Hidup

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 25 July 2019

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Itulah yang Alinka rasakan saat ini. Rasa sesal dan kecewa terus menerus memenuhi hatinya. Bila saja saat itu ia tak terlalu menikmati langkahnya berlari, ia pasti akan memperhatikan jalan dan tak akan berakhir di rumah sakit.

Kini kedua kakinya tak lagi bisa berfungsi dengan semestinya. Berjalan, berlari, ataupun melompat tak lagi dapat ia rasakan. Bahkan impiannya menjadi seorang pelari pun, harus ia kubur dalam-dalam.

Alinka sudah bulat dengan niatnya. Ia tak mau hidup dengan kedua kakinya yang lumpuh. Seumur hidup hanya akan menjadi cemooh teman-temannya. Terlebih lagi, ia tak akan lagi melakukan hal yang menjadi impiannya itu —berlari.

Susah payah ia pindahkan tubuhnya di atas kursi roda yang sejak beberapa hari ini selalu bertengger di samping tempat tidurnya.
“Kau mau kemana, Alinka?” tanya Ibunya menatap khawatir pada putri semata wayangnya itu.
“Jalan-jalan. Aku bosan di sini terus,” sahutnya singkat.
“Baguslah kalau begitu. Ayah dan Ibu harus pergi ke kantor. Kalau ada apa-apa, kamu minta tolong aja sama suster.” Sang ayah lalu mencium kening Alinka dan pergi bersama ibu dengan tergesa-gesa.

Wajahnya seketika kalut melihat ayah dan ibunya pergi. Mereka berdua lebih memilih pekerjaan mereka dibandingkan dirinya yang tak lagi dapat membanggakan mereka. Alinka benar-benar mantap dengan niatnya itu. Hanya kematian yang akan menghilangkan semua deritanya. Kedua tangannya lalu memutar perlahan kedua kursi rodanya —meninggalkan kamar tempatnya dirawat selama ini.

Di depan rumah sakit, Alinka terus mengarahkan pandangannya ke jalan. Tak ada yang menarik di sana, hanya ada beberapa mobil yang berlalu-lalang mengisi keheningan jalan. Di kejauhan, terlihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Kedua tangan Alinka berada di roda kursinya —bersiap-siap melanjukan kursi rodanya.

Diliriknya mobil itu semakin dekat dengannya. Tanpa ragu, Alinka segera menggerakkan kursi rodanya ke tengah jalan.

Tiiinnn!! Tiiinnn!!
Alinka hanya diam. Tak ada sedikit pun pergerakan darinya, walaupun suara klakson mobil terdengar sangat nyaring. Ia tetap berada di tengah jalan, menghadang mobil itu untuk segera menabraknya. Tiba-tiba saja kursi rodanya bergerak ke belakang.
“Kalau mau mati, sana! Jangan di sini! Ganggu aja,” omel si pengemudi mobil lalu kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Bukannya senang, Alinka malah merasa sedih karena usahanya untuk mati telah gagal. Ia sama sekali tak menyangka Allah masih menginginkannya untuk hidup, walaupun kehidupan yang tak lagi ia inginkan.

“Kamu nggak apa-apa? Ada yang terluka?” terdengar suara seorang cowok dari arah belakangnya.
Alinka seketika menoleh ke belakang. Benar saja. Seorang cowok tengah berdiri di belakangnya. Kedua tangannya sedang memegang kursi rodanya.
“Hei! Kamu nggak apa-apa kan? Apa ada yang terluka?” tanya cowok itu kembali. Kedua matanya menatap aneh pada Alinka.

Tak terdengar satu pun kata yang keluar dari mulut Alinka. Ia menatap marah pada cowok itu, lalu menggerakkan kursi rodanya meninggalkan cowok yang telah menyelamatkan nyawanya.

“Hei, Alinka cantik!” sapa seorang cowok. Tanpa dipersilahkan masuk, cowok itu langsung masuk ke kamar Alinka dirawat.

Alinka sama sekali tak menggubris sapaan cowok itu. Ia masih merasa kesal kepadanya karena telah menyelamatkan nyawanya dari kematian yang diinginkannya itu.

Sejak kejadian itu, cowok yang bernama Teo itu selalu berada di dekat Alinka. Setiap hari Teo pasti meluangkan waktunya untuk datang ke kamar Alinka di rawat. Setiap kali Alinka meninggalkan kamarnya, Teo selalu mengikutinya. Keberadaan Teo yang terus berada di sisinya, membuat Alinka merasa risih. Sepertinya Teo sengaja melakukannya agar dirinya tidak melakukan hal yang sama seperti saat pertama kali mereka bertemu.

“Hoi!” tegur Teo dengan suara mengagetkan.
“Ngapain kamu ke sini? Pergi sana!” serunya mengusir. Tanpa memandang Teo, Alinka menatap sedih ke arah kakinya. “Kenapa kamu masih di sini? Pergi sana!”

Teo menghela napas panjang. Ia mengerti akan kondisi Alinka yang harus kehilangan kedua kakinya.
“Berhentilah bersikap menyedihkan seperti itu, Alinka! Sampai kapan kamu bersikap seperti ini? Masih banyak orang yang lebih menderita darimu, Alinka,” ungkap Teo dengan nada yang terdengar marah, “Aku tau kamu sedih, tapi seharusnya kau bersyukur…”
“Bersyukur katamu? Aku lumpuh! Seumur hidup aku nggak bisa berlari lagi. Bagaimana bisa aku jadi seorang pelari dengan kaki lumpuh seperti ini? Nggak ada gunanya aku hidup. Aku hanya akan menjadi bahan tertawaan saja,” potong Alinka tak kalah kesal. Air mata seketika jatuh dari kedua matanya.
“Apa kau tidak lihat orang-orang yang dirawat di sini? Banyak dari mereka yang kehilangan lebih dari sekedar kaki! Mereka harus hidup dalam bayang-bayang kematian. Seharusnya kau malu sama mereka,” sahut Teo panjang lebar. Teo lantas pergi, meninggalkan Alinka sendirian si kamar.

Alinka tertegun dengan semua ucapan Teo. Beberapa hari mengenalnya, ia tak pernah melihat Teo semarah itu padanya. Ucapan Teo benar-benar membuatnya merenungi semua tindakan yang pernah ia lakukan.

Sudah lima hari Teo tak datang ke kamarnya. Padahal hari ini Alinka akan pulang. Kondisi Alinka semakin membaik sehingga dokter mengizinkannya untuk pulang. Alinka sangat berharap Teo akan datang sebelum ia pulang. Ia ingin meminta maaf atas sikapnya yang memalukan kepada Teo.

Sambil menunggu ayah dan ibunya mengurus biaya administrasi, Alinka mengarahkan kursi rodanya mengelilingi rumah sakit. Mungkin saja ia akan bertemu dengan Teo.

Saat melintasi sebuah kamar, tiba-tiba saja Alinka mendengar suara seorang wanita memanggil nama Teo. Dengan ragu Alinka memasuki kamar itu.

Seorang wanita terlihat sedang menangis di hadapan seorang anak laki-laki. Ia pun segera mengalihkan pandangannya saat menyadari ada seseorang yang masuk ke kamar putranya di rawat.

“Siapa kamu? Kau temannya Teo?” tanya wanita paruh baya itu terisak. Air matanya tak henti-hentinya mengalir di kedua pipinya.

Betapa terkejutnya Alinka melihat Teo terbaring tak bernyawa lagi. Ia sama sekali tak menyangka Teo yang telah menyelamatkan nyawa yang tak diinginkannya itu ternyata lebih dulu dihadapkan pada kematian.

“Kau temannya Teo?” tanya wanita paruh baya itu kembali dengan tangis yang masih ditahannya.
Alinka mengangguk lemas. Ia merasa sangat sedih dan juga menyesal atas sikapnya yang selalu kasar pada Teo. Ia bahkan belum sempat meminta maaf pada Teo.
“Allah pasti lebih sayang pada Teo. Sekarang, Teo nggak akan lagi merasa kesakitan karena penyakitnya itu.” Wanita paruh baya itu lalu mencium kening Teo yang dingin.

Lagi-lagi Alinka dibuat terkejut. Selama ini ia sama sekali tak tahu kalau Teo sakit. Teo terihat sehat, tak ada sedikit pun gerak-gerik yang mencurigakan darinya.
“Memangnya Teo sakit apa, Tan?” tanya Alinka penasaran.
Wanita paruh baya itu mengelap air matanya. Ia tak mau terlarut dalam kesedihan. Bila Teo melihatnya menangis, Teo pasti akan sedih.
“Teo terinfeksi virus epstein-barr, sudah stadium IV dan mengalami metafisis. Dokter bilang hidupnya hanya delapan bulan, tapi hampir dua tahun ini ia berhasil bertahan hidup.”

Alinka tertegun mendengarnya. Ia merasa malu pada Teo. Ia begitu mudahnya menyerah dan menginginkan kematian, sedangkan Teo yang terlihat sehat, ternyata selama ini harus berjuang untuk bertahan hidup. Di hadapan jasad Teo, Alinka berjanji akan memulai hidupnya yang baru dan tak akan menyerah dalam kondisi apapun.

Cerpen Karangan: Betry Silviana
Blog: betrysilviana.blogspot.com
Nama saya Betry Silviana. Kunjungi ya blog saya di betrysilviana.blogspot.com
Terima kasih…

Cerpen Hidup merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Seberang Padang Rumput Ilalang

Oleh:
Matahari sudah mencapai titik tertinggi nya ketika mobil keluarga Pak Wijaya memasuki halaman sebuah rumah berwarna putih kusam bergaya khas zaman kolonial. Tiang-tiang rumah itu besar dan kokoh, rumah

Penaluna

Oleh:
Aku bersandar di dinding dapur. Ini sudah hampir setengah jam tapi Mama ngga juga berhenti mengoceh. Aku muak. Aku benar-benar muak dengan semua perkataan Mama. Banyak hal yang Mama

Perjuangan Meraih Mimpi

Oleh:
Sindi gadis cantik dan cerdas, ia terlahir dari keluarga kurang mampu. Ayahnya telah meninggal saat ia masih duduk di bangku SMP kelas 3. Sindi anak pertama dari tiga bersaudara,

Si Pintar Versus Si Beruntung (Part 3)

Oleh:
“febri, febri bangun nak” suara yang mengusik ketenanganku sehingga aku terbangun dari tidurku, saat aku buka mataku aku melihat bahwa aku sedang dalam ruang UKS. “aduh kepalaku” aku pengangi

Senja dan Catatan Tentang Kita

Oleh:
Senja tengah mematung di barat cakrawala. Arak-arakan awan mulai berganti warna, dari biru laut menjadi oranye kemerahan. Sinar keemasan dari barat cakrawala menyemburat ke seluruh arah mata angin. Serpihan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *