Keinginanku Bersilat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 March 2019

“Ma apakah aku bisa bersilat”, “mungkin suatu saat kau akan bisa bersilat, kau hanya perlu berusaha, berusaha dan berusaha. Kau hanya perlu berjuang dengan keras anakku Rangga. Kau kan orang asli minang kabau, di mana mana orang minang itu pantang menyerah” aku berbincang bersama mamaku. Keinginanku bersilat dihalangi oleh mataku, karena mataku BUTA. Mungkin ini terlihat mustahil bagi sebagian orang, tapi aku akan berusaha seperti yang mama kubilang.

“Mama, apakah dengan mataku yang seperti ini aku akan bisa bersilat?”, “bisa, karena…, mama sudah membawa guru pelatih yang khusus untukmu!!!” mendengar perkataaan mama akupun terkejut dan juga bahagia “wow, berarti aku bisa bersilat. Mana guru silatnya?”, aku pun mendengar suara jejak kaki yang menuju kamarku, dan mamaku mengahadapkan badanku ke arah seseorang yang tidak bisa aku lihat.

“Hai, siapa namamu nak?” mendengar dari suaranya dia sepertinya berumur 35 tahun “namaku rangga” ucapku dengan gugup “tak usah gugup, aku adalah orang yang akan melatih untuk bersilat. Namaku adalah Ahsan, kau panggil saja pak Ahsan.” “i..,i..ya pak Ahsan” ucapku dengan perasaan yang gugup dan grogi

“Apakah pak Ahsan bisa mengajariku dengan keadaan mataku yang seperti ini, apakah orang yang sepertiku ini bisa bersilat?”, “kau pasti bisa jika kau terus berusaha” mendengar perkataan pak Ahsan aku pun menjadi semangat walau keadaan mataku yang tidak memungkinkan.

“Pak Ahsan, kapan kita akan mulai untuk melatih Rangga?” ucap mama dengan semangat “kita akan mulai dari hari sabtu dan dilakukan setiap hari selama 4 jam berturut turut” “Rangga, apakah kau mau?” tanya mama kepadaku “mau ma” ucapku dengan senang.

“Cepatlah datang hari sabtu. Mengapa sekarang harus hari selasa, padahal aku ingin cepat berlatih dengan pak Ahsan” ucapku dalam hati saat aku sedang berbaring, “kau sedang memikirkan apa?” aku pun terkejut “hah, ibu kapan datangnya. Ibu di sebelah mana?” “di sebelah kirimu” aku pun langsung menghadap ke kiriku “sejak kapan ibu di sebelahku?” “baru saja ibu datang, kau sedang memikirkan apa?” “aku memikirkan hari sabtu. Aku ingin cepat berlatih dengan pak Ahsan” “kau sangat bersemangat ya” ucap ibuku dengan senang “bukan semangat ma, tapi sangat, sangat, sangat bersemangat” ucapku dengan gembira. “saking gembiranya kau lupa makan, cepat makan ini “ternyata mamaku datang ke kamarku untuk memberiku makan “oh iya, aku sampai lupa kalau aku belum makan. Hehehe” dan aku pun makan dengan disuapi mama.

Hari yang kutunggu tunggu akhirnya tiba, yap yaitu hari sabtu, “ma kapan pak Ahsan datang?” ucapku dengan penuh ketidak sabaran, “tunggulah sebentar Rangga, mungkin 10 menit lagi pak Ahsan datang” ucap mama dari belakangku sambil memegang kedua bahuku. Kami pun menunggu pak Ahsan di ruang tamu dan akhirnya orang yang kami nanti pun datang, “assalamualaikum” dari suaranya sudah bisa ditebak itu adalah pak Ahsan “waalaikum sallam” ucap aku dan mamaku dengan serempak “ma, apakah itu pak Ahsan?” “iya, itu pak Ahsan” tiba tiba seseorang duduk di sampingku dan aku tau itu pasti pak Ahsan “Rangga, bagaimana kabarmu nak?” tanya pak Ahsan kepada ku “baik baik saja pak Ahsan. Bagaimana kabar pak Ahsan?” “bapak baik baik saja. Nah…, sekarang apakah kau sudah siap untuk latihan Rangga?” “sudah pak, aku siap untuk latihan” ucapku dengan penuh semangat dan keyakinan “pak Ahsan, di mana anda akan melatih Rangga?” tanya mama kepada pak Ahsan “tadi saya melihat lapangan di dekat sini, jadi mungkin saya bersama Rangga akan latihan di sana” ucap pak Ahsan kepada kepada mama “berarti kalian akan berlatih sampai jam enam, kalau begitu saya akan membuat bekal untuk pak Ahsan dan Rangga, tunggu sebentar ya” dan mama pun segera ke dapur dan mempersiapkan bekal.

10 menit kemudian terdengar suara jajak kaki yang menuju ke arah ku “Rangga, hati hati ya” ucap mama sambil memberi bekal ke tanganku. Dan akhirnya kami pun segera pergi ke lapangan menggunakan motor pak Ahsan.

Tidak lama di atas motor kami pun akhirnya sampai di lapangan “mengapa kita berhenti pak Ahsan?, apakah kita sudah sampai?” ucapku kepada pak Ahsan “kita sudah samapai, sini biar bapak bantu kamu” pak Ahsan pun membantuku turun dari motor “nah, karena kita sudah sampai sekarang bapak akan memberi tahukanmu” “apa yang akan bapak beri tahu?” tanyaku kepada pak Ahsan “dalam bersilat kita tidak boleh dibaluti dengan rasa amarah dan egois dan juga bapak akan mengajari mu banyak ilmu tantang pencak silat” mendengar perkataan pak Ahsan pun aku menjadi bergembira dan sangat bersemangat.

Akhirnya aku pun mulai berlatih bersama pak Ahsan, aku diajari dari mana arah lawan menyerang dan sebagainya. Aku pun mulai menguasai beberapa jurus silat dan sebagainya. Setelah 4 jam berlatih tanpa istirahat kami pun menghentikan latihan dan beristirahat juga makan, “pak, ini bekal yang mama siapkan untuk pak Ahsan” “makasih Rangga” dan kami pun makan

“Bagaimana aku makan? Aku kan tak bisa melihat, karena biasanya aku disuapi mama” ucapku dalam hati, aku pun hanya termenung memegang kotak bekalku “Rangga, mengapa kamu tidak makan?” “maaf pak, soalnya saya tak bisa makan sendiri. Biasanya mamaku yang menyuapiku makan karena aku tak bisa melihat, jadi aku tak bisa makan bekal ini” ucapku kepada pak Ahsan “kalau begitu biar pak Ahsan ajarimu makan sendiri, pak Ahsan pun akhirnya mengajariku makan sendiri.

Setelah 20 menit diajari pak Ahsan akhirnya aku pun bisa makan sendiri tanpa disuapi.

Akhirnya akupun diantar pulang oleh pak Ahsan, “mengapa kalian pulang lambat” terdengar suara mama dengan panik di depanku “maaf bu, tadi saya mengajari Rangga makan sendiri karena dia tadi tidak bisa memakan bekalnya sendiri dan akhirnya dia bisa memakan bekalnya sendiri” ucap pak Ahsan kepada mama “wah, terima kasih pak Ahsan karena telah mengajari Rangga makan sendiri” dari suara mama sepertinya mama begitu senang.

Akhirnya kami pun berlatih setiap hari hingga tak terasa kami telah berlatih selama 1 tahun. Setelah 1 tahun kami berlatih pak Ahsan pun datang ke rumah kami dengan sebuah kabar “assalamualaikum” ucap pak Ahsan dari depan pintu “waalaikum sallam” ucapku dengan mama serempak “Rangga, bapak ada berita bagus untukmu. 2 hari lagi akan diadakan lomba pencak silat sekota, Rangga mau ikut?” mendengar perkataan pak Ahsan aku pun terkejut “hmm, bagaimana ya. Aku ini kan buta pak bagaimana jika aku kalah?” ucapku dengan ragu kepada pak Ahsan “kalah menang dalam bertanding itu biasa, bagaimana kamu mau ikut?” mendengar perkataan pak Ahsan aku pun terus mempertimbangkannya, dan akhirnya aku pun memberi jawaban “baiklah pak Ahsan, aku akan mengikuti lomba” “baiklah, karena kamu sudah setuju bapak akan mendaftarkanmu hari ini juga, dan kita akan latihan keras sebelum pertandingan dimulai.

Akhirnya pak Ahsan pun mendaftarkanku di dalam perlombaan itu, kami pun latihan keras sampai pada akhirnya hari yang ditunggu pun tiba “apakah kau sudah siap mengikuti pertandingan ini Rangga” “sudah pak Ahsan” jawabku dengan tegas.

Saat aku datang ke tempat pertandingan itu dengan menggunakan tongkat aku mendengar beberapa bisikan orang orang yang ada di sekelilingku “sepertinya anak itu mengikuti pertandingan ini, mana mungkin dia bisa memenangkan lomba ini, lihat saja matanya yang seperti itu. Aku yakin anak itu tidak akan mampu mengikuti perlombaan ini” aku mendengar ejekan dari beberapa orang yang berada di sekelilingku, tetapi itu tidak membuatku putus asa.

Setelah menunggu lama di tempat pelombaan akhirnya namaku pun disebut dan aku ke tempat pertandingan. Aku diberi tahu semua peraturan, saat pertandingan di mulai, “TIGA, DUA, SATU …, MULAI” aku mulai menyerang lawan dengan mengetahui suara langkah kaki lawan, semua yang aku pelajari bersama pak Ahsan aku keluarkan di dalam pertandingan itu. Di babak pertama awalnya semua orang mencaci maki aku, tetapi aku tetap berjuang. Di babak ke dua aku pun mulai menyerah dan putus asa, tetapi pak Ahsan dan mama menyemangatiku. Di babak ke tiga saat aku bertanding aku teringat sesaat aku latihan bersama pak Ahsan, semangat ibu dan sebagainya yang membuatku semangat. Di menit dua puluh terakhir aku pun mulai mengeluarkan amarahku yang tidak bisa kukendalikan, tetapi aku teringat perkataan pak Ahsan “dalam bersilat kita tidak boleh dibaluti dengan rasa amarah dan egois” teringat perkataan pak Ahsan pun aku pun menghilangkan rasa amarah yang ada di dalam diriku yang membuatku akhirnya menang sampai di babak terakhir.

Dengan perjuangan kerasku akhirnya aku sampai di tingkat nasional. Di tingkat nasional aku berlomba di jakarta, aku mewakili provinsi sumatera barat. “sekarang kita sambut perwakilan dari sumatera barat… Rangga!!!” akupun ke arena pertandingan, sebelum aku bertanding pak Ahsan berkata kepadaku “di saat lomba kau jangan memikirkan kalah atau menang dan jangan sampai amarah dan ke egoisanmu menguasaimu, dan juga kamu harus ingat bahwa bapak dan mamamu mendukungmu” perkataan pak Ahsan membuatku semakin semangat.

Dan pertandingan pun di mulai, di babak pertama dan ke dua aku berhasil melewati semua tantangan hingga akhirnya masuk ke final. Aku merasa bahagia karena aku telah masuk ke final, sekarang aku harus menghadapi lawanku dengan sekuat tenaga. Aku terus berjuang dalam pertarungan yang sengit ini, aku bersama lawanku selalu mendapatkan skor yang tidak berbeda jauh, sampai akhirnya aku mulai tumbang, “TIGA, DUA, SA…” aku pun segera bangkit lagi dan kembali bertarung aku pun mengerahkan segala kekuatanku yang akhirnya aku menjadi juara tingkat nasional.

Aku, pak Ahsan dan mamaku merasa bahagia dan terharu karena perjuanganku selama ini tidak sia sia. Aku pun diberi hadiah 35 juta rupiah. Aku pun merasa senang dan uang yang kudapatkan itu setengahnya aku sumbangkan ke panti asuhan yang berada di dekat di rumahku.

Sebulan setelah kemenanganku, matakupun dioperasi dan akhirnya aku pun dapat melihat. Aku dapat melihat semua yang ada di sekelilingku termasuk mama dan pak Ahsan, aku sangat bahagia dengan apa yang aku rasakan. Dan pada akhirnya disaat aku berumur 20 tahun aku sudah menjadi atlet silat prefesioanal dan ini semua terjadi berkat mamaku dan pak Ahsan.

Cerpen Karangan: Yana
Blog / Facebook: Saffanah Haniyashfira

Cerpen Keinginanku Bersilat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Anu

Oleh:
Hari ini seperti biasa, aku bertengger di tempat dudukku sambil membaca novel, aku malas mengoleksi eh maksudku mempunyai banyak teman, cukup mereka yang menjadi temanku. Novel Sherlock Holmes sedang

Senja dan Catatan Tentang Kita

Oleh:
Senja tengah mematung di barat cakrawala. Arak-arakan awan mulai berganti warna, dari biru laut menjadi oranye kemerahan. Sinar keemasan dari barat cakrawala menyemburat ke seluruh arah mata angin. Serpihan

Penumpang Angkot Sialan

Oleh:
Hai Gas, eh maksudnya Guys. Hehehe ketahuan nih kalo bahasa inggrisnya jelek. GUBRAKK… kenalin nama Gue Edo panjangnya “Edo Suparno”. Hahaha (jangan diketawain dong) gue juga binggung and heran

Best Friend

Oleh:
“Aleta!!” seorang pria paruh baya memanggil anak bungsunya yang saat ini sedang berkumpul bersama kakak-kakaknya di ruang keluarga. “Iya. Ayah” jawab Aleta yang dipanggil tadi menghampiri ayahnya. “Ayah akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *