Janji Dua Merpati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Motivasi, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 26 January 2018

Pagi itu tak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Deret gedung pencakar langit yang tidak bergeser sedikitpun, orang-orang sibuk berlalu lalang mencari tujuan, juga suara klakson barisan kendaraan yang terdengar dari kejauhan semakin menambah penat suasana Kota ini. Setidaknya itu realita yang harus dihadapi Indra selama ini. Bila mengingat tiga tahun lalu, pria yang baru lulus Sekolah Menengah Atas ini dibesarkan dari keluarga yang dipandang sebelah mata, tidak tahu apapun tentang Jakarta. Berbekal usaha dan kerja keras membuatnya terus bertahan hidup di Kota metropolitan ini. Sebab, Ia ingin menyelamatkan ibu dan adik-adiknya dari kesengsaraan akibat penghasilan keluarga yang semakin terpuruk. Ia juga ingin melanjutkan sosok ayahnya sebagai tulang punggung keluarga. Harapannya tercapai ketika ia ditawarkan ikut program Beasiswa oleh Pamannya yang sedang berada di Jakarta. Dan hasilnya pun tak disangka-sangka, ia berhasil diterima di salah satu Perguruan Tinggi di sana. “Harus Sukses dan membanggakan keluarga”, mungkin hanya kalimat itu yang masih ia genggam kuat saat ini.

Alarm yang selalu diatur pukul 4 pagi itu kembali berbunyi semenjak dua minggu lalu. Ini adalah hari pertamanya memulai kuliah di Semester ketujuh. Walau sering telat ke kampus, kadang berpakaian lusuh, dan pernah tertidur saat proses belajar di kelas, Indra dinilai sebagai salah satu mahasiswa terpintar di kelasnya.

Saat ini, Indra tengah berkuliah di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta. Beasiswa yang diterimanya ternyata tidak memenuhi biaya di semua bidang, karena itu ia juga harus mencari uang agar masa kuliahnya dapat dipertahankan. Bagi mahasiswa sepertinya, sangatlah sulit untuk berkuliah sambil bekerja keras untuk mendapatkan lembar demi lembar rupiah di kota dengan populasi terbesar se-Indonesia ini. Kalau bukan karena Surya, pamannya yang mau berbagi tempat tinggal saat ini, mungkin Indra menjadi satu dari sekian banyak pelancong yang gagal hidup di Jakarta. Namun untuk yang lain, seperti biaya makan, biaya kuliah dan semua yang terhubung dengan urusannya sendiri, ia tidak ingin melibatkan orang lain.

Surya punya banyak jenis pekerjaan di Jakarta. Selain menjalani pekerjaan tetapnya sebagai Pegawai Bank, ia juga mengelola Toko Bunga di rumah dan kadang jasanya dibutuhkan untuk mengisi acara penting seperti pernikahan, ulang tahun, dan sebagainya karena mulutnya yang pandai berbicara itu. Awalnya Indra ditawarkan pekerjaan seperti itu, tapi melihat keadaannya yang sangat tertutup dengan orang asing membuat Surya mempekerjakannya di Toko Bunganya saja. Dari kecil, Indra memang tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain, berkomunikasi pun sulit karena sifatnya itu. Dan alhasil, menjaga toko bunga Pamannya merupakan salah satu pekerjaan tetap yang ia dapatkan saat ini.

“Paman, untuk pengharum Bunganya itu biar Indra nanti yang belikan”
“Memangnya kau pulang jam berapa, ndra? Udah biar Paman yang beli saja”
“Kurasa Toko di seberang stasiun masih buka sampai jam 9 malam, jadi tidak apa. Aku akan pulang cepat malam ini karena tugas kuliahku sudah hampir selesai.”
“Huh, kamu ini. Ya sudah, makan malam nanti Paman letakkan di tempat biasa ya”

Seperti semester sebelumnya, Indra memulai Kuliah sore dari jam 4 sore sampai setengah 9 malam usai berjaga toko di pagi hari dan bekerja sambilan menjadi kuli bangunan atau Guru Privat di siang harinya. Ini ia lakukan hampir setiap hari, Malah ketika libur kuliah, ia memperpanjang waktu kerja sambilannya atau bahkan mencari Kerja tambahan di waktu senggangnya. Karena Ia berpikir bahwa ia harus sukses dan berhasil di masa depan.

Hari ini, jam kuliah Indra lebih cepat dari biasanya, tak lupa ia membeli pengharum bunga yang ia janjikan tadi pagi kepada Surya. Toko bunga di dekat stasiun yang biasa memakan waktu 1 jam dari kampus, kini bisa ditempuh Indra dalam 20 menit dengan sepeda tua milik pamannya, untungnya masih buka. Ia pun bergegas untuk membeli dan pulang ke rumah, karena ia yakin makan malam sudah menantinya untuk masuk ke perut yang sejak tadi berbisik tak menentu. Selagi ia mengayuh sepeda dengan kedua kaki yang nampak lelah sehabis kegiatan penatnya hari ini, ia menemukan hal tak terduga-duga. Malam hari, tepatnya di bawah sebuah pohon yang besar, ia menemukan seekor Burung yang terkapar. Sontak, ia pun langsung menjatuhkan sepedanya dan menuju ke posisi burung tersebut. Burung putih berjenis merpati tampak kesakitan dengan sedikit darah di bagian kaki dan sayapnya.

“Aku akan membantumu agar kau bisa tetap hidup, kawan. Bertahanlah sebentar lagi”
Tak tega meninggalkan hewan putih bersayap itu sendirian kesakitan, ia pun membawanya ke rumah untuk merawatnya, meskipun ia tak tahu milik siapa itu.

Satu minggu berlalu, ini adalah hari terakhir Indra bekerja sebagai kuli bangunan. Membuat Ia termenung saat berada di Toko pamannya, memandangi Burung Merpati yang kakinya berbalut perban sambil memikirkan mencari pekerjaan baru yang tentu sangat sulit. Hingga lupa bahwa ia masih dalam waktu berjaga, seorang wanita berkursi roda masuk ke Tokonya. Segera, ia membangunkan Indra dari khayalan kelabunya. “Halo, mas. Saya ingin membeli bunga ini, berapa harga satu tangkainya? Halo, mas? Apa anda mendengarkan saya?”

“Oh iya, kenapa paman?”
“Paman? Bukan, saya ingin membeli bunga ini.. apa dijual?”
“Eh? Maafkan saya, mba. I-iya itu dijual, biar saya catat pembeliannya ya”

Indra langsung salah tingkah dan tak berani menatap mata lawan bicaranya itu, justru ia dikagetkan dengan suara tawa kecil yang keluar dari mulut si wanita itu. Ia berpikir heran.
“Kamu Indra, kan? Hahaha, sungguh kebetulan banget ya, ndra! Apa kamu masih ingat sama aku?”
Indra dikagetkan dengan ucapan wanita berambut coklat agak pendek berkulit putih pucat itu. Seolah dulu mereka pernah bertemu. Namun Indra tidak mampu mengingatnya.

Kembali si wanita itu menanyakan pertanyaan untuk memulihkan ingatan Indra. “Ini aku, Pipit kecil itu, masa kamu tidak ingat?”
Ketika mendengar panggilan itu, ia teringat akan sosok yang ia kagumi saat masa SMA dulu. Seorang perempuan agak tinggi dengan rambut panjang, berparas ayu, aktif nan ceria langsung terlintas di pikirannya. Dan saat ia memastikannya kembali dengan melihat wajah wanita yang duduk di kursi roda itu, ia Yakin kalau itu memang dia.
“Kamu… Nada?!”
“Nah itu. Akhirnya ingat juga, Beo Raksasa sifanya selalu tidak pernah berubah, ya. Dasar Pelupa hahaha…”

Indra diberi julukan “Beo Raksasa” saat SMA dulu oleh Nada. Karena burung itu berlawanan dengan sifat pemalunya, dan Nada pikir lucu ketika Indra dipanggil seperti itu. Sosok Nada memang perempuan yang berbeda di mata Indra. Sejak sekolah menengah atas dulu, ia sering bermain bersama perempuan blasteran Indonesia Belanda itu. Karena hanya sedikit teman yang dimiliki Indra karena sifat tertutupnya, Nada-lah yang membuka komunikasi dengan Indra karena ia kasihan dengannya yang selalu makan bekal sendirian di waktu istirahat, dan ia ingin Indra menjadi temannya juga.

Selang waktu berjalan mereka pun menjadi teman akrab, dibuktikan dengan panggilan-panggilan aneh tadi. Namun sayang, ketika di bangku kelas 3 SMA, Nada terpaksa dipindah ke Jakarta karena alasan kondisi kesehatan. Dan sekarang, takdir kembali mempertemukan mereka.

Hari minggu, tepatnya saat kuliah Indra libur. Ia mengajak Nada untuk jalan-jalan sambil mengenang masa lalu juga ia ingin bertanya tentang kondisi Nada saat ini.

“Maaf menunggu lama”
“Oh, Nada. Akhirnya datang juga. Iya, tidak apa-apa”
Tampak di belakang Nada, seorang wanita berparas ayu dan mirip sepertinya menyapa. “Halo, nak Indra. Hari ini tolong jaga Nada untuk tante, ya.”
Indra sempat berpikir kalau sifat baiknya Nada didapatkan dari wanita yang Nada panggil Ibu ini.

Mereka berdua berencana pergi ke acara “Pameran kebudayaan Nasional” yang kebetulan sedang diselenggarakan di Jakarta. Berbagai pertunjukkan budaya Indonesia tersedia di sana, Nada sampai tak berhenti tertawa ketika melihat Indra mencoba memperagakan Tari Jaipong dan memainkan Gambang Kromong Jawa dengan konyolnya. Mungkin bagi Nada, ini adalah satu-satunya kesempatan dimana ia dapat tertawa lepas seperti tadi. Sekitar dua jam Indra dan Nada disuguhi pertunjukkan yang diduga menyegarkan pikiran mereka.

Seusai dari sana, mereka langsung pulang karena Nada diharuskan istirahat kembali. Dan ketika di jalan pulang, tanpa Indra bertanya, Nada justru mulai menceritakan semuanya. Alasan ia pindah ke luar kota memang benar, tentang kondisi kesehatan. Karena saat itu, ia divonis menderita penyakit tertentu. Indra sangat terkejut dan perlahan Nada meneteskan air mata ketika hendak melanjutkan. Ternyata, Nada divonis mengalami Kanker tulang belakang Stadium 1 saat itu, dan kini sudah berlanjut ke Stadium 3 dimana semua tulang ototnya mengalami kelumpuhan, baik itu kedua kaki dan hampir mematikan sebagian saraf tubuhnya tak terkecuali kedua tangannya yang nanti menyusul. Bahkan waktu hidupnya pun diperkirakan tak lama lagi, hanya tersisa 11 bulan. Indra sontak langsung tertegun menatap wajah Nada yang sudah tak kuat membendung jatuhnya air mata yang membasahi pakaiannya.

“Jika aku hanya akan merepotkan orang lain seperti ini, Apa gunanya aku hidup ya, ndra? Kamu pasti juga berpikiran begitu, kan?” Nada berusaha tersenyum kecil untuk menutupi kesedihan yang teramat dalam dari Indra. Sontak, Indra pun langsung memeluk erat Nada yang sejak tadi terduduk kaku di kursi roda.

Setelah dikejutkan dengan cerita Nada kemarin, Indra pun baru tahu kalau Merpati yang ia rawat sekarang adalah burung milik Nada. Kemarin ia mengatakan, kalau sekarang ia sedang merawat 2 ekor Merpati namun salah satunya kabur. Luka di bagian sayap dan kakinya disebabkan ranting kawat yang ada di pohon itu serta posisi Indra saat menemukan merpati itu memang dekat dengan rumah Nada, saat ia mengantarkannya pulang kemarin. Dan hari ini, Nada berniat mengambilnya kembali. Saat jam menunjukkan 11 siang, dan disaat Indra tengah berjaga toko, Nada bersama Ibunya yang membawa sebuah kotak hewan. Setelah dilihat, ternyata ia membawa merpati yang satunya untuk dipertemukan dengan Merpati yang dirawat Indra.

“Merpati itu simbol kesetiaan, ndra. Dimana jika salah satunya merindukan yang lain, harus dipertemukan secara langsung. Jadi aku sengaja deh bawa ke sini.”
Indra merasa lega saat melihat senyum Nada walau nampak sedikit itu. Nada pun memasukkan burung merpati miliknya ke sebuah sangkar burung milik Indra yang di dalamnya terdapat Merpati yang satunya.

“Kalau ibarat 2 Merpati ini, kamu itu merpati yang sehat, Ndra. Dan Kadang aku iri sama kamu. Berjuang keras mencari kerja, berjuang mendapat apa yang kamu inginkan, dan menjadi yang bermanfaat bagi orang lain. Sedangkan aku? Merpati yang terluka dan sakit ini tidak pernah tahu kapan ia akan sembuh.”

Indra merasa, Nada sedang menggantikan posisi ia dulu. Sifat ceria Nada perlahan hilang, berganti menjadi sifat Indra dulu yang pesimis dan rendah diri. Kembali, Indra menyemangati Nada. Ia mencoba membawa kembali senyum Nada dulu.
“Kalau kamu diibaratkan Merpati yang terluka itu, bukan Cuma aku yang harus berjuang, Nad. Kamu juga harus berjuang, berjuang untuk sembuh agar dapat bebas terbang kemanapun yang kamu inginkan!” Ucap Indra dengan intonasi tinggi yang merubah ekspresi sedih Nada saat itu.

Setelah hari itu, Indra dan Nada selalu menyemangati satu sama lain, Bahkan tidak jarang Nada mengunjungi Indra di rumah Surya untuk menengok keadaan kedua Merpatinya yang kini dirawat Indra. Demi memulihkan semangat hidup Nada, di hari saat Nada berkunjung, Indra membuat sebuah perjanjian. Keduanya sepakat untuk berjanji di depan sangkar burung merpati mereka.
“Aku akan Berjuang untuk Hidup!” adalah janji yang dilontarkan keduanya.
Mereka bersama-sama Berjuang setidaknya untuk 10 Bulan kedepan, disaat Nada melakukan Operasi pengangkatan Kankernya sekaligus waktu kelulusan Indra di Perguruan Tinggi.

Waktu pun berlalu sangat cepat, ini adalah hari dimana acara wisuda Indra dilaksanakan, tepatnya dua hari setelah Operasi pengangkatan kanker yang dilakukan Nada. Ketika Indra naik ke atas panggung, ia sempat memperlihatkan ekspresi bahagianya kepada Ibu, adik-adiknya dan Pamannya yang hadir di Jakarta saat itu. Tak lupa ia menyapa orang tua Nada yang juga hadir saat acara Wisuda Indra.

Ketika ia selesai dengan wisudanya, Indra langsung bergegas mengeluarkan sepeda dari halaman parkir kampusnya dan pergi ke suatu tempat dengan membawa Kedua burung Merpatinya yang sudah ia siapkan sejak datang ke acara Wisuda ini. Dengan penuh semangat, ia juga ingin menunjukkan kepada Nada hasil kerja kerasnya selama ini.

“Akhirnya, semuanya sudah berakhir ya Nad. Rasanya, baru kemarin kita berjanji tentang Burung Merpati ini. Waktu itu kamu juga mengatakan, Kalau kita berdua berhasil, kita akan lepaskan merpati ini bersama-sama. Dan hari ini waktunya Nad!”

Sepeda yang dikayuhnya terhenti di sebuah Pemakaman yang tak jauh dari rumah Nada. Indra segera membawa kedua merpatinya untuk masuk ke tempat itu. Lebih jauh dan lebih jauh lagi ia membawanya hingga Nada dirasa mampu untuk melihat dan merasakan keberadaannya. Langkahnya terhenti di sebuah makam yang di atasnya tertulis nama seorang perempuan yang ia kagumi, ia sukai, dan ia cintai sampai sekarang. “Annada Mursyaila Firdana, kulepaskan Merpati ini layaknya dirimu yang kini sudah terbang bebas di atas sana. Tanpa rasa sakit, tanpa menahan beban apapun dan pergi kemanapun yang kamu inginkan”

Cerpen Karangan: Sudarmadji
Facebook: facebook.com/adjisudarmadji60
Nama saya Sudarmadji. Panggil saya Adji 😀
Tujuan saya menulis untuk mencurahkan apa yang saya ingin sampaikan ke orang banyak!

Cerpen Janji Dua Merpati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menyeka Tabir Senja

Oleh:
Senja mencuat di balik gumpalan merah di atas langit sebagai atap terkokoh dari Sang Penabur Senja. Mentari kembali ke kaki langit mengakhiri hariku yang akan berganti dengan derap keheningan

Destiny

Oleh:
Baiklah… biar cerita ini berjalan seperti semestinya. Tidak berubah, ataupun di ubah. Kalau kau sudah lupa, atau memang sengaja melupakannya, akan aku ingatkan. Dengarkan, karena aku tidak akan mengulanginya.

Kegagalan Bukan Akhir Dari Segalanya

Oleh:
Kegagalan dan kesuksesan adalah hal yang lumrah dalam hidup manusia. Dalam keseharian seseorang, antara kegagalan dan kesuksesan selalu datang silih berganti. Itulah seni dari hidup. Terkadang kegagalan yang kita

Hujan

Oleh:
Langit sudah menjadi kelabu, angin pun sudah mulai menyeruak, hari telah berganti sore seiring matahari yang tenggelam. Namun, aku masih di sini. Masih duduk dengan tenang di kursi panjang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *