Kenangan Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 September 2016

Dahlia terpaku menatap hujan di luar jendela sore itu. Begitu deras. Anak-anak bermain dengan riang di sela-sela air hujan, menyenangkan. Ketika hujan meninggalkan genangan, maka masa kecilnya meninggalkan kenangan. Terlalu menggembirakan memang, berbahagia tanpa beban dan tekanan. Tak seperti saat ini. Tatapannya pada setumpuk karya tulis penuh coretan merah membuat cappucino yang diseruputnya menjadi pahit, terlalu pahit bahkan.

4 jam yang lalu, saat ia menemui guru pembimbingnya.
“Berantakan!”, katanya pendek. Agak sinis, pedas, dan menyakitkan. Nadanya meninggi, “Karya tulis macam apa ini?”, lanjutnya sambil mencorat-coret pekerjaan Dahlia. Bu Wina, seorang guru pendamping pembuatan karya tulis kelas IX C SMP Al-Hamidiyah. Kebetulan sekali kelas Dahlia mendapatkan seorang guru yang terkenal killer di sekolah. Sudah 4 kali dia bolak-balik menemui gurunya, dan belum pernah sekalipun dia lolos dari bolpoint merah Bu Wina. Sangat menyebalkan. Padahal kelas lain sudah masuk bab 2, sedangkan Dahlia dan sebagian besar kawannya IX C pendahuluan pun belum lolos. Bahkan karya tulis milik sahabat tengil sekaligus tetangga usilnya, Daren saja sudah hampir masuk di bab 3. Padahal penggantian tema dan judul sudah 2 kali dilakukan Dahlia, namun itu semua tak membuatnya diloloskan dari coretan merah. Sampai pada titik ini rasanya ingin sekali untuk menyerah, membiarkan tumpukan karya tulisnya terdiam tanpa ada perubahan.

“Dahlia! Woi!”, teriakan keras Daren dari jendela memecah lamunannya. Daren mengkodekan ibu jari dan kelingkingnya tetap tegak sedangkan jari lainnya menekuk sambil digoyang-goyangkan ke arah jendela kamar Dahlia. Kalau sudah begini, pertanda dia sedang ingin berbicara dengan Dahlia lewat telepon.
Dengan lunglai, Dahlia mengacungkan jempolnya lalu beranjak mengambil smartphonenya yang tergeletak terbalik di atas ranjang tidurnya. Terdengar suara Daren di seberang.

“Ngapain sih ngelamun nggak jelas gitu?”
“Karya tulisku nggak jadi-jadi nih”, sahut Dahlia dengan suara lemas.
“Gimana kalau aku temenin kamu ke perpustakaan dekat taman, buat cari referensi”, tawar Daren, kadang usil namun bisa mendadak baik sekali.
Dahlia mengiyakan tawaran sahabat yang sering menampung segala keluh kesahnya itu. Walaupun Daren seorang laki-laki, tapi dia tahu benar dan paham apa yang diperlukan oleh perempan. Dahlia yang notabennya sedikit punya alergi dengan laki-laki pun nyaman ketika bisa mencurahkan segala uneg-unegnya bersama laki-laki yang kata banyak teman sekelasnya ganteng itu.

Saat pulang sekolah tiba, Daren menghampiri perempuan jutek yang sering menjadi target keusilannya. Siapa lagi kalau bukan Dahlia. Sambil menuntun sepedanya dia berjalan ke arah Dahlia.
“Jadi nggak kita ke perpustakaan?”
“Jadi, sekarang aja ya!”, sahut Dahlia antusias.

Sampai di perpustakaan mereka berdua mencoba mencari buku yang pas untuk bahan referensi karya tulis milik Dahlia. Perpustakaannya memang tak terlalu besar, hanya memuat 5 rak buku saja. Terlihat seperti perpustakaan pribadi. Namun perpustakaan inilah yang sering menjadi tempat Dahlia menyepi ketika dirinya sudah terlalu suntuk dengan segala hingar-bingar kehidupan remaja sekarang yang menurutnya sudah terlalu melampaui batas. Bukan semua remaja memang, tapi banyak dari teman sekolahnya yang berlaku demikian. Ia lebih memilih menyendiri di perustakaan menikmati sajian dari sang peracik. Merasakan lezatnya racikan kata dan menyibukkan diri menafsirkan kata perkata.
Seharian mereka berdua mencari buku yang cocok sebagai bahan referensi, akhirnya Dahlia mendapat 3 buku yang menurutnya pas.
“Terima kasih udah mau nemenin”, kata Dahlia sebelum mereka berpisah, kemudian mereka masuk ke rumah masing-masing.

Dengan setoples cookies coklat dan segelas cappucino instant penghilang gerah dia duduk bersila di atas sofa merah ruang tengah sambil bersiap menulis di depan layar monitor laptop pemberian ayah. Mulai menulis dengan merapal mantera, “Semoga nggak dapat coretan merah”. Amat lelah, tapi mau bagaimana lagi, ia tak boleh menyerah, ini salah satu persyaratan agar ia bisa lulus sekolah.
“Bukunya bagus juga, nggak salah aku minta rekomendasi dari Daren”, komentarnya pada buku yang selesai ia bolak-balikkan sampai halaman terakhir, tak benar-benar ia baca.
“Ngetik huruf, spasi, hapus lagi, duh kapan selesainnya nih tugas?”, keluh perempuan jutek berperawakan besar ini ke akun facebook miliknya.
“Ini hanya persoalan mudah, hanya membuat karya tulis. Bukan soal pembuatan proposal atau laporan keuangan kantor yang ribetnya minta ampun seperti yang dibuat ayah. Ini mudah, hanya butuh usaha lebih keras lagi”, gumam Dahlia pada dirinya sendiri, meyakinkan dirinya bahwa dia dapat melakukannya.

2 jam berlalu, dia masih berada di depan laptop, tidak benar-benar menulis, 50 menit browsing di internet, 40 menit membolak-balikkan buku, 10 menit menyeruput cappucino, dan 20 menit baru benar-benar menulis.

Sudah sampai di bab 2 rupanya. Rencananya besok dia segera menemui Bu Wina, berharap agar pendahuluan sampai bab 2 tidak ada coretan. Harapan yang terlampau besar memang, mengingat pendahuluan saja belum jadi apa-apa sebelumnya. Tapi Dahlia yakin kali ini dia akan benar-benar berhasil.

“Baiklah, kali ini ibu loloskan, tapi perbaiki paragraf kedua di bab 2, lalu lanjutkan menulis bab selanjutnya”, tutur Bu Wina lembut, tak seperti biasanya.
“Baik bu”, lega sekali, seperti minum air es di cuaca terik.

Pendahuluan sampai bab 2, sesuai harapan. Ekspektasi yang sesuai realita. Walaupun belum benar-benar menyelesaikan karya tulisnya setidaknya ada cerita bahagia hari ini. Ada perasaan senang saat menatap hujan, ada rasa manis saat menyeruput cappucino, dan ada berita baik untuk bahan obrolannya dengan Daren siang nanti.

Cerpen Karangan: Fahridinia Maulida Nuril Ulya
Blog: fahraay.blogspot.co.id

Cerpen Kenangan Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hidup Tanpa Arti (Part 2)

Oleh:
“Hah, apa-apaan dia!?” gumamku kebingungan dengan perkataannya. Ucapannya itulah tanpa maksud dan tujuan, dan kita pun baru juga bertemu. Seharusnya dia sadar apa yang selama ini kita lakukan. Setelah

It’s My Passion

Oleh:
Passion bagiku adalah segalanya. Dimana kita bisa mencintai dan menikmati suatu hal pada apa yang kita kerjakan. Passion adalah rasa dimana kita bisa bergairah dan berhasrat melakukan sesuatu. Dan

Pacaran? No Way!

Oleh:
“Hai, namaku Resya. Aku pindahan dari Surabaya. Aku pindah karena ikut ayahku.” Hanya itu yang aku ucapkan saat disuruh memperkenalkan diri. Aku sekarang berada di Kelas 10 IPA IIV,

Pertemanan

Oleh:
Di suatu waktu, ada seorang anak lelaki bernama Tian. Ia kerap mendapat ejekan dari teman-temannya, bahkan tak jarang ia dijadikan bahan lelucon oleh teman-temannya karena rasnya dan juga agamanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *