Lembayung Senja (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 13 May 2017

“Nah udah gitu aja. Ngerti, kan?” katanya sambil meregangkan badan. Aku mengangguk sambil merapikan kembali partitur. Lalu menatap Khalil sambil bertopang dagu.
“Doain ya, Lil, semoga besok lancar dan aku hafal notnya.”
“Ck, kenapa maksa, sih? Putty sendiri yang bilang kalau mainnya pake partitur aja.”
Aku menggeleng, “Kalau kaya gitu lebih baik nggak pake contra bass aja sekalian. Aku bisa main angklung aja yang jelas-jelas udah aku hafal sampe ke sumsum tulang belakang.” Kataku sedikit sewot. “Kemungkinan aku hafal not masih ada.”
“Kamu selalu gitu. Lebih mementingkan kepentingan tim. Padahal kamu sendiri penting.”
“Bukan gitu. Aku baru banget dikasih amanah dan aku berusaha buat ngejalanin itu semaksimal yang aku bisa. Selagi aku mampu, kenapa enggak?” jelasku. “Aku cuma nggak mau bikin orang lain kecewa. Cuma itu.”
Khalil tersenyum kecut. “Iya, aku tahu. Aku buat banyak orang kecewa.”
“Aku nggak bermaksud kayak gitu,” sanggahku sambil melipat tangan di kasur. “Ini hanya persepsi aku aja. Jadi kamu nggak …”
Getaran ponsel di saku celana menghentikan ucapanku. Ternyata pesan masuk dari ayah. “Ayah udah di bawah, Lil.”

“Oh, iya. Ini juga udah malem banget. Wah, setengah sembilan! Kamu bawa aja tas aku, sama semua isinya.” Katanya sambil menyodorkan tasnya.
“Wih, tumben baik. Kayaknya kepala kamu kebentur, deh. Mana ada seorang Khalil dengan suka rela memberikan barang-barang pentingnya ke orang lain?”
Khalil mengernyit, “Siapa bilang itu buat kamu? Ya, aku sih, kasihan aja liatnya. Lagi pula, yang biasanya bawain tas aku itu cuma asisten rumah tangga, sih.”
Aku menurunkan senyum yang tadi sempat terkembang. Aku memakai tas merah itu tanpa membalas ucapannya. Percuma. Berdebat dengan Khalil sama saja berdebat dengan dinding. Memantul. Nanti aku lagi yang kalah dengan ucapannya. Eh, tapi… Aku yang tadinya berdiri duduk lagi di kursi

“Kenapa duduk lagi? Aku udah seneng banget kamu angkat kaki dari sini. Eh, atau kamu masih mau melihat aku, ya?”
“Geer banget sih! Tadinya aku mau nunggu mama kamu dulu. Tapi melihat kamu yang sangat baik-baik saja seperti ini, kayaknya aku pulang aja! Asem banget ya malah bikin kesel.”
Khalil terkekeh kecil. Lalu ia mengacak poniku, “Semangat ya! Maaf, kerjaan aku cuma bikin kamu susah aja.”
Aku mendecak dan menurunkan tangannya, “Nggak usah ngerusak poni juga.” Aku kembali merapikan poniku. “Udah ya, aku pulang sekarang.”

“Kayrin.” Aku menghentikan langkahku dan menoleh. Khalil menatapku sambil tesenyum. “Terima kasih.”
Aku menjadi gemap saat ia tersenyum. Khalil tidak pernah begitu sebelumnya. Akhirnya aku tersenyum canggung, “kembali kasih.”

Aku seharusnya bisa datang lebih pagi sehingga mereka tidak khawatir dan tidak menghubungiku setiap sepuluh menit sekali. Aku terlalu lelah untuk mengangkat telepon sekali pun. Aku mematikan ponsel dan kembali tidur sambil menunggu kemacetan. Saat aku sampai di tempat lomba, aku disembur banyak ocehan yang sama sekali tidak aku dengar. Dan disinilah aku sekarang, backstage.

“Kenapa nggak bisa dihubungi coba?” celoteh Ammabel sambil mendadaniku. Saat aku baru turun dari mobil, anak satu ini mengomentari penampilanku dari atas sampai bawah.
“Ngantuk Bel. Kalian berisik banget. Bahkan acaranya aja belum mulai dan kita tampil yang kelima.”
“Tetep aja kita harus stand by. Matanya kayak panda, bagaimana mau tampil coba?”
Aku hanya bergumam. Ya, kemarin aku belajar contra bass semalaman. Hal yang lebih sulit daripada membaca not balok adalah memainkan contra bassnya. Kunci nada dasarnya berubah-ubah sehingga aku sulit menghafalnya. Bahkan saat ini pun aku sedang menenangkan diri. Untuk lagu Rhapsody in Blue aku lumayan bisa. Tapi untuk Vocalise? Entahlah. Sekelibet notasi saling bersaut di pikiranku.

Setelah Ammabel merapikan penampilanku, aku berlatih contra bass. Jujur, aku takut. Saat aku melihat pemain contra bass yang lain, mereka seperti Khalil, terlihat profesional. Aku jadi sedikit pesimistis.
Tentu saja aku pesimis, lomba ini adalah lomba nasional. Berbagai macam alat musik khas nusantara ikut ambil bagian dalam lomba ini. Tim angklung pun bukan hanya kami saja, namun ada 5 tim lainnya. Aku dengar, ada 76 peserta lomba. Tak heran jika lomba ini diselenggarakan tiga hari berturut-turut.

“Kay,” sapa Putty lembut. “Tenang aja ya. Stand patiturnya udah ada. Kamu tinggal liat aja.”
“Iya, makasih ya, Put.”
Putty mencubit kecil pipi kiriku. “Duuh, semangat ya! Kamu bisa kok, masih ada satu jam lagi sebelum kita tampil. Kalau kamu mau latihan di sini, boleh aja. Nanti aku bilang sama tim supaya gak ke sini dulu.”
“Iya, aku mau latihan dulu sebentar.”

Blam.
Pintu tertutup. Aku memasang earpod di telinga dan menyalakan lagu vocalise. Lagu ini memang bernuansa sedih. Entah menghayati atau baper, aku merasa mataku berat. Aku takut. Aku takut salah memainkan not. Aku takut gesekanku jelek. Aku takut pitch-nya kurang bagus. Aku takut mengecewakan semua orang.

Dua bulan tentu bukan waktu yang sebentar. Banyak waktu luang yang kami gunakan untuk latihan. Bahkan sebagian besar kegiatan kita kami dilakukan di sekolah. Kami pulang hanya untuk tidur. Orangtua mungkin berharap banyak atas usaha anak-anak mereka selama ini. Sebagian guru pun meringankan tugas-tugas kami. Tak heran jika orangtua, guru, bahkan kami, menginginkan hasil yang sepadan.

Aku ingat bagaimana kami pun kadang merasa lelah. Ada yang lesnya menjadi berantakan. Ada yang tidak bisa mengatur waktunya sehingga ia sakit. Ada mulai malas untuk latihan dan masih banyak cerita lain. Hal yang membuat kami bertahan adalah komitmen. Dari awal, tujuan kami mengikuti lomba ini adalah ingin mengharumkan nama sekolah, terutama ekskul. Dulu, sempat terjadi masalah yang mengakibatkan eksistensinya menjadi turun. Sama seperti circle of life, dan kami berada di bawah sekarang. Melalui lomba ini, kami berharap roda itu akan kembali berputar sampai kami bisa melihat sinar matahari kembali.

Aku terperangah saat contra bass yang sedang kumainkan digenggam juga oleh seseorang.
“Kenapa kamu nangis gitu?”
Aku tercengut. Tidak dapat berkata apapun lagi saat ini. Bahkan aku sama sekali tidak memikirkan air mata yang tiba tiba berhenti saat menatap Khalil. Aku terlalu kaget sampai bernapas pun menjadi hal yang sulit.
“Ck, bukannya siap-siap tampil, malah nangis nggak jelas di sini.”
Aku menyeka kasar pipiku. Aku yakin Ammabel akan marah setelah melihat hasil lukisan tangannya di wajahku jadi berantakan. “Kamu yang ngapain?!”
“Menurut kamu? Tentu saja mengambil contra bass kesayanganku yang kemarin dicuri orang!” katanya sambil melepaskan tanganku dari contra bass.
“Apasih Khalil?! Harusnya kamu masih di rumah sakit.”
“Masa?”

Aku menatap kakinya. “Kaki kamu masih di perban kayak gitu. Kemarin dokter sendiri yang bilang kamu nggak bisa ikut tampil, kan?”
“Bodoh. Masa bodoh.”
Ah, anak ini! “Aku nggak bercanda! Kembaliin contra bass-nya dan pulang ke rumah sakit sekarang!”
Khalil menjentikan jarinya di dahiku yang membuatku mengaduh. “Kamu yang harusnya ke sana. Ambil angklung dan baris! Lima belas menit lagi kita tampil. Aku yang main contra bassnya.”
“Nggak usah ngaco, Lil! Kembaliin contra bass-nya sini, aku mau belajar lagi, Khalil!”
“Aku nggak bercanda.” Katanya mulai dingin. Aku menatapnya dari atas sampai bawah. Bahkan Khalil sudah memakai tuxedo untuk penampilan.
“Kaki kamu masih sakit. Nggak apa-apa kok kalau aku yang main. Aku bahkan udah hafal not Rhapsody in Blue. Lebih baik kamu duduk aja ya?” saranku.
“Hey, denger.” Katanya serius. Ia menatapku dengan mata elangnya. “Ini semua kesalahan aku, keteledoran aku sendiri. Aku nggak mungkin seenaknya lepas dari hal yang seharusnya aku jalani sendiri.” Ia menghela napas kemudian melanjutkan kalimatnya. “Aku tahu kamu belajar not hingga larut malam. Tapi untuk kali ini, biarkan aku menjalani kewajiban aku dulu.”
“Tapi, Lil..”
“Ck, ternyata kamu keras kepala juga ya. Gini, ada cewek tegar tengkuk yang mengunjungiku tadi malam. Ia malah membuat aku membuncah. Apanya? Kalimat yang keluar dari bibir cerewetnya itu.”
Aku mengernyit. Kenapa ia malah bercerita? Apa sulitnya memberi contra bass itu padaku? “Lil, kamu membuang-buang waktu aja. Ini nggak ada …”
“Dia bilang dia nggak mau buat orang lain kecewa.” Aku yang sedari tadi sibuk merebut contra bass sontak terdiam. “Dia bahkan ngelakuin apapun supaya hal itu nggak terjadi. Ia rela terjaga sampai sepertiga malam terakhir hanya untuk menghafal barisan not contra bass. Selagi dia mampu, kenapa enggak?”
“Jujur, kemarin aku malu sama diri aku sendiri. Untuk pertama kalinya, seorang Khalil Agastra dikalahkan oleh cewek tengil. Tujuan kita sama, Kay, nggak mau buat orang lain kecewa. Kamu benar, selagi kita mampu, kenapa enggak? Aku masih bisa berdiri untuk satu jam ke depan dan itu nggak masalah. Jadi, tolong biarin aku yang main contra bass- nya.” Lanjut Khalil.
Khalil membuka telapak tangannya. Namun aku masih memegang erat penggesek contra bass-nya. Khalil yang keras kepala! Aku dan Putty sendiri yang mendengar ucapan dokter bahwa Khalil tidak diizinkan untuk mengikuti lomba. Ia idak boleh berdiri lama-lama. Aku menjadi khawatir sekarang. Pertahananku runtuh saat Khalil menunjukan jam di pergelangan tangannya.

“Jangan buang-buang waktu, Kayrin.”
“Ah, baiklah.” Kataku menyerah. Aku menaruh penggesek contra bass di atas telapak tangannya lalu menatap matanya. “Tapi kasih aku janji bahwa kamu akan baik-baik saja.”
Khalil mengangguk mantap sambil tersenyum. “Tuh, udah ditungguin.” Katanya sambil menunjuk ke arah belakangku dengan dagunya. Aku menoleh. Di sana ada Putty bersama dengan angklung yang seharusnya aku mainkan. “Wish we luck.”
Aku mengambil angklung yan berada di lengan Putty dan berjalan menuju ke barisan. Entah kenapa, perasaanku tidak enak. Aku berkali-kali menengok ke belakang untuk memastikan pemain contra bass itu baik-baik saja. Semoga Tuhan memberikan kekuatan untuk Khalil. Aamiin.

Setelah selesai lomba, kami sangat lega karena telah menyelesaikan lomba dengan aman. Aku rasa ada beberapa kesalahan namun itu tidak terlalu berarti. Tapi kelegaan itu tidak berlangsung lama. Khalil jatuh. Ia terlalu memaksakan diri dan itu berakibat pada kakinya. Aku sangat panik ketika perban putihnya bernoda merah. Lama-lama darah itu semakin banyak.

“Nggak usah panik. Aku nggak apa-apa.”
Kalimat itu ia ucapkan saat aku membantunya untuk duduk di sofa. Aku dapat merekam ekspresi wajahnya yang tenang di dalam memori kepalaku. Ayah Khalil datang dan membawanya pergi. Itu adalah hari terakhir aku bertemu Khalil.

Aku menghembuskan napas untuk kesekian kalinya. Tak ada. Aku kembali menekan tombol merah dan memasukan ponsel ke dalam saku. Aku membalikan badan dan menatap 33 orang yang sedang duduk melingkar.
Ini adalah lima hari setelah lomba berlangsung. Biasanya kami selalu membuat forum evaluasi setiap penampilan. Hal ini dimaksudkan agar kesalahan yang kami buat tidak terjadi lagi di kemudian hari. Sama seperti latihan, forum tidak akan dimulai jika semua anggota tim belum datang.
Aku masuk ke dalam forum. Semua menatapku. Aku menggeleng. Aku tahu mereka kecewa.

“Baiklah, kita mulai evaluasinya. Assalamualaikum wr. Wb. Alhamdullilah kita telah melaksanakan…” Putty sebagai ketua mulai membuka forum.

Aku membuka ponsel dan menyentuh tombol merah pada voice notes. Lalu mendorongnya dengan telunjuk hingga berada di depan Putty. Semoga ia bisa mendengarnya nanti. Putty melanjutkan forum dan bertanya pada setiap divisi tentang kendala yang dihadapi dan saran untuk masalah tersebut. Hal yang aku lihat tidak sejalan dengan apa yang aku dengar. Mataku memang memandang satu-satu orang yang sedang berbicara. Namun telingaku pekak. Tak satupun suara yang masuk ke telingaku.

“Nggak usah panik. Aku nggak apa-apa.”
Ah lagi-lagi suara itu. Hal yang ada di pikiranku saat ini hanya suara Khalil. Kalimat itu terngiang-ngiang di telingaku hingga detik ini. Aku memijat pangkal kecil hidung. Kepalaku menjadi pusing.

“Kay, kamu nggak apa-apa?” tepukan Ammabel membuat aku terperangah. Aku tersenyum kecil dan menggeleng.

“… bagus dan perlu ditingkatkan lagi. Selanjutnya, Kay, ada yang ingin disampaikan?” Tanya Putty

Aku membenarkan cara dudukku dan berdeham kecil. “Pertama, aku mau mengucapkan terima kasih kepada temen-temen yang mau berjuang bareng-bareng. Orang-orang yang punya komitmen yang tinggi, yang rela meluangkan waktu sempitnya untuk bekerja sama mewujudkan tujuan yang sama.” Aku menghela nafas sebentar. “Kalian orang-orang yang sukses nantinya.”

Aku terdiam sesaat, berusaha merangkai kata. “Kedua, aku mau minta maaf kalau aku belum memberikan yang terbaik. Terutama saat kita lomba. Seharusnya aku bisa menggantikan Khalil yang semestinya berada di rumah sakit. Tapi aku…” Rasanya tenggorokanku tercekat. Pengelihatanku sedikit mengabur. “Aku malah membiarkan Khalil melakukan tugasnya padahal sudah sangat jelas ia sedang sakit. Andai saja aku mudah menghafal notasinya. Andai saja keras kepalaku mengalahkan keras kepalanya Khalil waktu itu. Mungkin…”
Aku mengigit bibir bawahku, agar pertahanan mataku tidak runtuh. “Mungkin Khalil bisa berada di tengah-tengah kita saat ini.”
Sungguh saat ini aku rindu kejahilan anak itu. Seharusnya, dulu aku bisa menikmati keusilan Khalil. Ah, penyesalan selalu datang terlambat.

“Kay, hey, itu sama sekali bukan kesalahan kamu. Kita bahkan berterima kasih atas kemauan kamu untuk menggantikan Khalil. Hal yang bisa kita lakukan hanya meminta yang terbaik kepada Tuhan untuk Khalil.” Ucap Ammabel.
Kata-kata terakhir Ammabel membuat pertahananku runtuh. Ia memeluk dan menenangkanku. Khalil benar, aku seperti anak kecil. Ah kenapa yang ia ucapkan selalu benar?

“Apa aku tertinggal banyak hal?”
Suara bariton itu sontak membuatku terbelalak. Ini mustahil!

“Kenapa kamu nggak angkat telepon aku tadi?”
Ini adalah pertanyaan ketiga yang kuajukan. Hasilnya sama. Ia tidak membuka suaranya sama sekali. Ia malah asyik mendengarkan voice note dari ponselku sambil sesekali terkekeh. Aku melipat tangan di dada, kesal. “Terserah!”

Akhirnya ia menoleh dan mengembalikan ponselku. “Harusnya aku dateng dari awal ya supaya bisa lihat kamu nangis dulu haha…”
Aku tak mengubrisnya. Dia pikir ini main-main? Aku sedang tidak bercanda. Aku merasakan pipi kananku ditarik.
“Nah, kayak gini aja. Wajah kamu jadi lebih bagus.”
Aku mengaduh dan menepis tangannya. “Sakit, Khalil!”

Iya, Orang yang baru saja menganiayaku adalah Khalil. Dia juga orang aku telepon sebelum evaluasi dimulai. Aku menghubunginya karena dia sendiri yang memintanya. Dia bilang ingin ikut evaluasi walau hanya dengan mendengarkannya saja. Tapi ia tidak menjawabnya sama sekali. Menyebalkan, kan?

“Kenapa kamu tiba-tiba ke sini? Kemarin kamu bilang nggak bisa jalan sama sekali. Dasar tukang ngibul!”

Selama ini, Khalil dirawat di Jakarta. Entahlah aku pun tidak mengerti mengapa harus jauh-jauh ke Jakarta jika di Bandung pun ada rumah sakit yang bagus. Lagi pula ia bukan terkena kanker atau penyakit berat lainnya. Tapi aku tidak pernah menanyakan hal itu. Nggak penting!
Selama itu pula Khalil mengabariku melalui media sosial. Kabar terakhir yang aku dengar adalah Khalil tidak bisa berjalan sama sekali. Tapi yang ada di sampingku sekarang adalah Khalil dengan tongkat jalannya.

“Biasanya juga aku kibulin. Kok sekarang jadi marah-marah, sih?”
“Gimana nggak marah kalau kamu selalu buat aku emosi?! Bisa nggak sih kamu baik sama aku sedikit aja. Bersikap normal kayak orang-orang.”
“Yah, nggak asik kalau itu. Kan kalau beda, jadi spesial.”
Nyenyat itu datang kembali. Aku sibuk bergulat dengan emosiku sedangkan Khalil, aku tak tahu apa yang ia pikirkan. Aku ingin menarik kata-kataku untuk kedua kalinya. Aku tidak rindu Khalil! Tidak!

“Kaki kamu nggak apa-apa?” kataku mencoba membuka suara. Aku hanya tidak suka sunyi. Apalagi kami sedang berada di rooftop. Khalil memang keras kepala. Untuk jalan pun ia susah, tapi ia tetap memaksa pergi ke sini.
“Ya, kurasa. Ini nggak sesakit biasanya. Besok aku bisa masuk sekolah lagi.”
“Nggak usah maksain deh, Lil. Nanti aja kalau udah sembuh.”
“Aku masih punya tanggung jawab di kelas, Kayrin. Lima hari aku nggak masuk, berapa banyak materi yang aku tinggalin? Kalau aku tunda terus, makin banyak tugas yang harus aku selesaikan nantinya.”
Aku menghela napas. Ya, kali ini ia benar. Tapi tetap saja jika ia memaksakan diri kakinya akan sakit lagi, kan?

“Btw wajah kamu ancur banget. Bahkan lebih abstrak dari kertas corat-coret fisikaku.”
“Enak aja!” kataku sambil memukul lengannya. Kadang Khalil keterlaluan.
“Haha… Nih pukul sampai puas. Sekarang aku nggak bisa kabur lagi. Kamu bisa tangkep aku sekarang.” Katanya terkekeh sambil menyerahkan kedua tangannya.
“Idih, ngapain? Nggak ada kerjaan!”

Lembayung senja kali ini tidak lagi menjadi seruan, tapi menjadi pengingat. Ia akan mengingatkanku pada percakapan kecilku dengan Khalil. Warna jingganya yang kemerah-merahan akan membuat aku rindu hari ini. Hari dimana aku dan Khalil tidak lagi bertengkar
“Hasil lombanya diumimin kapan sih?” tanyanya sambil meregangkan badannya.
“Aku nggak tahu. Mungkin minggu depan. Tapi apapun hasilnya, itu udah hasil termaksimal kita. Aku yakin, kita nggak akan membuat orang lain kecewa.”

Khalil menatapku sambil termangut-mangut. “Ini penampilan terakhir kita ya? Tiga bulan lagi kita kelas dua belas, dan masa jabatan kita di ekskul angklung akan berakhir.”
“Ah iya… waktu cepet banget, bahkan nggak kerasa sama sekali.”
“Komitmen kamu ke depannya apa?”
Aku menatap Khalil bingung. “Umm… mungkin masuk PTN yang udah aku cita-citain dari dulu.”
Khalil terkekeh, “Itu udah pasti. Mau buat komitmen yang baru?”
“Komitmen apa?” aku benar-benar bingung maksud Khalil kali ini. Apa dia ngajak ikut olimpiade fisika? Tapi kan dia tahu aku lemah di fisika.
“Komitmen. Komitmen di antara kita berdua. Kayak contra bass sama penggeseknya.” Katanya sambil tersenyum lebar.
Tunggu.. tunggu.. aku masih mencerna ucapan Khalil. Contra bass dan penggeseknya?

“Duuh lemot banget sih.” Katanya gemas. Ia menggaruk tengkuknya lalu menatapku lagi. “Pasangan… ngerti?”

Aku merasa bumi berhenti berputar. Bahkan mungkin burung-burung yang lewat pun berhenti terbang karena mendadak terkena serangan jantung. Tatapan Khalil saat ini seperti menodongku untuk menjawab entah pertanyaan atau pernyataannya. Sumpah! Kepala Khalil kayaknya beneran kebentur waktu kecelakaan. Aku harus gimana? Dan sekali lagi, lembayung jingga itu menjadi saksi atas kalimat yang kuucapkan saat itu juga.

Cerpen Karangan: Asri Nursativa
Blog: asrinsr.blogspot.co.id
Facebook: m.facebook.com/asri.ristian

Cerpen Lembayung Senja (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Remember You

Oleh:
7 Mei 2013 Surat pemberitahuan tentang Perpisahan Angkatan tergeletak dengan pasrah di tanganku. Aku terpaku. Aku mau lulus, ya? Cepat sekali. Sebentar lagi masa ini akan berakhir. Lalu bagaimana

Moment of 3 Years

Oleh:
Nama saya Ikbal Fahmi, biasa dipanggil ikbal. 2 tahun yang lalu dimana kita sama-sama mendapatkan kelas baru, teman baru, sahabat baru, dan spesial yang baru. 2 tahun yang lalu

Kapsul Cita-Cita

Oleh:
Matahari mulai terbit dari ufuk timur dan mulai menyelinap masuk menerobos jendela kamar Nia. Tak lama kemudian terdengar seseorang membuka pintu kamar Nia perlahan dan dengan suara lembutnya membangunkan

PDKT (Pendekatan)

Oleh:
Halo namaku Karin nama panjangnya Karin Ferika Herin. Di sekolah aku punya teman bernama Tesha, juga Toshi (sebenernya masih banyak teman cuman aku punya cerita nih antara mereka!) Suatu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *