Janji

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 15 March 2021

Seorang gadis terlihat sedang menunggu dengan cemas di depan pintu salah satu ruangan rumah sakit. Bibirnya tak henti-hentinya berdoa sembari berharap agar orang yang ada di dalam ruangan itu baik-baik saja.

Lima belas menit kemudian pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan itu sambil menampakkan wajah pasrah. Sang gadis pun langsung masuk ke dalam ruangan itu dengan cepat. Rasa cemasnya seketika berubah menjadi kesedihan saat dia melihat ibunya yang terbaring begitu lemah di ranjang rumah sakit. Gadis itu langsung mendekat kearah ibunya, dirinya seolah kehilangan semua kata-kata.

“Nurul” panggil sang ibu dengan lembut.
“Iya bu, ada apa?” tanyanya sambil menahan tangis.
“Nak, berjanjilah sama ibu. Apapun yang terjadi padamu nanti, kau harus tetap bisa mewujudkan cita-citamu. Jadilah seorang dokter yang berguna bagi orang-orang di sekitarmu.”
“Nurul janji bu, Nurul bakal selalu ingat pesan ibu, Nurul akan menjadi seorang dokter seperti apa yang ibu inginkan.” Nurul membalas perkataan ibunya sembari memeluk erat dirinya.

Nurul tak sanggup lagi menahan air matanya. Tangisannya pecah saat sang dokter mengatakan padanya bahwa sang ibu yang amat sangat dicintainya telah tiada. Hatinya bagaikan gelas kaca yang jatuh ke tanah, hancur berkeping-keping seketika. Kini malaikat pelindungnya tak lagi harus merasakan sakitnya. Pada hari itu juga Nurul berjanji pada dirinya, dia berjanji akan memenuhi permintaan terakhir sang ibu. Dia berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi seorang dokter seperti apa yang diinginkan ibunya.

Para pelayat itu perlahan mulai beranjak pergi meninggalkan tempatnya. Meninggalkan seorang gadis yang tengah menangis di sebuah pusara yang masih basah. Tangis air mata gadis itu perlahan tumpah membasahi pipinya. Kesedihan yang sedari tadi ia tahan di depan orang-orang kini tak lagi bisa dibendungnya. Dirinya seolah masih tak percaya, satu-satunya keluarga yang tersisa kini telah pergi untuk selama-lamanya. Sang ibu kini telah pergi ke sisi-Nya, menyusul sang ayah yang lima tahun lebih dulu pergi meninggalkannya. Meninggalkan Nurul yang kini sebatang kara.

Tiga hari telah berlalu. kini Nurul harus kembali bangkit dari kesedihannya. Nurul harus kembali ke sekolah seperti biasa. Di sekolah ia banyak mendapatkan ucapan belasungkawa dari para gurunya. Sahabat-sahabat Nurul juga mengucapkan ucapan belasungkawa kepada Nurul. Di sekolah, Nurul perlahan mulai bisa melupakan kesedihannya. Janjinya pada sang ibu tak akan pernah dilupakannya. Kini dia harus berusaha sekuat tenaga agar bisa menepati janji itu.

Tak terasa waktu terus berjalan maju, masa putih abu-abu kini telah ia lewati. Tiga tahun bukanlah waktu yang cepat baginya. Bermacam cerita, tangis, tawa, duka, dan air mata yang terus menghampirinya telah menjadikan Nurul menjadi sosok gadis yang jauh lebih dewasa dari gadis-gadis seumurannya. Perjuangan kerasnya selama tiga tahun pun juga berbuah manis, kini Nurul sedang menempuh pendidikan jurusan kedokteran di salah satu universitas negeri paling populer di Indonesia. Dia masih mengingat dengan jelas janjinya kepada sang ibu di detik-detik terakhir hayatnya, bukan perkara mudah baginya untuk mewujudkan impiannya itu. Nurul harus belajar siang dan malam untuk bisa mendapatkan beasiswa kuliah kedokteran. Berkat usaha, doa, dan kecintaannya yang besar kepada sang ibu, kini Nurul perlahan mulai melangkahkan kakinya untuk memenuhi janjinya pada sang ibu.

Masa kuliah juga bukanlah masa yang indah baginya. Tak ada satupun teman sekelasnya yang ingin berteman dengannya. Teman-temannya hanya menganggap Nurul sebagai gadis sederhana biasa yang beruntung mendapatkan beasiswa sehingga dirinya bisa berkuliah di jurusan yang terkenal paling mahal di Indonesia. Nurul juga tak seberuntung teman-temannya yang kebanyakan ke kampus dengan menggunakan mobil mewah atau sepeda motor keluaran terbaru, dirinya hanya mampu ke kampus menggunakan sepeda. Jarak kampus yang jauh dari rumahnya kadang membuat dia sering terlambat mengikuti mata kuliah, tapi syukurlah para dosen memaklumi keterlambatannya itu karena tak tega melihat usaha kerasnya mengayuh sepeda.

Uang beasiswa Nurul juga tidak seberapa, ia hanya bisa menggunakan uang itu untuk kebutuhan kuliahnya, sementara untuk kebutuhan sehari-harinya dia harus banting tulang bekerja paruh waktu menjadi kasir di salah satu toko pakaian. Sang pemilik toko tempat Nurul bekerja juga merupakan orang yang sangat baik kepada Nurul, ia bahkan terkadang mengizinkan Nurul untuk pulang lebih awal dari jadwal yang seharusnya bila Nurul harus belajar untuk mempersiapkan ujian. Sang pemilik toko juga sesekali memberikan gaji lebih kepada Nurul untuk kebutuhan kuliahnya.

Kini perjuangan Nurul tidaklah sia-sia, dirinya kini telah berhasil menepati janjinya pada sang ibu. Nurul kini telah menjadi seorang dokter di usianya yang terbilang masih muda. kehidupannya yang keras telah menempa dirinya menjadi seorang gadis dewasa yang tak kenal kata menyerah. Nurul kini mendedikasikan hidupnya untuk membantu orang-orang disekitarnya. Setiap akhir pekan dia selalu menyempatkan dirinya untuk memberikan pelayanan berobat gratis kepada orang-orang yang membutuhkan jasanya.

Masa lalu telah membuatnya sadar bahwa dia tak ingin hanya menjadi manusia yang sebatas lahir ke dunia kemudian beranjak dewasa, bekerja, lalu mati ditelan sejarah. Dia menginginkan lebih dari itu, dia ingin dirinya bisa menjadi manusia yang berguna bagi sesama sebelum ia dipanggil pulang oleh-Nya dan berjumpa kepada ayah dan ibunya.

Cerpen Karangan: Bara Redinata
Ig: @bara.redi__

Cerpen Janji merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Fallen

Oleh:
Apakah kalian sudah pernah merasakan ‘jatuh’ dalam hidup kalian? Bukan Jatuh Cinta, oke? Jatuh yang ku maksud di sini adalah jatuh dalam jurang kegagalan dalam hidup. Terdengar mengerikan, bukan?

Mesin Pemahat Mimpi

Oleh:
“Sial!” Danu mendesis kesal. Ia membungkukkan badannya sampai sembilan puluh derajat, dengan napas yang belum stabil. Keringat mulai membasahi tempatnya berpijak. Bagai gutasi di ujung daun, peluh itu turun

Senja di Tepi Pantai

Oleh:
“Aku menyayangimu seperti halnya, aku menyayangi saudaraku, Ku tak kan Biarkan waktu dan Usia memisahkan persahabatan kita. Ku kan teriakan pada dunia bahwa kau adalah sahabat terbaikku” Aku masih

Si Pingget Tangan Itu Mamaku

Oleh:
Hari ini aku melihatnya berbicara di podium itu. Lagi. Ya, ini bukan pertama kalinya dia berdiri di sana. Memberi pencerahan bagi semua muridnya. Memberi dorongan untuk orang-orang di sekitarnya.

Impianku

Oleh:
Hai, namaku Jessica aku sekarang kelas 3 SMA besok hari pertama aku duduk di kelas 3 SMA, tetapi aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan pelan, berfikir apa yang harus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *