Lembayung Senja (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 13 May 2017

Suara bel yang nyaring dan panjang adalah alunan kebahagian bagi setiap murid. Mereka akan langsung mengemas barang-barangnya. Ini adalah waktu yang tepat untuk pulang setelah seharian menyebu akal dengan ilmu. Berbeda dengan yang lain, aku dan 34 orang siswa lainnya lebih memilih untuk belajar bersama di ruang latihan. Sebelum matahari tiada, kami pantang untuk pulang ke rumah.

Lembayung di langit senja menjadi seruan agar aku segera pergi menuju ruang latihan. Ulangan matematika di jam pelajaran terakhirlah yang menyebabkanku terlambat ke luar kelas. Aku berlari kecil untuk sampai di sana. Sebuah pintu coklat yang di atasnya bertuliskan “Ruang Latihan” dengan aksara sunda itu sedikit terbuka. Aku menjadi lega saat mendengar suara-suara gaduh manusia. Itu artinya latihan belum dimulai.

Benar saja, ketika aku melongok dari pintu, hanya ada sebagian orang saja yang datang. Mungkin sebagian lainnya belum keluar kelas atau masih ada kelas tambahan dan lintas minat. Aku masuk ke dalam dan melihat tiga orang anak kelas sepuluh yang sedang menempelkan karton putih panjang di dinding. Dari pintu pun aku bisa membaca dengan jelas angka-angka yang tertulis di dalamnya. Di sisi lain, segerombol anak sedang mengerjakan tugas-tugasnya. Aku dapat mendengar percakapan mereka dengan jelas.

“Ruko nomor satu jawabannya apa?”
“Eh, woii… ngerjain tugasnya barenglah.”
“Ada yang PR bahasa jermannya udah?”
“Eh, Mabel! Kembaliin pulpennya sekarang dong!”
Mendengar percakapan mereka kadang menjadi hiburan tersendiri. Selama hampir dua bulan, kegiatan sepulang sekolahku seperti ini. Bersama orang-orang yang ambisius dalam belajar ini.

Aku masih mencari tempat untuk duduk saat sebuah bahu dengan sengaja menabrakku. Aku dapat melihat postur tubuhnya dengan jelas setelah ia berhasil melewatiku. Seorang cowok yang bertubuh tinggi, bahkan tinggiku hanya setelinganya saja. Kulitnya sawo matang dan yang menjadi ciri khasnya adalah tasnya yang berwarna merah tuanya. Khalil Agastra Keanu.
“Sorry. Aku dapet tempat ini duluan.” Katanya setelah menyimpan tas itu di atas meja. Ia kemudian melirikku dan memperlihatkan senyum miringnya.
Aku memutar bola mataku. Terserah! Aku memutar badan, berbalik untuk mencari tempat lain. Untuk kesekian kalinya, bahu itu kembali bersinggungan denganku. Kali ini ia berlari ke arah pintu, entah mau ke mana. “Makanya minum susu! Punya badan jangan pendek-pendek. Nggak kelihatan!” teriaknya sebelum ke luar ruangan.

Orang itu. Dari sekian banyak hal yang membuat aku merasa senang berada di ruangan ini, hanya orang itu yang tidak masuk ke dalamnya. Aku mengepalkan tangan. Mengapa orang itu tak membiarkan aku hidup dengan tenang untuk sehari saja? Aku sudah dapat menahan emosiku saat sebuah kepala muncul dari balik pintu. Ia menjulurkan lidahnya sambil memasang wajahnya yang amat menyebalkan. Emosiku menjadi memuai saking panasnya. “Khalil!”

Aku hampir saja mengejar Khalil saat lenganku digenggam oleh gadis cantik yang rambutnya selalu diikat satu. Ia menggeleng kecil. Aku mengerti maksudnya. Tapi Khalil terlalu menyebalkan untuk dibiarkan begitu saja.
“Dianya nyebelin, Put.”
“Percuma juga kamu ngejar dia. Anaknya memang usil. Lebih baik kamu mengerjakan fisika dulu deh. Tadi modulnya dikumpulin, lho. Siapa tahu besok kamu pun begitu.”
“Ah iya! Modul fisika dikumpul besok. Makasih udah ngingetin, Put.” Putty tersenyum dan melepaskan genggamannya.

Aku menduduki kursi kosong lalu membuka modul-modul fisika yang sangat banyak. Aku baru menyelesaikan lima dari dua belas lembar modul. Saat aku mengerjakan soal fisika, tiba-tiba soal itu seperti membentuk wajah Khalil tadi. Ck, aku tidak bisa berkonsentrasi kalau belum balas dendam.

Namaku Kayrin Chavali, siswa kelas sebelas di salah satu SMA kota Bandung. Aku termasuk anak yang suka menunda-nunda tugas. Untuk itu, aku selalu mengerjakannya di sekolah sebelum mulai latihan. Dari tadi aku ngomong latihan, latihan apa sih? Latihan yang aku maksud adalah latihan angklung.
Ya, aku mengikuti ekstrakurikuler angklung. Dalam waktu dekat, kami akan mengikuti lomba Nasional Youth Music Festival. Lomba ini hanya diadakan tiga tahun sekali. Karena itulah kami, terutama aku, sangat senang karena ini pertama dan terakhir kalinya aku mengikuti lomba ini selama di SMA. Aku dapat melihat semangat tim untuk mengharumkan nama sekolah.
Kami telah mempersiapkan semuanya sejak dua bulan yang lalu. Kami berlatih sejak pulang sekolah hingga kami pulang tanpa matahari yang menyambut bayangan. Biasanya latihan dimulai jika anggota tim telah lengkap karena akan berdampak pada jadi atau tidaknya sebuah lagu. Masing-masing dari kami memainkan lima sampai enam buah angklung. Ada beberapa orang yang bermain alat musik tambahan seperti contra bass, perkusi, belira, dan akom.

Putty adalah ketua ekskul angklung tahun ini dan ia pun menjadi konduktor. Awalnya ia tidak mau menjadi konduktor karena dengan menjadi ketua pun tangung jawabnya sudah besar. Sifatnya yang dapat dipercaya dan tegas namun lembutlah yang membuatnya berani mengambil peran itu. Jika aku yang mendapatkan kesempatan itu, mungkin aku sudah mengundurkan diri dari jauh-jauh hari.

Ngiit…
Suara geseran kursi membuat telingaku ngilu. Aku melepaskan pandanganku dari rumus fisika dan melihat ke sumber suara.

Khalil.

Khalil menarik kursi ke hadapanku dan terduduk di atasnya. Ia sedang minum sambil menaik-turunkan alisnya. “Pergi deh, Lil. Jangan ganggu dulu. Aku butuh konsentrasi.”
Ia mengangkat bahunya, “aku nggak ganggu.”
“Terserah.” Kataku malas sambil mendelik.
Ia kembali menyeruput minuman yang sedang ia pegang. Suasana hening sehingga aku bisa kembali mengerjakan soal. Namun suara seruputan minuman yang hampir habis kembali menggangguku. Aku membelalakkan mata. Katanya tidak akan menganggu, gimana sih? Nggak punya pendirian! Ia menyimpan minumannya dan tersenyum, “iya nggak ganggu.”

Dalam tim ini, Khalil memiliki peran untuk memetik dan menggesek senar contra bass. Ya, dia pemain contra bass. Khalil selalu hadir setiap kali kami tampil. Ia menjadi salah satu orang yang terpenting bagi tim.
Khalil memang anak yang pintar, terutama dalam pelajaran fisika. Ia sering memenangkan lomba fisika tingkat provinsi. Sayangnya, dibalik kepintarannya itu terdapat jiwa usil yang sangat tinggi. Sedari tadi ia rusuh dan tidak mau diam. Akhirnya ia merebut modul yang sedang kukerjakan.

“Soal yang kayak gini aja nggak bisa. Gemes liatnya.”
“Yeeh, biasa aja dong! Namanya juga belajar, nggak harus langsung bisa.”
Aku mengamati caranya mengerjakan soalnya. Awalnya ia mengerjakannya dengan serius. Namun, semakin kesini caranya semakin ngaco. Khalil mengisi semua soal dengan not angka! “Gini caranya, dx sin alfa blablabla sama dengan Fis Ais B Ais Fa”
“Khalil jelek!” aku merebut modul itu dan pergi menjauhi khalil. Ia menyambutnya dengan gelak tawa, seperti biasanya.
“Hahaha.. biasanya aja dong bibirnya jangan dimanyun-manyunin gitu dong. Hahaha..”
Refleks, anak-anak yang lain menertawakanku. Aku terlihat seperti anak kecil sekarang. Dasar Khalil, lihat saja nanti!

“Sini Kay, belajar sama aku aja.” ajak Putty sambil menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya. Sepertinya cuma Putty yang mengerti.
“Orang kayak Khalil bikin darah tinggi, Put!” kataku sambil membanting modul-modul di atas meja
“Kan udah aku bilang tadi. Jangan kamu ladenin aja”
“Khalil itu menyebalkan. Dia sangat jahil tapi pintar, gemes kan liatnya?! Kalau jahil, jahil saja. Nggak perlu pake pintar. Atau sebaliknya.”
“Kamu sirik aja.. itu namanya anugerah”
“anugerah apanya?!”
Putty hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh, lalu mengerjakan tugasnya kembali. Mood-ku sudah hancur untuk mengerjakan matematika. Jadi, lebih baik jika aku menghafal not saja.

“Temen-temen, sekarang kita mulai latihannya ya! Orangnya sudah lengkap” teriakan Ammabel membuat kami menghentikan kegiatan. Semua langsung mengambil alat musik masing-masing. Putty menggambil baton dan pergi ke depan partitur besar yang tertempel di dinding. Beberapa menit kemudian ruangan ini dipenuhi alunan getaran bambu.

Tak terasa, besok adalah saatnya kami tampil. Untuk itu, hari ini kami melakukan check sound. Dan di sinilah kami sekarang, di sebuah panggung indoor yang dingin.

“Sebentar, Putty kurang ke kiri sedikit.. nah.. sip.” kata Ammabel di depan kami.
Aku kagum dengan sosok Ammabel. Ia selalu memperhatikan setiap detail penampilan kami. Mulai dari kostum, letak para pemain, bahkan makeup yang kami gunakan. Ia juga selalu mengecek panggung beberapa hari sebelumnya agar tata letaknya tidak salah. Ia selalu menjalankan tugasnya sebagai divisi penampilan dengan sangat baik.

“Lho? contra bass-nya di mana? Di mana Khalil?”
“Tadi balik lagi ke sekolah, Bel. Penggesek contra bass-nya ketinggalan. Harusnya sih udah ke sini lagi”
“Haduh anak itu, sempet-sempetnya lupa! Siapapun tolong hubungi Khalil dong! Waktunya mepet nih!” Mabel menghembuskan nafas dengan kasar kemudian melanjutkan tugasnya.
“Biar aku yang telefon” saran Putty. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu menempelkannya di telinga.

“Ceroboh!” kesalku sambil memukul lengan laki-laki yang super menyebalkan ini. Khalil, laki-laki itu, malah terkekeh pelan. Aku tidak melihat raut bersalah dari tawanya itu.
“Maaf haha.. aduh sakit perut haha..” tawanya sambil memengangi perut.
“Ini nggak lucu sama sekali!” Wajahnya merah padam. Aku mengerti. Mabel adalah orang yang perfeksionis. Ia selalu ingin yang terbaik, terutama untuk lomba kali ini. Aku dapat membayangkan bagaimana perasaannya jika lomba besok tidak akan baik-baik saja karena khalil.

Khalil terdiam. “Bel.. maaf hey!” ucap khalil ketika mabel keluar dari ruangan yang didominasi warna putih dan hanya diisi oleh empat orang ini. “Ck, anak itu nggak bisa diajak bercanda.”
“Bagaimana mau bercanda? Kita akan lomba dan kejadian tadi bikin kita nggak bisa check sound.”
“Maaf. Aku kan nggak tau kejadiannya bakal kayak gitu, Kay.”
“Belajar dari pengalaman dong, Lil. Bukan kali ini aja kamu lupa.”
“Kay.” potong putty “Jangan kayak gitu. Hal yang khalil butuhin sekarang adalah dukungan.”
Aku menghela nafas. Putty benar. Aku hanya kesal. Aku takut perjuangan kami hanya dihadiahi tepuk tangan saja. Tapi di sisi lain, aku harus mengerti keadaan Khalil saat ini.
“Nggak. Kay benar. Aku yang salah. Harusnya aku lebih berhati-hati.” sanggah Khalil sambil melihat kakinya yang terbungkus perban. “Ah trouble maker.”

Khalil mengalami kecelakaan sewaktu kembali ke tempat lomba. Ia hampir menabrak anak kecil yang sedang menyebrang jalan. Ia mencoba menghindari anak yang berteriak kencang itu. Khalil kehilangan keseimbangan dan menabrak pembatas jalan. Ada unsur kelalaian dari orangtua anak kecil itu. Namun, Khalil pun salah. Jika ia tidak mengebut, ia mungkin sempat mengerem atau menghindar.

“Maaf, Lil.” Kataku sedikit lembut. Aku berusaha menenangkan Khalil yang terlihat karut-marut. “Kamu nggak perlu khawatir tentang lomba besok. Hal yang mesti kamu pikirkan adalah kesehatan kamu. Supaya kamu cepat sembuh.”
“Gimana aku nggak khawatir, Kay?! Lomba ini tuh…”
Kalimat yang akan ia ucapkan hanya menggantung di tenggorokannya. Ia menghebuskan nafasnya kasar dan melenguh kecil. Aku tahu ia kesal, kecewa, bahkan marah pada dirinya sendiri. “Kalau nggak ada contra bass, lagunya nggak akan jadi.”
“Pasti jadi. Melodi yang sebenarnya ada di angklung. Altam hanya pemanisnya aja. Tenang aja.”
“Aku tahu. Tapi untuk sebuah lomba? Itu nggak mungkin. Bahkan altam punya poinnya sendiri.”
“Jadi kita harus gimana?” tanyaku dengan suara meninggi. Aku kesal karena Khalil terus menyalahkan dirinya sendiri. Ia terdiam dan terlihat menahan emosinya. “Aku, bahkan tim sekalipun, nggak menyalahkan kamu, Khalil.”
Putty yang dari tadi cemas melihat perdebatan kecil kami akhirnya mengangguk. “Kayrin benar. Hal yang udah terjadi nggak perlu disesali karena nggak ada manfaatnya sekarang. Kita cuma berharap kamu cepet sembuh.”
“Tapi aku bakal membuat perjuangan kita selama ini sia-sia.”
“Itu nggak akan terjadi. Masalahnya ada di pemain contra bass, kan? Kay bisa menggantikan kamu besok.” Katanya sambil mengerling.
Aku dan Khalil terbelalak. “A.. aku? Kenapa aku?”
“Dua orang yang lolos tes contra bass tahun kemarin itu cuma kamu dan Khalil. Ingat? Aku yakin kamu bisa, Kay.”
Ahh.. tes itu sudah lama sekali. Bahkan hari itu adalah terakhir kalinya aku menyentuh contra bass. Aku hanya mengerti kunci nadanya saja. “Ta.. tapi Put, ini H-1 lomba. Aku nggak mungkin menghafal not contra bass yang sepanjang itu.”
“Aku nggak meminta kamu untuk menghafal. Aku hanya minta kamu untuk memainkan notnya. Saat lomba nanti kamu pakai partitur,” katanya santai.
“Nggak mungkin. Hal itu dilarang put. Kamu sendiri tahu hal itu.”
“Nggak ada peraturan yang melarang itu kok. Hanya saja kita akan kehilangan poin.”
Aku mendecak, “Itu sama saja, Putty. Berapa banyak poin yang dikurangi?”
“Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang.”
Lalu nyenyat. Aku terdiam, bergelut dalam pikiran. Jika poinnya dikurangi, apa bedanya jika tanpa memainkan contra bass sama sekali?

“Bagaimana, Kay?” tanya Putty yang membuat aku terkesiap. Aku menatap Khalill. Bisa tidak ya…? Akhirnya aku mengangguk.
“Tapi, angklung akunya gimana?” Mungkin Putty lupa. Jika aku memainkan contra bass, tentu suara melodinya akan berkurang.
“Nah, untuk itu angklungnya akan diganti dengan angklung tabung tiga supaya suaranya jadi banyak. Khalil, boleh tolong ajari Kay pola contra bass-nya? Aku mau kasih kabar tim untuk ganti angklung dulu.” Katanya yang diiringi anggukan Khalil. Saat Putty menggenggam gagang pintu, ia berbalik. “Oh iya, contra bass-nya boleh dibawa pulang ya, Kay.”
Setelah melihat anggukanku, ia menghilang di balik pintu.

Aku melirik jam dinding yang menunjukan pukul 7 malam. Ini akan menjadi malam yang panjang untuk seorang Kayrin. Dulu, aku pernah mengejek Khalil karena banyak not yang harus dia mainkan, tidak seperti angklung. Sebenarnya, aku hanya iri padanya yang selalu mengerjakan tanggung jawab dengan baik namun santai. Dulu pula, aku selalu ingin memainkan contra bass. Namun Khalil dengan jahil menyembunyikan penggesek sehingga aku tidak pernah memainkannya lagi. Dan aku mendapatkan kesempatan itu, sekarang. Hebat!

“Partiturnya ada di tas,” katanya sambil menunjuk sebuah tas merah tua di atas kursi. Aku menarik kursi itu agar lebih dekat dengan kasur pasien. Aku duduk dan membuka tas itu. Ada penggesek contra bass. “Akhirnya aku bisa nemu kesayangannya khalil.”
Khalil terkekeh kecil. “Cuma sampai besok kamu boleh pakai penggeseknya. Jadi, puas-puasin aja dulu.”
“Idih! Memangnya ini punya kamu?” kataku sambil mengeluarkan map partitur dari tas. Kemudian aku membuka lembaran demi lembaran dan mencari partitur Rhapsody in Blue dan Vocalise. Ya, genre yang akan kami mainkan adalah orkestra. Jadi, tak heran jika alat tambahan, terutama contra bass, berperan penting. Tapi aku terbelalak.
“Matanya biasa aja dong. Nggak usah kayak mau copot gitu.” Katanya sambil membantuku mencari partitur.
“Yang bener aja?! Kenapa not balok semua?”
“Hahaha.. Ya, pasti not balok. Memangnya kamu pikir apa? Not angka? Mana ada partitur contra bass pake not angka.” katanya terkekeh lagi. “Eh, tunggu. Jangan bilang kalau kamu nggak ngerti not balok.”
Ia berhenti membuka partitur dan menatapku. Tatapannya menusuk, seakan menodongku untuk membantah pernyataannya tadi. Mau bagaimana lagi? Aku memang tidak bisa membacanya. Tapi kalau aku jawab, ia akan menyebalkan seperti biasanya. Jadi, yang kulakukan hanya diam.

Khalil hanya tersenyum dan melepas partitur dari mapnya. “Sini pulpennya. Jadi gini…”
Ah, ini diluar dugaan. Aku pikir Khalil akan tertawa hingga terbahak bahak atau mengejekku seperti biasanya. Namun ia malah mengajariku. Ini aneh, seperti bukan Khalil saja. Apa kepalanya terbentur ya saat kecelakaan tadi?

Sebuah tangan besar mengelap wajahku. “Oy, didengerin nggak sih? Kenapa malah bengong kayak gitu? Mending kalau cantik. Ini mah kayak dugong habis liat yang ganteng lewat. Mukanya nggak selow gitu” Kata Khalil sambil menaik-turunkan alisnya.
Nggak! Aku cabut kata-kata aku tadi. Orang di hadapan aku ini memang Khalil. 100% Khalil Agastra Keanu yang naudzubillah menyebalkan. Aku memutar bola mata dan menatap partitur. “Iya, kamu kan raja dugongnya.”
Khalil kembali mengajariku. Ternyata menjadi pemain contra bass nggak semudah yang aku bayangkan.

Cerpen Karangan: Asri Nursativa
Blog: asrinsr.blogspot.co.id
Facebook: m.facebook.com/asri.ristian

Cerpen Lembayung Senja (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cintaku Bukan Untuknya

Oleh:
Saat ini aku adalah murid kelas 12 SMK di sebuah desa. Aku seorang yang biasa-biasa saja dengan seribu kekurangan yang aku punya. Aku sangat bahagia dan bersyukur dengan kehidupanku

Bercerita Dalam Cerita

Oleh:
Kisah ini bukan sekedar kisah 3 makhluk dengan spontanitas kehidupan mereka yang super freak. Tapi juga berhubungan erat dengan keadaan dan orang-orang di sekitar mereka. Mulai dari kejadian lucu

Ada Cerita

Oleh:
Namaku neila aku mahasiswa perguruan tinggi di yogyakarta aku punya pacar namanya nicko. Dia baik bahkan sangat baik. Awal ketemu dengan nicko secara tidak sengaja. Awalnya aku dan keluargaku

Kabut Yang Menutupi Senja

Oleh:
Duduk merenung di tepi pantai. Bosankah, bencikah, salahkah. Berjuta pertanyaan itu selalu muncul di benak hati Riani, senyum manisnya seakan pudar, hilang dan musnah tatkala ia tak lagi mengenali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *