Keringat Perjuangan

Judul Cerpen Keringat Perjuangan
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 January 2017

Matahari bersinar terang. Senyumnya membangunkan bunga-bunga yang terkuncup letih. Burung berkicau dengan merdunya menandakan pagi telah tiba, malam telah berlalu. Saatnya bagi jihan untuk memulai awal baru. Hari pertama masuk sekolah tingkat sma.

Jihan hanyalah remaja biasa. Untuk gadis seusianya ia terkesan tak acuh terhadap penampilan. Sedikit tomboi. Memiliki banyak teman laki-laki dibanding wanita. Sikapnya yang santai dengan balutan pakaian sederhana membuatnya terkesan mudah melakukan apa saja. Semua temannya tampak senang berteman dengannya.
“Hi jihan?” Sapa seorang teman laki-lakinya. Seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan kulit putih
“Oh.. wandi.. masih hidup ya?” jawabnya dengan sedikit tertawa. Itulah jihan. Penuh canda. Untung teman-temannya sudah mengenalnya, jadi mereka maklum akan sifatnya dan mereka pun tertawa.
“Hahahah. Iya dong,” jawabnya dengan ceria seraya mengeluarkan beberapa buku catatan.
“Kenapa?” Tanya jihan memincingkan matanya.
“Oh my god han… kita ada pr. Kau lupa ya?” Ucapnya seakan tak percaya.
“What? Kok baru ngomong sih?” mukanya yang dari tadi santai kini berubah menjadi memerah cemas
Teeeeettt
“Telat men.. telat. Ini saatnya kita menerima kenyataan yang ada.” Gerutu jihan dengan sedikit putus asa.

Jihan beserta teman-temannya langsung menuju bangku saat bel berbunyi. Pelajaran pertama adalah matematika. Gurunya sangat ditakuti para murid karena kegalakannya. Tetapi, tak begitu bagi jiahan. Menurutnya, semua akan baik-baik saja. Ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat.

“Tidak buat pr, jihan?” tanya guru matematika itu dengan sedikit memicingkan mata. Ia tampak berpikir keras untuk memberikan hukuman pada jihan. Pasalnya, Jihan adalah anak yang bertanggung jawab dan ini kali pertama baginya. Tentunya, ibu itu harus memberi hukuman yang bisa membuatnya menyesal dan tak berbuat begitu lagi.
“Kamu hafalkan rumus matematika ini,” ucap guru itu pada jihan yang tertunduk pasrah.
“3 lembar bu?” tanya jihan keheranan menatap tiga lembar kertas yang penuh dengan angka itu ada di hadapannya.
“Ya. Kau hafalkan dan segera kau menghadap ibu jam istirahat. Sekarang, kau boleh keluar,”
“Baik, bu” Jihan tertunduk dan segera keluar dari kelas itu. Sekuat tenaga ia menghafal rumus itu. Walaupun menghafal rumus bukanlah hal yang sulit baginya. Tapi, rasa bersalah itulah yang membuatnya begitu serius menatap lembaran kertas yang memenuhi tangannya.

Tak butuh menyita banyak waktu untuk menghafal rumus-rumus tersebut. Sebelum jam 9 jihan telah mengayuhkan kakinya menuju kantor. Hafalan tersebut ia lewati dengan fasih dan lancar. Ia juga berjanji untuk tak akan mengulangi hal sedemikian di lain waktu.

“Ehm, jihan? Ibu mencari kamu ke kelas kau tak ada.” Ucap seorang wanita yang cukup paruh baya seraya mengelus kepala anak tersebut.
“Bu, ada apa ke sekolah?” tanyanya dengan penuh kebingungan.
“Kita akan pindah rumah. Otomatis kamu pindah sekolah.”
“Ibu bercanda kan?”
“Tidak. Ya sudah kamu berpamitanlah dulu pada teman-temanmu. Barulah kita langsung berangkat.” Ucap ibunya singkat.
Jihan tak percaya dengan apa yang dikatakan ibunya. Ia menarik nafas sedalam yang ia bisa. Baginya, meninggalkan teman-teman yang telah mengenalnya itu sangat sulit. Hampir saja air mata mengalir melalui sudut matanya.

“Jihan?” sapa Nadira pelan menepuk pundak temannya itu. Melihat ia tampak tak seperti biasanya.
“Nad.. aku harus pindah sekolah” keluhnya pelan.
“kenapa?” tanya nadira penuh prihatin. Bagaimana tidak, temannya, teman yang selama ini menjadi penghibur suasana hendak pergi darinya
“Mungkin ada sedikit masalah” ucap jihan menundukkan kepalanya.
“Jihan.. kau tenang saja. Kita akan tetap berteman. Lagipula, pertemanan itu tak bergantung pada jarak. Kamu harus tetap berprestasi disana ya,” ucap Nadira menenangkan temannya.

Hari ini jihan terbangun dengan hati dan suasana berbeda tetapi dengan jiwa yang tetap sama. Tetap bernafas walaupun temannya telah jauh disana. Ia tahu di sini semua berawal. Dia akan mencari hal baru. Hal baru yang akan membuatnya semangat lagi. Semangat yang akan melukiskan prestasi demi senyum mengembang kedua orangtuanya. Orangtua yang sangat ia sayangi. Ia paham betul sebagai seorang anak tunggal yang harus membahagiakan kedua orangtuanya. Ialah satu-satunya macan ayahnya sekaligus putri yang tangguh bagi ibunya. Baginya, hidup ini adalah pengabdian bagi kedua orangtuanya.

Awal pertama di sekolah baru. Jihan menapakkan kakinya dengan penuh semangat. Ia telah membayangkan bagaimana perasaannya nanti. Semua murid akan menatap dirinya asing. Mereka semua akan mengacuhkannya atau menyambutnya dengan gembira? Hal itu kerap datang menghampiri batinnya saat ia hendak memasuki kelas baru.
“Perkenalkan nama saya jihan sausan, saya harap kalian bisa menerima saya dengan baik.” ucapnya ramah dengan akhiran senyum lebar ciri khasnya.

Hari-hari berlalu begitu saja. Jihan belum mempunyai teman dekat satupun. Baginya, sulit untuk menemukan teman layaknya temannya yang dahulu. Tetapi, hal tersebut tak membuatnya berdiam diri. Ia berusaha mencari teman sebanyaknya.

Tiba saat perjusami. Itu berarti semua anak akan tinggal di alam selama 3 hari lamanya. Merek akan dibentuk karakter mandirinya. Jihan sangat antusiasis untuk kegiatan ini. Tapi sayang, buah dari semangat itu tak semanis yang ia harap. Di perkemahan, ia sempat berselisih dengan kakak-kakak kegiatan itu. Alhasil, beberapa orang agak segan padanya.

Dengan penuh rasa sabar, jihan mengelus dadanya. Semua akan berlalu. Aku ada dan aku berguna ucapnya lirih. Akhirnya, hari itu pun tiba, jihan terpilih untuk menjadi perwakilan sekolah dalam lomba puisi. Vokalnya yang patut diacungi jempol dan penjiwaannya yang luar biasa berhasil membawanya menjadi juara tingkat kabupaten.

Saat maju menuju tingkat provinsi ia sempat merasakan kecemasaan. Ia merasa ia tak mampu tapi ia harus mampu. Segenap keberanian dan niat untuk membanggakan membuatnya tak kalah hebat bak raja hutan saat tampil di hadapan dewan juri. Tepuk tangan serta senyuman terlukis di wajah penonton. Walaupun sempat ia merasa kesal pada finalis lain yang merendahkannya, akan tetapi, sekali lagi ia membuktikan. Bahwa ia adalah juara. Ia berhasil meraih juara 2 dalam lomba tersebut. Prestasi membanggakan yang didambakan banyak remaja seusianya.
Terus lah berharap dan berjuang jika kau ingin tahu hasil sesungguhnya dari potensimu.
Thanks

Cerpen Karangan: Putri Rahma Arizki
Facebook: Putri Rahma Arizki
Komentar dan sarannya ditunggu ya…

Cerita Keringat Perjuangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bintang Kecil (Part 1)

Oleh:
Bintang kecil di langit yang biru, amat banyak menghias angkasa, aku ingin terbang dan menari, jauh tinggi ke tempat kau berada. “suara gue bagus kan Rey?” tanya Tirsya dengan

Mentari Yang Belum Bisa Bersinar

Oleh:
Tuhan Maha Kuasa, sadarkah kita? semua yang diberikannya adalah benar yang terbaik untuk kita. Perlahan mulai ku sadari itu. Banyak sekali pikiran yang berkecamuk di benakku belakangan ini. Tidak

Love Me?

Oleh:
Namanya Riza, anak kelas X-3 di SMA Harapan Bangsa. Cowok paling cool dan ganteng, meskipun masih kelas X namun pesonanya mengalahkan pesona kakak kelas. Dia paling sering dibicarakan oleh

Kapsul Cita-Cita

Oleh:
Matahari mulai terbit dari ufuk timur dan mulai menyelinap masuk menerobos jendela kamar Nia. Tak lama kemudian terdengar seseorang membuka pintu kamar Nia perlahan dan dengan suara lembutnya membangunkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *