Lilin Harapan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 18 October 2013

Batu sandungan itu mampir jua di pelukan. Dan aku dibuai alunan kesedihan karenanya. Kegagalan pertama dan terbesar yang pernah singgah. Karena itu pun, kekasihku terlepas dariku. Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali mengurai air mata.

Di sudut ruang gelap, kumerenung di atas ratapan. Tiga batang lilin merah menemani bak sinar remang-remang. Dua di antaranya, kuukir tulisan ‘kejayaan’ dan ‘cinta’ pada batang tubuhnya. Aku menangis hingga tak bersuara. Bulir-bulir air merembes di pipi hingga jatuh membasahi sumbu lilin pertama, lilin ‘kejayaan’. Seketika lilin itu padam, menyisakan asap pembakaran. Tangisku tak kunjung surut, justru menjadi-jadi. Kudekati lilinku yang kedua. Saat air dari pelupuk mustika kembali menetesi sumbunya, lilin bertuliskan ‘cinta’ itu ikut padam seperti pendahulunya. Berakhirlah sudah sekarang. Haruskah aku hidup hanya untuk menghidupi kenangan?

Tinggallah sebatang lilin merah tanpa gurat tulisan yang masih menyala. Lilin terakhirku. Percuma, aku sudah putus asa. Kumatikan ia dengan satu hembus napas. Anehnya, lilin itu bukannya padam, malah makin benderang. Kutiup sekali lagi dan hasilnya tetap sama.
“Kenapa kau tak padam seperti yang lain?”, gumamku kebingungan.
Tiba-tiba lilin itu berkata “Aku tak pernah redup apalagi padam selama engkau masih percaya”
Bulu kudukku berdiri dibuatnya “Si-siapa kau?”, tanyaku enggan.
“Akulah Lilin Harapan”, jawabnya sembari mengulurkan tangan.

Cerpen Karangan: Amalia Septiani Radiva
Microblog: @radivamalia (Twitter)
Facebook: Amalia Septiani Radiva
Lahir di Surabaya, 9 September hampir tujuh belas tahun silam..

Cerpen Lilin Harapan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)

Oleh:
“Berapa biayanya, Dokter Lim?” tanya Rain. “50 ribu,” jawab Dr Limbad sambil tersenyum. Joe mengangkat alisnya. Rain kemudian mengeluarkan seluruh uang hasil yang mereka dapatkan tadi, dan menyerahkannya kepada

Beat The Minew!

Oleh:
Hari ini aku membuka mataku dengan perlahan. Aku kesiangan. Siapa yang mau memikirkan tentang kemacetan lalu lintas dan hal-hal lainnya ketika seseorang kesiangan? Sekarang adalah masa depan. Transportasi pun

Kotak Ajaib

Oleh:
Di sebuah desa di Taiwan, hiduplah seorang petani miskin. Dia hidup bersama istrinya. Suatu hari, ketika petani itu sedang menggali sawahnya, dia menemukan sebuah kotak besar. “Apa ini?” tanyanya.

The Plot

Oleh:
“Ya Tuhan ku, Ya Tuhan ku, Aku haus.” “Wahai peliharaanku tunggulah sebentar, aku akan kirimkan seseorang untuk membantumu secara ajaib, dengan kuasaku.” “Apa kau dengar, suara itu? tuhan membalas

Sejuta Pohon Untuk Ibu

Oleh:
Dulu ketika aku masih kecil, Ayah dan Ibu selalu mendidikku bagaimana cara Aku menghadapi bumi serta alam ini, seperti; menghadapi perilaku manusia, hewan dan tumbuhan di muka bumi ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *