Kutu Beras

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 April 2016

Rabu, sembilan maret pukul tujuh lewat dua menit. Hari ini libur, horrayy!! Tapi tugas yang sangat menumpuk, pekerjaan yang menggantung di mana-mana, belum lagi masalah-masalah lain yang muncul di luar dugaan, semuanya mendesakku untuk bekerja di hari yang indah ini. Aku harus menyelesaikan semua tugas dan pekerjaan itu pagi ini juga agar bisa jalan-jalan nanti sore. Setidaknya makan bakso sepuluh ribuan ditemani jus buah segar lima ribuan di hari libur sudah sangat menghibur perut anak kost sepertiku. Niat awalnya sih begitu. Tapi ketika aku mendapati enam ekor kutu asyik berenang air cucian berasku pagi ini, semua rencanaku jadi berabe! Satu lagi pekerjaan tak diduga muncul sudah.

Setelah meminta maaf pada buku tugas serta teman-temannya yang tergolek lemah di atas meja, aku mengangkut berasku ke luar kamar dan menumpahkannya di atas karton baru yang sudah lama diabaikan di atas lemari sepatu. Setelah yakin bahwa isi wadah beras telah kosong, aku menggeser beras serta alasnya sampai terkena terik matahari yang sangat menyengat. Tak sampai sedetik, mahluk hitam yang kurang ajar itu ke luar dari persembunyian amannya dan berhamburan entah ke mana. “Rasakan!” kataku puas ketika aku mulai melihat beberapa di antara mereka sudah mengalami kejang, dehidrasi, dan depresi. Dengan sedikit geli aku meratakan permukaan tumpukan beras agar tidak ada lagi di antara mereka yang masih sanggup main petak umpet. Setelah itu aku menikmati pemandangan mengenaskan dari para kutu yang harus mengungsi kalau masih ingin hidup.

Matahari sungguh terik dan tidak memberi kesempatan bagi makhluk mungil itu untuk selamat sebelum darah mereka kering seutuhnya. Puas akan kecerdasanku untuk membersihkan berasku dengan cepat, aku kembali ke kamar dan membawa serta buku tugasku sebelum kembali mengawasi beras yang sedang ku jemur. Sebenarnya aku malas untuk kembali, tapi entah kenapa rasanya puas sekali melihat hitam perlahan menjauhi putih dan lenyap seketika. Tapi untung saja kemarin malam kami semua mencuci kain dan jemuran sudah sangat penuh. Aku bisa berteduh di bawah jemuran sambil menatapi penderitaan kutu-kutu itu.

“PING!!” Sebuah panggilan menggangguku yang bahkan belum sempat menyiksa sehelai kertas pun dengan cakaran-cakaran penaku.
“PING!!”
“Apa?” Jawabku singkat pada temanku dan mencoba kembali fokus pada tugas, tanpa peduli ia akan segera menjawabku.
“Bing!” Sebuah suara memanggilku lagi.
“Berapa IP-mu?” Astaga, teman yang ku sayangi! Hanya itukah alasanmu untuk menggangguku yang sedang fokus demi masa depan cerah ini?
“Belum ada pengumuman.” Jawabku singkat tanpa berbasa-basi lagi.

“Bing!” Arrrggghhh!! Belum lagi sampai sedetik. Apa lagi sekarang?
“Oh.” Oh? Oh?! Oh!!? Hanya itukah yang kau katakan setelah menyita waktuku yang berharga?
“Bing!” Apa lagi sekarang?
“Nak, sudah selesai fotonya?” Aku sedikit menghela napas untuk yang satu ini. Sempat aku mengeluarkan suara desahan, aku sudah durhaka pada orangtuaku.
“Belum, Ma. Kakak lagi banyak kerjaan sekarang. Banyak tugas dan belum belajar untuk presentasi besok. Nanti sorelah kakak mulai kerjain ya.”
“Bah, kerjaan apa?” Aku mengetikkan rentetan kalimat untuk mendeskripsikan segala isi hatiku sebagai jawaban atas pertanyaan mamaku. Kemudian aku sertakan foto beras yang sedang ku jemur dan menyertakan kalimat, “Lihat kerjaan anakmu ini, Ma. Udah kayak orang ladang.” Lalu mengirimkan pesan itu dengan harapan akan mendapatkan kalimat penyemangat.

“Padi siapa itu Nak?” Yaelah, si mama. Beras dibilang padi. Lagian, mana ada padi tumbuh di tengah-tengah kota besar ini. Dan satu lagi, tak mungkin aku menunggui beras milik orang lain.
“Makanya beli berasnya jangan kebanyakan.”
“Iya Ma.” jawabku singkat, kemudian mematikan data selular pada handphoneku, berharap aku bisa fokus pada tugasku kali ini.

“Cicuit.” Apalagi sekarang? Ya ampun!
“Dek, ambil rantangnya sekarang. Bibi mau pergi, nanti enggak ada yang bisa anterin.” Kali ini aku menghela napas cukup kuat.
“Waduh bi, kami lagi di luar pula. Ada kerjaan mendadak tadi. Bibi buat aja bekalnya di atas kursi depan.” Ketika aku akan mengirim pesan tersebut, hatiku terketuk untuk segera menghapusnya dan menjawab, “Oke, bi.”

Lima menit perjalanan menuju lima langkah rumah bibi katering rasanya sangat melelahkan karena tidak dikerjakan dengan tulus. Sebenarnya perutku sangat lapar, tapi mengingat tugas yang menumpuk, aku mengurungkan niatku untuk menjemput bekal lebih awal. “Mit!!” Panggilku. “Mitaaa!” Panggilku lagi sambil menggedor pintu kamar tetanggaku itu. “Sudah siang! Ayo makan!” Kataku setelah mendengarnya bergumam di dalam sana. Semenit kemudian, Mita ke luar dengan rambut yang awut-awutan. Sekilas ia melihat beras yang ku jemur di depan teras kamarnya, lalu ia berbalik menuju kamar mandi.

“Daagh..” kataku pada Mita yang berjalan menuruni tangga, menuju pintu ke luar. Untung saja aku tidak seperti dia yang diajak diskusi bareng teman sekelompoknya. Kalau sampai itu terjadi, aku tidak tahu harus memberi alasan apa mengenai berasku ini. Tidak mungkin juga beras itu ku tinggalkan sebelum semua berasnya ku tampi untuk menyingkirkan mayat kutu serta keluarganya yang masih bertahan hidup. Atas kesabaranku dan keuletanku, ketika semua orang mulai memposting foto gerhana di sosial media, akhirnya aku selesai membersihkan berasku dari kutu. Dan sekarang saatnya untuk mengerjakan tugas! Yap, tugas. Mengetik status, membalas chat, melihat foto-foto gerhana, dan pada akhirnya ketiduran. Rabu, sembilan maret. Pukul tujuh lewat dua belas menit. Lagi-lagi jam tujuh. Sungguh kesalahanku yang fatal.

Okay, sekarang aku merasa seperti sedang mengalami “time gap” yang luar biasa. Berjam-jam lamanya tubuhku shut-down dan sudah sampai selarut ini tidak ada hal berguna apa pun yang telah ku lakukan, kecuali mengusir kutu dari beras. Ini sudah malam dan tidak banyak hal yang dapat dilakukan. Bukannya tidak ada, tapi tidak “mau”. Terkadang memang rasanya janggal sekali memulai kegiatan ketika orang lain malah sedang memulai istirahat. Tapi lebih aneh lagi bila tidak melakukan apa pun. Well, akhirnya ku pustuskan untuk mengutak-atik aplikasi di handphone-ku.

Selang beberapa menit setelah aku melakukan hal yang lebih tidak berguna lainnya di handphone, tiba-tiba aku teringat akan seseorang. Kalau aku tidak salah, terakhir kali ia menghubungiku untuk memastikan apakah aku punya waktu untuk chattingan dengannya. Dia adalah cowok teman penaku di media sosial yang selalu punya waktu untuk mendengarkan curhatku. Rasanya memang tidak adil bila tidak meresponnya bila ia sedang membutuhkanku. Namun saat itu aku sedang banyak tugas sehingga aku bahkan tidak sempat untuk membuka pesan tersebut. “Kamu gimana sekarang kehidupannya?”

Sebuah kalimat pembuka yang membuatku sedikit merinding. Mungkin dia sedang menanyakan kabarku, dengan kalimat bermajas yang luar biasa keren. Dan dia berhasil membuatku takjub sekaligus kaget oleh sebuah kata “kehidupan”. Menjadi cewek kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang) adalah gambaran hidupku. Tugas kuliah sudah seperti oksigen bagiku. Alasan aku bangun pagi, makan, bernapas, melakukan aktivitas penuh sampai aku tidur, adalah karena kuliah. “Sibuk kuliah doang, Kak. Bener-bener enggak sempat buat menikmati hidup. Tapi aku merasa lebih hidup sekarang. “Ya, dibandingkan aku ketika SMA dulu, yang kerjaannya hanya sekolah enggak jelas dan mengurung diri di kamar, memprioritaskan main game lebih daripada mengisi perutku, tentu saja aku jauh lebih “hidup” sekarang.

“Syukurlah, enggak kayak kakak yang merasa lebih mati.” Aku terkejut. Apa yang terjadi dengannya sampai ia berkata seperti ini?
“Kenapa Kak?”
“Gak apa-apa, Kakak cuma butuh perhatian aja.”

Ya ampun! Baru kali ini aku mengenal seorang cowok yang begitu lembeknya. Aku yakin dia pasti masih mengungkit-ungkit masalah tahun lalu, ketika dia diputusin ceweknya yang sudah menjalin hubungan enam tahun lamanya. Whoa, hello? Zaman sekarang belum bisa move on? Terus, udah gitu, galaunya sampai satu tahun lamanya? What?! Gini ya, menurut survey jumlah cewek di dunia ini lebih banyak daripada cowok. Dan selama satu tahun, ia belum bisa menemukan cewek baru yang bisa mengisi hatinya yang kosong? Sekali lagi, HELLO?

“Dikasih hidup bagus kok merasa mati? Jadi, apa kabar dengan perasaan orang merasa mati yang pengen hidup?” Orang-orang yang bertahun-tahun tidur di kasur rumah sakit, orang-orang tanpa rumah dan kerjaan yang duduk melongo di sudut-sudut bangunan, orang-orang yang baru terkena musibah, orang-orang yang cacat fisik, apa kabar dengan mereka yang tidak seberuntung kita? “Kakak dikasih hidup sampai sekarang bukan buat ngerasa mati, tapi buat menjadi berguna bagi orang lain, menghidupkan yang hampir mati. Orang mati saja bisa bermakna buat yang hidup. Masa orang hidup enggak bisa memberi lebih?” Edison, Einstein, Benz, Wright, Dalton, Newton, Pluto, Hippocrates, dan masih banyak orang mati lainnya yang sampai sekarang pun, ketika badan mereka bahkan sudah menjadi tanah, masih berguna bagi mahluk hidup beratus-ratus tahun setelah mereka mati. Orang hidup seharusnya bisa memberikan yang lebih daripada yang mereka wariskan.

“Yang mati itu kehidupannya. Kakak itu kayak zombie.” Ucapnya membela diri.
“Kayak zombie, yang enggak punya otak?” Selaku cepat sebelum ia membantah dengan kalimat lainnya.
“Karena gak punya otak, makanya sekarang hatinya juga gak berfungsi? Tahu gak Kak, zombie saja bisa berguna buat orang lain!” sambungku lagi.
Ya, setidaknya seperti itulah yang ku lihat di film-film. Zombie bisa mempererat persahabatan, zombie memakan “otak” para orang jahat, zombie membantu membuka awal kehidupan yang lebih berarti. “Kakak cuma butuh pendamping.”

Mendadak otakku malfungsi. Takjub akan kalimat tak penting yang sanggup mencairkan seluruh es di kutub selatan. Setelah sekian banyak pencerahan yang ku berikan, hanya itukah yang dapat dikatakannya? “Adam saja diperintahkan hidup bukan untuk mencari pendamping, tapi untuk melestarikan bumi serta segala isinya. Tanpa ia minta, ia telah diberikan Hawa sebagai pendampingnya untuk bersama-sama menjadikan bumi ini indah. Kalau begitu, tak perlu cari pendamping karena sejak awal sudah direncanakan kita punya pendamping tanpa kita minta. Logika, dong! Apa otak kakak dicungkil ke luar sampai satu-satunya yang menjadi beban pikiran kakak adalah pendamping?”
“Hehe.” Dan satu lagi kalimat tak bermakna yang sanggup mengeringi lautan pasifik.

“Jadi cowok jangan lembek Kak.”
“Iya, Kakak memang lemah. Kakak enggak bisa move on.”

“Haha, Kakak enggak tahu apa defenisi move on yang sebenarnya, kan? Move on itu artinya bergeser. Namanya aja sudah bergeser. Yang bisa bergeser itu objek nyata, objek keras yang konkrit. Jadi yang move on itu bukan perasaannya, tapi badannya yang bergeser. Matanya jangan ke dia aja lihatnya. Tangannya jangan megang barang kenangan dia aja kerjaannya. Kaki juga jangan ke dia larinya. Bibit jeruk enggak akan berbuah kalau dijaga terus di pot kecil di dalam rumah. Ia akan tumbuh menjadi pohon besar dan berbuah manis ketika ia ditanam di halaman yang luas, bertahun-tahun berdiri tegak di bawah terik matahari, dan berkali-kali diterjang hujan deras. Dengan begitu ia baru bisa menghasilkan buah. Kalau Kakak mengikuti jalan bibit jeruk, percayalah Kakak pasti bisa menemukan hal lain yang lebih indah daripada saat ini.”

“Kenapa kamu sekeras ini menasihati Kakak? Kan aku bukan siapa-siapanya kamu?” Dan dia benar. Aku tidak punya hak buat menasihati dia seperti ini, aku juga tidak punya kewajiban untuk mengomelinya sampai ia jera bersikap lembek. Tapi, aku telah bersumpah. Aku telah berjanji bahwa tak akan ada lagi orang yang boleh bernasib sama dengan “Dia”. Tak ada lagi yang boleh pergi sebelum meninggalkan orang lain dengan alasan yang jelas. “Kak, bolehkah aku sedikit bercerita?” Kataku tanpa menjawab pertanyaannya dan segera memulai bercerita tanpa dipersilahkan olehnya secara resmi.

Aku akhirnya menceritakan seseorang, kakak sepupuku, lelaki yang pernah ku cintai. Dia persis seperti di cerita komik cewek yang mainstream. Dia sungguh baik hati, perhatian, dan begitu lembut, meskipun mulutnya agak cerewet. Dia juga ganteng serta pandai main basket. Dengan kelebihan seperti itu tentu saja dia memenuhi kualifikasi cowok terkeren yang pernah ada. Tapi dengan segala kebaikan yang dimilikinya, dia juga punya celah yang bisa merusak imagenya yang sungguh sempurna itu. Dia orangnya sangat cemburuan. Sepupuku itu punya kakak laki-laki. Dibandingkan dengannya, kakaknya itu lebih sempurna lagi.

Selain merupakan ace dan kapten basket, kakaknya juga sangat pandai dalam berbagai mata pelajaran. Kemampuan itu pasti sangat dikagumi oleh banyak wanita dan tentu saja kesempatan itu tak akan dibuang oleh kakaknya begitu saja. Dengan kelebihannya, kakaknya itu mampu memenangkan hati cewek mana pun yang ia suka dengan mudah. Berbeda dengan sepupuku, ia tidak mendapatkan apa yang ia mau. Di antara begitu banyaknya fans dan cewek-cewek lain yang menyukainya, ada satu cewek yang tidak pernah berpaling untuknya. Dan bukan sebuah kebetulan bahwa cewek itu adalah orang yang ia sukai sejak lama.

Karena iri kakaknya bisa mendapatkan cewek mana pun yang disukai, akhirnya ia melampiaskan kekesalannya dengan merebut pacar kakaknya. Memang merebutnya hanya sekedar membuat pacar-pacar kakaknya mencoba “menikung”, tidak sampai jadian. Tapi kelakuan itu bukan kelakuan yang baik dan tentu saja hal itu memicu pertengkaran antara dia dan kakaknya. Berulang kali mereka seperti itu sampai suatu hari kakaknya yang baik hati membantu sepupuku untuk jadian dengan cewek yang ia sukai itu. Dan permasalahan pertama pun terselesaikan.

Suatu hari sepupuku didiagnosa menderita sakit parah. Tidak ada satu pun yang tahu penyakitnya kecuali aku, karena kami memang sudah terbiasa sangat terbuka satu sama lain. Penyakitnya itu memang pernah dicurigai oleh kedua teman dekatnya, tetapi ia membantah dan malah berujung pada pertengkaran hebat di antara mereka. Tetapi, penyakit itu mengharuskan dia untuk berobat jalan secara rutin untuk meminimalkan resiko keparahan yang lebih lanjut. Dokter menganjurkan agar ia segera memberitahu hal ini ke keluarga serta orang-orang terdekatnya agar tidak terjadi hal-hal lain yang tidak diinginkan, tapi ia menolak. Ia bersikeras bahwa hanya aku yang boleh tahu atas segala penyakit yang ia derita dan untuk kali ini dokter tidak tega menolak keinginannya.

Ia menjalani harinya seperti tidak terjadi apa pun padanya hingga suatu hari ia tahu bahwa cewek yang disukainya itu, cewek yang sudah menjadi pacarnya itu, ternyata menyukai kakak laki-lakinya. Memang cewek itu tidak memanfaatkannya untuk mendekati kakaknya, tapi tetap ajania merasa sangat sedih dan kecewa. Tidak lama setelah itu, mereka terus-terusan bertengkar meskipun karena hal sepele dan akhirnya putus tanpa pacarnya tahu alasan jelas yang mendasari berhentinya hubungan mereka. Keadaan itu membuat sepupuku down dan memperparah sakitnya. Namun hal itu tidak juga membuatnya mau menjalani terapi pengobatan yang serius. Berbulan-bulan ia menahan sakitnya itu sendirian sampai akhirnya ia “drop”.

Ketika semua keluarganya tahu tentang penyakitnya, semuanya berusaha mencoba berbagai hal agar ia cepat sembuh. Tapi kesedihan yang mendalam dari hatinya membuat segala terapi yang dilakukannya menjadi sia-sia belaka. Ia terus menghabiskan waktunya di rumah sakit tanpa perkembangan apa pun. Sampai di suatu hari biasa yang tenang, kami mendapat kabar bahwa ia telah meninggal tanpa ada seorang pun yang berada di sisinya ketika ia pergi. Dia hanya meninggalkan sepucuk surat terakhir darinya, berisi tentang segala permintaan maaf dan penyesalan-penyesalannya. Seandainya ia punya lebih banyak waktu untuk menebus kesalahannya dan memperbaiki keburukannya, tapi ia tidak sempat.

Ketika aku selesai bercerita, tidak ada respon apa pun yang ku terima. Namun, tanpa respon apa pun aku yakin kakak itu tahu betapa dalamnya makna dari sebuah cerita yang ku katakan ini. Terima kasih untuk sepupuku, saat ini aku menjadi giat belajar agar tidak menyesal aku pernah membuang-buang waktuku untuk hal-hal yang sepele. Terima kasih juga untuk dia yang mengingatkanku untuk menghargai segala kesempatan hidup yang aku miliki, untuk hidup lebih berharga. Jangan sampai hanya karena seseorang, sebuah kehidupan menjadi sia-sia. Jangan berpikir bahwa hanya orang itu sajalah yang merupakan dunianya, padahal tidak.

Jangan terlalu berpatokan pada seseorang sehingga membuat pemikiran kita sempit. Banyak hal yang lebih indah di dunia ini daripada terus memperjuangkan cinta yang bukan menjadi takdir kita. Mungkin orang yang sekarang diperkenalkan untuk kita hanyalah perantara bagi orang yang telah dipersiapkan untuk kita. Karena itu, hiduplah dengan baik sampai saat itu tiba. Kita tidak tahu bahwa di sela-sela pertemuan kita dengan orang itu, ada sedetik saja waktu yang kita lewatkan bisa menjadi bermakna bagi orang lain dan mengantarkan kita selangkah lebih dekat lagi. Kita harus berjuang, Seperti saat ini, terima kasih untuk kutu beras satu orang telah terselamatkan. Kalau bukan karena kutu beras, aku tak akan memulai semua ini. Hahaha.

Cerpen Karangan: Arthamy

Cerpen Kutu Beras merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


FLS2N

Oleh:
“Felly! Hari ini, lo bakalan latihan, kan?,” tanya Riska. “Lihat nati aja deh!,” ucap Felly santai. “Jangan gitu lah, Fel! Lomba udah deket. Ayolah!” “Iya-iya,” kata Felly dengan mengacuhkan

Wireless Charging

Oleh:
Pada suatu malam yang dingin seorang mahasiswa bernama aji sedang berdiri di balkon rumahnya sambil menghisap asap rok*k sambil memikirkan nasib sahabatnya yang tadi pagi dimarahi oleh dosennya karena

Penyebab Galau Selain Cinta

Oleh:
Ujian kemarin itu, menjadi ujian yang berarti bagiku, bagaimana tidak, aku yang tidak pernah keluar dari 3 besar kini mendapat nilai ujian Bahasa Inggris yang sangat yummy. 50 50

Sepupuku Idolaku

Oleh:
“Suci.. Suci..” Suara itu terdengar keras di telingaku. Dengan kesal aku membuka mataku dan menemukan Ibuku sedang menatapku. “Apa sudah pagi?” Tanyaku pada Ibu. “Ini masih sore, masih pukul

Kaset Penyemangat

Oleh:
Senin yang melelahkan, malas sekali rasanya beranjak dari kasur kesayanganku, tapi tentu itu ga akan mungkin! Hari Senin kan upacara, mana bisa aku lelet, bisa bisa aku kena marah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Kutu Beras”

  1. Nanda Insadani says:

    Barangkali ini kisah nyata :v
    Atau ini perasaanku aja kalau cerpen ini agak “merosot” ketimbang Rainy kemarin?

  2. Ai says:

    Terasanya emosi yg dihadirkan di cerita dari emosi penulis mungkin ada kisah di balik cerita ini. Sedikit terasa seperti sebuah tulisan blogger menceritakan keseharian tapi suka bagian cerita ttg move on dan percakapan sama si teman itu.
    Ditungguuu yaa cerita lain lainnya 😀

  3. Arthamy says:

    Haha, cerita ini memang agak “disenggol” kisah nyata saya. Sebenarnya ceritanya buat “menyenggol” seseorang juga. Ceritanya memang bukan murni, jd terkesan merosot maknanya.
    Makasih sarannya ya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *