannya berhari-hari. Setelah berpamitan dengan kedua orangtua, Misa mengendarai ‘MIO’nya. “Misa pergi dulu Buk.. pak.. Assalamualaikum..” Sepanjang perjalanan Misa menoleh ke kanan dan ke kiri, siapa tahu ada yang jualan Bunga. Soalnya Misa merasa tidak enak kalau tidak membawa apa-apa untuk Nel.
“Tok.! Tok!” Tangan Misa mengetuk pintu. “.. Masuk.” “Gimana kabarnya Nel? Uda agak mendingan? Nih, aku bawain bunga, aku taruh disini ya.”
‘Gawat… suaraku datar.. aku harus bersikap biasa..’ Pikir Misa dalam hati. “Misa…” Panggil Nel dengan suara pelan. “Iya? kenapa Nel..” Misa menghampiri Nel yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit.
“Apa aku menularinya ya? Soalnya kami sering bersama.. memang kami tidak pernah macam-macam.. Ta.. tapi aku takut.. Dia akan tertular olehku..” wajah Nel terlihat cemas, ia hampir menangis.
“Belum tentu begitu kan? kita kan belum tahu..?” Tiba-tiba Nel memegang kedua lengan Misa. “Apa kamu bisa bukti’in kalo surya nggak tertular? Hah? ! .. Uhuuk… Uhuuk… Uhuk.! .”
Reflek Misa langsung mundur ke belakang, Seketika Nel terkejut. ‘Ah. Bodoh.. kenapa aku menjauh?’ Pikir Misa.
Mereka berdua terdiam. Nel melihat wajah Misa yang berkeringat. Ia tahu sesuatu… “Misa, kamu kepanasan? Minum aja Minuman Botol yang ada di meja..” Misa melihat Minuman Botol di meja yang sudah sisa diminum oleh nel.
“I.. Iya.. Nel.” Misa gemetar, Dalam hati ia berfikir, ‘Aku tidak boleh terlihat tegang didepan Nel.’ Tangan Misa meraih Minuman botol itu. Dalam hitungan detik bibir Misa dan Mulut botol itu akan menyentuh.
“PLAAAK!” Nel menumpahkan minuman itu. Ia menangis, “Tanganmu gemetar! Keliatan banget!” Misa hanya terdiam. “Menurutmu aku kotor? Ya..! virus itu bisa masuk lewat ludah.. Terus ngapain kamu kesini? Pulang sana! Huuu… huu…” Nel mulai melempari Misa dengan berbagai macam barang. “Nel… aku..”
“PERGI!” Teriak Nel. Misa langsung berlari keluar, ia menangis. Para Suster dan dokter berdatangan ke kamar Nel. Nel masih meraung-raung, “Kenapa..? padahal aku nggak bersalah..! Kenapa harus aku..!”

****

Misa tahu, virus itu tak akan tertular lewat ludah.. Tapi siapapun pasti akan bersikap seperti itu. “Nel.. Maafkan aku” Gumam Misa dalam hati.
Misa tidak hanya berdiam, ia membeli buku-buku tentang AIDS. Lalu sampai rumah dibacanya buku-buku itu.
“AIDS.. Konon penyakit ini cenderung menjangkiti kaum H*mos*ksual dan pemakai nark*ba dengan jarum suntik.. Banyak yang mengira tertular virus ini berarti mati. Namun aku sendiri salah. Begitu tertular virus HIV, maka sistem kekebalan tubuh akan hancur dan akan dikalahkan dengan mudah oleh bakteri. Terkadang virus itu juga mengakibatkan Tumor ganas. Meskipun dikatakan AIDS membawa kematian, sebenarnya yang membunuh orang bukanlah virus AIDS sendiri. Terkadang ada orang yang 8-10 tahun belum memperlihatkan gejala AIDSnya. Penularan dan gejalanya berbeda.. Jadi Nel bukanlah penderita melainkan penular HIV. Konon ada pula yang hidup sampai umur 90 tahun dan tak pernah memperlihatkan gejala.” Misa membuka buku yang lain, “Menurut buku ini.. seseorang akan mati 1-2 tahun setelah tertular, namun belakangan ini orang yang bertahan hidup hingga 5 tahun semakin bertambah.. Menurut info yang lain, obat yang dikembangkan belakangan ini menunjukkan efek baik pada orang yang menunjukkan gejala maupun yang tidak.” Misa tersenyum lega, ‘Ya.. Nel sedang berusaha untuk sembuh. Ini adalah masa-masa penting baginya!’

****

Pagi ini, Misa mengharapkan sesuatu yang berbeda di sekolah, karena tanpa Nel disekolah rasanya sepi. “Hai teman-teman..?” Tiba sesosok wanita masuk ke kelas dengan riang dan ternyata itu adalah Nel! Misa terkejut. “Nel? !” “Ah, Misa! Maafin aku ya waktu itu.. OK? Hehe..” Nel tersenyum. Misa bersyukur Nel kembali seperti biasanya. “Nel? kok lama nggak masuk sih?” Teman sekelas Nel langsung mengerubunginya dengan pertanyaan.
“Ah, ntar aku jelasin deh..”
Didepan kelas Nel menjelaskan alasannya. “Kata dokter, salah satu metode peyembuhannya adalah berpikir positif.. Kalau aku mengeluarkan darah karena suatu hal, aku akan membersihkannya sendiri agar yang lain tidak terkena, jadi tenanglah. Aids tidak menular lewat udara seperti angin, jadi sehari-hari kalian tidak perlu cemas. Jadi aku pun akan ikut Rekreasi nanti.. Mohon bantuannya!”
Hening. Semua memasang wajah cemas. Tiba-tiba suara tepuk tangan dari pak Khoir, yang sekarang menjadi wali kelas mereka memecah kehingan. “Plok! Plok! Plok!” “Pak guru..” Nel menoleh ke arah pak khoir dan menundukkan kepala.
“Plok! Plok! Plok! Plok! Plok!” Serentak semuanya ikut bertepuk tangan.
‘Aku ingin membantu Nel, aku harus tegar! ’ Misa bertekad.

Akhirnya sampai juga pada hari H, Rekreasi mereka ke sebuah kota terkenal yang banyak akan hiburannya dan menginap 2 hari 1 malam. “Wah.. Udaranya sejuk… hehe” Nel menggandeng tangan Misa. “Iya… ayo kesitu..!” Misa dan Nel berlari-lari.
Nel mengeluarkan obat-obatan dari tasnya dan meminum semuanya. “Obat apa aja itu Nel?” tanya seorang temannya. “Ini obat untuk mengontrol perkembangan virus dan daya tahan tubuh, faktanya konon obat ini bisa mengurangi virus dalam darah hingga tak bisa dideteksi.” Jelas Nel. “OH.. berarti AIDS bisa disembuhkan dong? !”
“Hm… obat untuk menuntaskan virus memang belum ada.. Tapi setidaknya dengan obat ni perkembangan virus masih bisa dihambat.”
Misa lega Nel baik-baik saja, tiba-tiba ia mendengar murid-murid dari kelas lain berbisik-bisik, “Ssst… Itu ya anak yang kena AIDS? wah.. jangan-jangan ketularan Om-om.. Ha.. ha.. ha..” Misa hendak berlari ke arah murid-murid itu untuk memarahi mereka, tapi Nel menghalanginya dan menarik lengannya lalu berkata, “Sudahlah.. Terserah apa kata mereka.. Uggh..” Tiba-tiba wajah nel pucat. Misa segera membawanya ke kamar mandi. “Hueeek..”
Diare, sakit kepala, kurang darah, mual dan sebagainya. Obat pun punya efek samping. “Efek sampingnya nggak separah itu.. aku baik-baik aja kok..” Nel meyakinkan teman-temannya untuk tidak khawatir.
“Melihatmu kami jadi stress tau’.. jangan terlalu memaksakan diri.” Nel tersenyum. Akhirnya mereka semua kembali ke Hotel untuk makan siang.
“Lho.. masih banyak gini capjay-nya, emang kalian nggak mau? ya udah buat aku sama Misa aja..” Teman-teman yang lain terlihat agak menjauh. Misa sebenarnya tahu apa yang dipikirkan mereka semua.. Tapi ia tidak mau berpikir macam-macam. Namun semakin Nel bersikap ceria, semua orang semakin menjauh..

****

Malam hari, waktunya bagi semua murid untuk beristirahat, entah kenapa Misa dan Nel mendapat tempat tidur paling pojok dan agak jauh dari yang lainnya. Tapi mereka tidak mau memikirkannya. Nel langsung tertidur pulas. ‘Nel pasti kelelahan..’ pikir Misa.
‘Pemulihan… bagaimana kalau aku mengidap penyakit yang sama dengannya.. Mungkin aku tak sanggup dan tak punya keberanian sepertinya.. Apa tak ada yang bisa kulakukan selain berada disamping Nel? Apa aku bisa berjuang bersamanya…?’

Mentari pagi bersinar, Murid-murid sedang mempersiapkan dirinya untuk sarapan pagi dan melanjutkan rekreasi. Terlihat di ruang makan Pak Didik sedang berbicara dengan salah satu pelayan yang sedang menyiapkan makan. “Eh murid pengidap AIDS?” Tanya pelayan itu.
“Ya, dia sangat bersemangat mengikuti Rekreasi ini, saya pernah dengar ada sekolah yang tidak menerima pengidap AIDS, tapi aku tak bisa memaafkan itu.. Tentu sekolah kami menerimanya… blaa.. blaa…” pak Didik terus berbicara, Guru-guru lain menegurnya, “Ehm…! Pak Didik!” Pak Didik langsung menyadari arti ‘Dehem-an’ dari Pak Khoir. “Ah.. i.. iya, benar juga.. maaf pak..”
Para pelayan langsung berkumpul dan berbisik, “Yang mana ya anaknya..?”

****

Para murid perempuan ribut. Mereka membicarakan sesuatu. “Jangan-jangan…” “Iya. Pasti ini..” “Darimana mereka tahu ya?” Para siswi saling meributkan Sebuah piring dan gelas kertas untuk satu orang di meja mereka. Misa dan Nel menuju ke arah mereka. “Ada ribut-ribut apa? aku laper nih..” kata Nel.
‘DEG!’ Dada Nel seakan ditusuk beribu jarum. Misa pun terkejut dan ia langsung menyambar piring dan gelas itu. “Biar mereka ganti Nel!”
Nel memandang dengan wajah lemas, ia berkata, “udahlah.. biarin aja..” Nel berlari menuju tangga turun. Ia menangis. Karena tak memperhatikan langkahnya, ia terjatuh. ‘GUBRAAK!‘ “Nely…!” teriak Misa. Pak Khoir langsung turun menghampiri Nel. “Gawat… Kulit kakinya sobek! Cepat panggil ambulans! Kalau kumannya masuk lewat luka ini bisa bahaya..!” Beberapa menit kemudian Ambulans datang, Pak Khoir langsung membopong Nel ke dalam mobil Ambulans. “Maaf… saya membuat anda kerepotan lagi..” Nel meminta maaf. “Tidak.. pokoknya kamu harus dibawa ke RS terdekat.”
Setelah mobil ambulan pergi, murid-murid yang lain masih ribut. “Iih… darahnya Nely… Siapa tuh yang mau ngebersihin..?” “Tanganku luka nih.. nggak bisa..” “Aku juga nggak ah..”
Cleaning service datang dengan membawa ember dan alat bersih lainnya, tapi ia kelihatan enggan untuk membersihkannya. Misa yang melihat hal ini pun langsung mengambil lap yang dipegang cleaning service itu. “Biar saya saja..” Setelah memakai sarung tangan, ia langsung mengelap darah di lantai.
“Munafik!” Kata seorang temannya.
‘Ya… mungkin memang begitu.. mungkin aku berfikir, aku ini orang baik.. beda dengan kalian.. Aku tidak bisa memaafkan atas ketidakberdayaan diriku.. Apa mungkin aku hanya bersimpati padanya..?’ Misa terus memikirkan hal ini.

****

“Misa… ada Surya nih..!” “Iya ma.. bentar..” Misa langsung berlari ke depan pintu.
“Surya? ngapain kamu?” Tanya Misa. “Kemarin dan hari ini aku ke rumah Nel, Aku dengar dia sudah pulang…”
“Dasar..! kamu ini..” Misa menangis sambil memukuli bahu Surya.

****

“Saat rekreasi kemarin, kakinya terluka sehingga dia opname lagi.. kuman masuk dari lukanya hingga bernanah.. Wajar kamu nggak tahu.. kamu kan nggak ikut.” Jelas Misa.
Surya berkata dengan suara gemetar, “… Waktu mengetahui Nel terkena AIDS, aku menyesal karena menyukainya.. Saat pemeriksaan pun aku merasa berbuat salah, sehingga aku membenci Nel. Diriku dipenuhi kebencian.. Sebelum mendengar hasilnya.. aku berniat bunuh diri… Tapi.. Ternyata dari hasil pemeriksaan… Negatif aku tidak tertular.”
‘Surya pun… berjuang melawan rasa takutnya… aku tak bisa membayangkannya.’ Pikir Misa. “Saat itu Nel berdo’a agar aku tidak terular.. sementara aku hanya memikirkan diriku saja.. Entah apa yang bisa kulakukan untuknya…” Lanjut Surya.
Misa menangis. ‘Apa yang sebenarnya kami perjuangkan? Berada disampingnya saja takkan membantu.. Kalaupun aku tertular.. Aku pasti merasakan hal yang sama.. Tapi apa aku bisa berbagi penderitaan? ’ “Mungkin hanya Dokter dan Allah yang bisa menolongnya.. Tapi.. pasti ada yang bisa kita lakukan.. Iya kan..?” Kata Surya. “Ya… Pasti ada..” Misa tersenyum.

****

1 Bulan setelah Nely diopname
Surya berlari secepat mungkin. Dengan ngos-ngosan dia mengetuk pintu rumah Misa. “Tok.. tok!”
“Surya?” “Misa! Gawat! haah.. haah… Ikut aku ke RS.” Surya langsung menarik tangan Misa.
“Haah… haah…” Misa dan Surya kelelahan karena harus berlari untuk sampai ke RS. Sesampai di kamar Nel, Misa mendapati Nel terbaring lemas di ranjang dengan hidung dimasuki selang. Ternyata Nel terkena radang paru-paru.. Itu artinya AIDSnya makin parah. Akhirnya tiba juga hari itu, Virus AIDS telah menggerogoti tubuh Nel, dan Hari ini Misa dan Surya mengetahui sebuah fakta baru. “Padahal tiap hari dia banyak minum obat pengurang virus dan penambah daya tahan tubuh. Tapi kenapa gejalanya makin parah? Sialan! ‘BRAAK!’ ” Surya menendang pintu Ia terlihat kesal.

****

“Selamat pagi!”
‘Suara ini, suara khas Nel’pikir Misa. “Nel..? Kamu pulih?” Seketika Misa dan teman-teman lainnya langsung bertanya-tanya.
“Hehe… Iya.. Aku baru keluar dari rumah sakit..” Nel tersenyum. “Hah? Berani banget kamu.. keluar dari rumah sakit langsung sekolah…” kata temannya. “Nel.. maafkan kami semua ya.. Kami pernah menghindarimu.. Tapi setelah mendengar penjelasan dari Pak Khoir, kami semua langsung sadar… Mulai sekarang bertindaklah apa adanya… Ya? Kami semua selalu mendukungmu!” Dukungan dari teman-teman membuat Nel terharu. “Terimakasih semuanya…”
Misa senang Nel terlihat sehat. Tapi ada sesuatu yang berubah dari penampilan fisiknya.. Kulitnya yang biasanya halus dan lembut sekarang menjadi bintik-bintik dan berjerawat. “Karena nggak punya kekuatan untuk sembuh, kulitku berjerawat dan susah hilang. Rambutku pun sering rontok…”
Berhari-hari Nel menjalankan aktivitas di sekolah dengan ceria. Tapi Misa tahu, Nel hanya berpura-pura sehat di depan orang. Dia sungguh berbeda, semua orang tau dia makin lemah. 6 bulan kemudian Nel kembali diopname.

****

“Kamu mau menjenguk Nely lagi?” Tanya Ayah Misa. “Memang nggak boleh?” Kata Misa sambil memakai sepatunya. Ibunya menghela napas, dan berkata “Orang sakit tak ingin orang lain melihatnya ketika dia terbaring dia nggak bakal bisa istirahat.”
“Kenapa bilang gitu? Apa ayah sama ibu masih belum paham penyakit apa yang diderita Nely?” “Yang belum paham itu kamu! kamu bilang akan berjuang bersamanya.. Tapi apa kamu berniat menaiki kereta yang sama dengannya..? Apa kamu bisa selalu berada disampingnya, apapun yang terjadi?” Kata Ayahnya. “… ya, aku bisa!”

Sesampai di RS, Misa memakai masker di kamar Nel karena dianjurkan oleh Dokter. “Ini catatan Matematika, kimia dan Sejarah.. Aku pikir kamu memperlukan ini semua… Ayo belajar bareng!” Misa menawarkan. Tangan Nel menarik masker yang dipakai Misa. “Uda.. nggak usah pake’ masker, nafasmu sesak kan? mau dicegah macam apa pun, kalau masuk ya masuk saja.”
“Nel..? kok ngomong gitu sih?” “.. aku nggak perlu ini..” Nel menggeser buku-buku pelajaran Misa. “Mungkin aku tak akan bisa keluar lagi.”
“Nel!? Kamu nggak boleh ngomong gitu..!” ‘BUUK!’ Nel memukul meja. “Semangat aja nggak berguna tau’! Setelah penyakit ini sembuh.. pasti aku akan diserang penyakit yang lain.. Semua ini nggak akan berakhir..!” ‘Nel… Kenapa gini lagi? jangan kalah dengan perasaanmu.. kamu pasti bisa menjalani ini semua.. ’ Pikir Misa.

****

Nel berjuang melawan diskriminasi dan dirinya sendiri. Mentalnya hancur lebih dulu daripada tubuhnya… Siapa pun pasti tak ingin terkena penyakit ini. ‘PRAAANG! ’
Nel memecahkan vas bunga di kamar RSnya. “Barusan mama bilang ingin menggantikanku? ! Mama bilang gitu karena nggak bisa kan? ! Terus… kenapa papa nggak masuk kantor? ! Toh Menemaniku takkan menyembuhkan penyakitku!” Nel mencengkram kerah baju Papanya.
“Nel..? Ini kami bawa’in makanan…” Tiga orang teman sekelas Nel datang menjenguk dengan membawakan makanan. Tanpa diduga, Nel melemparnya. ‘BRAAK! ’ “Ngapain kalian? Jangan melihatku seperti itu! Di rumah kalian masih bisa makan, tertawa dan juga belajar! Kalian punya kehidupan masing-masing kan? ! Kalian kemari karena merasa lega dan berfikir, “Beruntungnya aku”, Iya kan? !” Nel mengamuk. Lalu Misa dan Surya yang berdiri di depan pintu kamar Nel hanya tersenyum, Mereka bisa menerima Nel yang seperti itu. “Nel.. tenanglah.. aku ada disini.. aku nggak akan ninggalin kamu lagi?” Surya memegang kedua lengan Nel. “Sur… kamu pacarku kan?” ‘CRAASH! ’
Tiba-tiba Nel mencabut Jarum infus dari tangannya sehingga berdarah.
“Kamu mau kan mati bersamaku? Aku nggak mau mati sendirian!” Nel mengarahkan jarum infus ke arah lengan Surya dan mendorongnya ke dinding. “Nel jangan…!” Teriak Misa.
‘JLEB! ’
“…” “Kenapa… kamu nggak menghindar… Sur..?” Suara Nel gemetar. Surya balik bertanya, “Kenapa kamu nggak mengenaiku..?” Jarum infusnya menancap di dinding dan tidak mengenai lengan Surya. Nel meneteskan air matanya. Ia menangis meraung-raung.

****

Misa terus memikirkan hal apa yang bisa ia lakukan untuk nel. ‘Aku… belum menemukan hal yang bisa kulakukan untuk Nel. Apa kalau aku berjanji mati bersamanya, dia akan tenang? Saat Nel mengacungkan jarum itu, kakiku terasa kram. Apa aku mau naik ‘kereta’ bersamanya? apapun yang terjadi, apakah aku.. Ya. Meskipun aku bilang akan berjuang bersama Nel… Aku bisa turun dari ‘kereta’ kapan saja. Tapi Nel takkan pernah bisa… Hanya itu yang kupahami.’

Sepulang dari RS, hari-hari baik terus berlanjut.. Tapi Nel masih sering keluar-masuk rumah sakit.. Seringkali ia tak boleh menerima pengunjung. Daya tahan tubuhnya semakin menurun. Misa tidak bisa melakukan apa-apa selain belajar untuk persiapan ujian. Menjelang 1 bulan ujian kenaikan, Nel bangkit kembali. Saat ini ia sangat lemah sampai harus memakai alat bantu kursi roda. “Misa… Misa… Ayo kita jalan-jalan!” Teriak Nel dari depan rumah Misa. Ia tak sendiri, Surya juga ada untuk membantu Nel.
Mereka mengendarai mobil kakek Surya dan setelah berdebat akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk pergi ke pelabuhan. “Waa… Dingin.. hehe.. Ayo foto-foto!” Nel mengambil kamera dari tasnya dan mulai memotret. Sambil memandangi Nel, Misa baru sadar bahwa sejak tahu Nel tertular Misa tak pernah tertawa sebahagia ini. “Ya. Saat sedih sekalipun… Aku harus coba tertawa!” pikir Misa.
“Eh… Foto tadi bagus banget.. Mungkin foto barusan akan jadi kenangan terakhir kita… Tapi jangan nangis ya saat lihat foto itu..” Misa dan Surya terkejut dengan apa yang dikatakan Nel.
“Kalaian mau janji? Ingatlah diriku saat tertawa begini, bukan diriku di Rumah Sakit. Raya’in hari Ulang Tahunku.. Bukan Hari Kematianku.. Setelah aku meninggal.. Surya harus cari pacar baru dan ngelupa’in aku.. Tapi jangan cerita ke pacarmu ya soal aku! Masa’ kamu bilang ‘Mantan pacarku meninggal’! … Oh iya.. Ada baiknya mengucap salam perpisahan sebelum mati. Hehe..” “Ngomong apa sih! Udahan deh becandanya Nel! Bosen tau’!” Terang Misa.
“Misa… Surya.. Aku takkan menang melawan virus ini… Aku takkan sembuh sekalipun seluruh darahku diambil.. Begitu otakku diserang, aku akan melupakan kalian berdua.. Dan akhirnya tubuhku akan hancur..!”
“Mungkin hanya sekarang aku bisa mengucapkan selamat tinggal.” Nel mendorong kursi rodanya ke belakang dan. Mendadak Ia dan kursi rodanya terpleset turun tangga. “Kyaaa!” Nel menjerit kecil. Ia terjatuh dari kursi rodanya. Misa dan Surya menghampirinya. “Nel.. kamu nggak apa-apa? ! Apa maksudmu bilang begitu? !”
“.. Virus ini tak akan menghilang kecuali aku mati..” Tiba-tiba Nel memejamkan matanya. “Nel…! Nel…! Bangun..!” Misa dan Surya berteriak.

****

2 Tahun Kemudian.
Terlihat Misa sedang duduk melamun di peron kereta api. Ia seperti sedang tenggelam memikirkan sesuatu, ‘2 tahun lalu.. Saat tahu dirinya tertular AIDS pada waktu kelas 2 SMA.. Lalu dia berusaha pulih di kelas 3.. Dan saat penyakitnya kian parah di bulan berikutnya.. Gejala penyakitnya muncul berulangkali.. Setiap hari ia selalu bilang ‘Akan mati’ saat itu aku tidak pernah menyangka.. Aku merasa semua itu tak pasti.. Karena.. Sampai sekarang pun Nel masih sehat.’ “Misa..! Nunggu lama?” Nel melambaikan tangannya ke arah Misa, ia sedang bersama Surya. “Iih.. kamu itu.. Lama banget tau’… Ayo berangkat.”

1 tahun lalu, setelah jatuh dari kursi roda, ia pingsan dan segera dibawa ke rumah sakit. Setelah bangun, Misa memarahinya dan menasehatinya, begitu juga dengan surya. Kata-kata yang membuat Nel bangkit kembali adalah, “Nel tak mungkin mati!” yang diucapkan oleh Surya. Bulan april, Nel bisa naik kelas bersyarat meskipun ada nilai yang kurang. Daya tubuhnya yang mendekati Nol perlahan-lahan mulai pulih. Dengan begitu, dia bisa hidup dengan normal.. Dan sejak itu Nel tak pernah terlihat sakit. Ia melanjutkan kuliahnya ke UNAIR Surabaya bersama Misa dan Surya.
“Eh Misa.. Surya.. Uda dateng tuh keretanya.. Ayo buruan..” Nel menarik tangan Misa dan Surya. Setelah duduk di kursi kereta, mereka menaikkan barang-barang mereka ke bagasi atas. Liburan ini mereka ingin pulang dan menghabiskan waktu bersama. Dalam perjalanan, tidak sengaja mereka mendengarkan bapak-bapak yang sedang bercakap-cakap
“Lihat nih berita di koran, katanya Vaksin AIDS sudah dikembangkan!” Kata bapak yang berkumis tipis. “Dengan vaksin itu rasanya bisa sembuh total dalam 2-3 tahun.. Tapi.. Setiap penyakit pasti bisa disembuhkan jika Allah menghendaki…”
Ya… obat untuk menyembuhkan AIDS hampir sempurna. Misa telah menaiki kereta yang sama dengan Nel. Ia pikir bakal mati karena kecepatannya! Namun.. Sekarang mereka bisa pergi ke stasiun terakhir bernama “Sembuh Total”. Itu bukan Mukjizat lagi. Merekapun.. Bisa segera turun bersama.

SELESAI

Cerpen Karangan: Seya Zunya Uchiwa
Facebook: selly yunia

Cerpen Harapan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Perfect Ending (Part 1)

Oleh:
Hari itu aku sudah bersiap pergi ke sekolah diantar ayahku. “sudah siap?” tanya ayah “sudah yah ayo kita berangkat” sesampainya di sekolah aku langsung menuju kelasku tiba tiba aku

Persahabatan Yang Sempurna

Oleh:
Pada pagi hari yang indah Hendra belum terbangun dari tidurnya. Ayah Hendra pun membangunkannya. “Hendra bangun sudah siang nanti telat loh sekolahnya.” Ayah Hendra membangunkannya. “Nanti yah lima menit

Sirius Yang Hilang

Oleh:
Dingin… Senyap… Gadis yang mengenakan dress berwarna biru itu mendongakkan kepalanya. Menatap langit malam yang semakin menghitam. Ia menghela napasnya singkat. Warna itu … begitu pekat. Gelap. Tak berbintang.

Pelita Sahabat Di Atas Awan

Oleh:
Berbicara soal awan, pasti tak lepas dengan namanya langit. Ya pastilah, awankan adanya di langit. Namun, cerita ini bukan tentang awan, tetapi kisahku yang layaknya seperti awan di langit.

Kita

Oleh:
Aku menyambangi kembali makam itu, berharap dapat menggali kembali setiap kenangan yang terkubur di sana, dan menyimpan semuanya dalam ruang kosong di hatiku. Sekali lagi kutatap nisan itu, yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *