Little Star

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Motivasi, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 April 2017

Kumasuki ruangan gelap itu dengan hati yang berdegup kencang, suasana begitu hening. Gemetar tanganku memegang gaun, kuarahkan pandangan ke depan, dan melangkah anggun ke atas panggung. Hanya satu cahaya yang menuntunku menjejalkan kaki ke tengah ruangan.

Begitu lenggang, ribuan penonton menunggu sebuah pertunjukan. Anak-anak yang melihat dengan mata mengerjap-erjap, para juri yang terkesan tegas, siap memberi komentar apa saja bagi peserta yang sedikit banyak membuat kesalahan. Membuat tekanan dan atmosfer panggung yang benar-benar panas. Aku menggigit bibir, kakiku sedikit bergetar. Aku menatap para penonton, memberikan penghormatan dengan senyum termanis yang kupunya. Aku harus bisa.

Aku duduk di atas kursi di sebelah piano, kuletakan jari jemariku di atas tuts piano dan berbisik pelan.
“Bismillahirohmanirohim..”
Kumainkan nada awal pembuka dengan lancar, doa ibu selalu menyertai langkahku. Menonton pertunjukan final ini entah di kursi penonton bagian mana, apakah dia dapat melihatku dengan jelas?

Aku, putrinya yang bermimpi menjadi seorang pianis suatu hari. Seorang anak pembantu yang hanya bisa menatap piano mahal milik majikannya dari kejauhan. Yang diam-diam menguping saat Aqila diajari piano oleh guru lessnya, yang dihukum berdiri 3 jam hanya karena lancang menyentuh benda mahal itu. Kini, duduk anggun memainkan piano di hadapan ribuan penonton yang menyaksikan pertunjukan perdananya malam ini.

Bantu aku Ya Allah, memenangkan pertandingan ini. Pertandingan final yang tak sempat dilihat sahabat terbaik yang kupunya. Yang harus engkau panggil lebih awal. Kupersembahankan kemampuan yang kupunya, atas semua kebaikannya mengizinkanku menyentuh tuts piano pertama kali, tersenyum saat aku begitu menyusahkannya. Serta untuk ibu yang memberiku semangat. Setiap waktu, doanya mengalir dalam setiap desahan nafasku.

Satu dua lampu mulai menyorotku memainkan piano. Saat pertengahan lagu, ruangan ini terang benderang. Cahaya berpendar memutar, merekah, dengan warna warni cahaya nan indah. Rasa gugup tak menghentikanku menguasai panggung. Entah bagaimana ekspresi penonton, aku hanya bisa fokus pada pertunjukan. Tanganku bergerak cepat memainkan melodi, mulai kudengar tepuk tangan itu. Bagian yang paling kusuka dari pertunjukan yang selalu kumainkan.

Oh ALLAH. Aku di sini, di tengah ribuan lampu yang berkilauan dan ribuan tepuk tangan. Tuts piano ini kutekan begitu bangga, kerja keras yang terbayar. Sungguh, usaha tak pernah mengecewakan hasil, selama bekerja keras dan rajin berdoa. Tak ada yang tak mungkin.

Kuakhiri lagu dengan permainan piano yang indah, takkan kukecewakan penonton. Tepuk tangan kembali meriuh pada not terakhir yang kumainkan. Namaku disebutkan pendukungku. Seluruh sorotan lampu menerpa, penonton menjadi saksi kebahagiaanku memberikan penampilan terbaik.

Aku kembali ke balik panggung.
“Alhamdulillah, yes,.. yes” aku kegirangan.
Gugup sekali berada di sana, namun bisa kuatasi.
“Yes!”
“Namamu belum disebutkan jadi pemenang tau! Jangan senang dulu! Tapi, penampilan yang luar biasa” Liliana tersenyum, salah satu rival di tiga besar.
“Bisa saja” kataku

Nada piano kembali dimainkan, penampilan terakhir setelahku. Menyita pandanganku dan ana. Dari balik layar, paling sudut panggung, kami bisa melihat aldo yang memainkan lagu. Tak kalah mengesankan dari alunan kami. Dia tak mau mengalah, penampilan yang tak kalah mengagumkan.

Penonton yang riuh dengan tepuk tangan untukku, kini tercengang dengan alunan tegas. Lagu yang sungguh menyayat hati, mengisyaratkan ketidakadilan hidup. Aldo memang suka memainkan piano dengan musik nuansa hitam putih kehidupan. Tak pernah bisa melepaskan pandangan penonton untuk selalu menatapnya di atas panggung. My rival.

Jarinya lancar menekan tuts piano dengan Tempo yang cepat, membuat siapa saja menatapnya iba. Bisakah aku mengalahkan permainannya? Merebut juara pada kompetisi ini? Dia semakin bersinar di atas panggung, oh hati debar apa ini.

Berselang waktu kemudian aku, ana dan aldo tengah bersiap menerima jawaban dari para penonton. Jantung berdebar, berpacu tiap detiknya bak meteor yang jatuh, begitu cepat. Kamilah yang bertahan selama ini meski waktu berlalu mengeliminasi peserta lainnya dan hanya sisa kami bertiga. Waktu yang mengakrabkan kami membuat hati ikhlas siapapun yang memenangkan pertandingan, saling mendoakan. Semoga.

“Juara pertama diberikan pada..”
Oh jeda, begitu panjang membuat hati semakin berdegup. Aku menatap penonton begitu banyak dengan hanya ribuan lampu yang bercahaya.
“Lisa Andriana!!” Aku tersentak.
Secercah embun bernaung di mata. Riuh kembali memecah sunyi yang benar benar tegang. Tepukan tangan menggema satu studio. Nama ku! Namaku disebut!! Ingin aku menangis, terharu dengan apa yang Allah beri. Terima kasih Ya Allah, aku bersyukur atas segalanya.

Liliana memelukku hangat, dan aldo mengulurkan tangan memberi selamat. Riuh masih menggema, dan seperti bisa kulihat senyum manis Aqila di sana, bersama ribuan penonton yang bertepuk tangan.

Kalian tau lagu apa yang kumainkan malam ini?
Lagu terbaik yang kupersembahkan untuk ribuan penonton. Alunan nada yang begitu indah, bersinar begitu indah di langit malam.

Twinkle, twinkle, little star.
How I wonder what you are.
Up above the world so high,
Like a diamond in the sky.
Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are.

Cerpen Karangan: Liliana Yuki

Cerpen Little Star merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Siapa yang Bersabar Pasti Akan Beruntung

Oleh:
“Assalamua’alaikum ibu, Aku pulaanggg…” teriakku setelah sampai rumah. Tidak ada yang menyahut. Kemana ibu? pikirku. Apakah ibu bekerja? tapi ini kan hari Sabtu, biasanya hari Sabtu dan Minggu ibu

Satu Di Antara Seribu

Oleh:
“Aku bernyanyi untuk sahabat. Aku berbagi untuk sahabat. Kita bisa, jika bersama.” Petikan lagu Untuk Sahabat dari Audy ini sering sekali ku dengar saat itu. Di mana kala saat-saat

Ada Apa Dengan Rama

Oleh:
Hari ini hari pertama Ku masuk sekolah di jenjang SMA. Namaku Nadia, umurku 15 tahun bulan depan. Masa ini begitu sulit bagiku. Meninggalkan masa SMP yang penuh cerita. Entah

Cita-Cita Sang Boneka

Oleh:
Cita-cita adalah sebuah subtansi yang merupakan perwujudan dari apa yang seseorang inginkan di masa yang akan datang. Cita-cita datang dari hati nurani seseorang, mereka yang merasakan, mereka pula yang

Man Jadda Wajada

Oleh:
Di suatu kampung ada sebuah pesantren salafi. Pesantren itu dipimpin oleh seorang kiyai yang baik dan bijaksana. Santri-santri yang mengaji di sana sangat banyak, mereka tinggal di kobong-kobong yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *