Hilanglah Galauku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Motivasi, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 13 May 2017

Aku masih berjalan, aku tak peduli dengan tubuhku yang terasa sakit, bagaikan dihujani ribuan pisau. Hari ini memang terasa menyesakkan, bumi pun turut berduka. Sampai aku tak mampu mengeluarkan satu tetes air mata. Biar, biarlah bumi yang menggantikan tangisanku. Aku berjalan di bawah rintik hujan tak peduli orang-orang yang berteduh di emperan-emperan toko. Aku mengingat jelas kata-kata manis yang terasa bagaikan sebuah pisau yang menusuk.

“Maaf.. sepertinya semua sudah cukup sampai di sini, tidak perlu kita bertahan lagi dalam hubungan ini. Aku tau kita selalu mencoba, tetapi hasilnya saja. Untuk kali ini tolong. Biar kita cari jalan kita sendiri-sendiri. Tak perlu kita saling menyiksa hati.”
Aku diam setelah Gita berkata-kata, setengah tidak percaya, tapi aku tau ini nyata.
“Semoga semua ini menjadi keputusan yang terbaik, maafin aku, semoga kalau kita kelak bertemu lagi tidak akan ada dendam.” tambahnya sambil berdiri dan kemudian berjalan berlalu.

Aku masih diam, aku terdiam. Aku mencoba merasakan apa yang aku rasa namun rasanya sulit. Aku melihat dia berlalu begitu saja, sementara aku duduk di bangku taman melihat rerumputan dan melihat orang lalu lalang. Aku sangat ingin mengejarnya, tetapi aku tau semua ini keinginan dalam hatinya. Aku hanya ingin melihatnya bahagia.

“Titttt… titttt.. titttttt!!!” suara klakson motor menyadarkanku dari ingatanku. Tak kuasa menahan diri, aku umpat orang ini. “Bangs*t!!!” kataku dengan nada tinggi.
Aku lihat dengan samar-samar wajahnya karena derasnya guyuran hujan.
“Ini aku bor, ini Alek bor, dasar anj*ng.” ucapnya membalas makianku.
“kamu ngapain hujan-hujanan begini brengsek, nanti kamu sakit aku juga yang repot dasar bedebah, buruan naik kita balik kost.”
Alek, yap Alek. Teman sekamar kostku, dia bagaikan saudara bagiku, dia tempatku membagi cerita membagi apapun yang bisa aku bagi. Kami sudah bagaikan spongebob dan patrick, selalu bersama melakukan hal-hal konyol, ya begitulah kami berdua.

Alek menghentikan laju motornya, aku buka mantel dan turun di depan kost kami. “Masuk sana mandi ganti baju, baru kamu bisa cerita sama aku.” perintah Alek. Aku menurut saja.
Selesai mandi alek sudah duduk bersila bersiap menyambut ceritaku, ditemani dua gelas kopi hitam dan sebungkus rok*k. Aku duduk, aku ambil rok*k, kunyalakan dan kuhisap pelan-pelan. Kuminum kopi buatan alek. Aku mulai berbicara perlahan-lahan, aku katakan aku sudah putus dengan Gita. Alek hanya terdiam. Kemudian dia memberikan nasehat-nasehat dan motivasi yang sebenarnya hanya bagaikan angin bagiku, berlalu begitu saja. Kumatikan rok*kku kuminum kopi, dan aku merebahkan diri di atas kasur yang terpaksa harus merasa nyaman saat tidur di atasnya.
Kami berdiam diri, aku hanya melihat alek menghisap rok*knya.
“Sudahlah bor, jangan terus tenggelam, semua butuh waktu.” begitu dia memulai lagi.
“Rasanya sulit lek, kamu tau kan, Gita itu bagaimana. Dia itu sederhana, baik, cantik dan yang penting dia yang mau menerimaku apa adanya.” ucapku.
“Aku tau jon, tapi mau sampai kapan seorang joni terus galau begini, bangkitlah jon, bangkit bor.” Kata-kata penyemangat dari Alek membalas ucapanku.
Aku hanya terdiam, mencoba memejamkan mataku.

“Hei jon, bangun jon, sampe kapan mau tidur? Menunggu dicium pangeran? Haha.” suara yang menggangu tidurku, aku sudah tau pelakunya.
“Mau apa sepagi ini Dan?” aku membalas si Danis sial ini.
“Kata Alek kamu sakit, aku Cuma mau jenguk. Aku pikir kamu mati cuk. Haha.” tertawa bahagia di atas derita temannya. Kalau bukan karna sedang galau sudah kupukul kepalanya, pikirku.
Aku bagun menyandarkan tubuhku di dinding yang terasa dingin, sedingin hatiku. “Alek di mana Dan?” tanyaku. “Alek sedang pergi ke luar kota bro, Alek minta aku menemani kamu.” timpa Danis.
“Kamu gak perlu khawatir bro, aku akan membantu mengembalikan semangatmu lagi, aku akan menjagamu.”
“Oke oke.” Jawabku datar. Setidaknya aku punya teman tidak sendirian pikirku.

Danis kemudian menyodorkanku sebuah buku, kulihat sampulnya, oh sial pikirku buku ini berjudul TIPS MOVE ON. “Buku apaan ini cuk?” aku penasaran. “Ini buku buat mengatasi masalahmu kawan, baca-baca dulu saja, santai.” jawab Danis sambil tertawa.
Klihat-lihat covernya dan ternyata, ini buku karangnnya sendiri. Danis memang gemar menulis, tapi percetakan macam apa yang mau menerbitkan buku seperti ini pikirku.
“Mari kita isi waktumu dengan hal-hal yang bermanfaat brother, membaca misalnya.” Ucap Danis.
“Buku ini sudah lama terbit?” tanyaku. “Mmmm.. Sekitar setahun yang lalu, kebetulan temanku punya semacam usaha percetakan, jadi ya aku minta saja dia terbitkan.” jawabnya disertai senyum.
“Oh pantas saja, kupikir peberbitan mana yang mau terbitin bukumu Dan, pasti sekarang percetakan temanmu bangkrut ya setelah menerbibitkan bukumu?”
“Kurang ajar kamu Jon. Gak lah bro. Dia gak mungkin bangkrut, Bapaknya pengusaha kaya. Haha.”.
“Kamu tau bro, menulis itu merupakan cara terbaik untuk mengabadikan cerita. Menulislah bro, itu akan membuatmu lebih baik.” Danis memotivasi.
“Hey, ayo kita keluar cari suasana. Jangan cuman mendekam di tempat macam ini terus.” ajak Danis.
“Mau ke mana sih, aku mager.” jawabku.
“Ngopi bro, makan. Kamu gak butuh makan sekarang.” bujuknya.
“Ya udah tunggu aku mandi.”
Aku pun mau mengikuti kata-katanya. Membonceng vespanya aku Cuma duduk terdiam melihat suasana jalan ramai dan bising. Kami berhenti di sebuah warung kopi.

“Sudahlah bro, jangan galau terus nanti aku kenalkan temen-temen cewekku, minat?” Danis memulai percakapan. Aku cuman diam sambil menghisap sebatang rokok.
“Oke ini minum kopinya udah jadi bro.” Sambungnya. “Jon, kamu beneran gak makan? Aku gak enak bro makan sendirian begini? Pesen ya? Aku traktir.” katanya membujuk.
“Udah makan aja, Abangnya aja yang jualan gak makan kok.”

Sambil menunggu si Danis makan aku menghisap rok*k pelan sambil menyruput kopi hitamku, rasanya memang nikmat, tapi tetap saja suasana hatiku membuat semuanya terasa datar saja. Aku kemudian teringat saat dimana aku sering dimarahi Gita karena rok*k. Ya memang dia tidak terlalu suka aku merok*k di depannya.

“Bro, kamu baik kan?” tanya Danis mengagetkanku. “Iya, baik sante aja bro, aman.” Jawabku.
Sambil menghisap rok*knya setelah selesai makan dia kemudian menatapku. “Bro, sudahlah jangan disesali, lama lama pasti kamu bisa move on, dengan caramu sendiri.”
“Kamu bisa melakukan hal yang kamu bisa bro, lakukan hal yang bermanfaat bro.” Sambungnya.
“Kamu bisa main gitar kan, lebih baik kamu iseng-iseng bikin vidiomu main gitar, terus kamu upload.” Ucapnya menambahkan.
Tetapi ucapannya membuatku teringat kalau dulu aku sering menyanyi untuk Gita, dan aku pernah upload vidioku bernyanyi bersamanya, bersama suara indahnya yang selalu terngiang-ngiang di kepalaku.
“Gak perlu melupakan, kalau tidak bisa kenapa harus dipaksa. Ingat saja jon, tapi jangan sampai itu malah membebanimu dan membuatmu terjatuh. Belajarlah dari apa yang terjadi. Kamu akan temukan jalanmu, dan biarkan Gita menemukan jalannya sendiri.” tiba-tiba aku teringat ucapan Alek, entah angin apa yang membawanya.
“Dan..?”
“Ada apa brother?” jawabnya.
“Aku mau tanya, bukumu yang kamu kasih pagi tadi itu berdasarkan kisah nyatamu atau apa?” entah aku bertanya apa.
Sambil menghisap rok*k dan menghembuskan asapnya Danis mulai berbicara. “Iya bro, aku juga pernah mengalami masa-masa seperti kamu ini, jadi kenapa aku bilang bisa membantu adalah karena ya aku pernah mengalaminya bro. Dan aku yang kemudian mencoba bangkit sambil menuliskan buku “TIPS MOVE ON”. Jadi semua itu aku tulis based on true story brother.”
“Kamu juga pasti bisa laluin semua ini bro, gak perlu kawatir, oke. Semua pasti berlalu dan luka hatimu pasti akan segera sembuh.”

Setelah hari itu, hari-hari yang kulalui terasa sama, tidak terlalu bersemangat. Ya walaupun aku mencoba untuk tegar, jujur aku tak mampu menahan rasa rinduku kepada Gita, aku sering stalking sosmednya, aku memastikan setidaknya dia bahagia dengan jalannya, walaupun itu menyakitkan bagiku.

“Hoi ngapain nglamun di sini sendirian, pak.” Suara yang tiba-tiba mengagetkanku, aku menengok ke arah orang ini dan betapa terkejutnya aku mengetahui siapa dia, Nina. Ya Nina, teman satu jurusanku, dia adalah idola tidak hanya di Prodi Pendidikan Seni Musik, atau bahkan satu Fakultas Pendidikan Seni. Aku tak bisa memungkiri kalau dulu aku sempat mengaguminya, kepiawaiannya bermain biola, gitar, piano, dan kecantikannya membuatku terpana. Namun dulu aku urungkan niat mengungkapkan perasaanku karena aku tau dia sudah punya pacar. Tapi belakangan aku tahu kalau dia jomblo.
“Eh, apa kabar kamu?” aku memulai percakapan.
“Ya, beginilah. Sibuk ini itu. Kamu gimana sekarang kabarnya, udah lama gak kumpul bareng.” jawab Nina.
“Aku baik kok.” jawabku mencoba menutupi kegalauanku.
Kemudian aku beranikan diriku mengajaknya pergi keluar. “Jalan-jalan yuk, cari makan, cari hiburan.”
“Yuk, aku juga bosen di kampus mulu, pusing hehe.” katanya sambil tersenyum.
Dan aku tak bisa menahan rasa di hatiku melihat senyuman manisnya yang bagaikan matahari melelehkan es batu.
Aku mengajak Nina makan, sambil kami berbincang. Ya lumayan untuk mengobati galauku. Aku berfikir apakah ini malaikat yang dikirim Tuhan untukku?.

Setelah siang ini aku agak lebih tenang, setidaknya aku merasa lebih baik, dan aku menemukan kembali fungsi hpku. Aku chat dengan Nina setelah sekian lama aku menyimpan kontaknya, dan hanya kuhubungi kalau ada hal penting saja. Melihatku senyam-senyum sendiri Alek mungkin menjadi bingung.

“Eh Jon, kamu sehat kan ya bor?”
“Gak pernah sesehat ini brother.” jawabku sambil tersenyum.
“Alhamdulillah Jon, akhirnya gak galau lagi kamu, bagus bagus. Btw ada angin apa yang bikin kamu kayak gini lagi? Gita ngajak balikan atau gimana?” timpa Alek.
Kemudian aku ceritakan tentang Nina.

“Syukurlah kalau gitu kamu gak perlu galau-galau lagi bor, udah kamu jadi aja sama si Nina, dari dulu kamu suka kan sama dia. ucap Alek membujuk.
“Sebenarnya bisa Al, tapi aku rasanya masih gak mau buat pacaran lagi. Aku Cuma gak mau kalau pacaran kemudian berantem, ribut, putus gak ada hubungan apa-apa lagi, seperti gak pernah saling kenal. Sama seperti aku dan Gita,”
“Lagipula kamu kan tau aku dikaruniai Tuhan ketampanan.” Jawabku sambil tertawa.
“Bego amat nj*ng.” ucap Alek, yang kemudian merebahkan badannya.
Aku pun merebahkan tubuhku di kasur di samping Alek yang sudah tertidur, aku mulai berfikir tentang kata-kataku tadi, mungkin juga ada benarnya kalau aku dan Nina berteman dekat saja, kalau memang kami dijodohkan pasti suatu saat nanti kami bersatu.

Sementara itu Gita yang masih kusimpan dalam memoriku juga tidak kulupakan, semua kenangan kami, walaupun terkadang mengingat semua itu mebuatku nyesek dan ingin menangis. Aku sebenarnya sudah mencoba menghubunginya, namun tidak ada balasan, tidak apa, aku sudah relakan dia berbahagia. Aku akan mencoba juga memulai langkah bahagiaku tanpa Gita. Aku akan memulai kebahagiaan dengan hal yang aku bisa, dengan apa yang aku punya, dan bersama teman-temanku yang ada. Aku jadikan apa yang aku alami sebagai pelajaran untuk hidupku, untuk menjadikanku lebih baik lagi.

Cerpen Karangan: Bagus Aryo Wicaksono
Blog / Facebook: baguswicaks22.blogspot.co.id / Bagus Aryo W

Cerpen Hilanglah Galauku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menangis Dibalik Kesenyuman

Oleh:
Siang ini guru menyuruh kami untuk membuat sebuah lagu untuk sebagai pentas seni kami pun berbagi tugas untuk kelompok kami. Di kelompok kami ada silmi, dewi dan intan sedangkan

Ku Kira Kau Mencintaiku

Oleh:
“Aku kira kau mencintaiku, ternyata persepsi-ku salah selama ini menilaimu” Pagi itu tampak mendung, tak ada cahaya dari matahari sama sekali. Rasanya aku tak mau berangkat sekolah pagi ini.

Belakang dan Depan

Oleh:
Ah seharusnya kuberi saja judul cerpen ini Punggung. Mungkin ada yang sempat berpikir punggung apa yang dimaksud? Hmm, punggung yang kumaksud ya memang punggung dalam arti sebenarnya, punggung bagian

Aku dan Cinta

Oleh:
Nama ku sella, aku mahasiswi di salah satu universitas yang ada di indonesia. Cerita ku saat ini yaitu tentang hubungan palsuku dengan seseorang. Ya, bisa di bilang TTM an.

Antara Cinta dan Ketulusan

Oleh:
Pagi ini mentari bersinar hangat, ditambah dengan nyanyian burung-burung yang seakan menyuruhku segera terbangun. Hmm.. indahnya pagi ini! Oh ya kenalin namaku Zahra Aulia. Usiaku baru 17 tahun. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *